
Melihat Lea yang bergelung selimut sangat rapat sekali, Raymond beralih ke sisi pembaringan tempat tidurnya.
Bukan berarti dua serangan Lea tadi sudah berakhir, dalam selimut pun masih terdengar beragam suara aneh. Itu yang membuat Raymond urung menarik selimut Lea.
Raymond berbaring berbantalkan sebelah lengannya, ia memikirkan perkataan Lea tadi.
Ia tidak menyangka ternyata di kantor, gosip tentangnya sungguh memalukan.
Percuma selama ini ia berusaha mencitrakan diri sebagai pria maskulin yang mempesona, kalau akhirnya di sandingkan dengan sesama pria.
Pantas saja beberapa mata pria pekerja paruh waktunya yang suka berdandan ala metroseksual, kerap kali memandangnya dengan tatapan lapar.
Raymond bergidik mengingat hal itu kembali. Sudah pasti besok Gilang dan Kinanti akan dia sidang, dan Lukman ... ahh yaa mulai sekarang harus jaga jarak dengan pria lemah gemulai itu.
Sibuk dengan pikirannya sendiri, Raymond akhirnya tertidur lelap. Mendengar dengkuran halus dari belakangnya, Lea perlahan membuka selimut yang membungus tubuhnya.
Dari celah selimut ia mengintip memastikan Raymond sudah benar-benar terlelap. Lea segera berlari ke kamar mandi untuk menuntaskan apa yang sejak tadi mendesak keluar.
Pagi harinya, Raymond terbangun karena mendengar suara berisik pengering rambut.
Ia melihat Lea sudah duduk di depan meja rias sedang sibuk mengeringkan rambutnya.
Raymond duduk di pinggir ranjang menatapnya kesal, tatapan mereka bertemu di pantulan cermin.
Tatapan Raymond membuat Lea menghentikan kegiatannya, "Bapak sudah bangun?" Lea tertawa canggung.
"Mau kemana kamu pagi-pagi sudah rapi," cetus Raymond dengan mode juteknya.
"Ini sudah jam delapan pak, Tante Mega tadi telpon suruh cepat turun, sarapan katanya," sahut Lea sambil tetap memasang senyumnya.
Lea yang pagi ini lemas dan kelaparan karena sepanjang malam harus berulang kali memberi setoran ke toilet, berharap Raymond tidak menerjangya.
Hhhh ... ngapain juga Mama suruh sarapan. Harusnya pagi ini dia bayar hutang malam pertamanya. Tapi kalau terlambat turun, pintu kamar bisa di gedor sama permaisuri. Ga enak kan kalau manjat gunung sudah mau sampai di puncak kepleset masuk jurang gara-gara kaget denger jeritan kanjeng permaisuri.
Raymond berdiri dan langsung berjalan masuk kamar mandi sambil menggerutu, "Pakai acara cuci rambut segala, semalam juga ga di apa-apain." Lea hanya menyengir ga enak hati mendengar sindiran Raymond.
Sampai di ruang makan, Raymond melihat dua pasang manusia sedang asyik menikmati sarapan mereka seakan tanpa dosa.
Seperti sedang menangkap buruannya dengan perlahan Raymond mendekat, mengambil kursi dan duduk di antara mereka.
Empat sekawan itu yang tadinya ribut bersenda gurau seketika hening tak bersuara. Semua menunduk, sibuk dengan makanannya hanya Gilang saja yang terlihat tidak peduli.
"Kalian!, apa yang kalian dengar tentang saya di kantor," tuding Raymond pada Gilang dan Kinanti.
"Maksudnya bagaimana Ray yang jelas dong, masak semalam habis menggapai puncak malam pertama sudah marah-marah," ucap Gilang santai.
Serempak ucapan Gilang itu mendapat respon dari ketiga temannya. Lukman menendang, Nina melotot dan Kinanti menyikut.
__ADS_1
"Gosip tentang aku lah, terutama kamu Kin. Kenapa saya di gosipkan oleh SPG-mu sebagai bis*ksual??!, harga diri saya jatuh tau!. Saya ga mau tau, kalian harus bersihkan nama saya di kantor dengan cara apapun!!" Raymond mengepalkan tangannya, menahan emosi agar suaranya tidak terlalu keras karena ruang makan hotel pagi ini cukup banyak orang.
"Sabar Ray ... sabarrr." Lukman menenpuk-nepuk bahu Raymond.
"Turunkan tanganmu!, tau ga sih aku di gosipkan sama kamu! mulai sekarang kita harus jaga jarak!" Raymond menepis tangan Lukman.
"Iya aku tahu," sahut Lukman pelan.
"Kamu sudah tahuuu?, terus kamu diam aja??, dan barusan pegang-pegang lagi ... jangan-jangan." Raymond memundurkan kursinya menjauh dari Lukman.
"Kita juga baru tau tadi malem, Nina yang cerita." Nina menyengir terpaksa, lalu langsung menunduk lagi pura-pura fokus dengan isi piringnya.
"Hal penting seperti ini kenapa kalian pada diem aja sih??, ini penting loh menyangkut kelangsungan keturunanku." Serempak empat orang di hadapannya melirik sinis.
"Lea pikir aku berpacaran sama kamu, percaya ga? Gila beneeer ... sehari-hari hidupku di kelilingi wanita cantik nan seksi tapi kenapa harus sama kamuuu??!" Raymond mengusap wajahnya frustasi.
"Mungkin dia lihatnya kita serasi," sahut Lukman asal.
"JIJIK!" Raymond berdiri hendak pergi jauh dari ke empat orang yang bikin sakit kepalanya itu.
"Tunggu dulu Ray, ada yang jauh lebih penting dari itu," tahan Lukman.
"Ga ada yang lebih penting dari gosip gila antara aku dan kamu."
"Ada Ray, kita kesana ada hal penting yang harus aku sampaikan sama kamu." Lukman menunjuk ke sudut ruang makan yang kosong.
"Baiklah, duduk dulu." Lukman memilih mengalah, toh semua sudah tahu tentang Lea, hanya Gilang yang sepertinya belum tahu. Tapi pria itu terlihat tidak peduli, dari tadi sibuk dengan potongan ayamnya.
"Kamu tahu kan Lea itu pasienku, kamu juga sudah tahu siapa ayah Maura, tapi kamu apa sudah tahu bagaimana Maura ada?" tanya Lukman memulai penjelasannya.
"Ya tau lah, dari hasil berhubungan intim masak dari hasil cangkok. Pertanyaan macam apa sih ini?" Raymond sudah tidak sabar dan akan segera berdiri lagi.
"Sabar sedikit bisa ga sih?!" Lukman pun sudah hampir habis kesabarannya menghadapi sifat Raymond.
"Aku ga punya waktu mendengarkan cara dan proses Maura di bentuk. Aku jauh lebih pengalaman dari kamu."
"Katanya pengalaman, tapi kenapa malam pertama bisa gagal?" cetus Lukman meledek, puas hatinya karena selalu dianggap tidak tahu menahu tentang wanita.
Ledekan Lukman spontan membuat ketiga kawannya terbahak tanpa ada rem. Wajah Raymond seketika merah padam menahan malu dan marah bersamaan.
"Eehheeemm ... lanjutkan!" Kepalang basah dari raut wajahnya, semua akhirnya tahu jika semalam tidak terjadi apa-apa. Mata Raymond memandang tajam satu persatu mereka yang menertawainya.
"Lea diperkosa Ray," Lukman sengaja tidak langsung melanjutkan, ia ingin memperhatikan reaksi Raymond terlebih dahulu.
"Dia diperkosa Beni, akhirnya hamil dan Erik membantu menutupi kehamilannya dengan menikahi Lea. Mereka sampai ke kota ini karena Devi meminta mereka menjauh."
"Tidak berhenti sampai di situ, akibat dari pemerkosaan itu Lea sempat mengalami trauma psikis sehingga selama pernikahan Lea merasa tidak nyaman disentuh oleh Erik, suaminya. Itulah yang membuat dia datang padaku untuk konsultasi."
__ADS_1
"Menikah selama satu tahun ga pernah berhubungan intim??, kuat banget tuh Erik" Raymond keheranan.
"Bukan ga pernah, Erik ... pernah memaksa Lea satu kali." Nina menimpali pembicaraan.
"Oh ya?, dia ga cerita sama aku," sahut Lukman.
"Iya, karena dia menganggap itu hak Erik sebagai suami meski caranya kasar. Kesal juga aku waktu dengar dia cerita, kasian tau liat luka-luka di bibir, pipi sama lehernya Lea. itu yang kelihatan, yang tertutup baju mana aku tahu." Raymond menggeram mendengar cerita Nina.
"Jadi ga dapat dari Lea, dia memilih berselingkuh dengan teman kantornya. Bagus juga dia selingkuh, jadi Lea ada alasan untuk bercerai. Sepertinya aku harus kirim bouquet ucapan terima kasih sama selingkuhan Erik." Raymond mendesis kesal.
"Ga usah berlebihan!," cetus Lukman menimpali kenyiyiran Raymond.
"Oke, terima kasih informasinya." Raymond bersiap berdiri lagi.
"Tunggu dulu, kamu mau malam keduamu gagal lagi?" Lukman menarik tangan Raymond untuk duduk kembali.
Raymond memandang Lukman bingung, ia juga melirik tajam ketiga orang di hadapannya yang kembali ikut terkikik menahan tawa mereka.
"Istrimu itu punya traumatis Ray, aku ga tau dia sudah sembuh atau belum. Sudah lama dia ga datang konsultasi lagi. Dia diperkosa dan kamu juga dengar sendiri, Erik melakukannya juga dengan kasar sampai Lea terluka." Lukman menjelaskan dengan berhati-hati.
"Lea memang janda, tapi menurut ceritanya yang aku tangkap dia baru melakukan hubungan intim sebanyak dua kali dan itu menyakitkan bagi dia secara fisik dan juga mental. Kamu sebagai suaminya harus tahu dan mengerti soal ini," lanjut Lukman.
"Kamu ga ada tutorial berhubungan intim dengan wanita yang punya trauma s*ksual?" tanya Raymond, keempat temannya serempak memandangnya dengan sorot mata aneh.
"Kamu mau aku duduk di tengah-tengah kalian, lalu mengarahkan apa yang harus kamu pegang, apa yang harus kamu cium, apa yang kamu rem----"
"Okee ... okeee aku paham," sela Raymond memutus kalimat Lukman yang semakin menunjukan betapa bodoh pertanyaannya.
Raymond melihat ke arah meja di mana orang tuanya, Lea, William dan Maura sedang makan.
Sekilas tadi ia melihat mamanya memberikan obat pada Lea, lalu mengusap punggung mantunya itu dengan sayang.
"Lang, carikan dua tiket pesawat paling cepat hari ini ke Kalimantan Timur ... bilang juga Agus yang di sana, untuk persiapkan perjalanan saya ke Pulau Derawan begitu saya mendarat." perintah Raymond pada Gilang yang masih terus mengunyah.
"Mau ngapain?" tanya Lukman.
"Pelajaran tambahan." Raymond tersenyum menyeringai sambil memandang lurus ke arah Lea.
...❤❤...
Maaf ya lambat 🙏
Raymond harus bersabar lagi karena Lea butuh pelajaran tambahan bagaimana melayani suami di atas ranjang 🤧
Promo lewat lagi punya teman aku ramaikan yaa
__ADS_1