Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
sekotak tissue


__ADS_3

Berulang kali Raymond menghubungi Lea, namun hanya nada sambung dan operator bernama veronica yang selalu menjawab panggilannya.


"Ngapain aja sih perempuan itu, bukannya cepat keluar!," geram Raymond sambil sekali lagi mencoba mengulang panggilan untuk yang kesekian kalinya.


Hawa panas di kota Surabaya siang ini, terasa membakar kulit dan menaikan emosinya


Sudah lebih dari satu jam yang lalu, ia ada di depan gedung Pengadilan Agama sejak Lea memberitahukan jika ia sudah selesai.


Bisa saja ia masuk ke dalam dan mencari karyawannya itu, tapi tempat ini juga meninggalkan kenangan yang sangat buruk baginya.


Proses perpisahannya dengan Dea, ibu dari William itu masih membekas dan terasa sangat menyakitkan.


Raymond memicingkan mata saat melihat sosok wanita yang sangat mirip dengan karyawannya itu di area parkir motor, sedang berdebat dengan seorang pria.


Perlahan ia mendekati kedua pasangan beda jenis itu untuk memastikan.


Saat wanita itu terjatuh karena tersandung, ia sebenarnya tidak berniat untuk mendekat.


Namun karena sang pria berkata dengan nada yang keras dan tinggi padahal yang wanita masih meringis kesakitan, jiwa melindungi Raymond pun muncul dengan spontan ia menarik tangan wanita itu untuk berdiri.


"Kamu!, ngapain anda di sini?!" seru Erik pada Raymond.


Raymond mulai memperhatikan wajah wanita yang tadi ditolongnya.


Wajahnya yang sebagian tertutup rambut membuatnya tidak dapat langsung mengenali Lea.


Hari-hari di kantor Lea biasanya mengikat rambut panjangnya agar praktis, tapi siang ini tampilannya sedikit berbeda rambutnya dibiarkan terurai menutupi punggung.


Kalau tahu pasangan suami istri aneh ini, lebih baik tadi aku ga nolong. Batin Raymond kesal.


"Ah, terima kasih pak. Maaf tidak bisa berangkat tepat waktu," Lea meringis sambil nembersihkan lututnya yang kotor.


"Kalian mau kemana?" tanya Erik ingin tahu.


"Ke kampung halamannya, urusan pekerjaan," sahut Raymond tenang.


"Kamu mau ke sana dan kamu tidak memberitahu aku?, kamu tidak takut ketemu lagi dengan Pak Beni?" seru Erik dengan emosi.


"Kami memang mau bertemu dengan Pak Beni, beliau klien kami. Ada apa memangnya?, Lea mantan sekertarisnya juga kan?" jelas Raymond masih dengan mode santai.


"Leaa?, apa yang sudah aku tidak tahu!" Erik menyentak tangan Lea dengan marah.


"Weeii ... weeii santai bang, bertengkarnya bisa ditunda dulu?. Kami harus segera berangkat, sudah siang."


"Gak, kamu jangan kesana Lea!" Erik tidak menghiraukan perkataan Raymond.


"Kak ini urusan pekerjaan."

__ADS_1


"Persetan dengan pekerjaanmu!"


Raymond memicingkan mata, walaupun bukan ditujukan untuknya, tapi kalimat yang diucapkan Erik serasa ikut menghina perkerjaannya.


"Kamu mau berangkat atau tidak Lea?" ucap Raymond dengan kesal. Ia membalas perlakuan Erik yang seakan tidak menghiraukan dirinya.


"Aku harus berangkat sekarang kak, biar pulangnya tidak terlalu malam." Lea menyentak tangan Erik hingga terlepas.


"Oww, jangan-jangan kamu ingin berpisah dengan aku karena mau kembali dengan Pak Beni?"


"KAK!" hardik Lea memperingatkan. Bukan masalah tuduhannya, tapi ada telinga lain yang saat ini ikut mendengarkan.


Lea segera berjalan menjauh, bahkan meninggalkan Raymond jauh di belakang.


Lea takut jika Erik akan membuka masa lalunya dengan Pak Beni di hadapan atasannya, ia tidak sanggup lagi harus menerima tuduhan miring dari mulut pedas bosnya ini.


"Tunggu!, kamu tinggalin saya di sana memangnya tahu saya parkir di mana?" sungut Raymond saat ia berhasil mengejar Lea.


Lea hanya terdiam dengan nafas terengah-engah, ia mengikuti langkah panjang Raymond menuju mobil hitamnya yang besar.


"Saya sedikit agak ngebut ya biar kita ga kemalaman, pasang sabuk pengamanmu." ucap Raymond. Lea menurut dan tetap terdiam hingga mobil itu berbaur di jalanan dengan kendaraan yang lain.


Tidak ada percakapan antara keduanya, suasana dalam mobil hanya diisi dengan suara penyiar radio yang membacakan permintaan lagu para pendengar.


Air mata Lea mulai menetes saat tembang dari penyanyi Rossa berjudul Aku bukan untukmu mulai mengalun


Dahulu kau menginginkanku


Meskipun tak pernah ada jawabku


Tak berniat kau tinggalkan aku


saat lagu masuk dalam puncaknya, tangisan Lea berubah menjadi sesenggukan keras.


Janganlah lagi kau mengingatku kembali


Aku bukanlah untukmu


Meski ku memohon dan meminta hatimu


Jangan pernah tinggalkan dirinya untuk diriku


"Satu kotak tissu itu harganya sepuluh ribu, aku potongkan di gajimu bulan depan," sindir Raymond saat melirik kotak tissunya yang sudah hampir kosong


"Maaf," srrooott ... Raymond melirik jijik pada Lea.


Sebelum masuk ke jalan bebas hambatan, Raymond memutar kemudinya memasuki halaman parkir rumah makan ayam goreng yang terkenal.

__ADS_1


"Cepat turun, kita makan siang dulu. Saya ga mau kamu pingsan di jalan kehabisan tenaga karena nangis terus." Tanpa menunggu Lea, Raymond sudah berjalan masuk ke dalam rumah makan.


"Saya sudah pesankan sambal yang super pedas buat kamu, biar kamu habiskan ingusmu itu di sini jangan di mobilku."


Selesai menghabiskan makan, Lea menuju ke toilet untuk membersihkan wajahnya sementara Raymond menuju kasir menyelesaikan pembayaran.


Lea menatap pantulan wajahnya di cermin, terlihat kuyu dan sembab.


Ia tidak menyangka Erik hadir dalam persidangan tadi pagi, seperti biasa suaminya itu bersikeras agar mereka tidak jadi berpisah.


Tidak cukup sampai di situ, saat akan pulang Erik kembali memaksanya untuk ikut pulang bersama-sama.


Saat ia menolak karena mengingat ada janji dengan Raymond, Erik semakin murka lalu menarik tangannya setengah menyeret hingga ia jatuh tersandung.


Di saat itulah bossnya ini datang dan menolongnya, malu rasanya sudah dua kali Raymond melihat kebobrokan rumah tangganya bahkan dia sampai menangis di dalam mobilnya.


Aaarrgghhh ... dengan gemas Lea membasahi wajahnya, menyesali kebodohannya yang terlalu larut karena mendengar lagu yang diputar.


Saat Lea masuk ke dalam mobil, Raymond sudah duduk manis di belakang kemudi.


Dilihatnya di atas dashboard mobil, sudah ada satu kotak tissue yang masih baru.


"Ini makan, biar hatimu lebih dingin." Raymond menyodorkan satu cup es krim rasa coklat.


Lea masih terbengong melihat es krim di tangan Raymond, "Cepat ambil!, kamu ga lihat tanganku sudah mulai beku kedinginan?" sungut Raymond.


"Terima kasih," cicit Lea


Perlahan dan malu-malu Lea mulai menyuapkan sendok es krim ke dalam mulutnya.


Benar kata orang coklat dan es krim sebuah perpaduan indah bagi hati yang sedang frustasi macam dirinya sekarang.


"Aku beli tissue itu untuk membersihkan mulutmu dari es krim, bukan untuk menghapus air matamu." Raymond mengambil selembar tissue dan memberikan kepada Lea dengan sebelah tangan masih memegang kemudi.


Lea yang masih sibuk dengan lelehan es krim di tangannya tidak terlalu memperhatikan tissue yang disodorkan Raymond ke arahnya, dengan sedikit gemas Raymond mengusap bibir Lea dengan tissue yang dipegangnya.


Sedetik kemudian mereka berdua tersadar dengan situasi yang terjadi, masih dengan tangan Raymond memegang tissue di bibir Lea.


...๐Ÿ”น๏ธ๐Ÿ”น๏ธ๐Ÿ”น๏ธ...


Terima kasih semua yang masih setia mengikuti kisah Lea, Erik dan abang bercambang Raymond ๐Ÿ™๐Ÿฅฐ


Terima kasih juga untuk Vote, love, like dan komen semangatnya ya gengs๐Ÿค—


Promo lagi boleh ya, kali ini karya punya teman aku author Zafa judulnya Aku dan Masa Lalu


__ADS_1


__ADS_2