
Raymond menatap Lea dari jarak yang cukup jauh dengan sedih. Sudah hampir seminggu ini ia tidak bisa mendekati istrinya.
Terkadang ia menangkap tatapan bersalah istrinya. Ia tahu, Lea juga tidak menginginkan hal ini, tapi mood istrinya itu selalu tiba-tiba berubah drastis jika ia mendekat.
Apapun yang dikatakan dan dilakukannya selalu salah di mata istrinya.
"Yang, mau susu coklat, strawberry atau yang vanilla?" tanya Raymond setelah mereka menyelesaikan sarapan.
"Terserah," sahut Lea malas.
"Strawberry ya, tadi malam kan sudah coklat nanti malam baru yang vanilla."
"Hmmm," sahut Lea hanya dengan gumaman. Raymond berjalan ke arah dapur, lalu membuatkan segelas susu untuk ibu hamil rasa strawberry.
"Kental banget, rasanya eneg kalo kebanyakan." Lea menyerahkan kembali segelas susu yang baru diminumnya seteguk ke tangan Raymond.
"Sama kok, tiga sendok makan kan susunya?"
"Ya tapi eneg aku ga suka, aku kan juga baru makan tadi." Lea menutup mulutnya saat suaminya kembali menyodorkan gelas susu ke bibirnya.
"Aku bagi jadi dua terus di kasih tambah air ya."
"Ga usah, abang aja yang habisin. Nanti di tambah air malah jadi ga enak, buang-buang susu percuma."
"Masak abang minum susu untuk ibu hamil?"
"Memangnya kenapa?, abang ga mungkin hamil juga hanya karena minum susu untuk ibu hamil. Susu itu banyak vitaminnya, buruan diminum."
"Ya udah nanti abang yang habiskan."
"Jangan nanti, kalo dingin ga enak. Duduk sini, aku pingin ditemanin sama abang sebentar. Sekalian habisin susunya." Lea menarik tangan suaminya saat, Raymond akan beranjak kembali ke dapur.
Raymond hanya memandang segelas susu strawberry di tangannya. Bau susu yang menyengat masuk ke dalam rongga hidungnya, dan mengelitik lambungnya seketika rasa mual melandanya.
"Abang ga suka susu ya?" Lea melihat Raymond yang masih terdiam memandang segelas susu tanpa berniat meminumnya.
Raymond menelan ludah sebelum menjawab, karena jawaban apapun bisa menjadi boomerang baginya.
"Suka, tapi masih kenyang juga. Aku taruh dulu di kulkas ya, lebih enak diminum dingin."
"Tapi nanti kembali ke sini ya, duduk temenin aku sebentar sebelum ke kantor," ucap Lea manja.
"Iya," Raymond mengecup sekilas kening Lea. Pagi ini walau sedikit jutek, Lea masih mau didekati. Ia akan benar-benar memanfaatkan moment yang jarang terjadi sejak istrinya hamil.
Raymond ke dapur, memasukan susu ke dalam lemari pendingin lalu masuk ke dalam toilet. Ia berusaha mengeluarkan apa yang dari tadi mendorong isi lambungnya.
Sejak Lea hamil, yang mudah lelah dan mual adalah Raymond sedangkan Lea terlihat lebih bugar tapi emosinya tidak stabil sering naik turun.
Setelah berhasil mengeluarkan sebagian isi perutnya, Raymond kembali ke ruang tengah di mana istrinya duduk menonton televisi.
"Lama banget!," cetus Lea.
__ADS_1
"Masa lama sih, tadi aku dari toilet dulu."
"Alasan, bilang aja ga mau nemenin duduk di sini. Udah berangkat aja ke kantor sana, kalo bosen deket-deket aku," usir Lea lalu merebahkan diri di sofa panjang. Wajahnya yang semula cerah dalam waktu singkat kembali berkerut.
"Siapa yang bosan? aku mau banget kok nemenin kamu di sini."
"Ga usah!, aku pingin sendirian aja." Lea menolak saat Raymond ingin memangku kakinya.
Pov Raymond
Lebih baik aku menghadapi customer yang cerewet dan marah-marah atau apapun itu, dari pada menghadapi istri yang labil emosinya.
Belum ada lima belas menit ia memintaku duduk dengannya menonton acara televisi sebelum aku berangkat ke kantor, sekarang dia sudah mengusirku dengan wajah ditekuk. Siapapun tolong akuuu ...
"Baiklah, aku berangkat dulu ya. Kalau ada apa-apa kabarin." Aku memijat pelan betisnya. Kata orang, wanita hamil sering merasa pegal di bagian kaki.
"Hmmm." Hanya itu reaksinya, matanya sudah kembali berlinang.
Lalu apa yang harus aku lakukan? jika aku nekat pergi di saat dia lagi melow begini, bisa-bisa nanti malam aku tidur di lantai.
"Kamu kenapa?" Aku mengusap rambutnya, sambil duduk di lantai karena tidak diijinkan duduk bersamanya di sofa.
Menyedihkan sekali diriku, jangan sampai karyawanku melihat pemandangan ini.
"Aku ga apa-apa, srooott." Bilangnya ga ada apa-apa, tapi air mata dan ingus terus mengalir.
"Kalo ga ada apa-apa kok nangis sih, yang?" Aku masih berusaha bertanya dengan lembut sekali. Sama sekali bukan diriku.
"Dibilangin ga ada apa-apa kok! dah ah sana, aku males deket sama Abang." Sekali lagi ia mengusirku menjauh.
"Aku di ruang kerja ya sayang, panggil kalo ada apa-apa." Aku usap lagi rambutnya, dan kucium sekilas keningnya.
Air matanya jatuh lagi. Aduuh, kalo ada yang jual buku tutorial menghadapi istri yang lagi hamil berapapun harganya sini aku beli.
...❤...
"Lang, tolong bawa ke rumah berkas perjanjian kemarin ya. Sama sekalian yang perlu aku tanda tangani di bawa juga."
"Lagi sakit, Ray?"
"Enggak, nemenin bini aja."
"Ow, suami siaga? bukannya masih lama Lea melahirkan?"
"Hehhh, susah kalau jelaskan sama orang yang belum merasakan yang enak-enak."
"Enak-enak apaan?"
"Ya itu. Ga tau kan kamu?, buruan ke sini! eh, kalau Kinanti lagi ga sibuk ajak sekalian sepertinya Lea butuh teman."
Satu jam berikutnya Kinanti sudah duduk berdua dengan Lea di ruang makan dan Gilang sudah berada di dalam ruang kerja bersama Raymond.
__ADS_1
"Enak banget, Kin. Makasih ya kamu tau banget aku lagi pingin makan bakwan deket kantor."
(sumber foto : googgle. bakwan dempo 19 sambikerep)
"Duh, yang lagi ngidam. Kamu kalo lagi pingin bilang aja, ntar aku beliin tinggal kirim sampe rumah dijamin masih hangat."
"Emang suami kamu ga pernah beliin? dia tau ga kalo bakwan ini favoritemu?"
"Ga peka dia tuh," ucap Lea sedih.
"Kamu ga bilang mana dia tau?" Lea enggan menjawab, ia hanya terus menunduk menikmati dua porsi bakwan yang dibawa Kinanti.
"Aku ke dalam dulu ya, mau minta tanda tangan suami kamu dulu." Kinanti menunjuk ruang kerja Raymond.
"Pak Ray, maaf nih ... maaf loh jangan tersinggung ya, Lea tadi bilang kalo bapak ga peka sama keinginan dia."
"Maksudnya gimana?"
"Tadi kan saya bawakan bakwan sebelah kantor, karena saya tau itu makanan favorite dia. Saya tanya memangnya ga pernah dibelikan gitu sama suami, dia bilang bapak ga peka gitu aja."
"Lah mana aku tau kalo dia suka makan itu, lihat dia makan bakwan sebelah kantor aja aku ga pernah."
"Ya itu namanya ga peka," sahut Gilang.
"Diam loe, kayak punya pengalaman memahami perempuan aja."
"Loh jangan salah Pak Bos, saya paling mengerti apa kebutuhan dan keinginan wanita. Ya kan baby? Gilang meraih tangan Kinanti dan mengecupnya berkali-kali.
"Cari kamar sana kalian!, jangan mesum di ruanganku," sergah Raymond kesal melihat tingkah Gilang yang sok romantis dan Kinanti yang malu-malu.
"Eh, kita boleh pakai kamar yang mana nih?"
"BALIK KANTOR!, kalian berdua ini datang bukannya bikin otakku segar tapi tambah bikin pusing.
...❤❤...
Selamat sore, cuaca lagi tidak bersahabat di berbagai daerah jaga kesehatan ya, semoga kita semua sehat terus 🙏
Love
Like
Jempol
Vote
dan Komen
ditunggu 🥰
__ADS_1
follow :
IG \= ave_aveeii