Cinta Jangan Datang Terlambat

Cinta Jangan Datang Terlambat
Kolaborasi


__ADS_3

"Kamu kan juga asalnya dari kampung yang sama dengan Lea kan, Nin?, temani aku ya, buruan nanti keburu malem." Raymond memandang Nina tidak sabar.


"Sori, bukannya aku ga mau ikut, tapi aku ga bisa Ray. Dua hari ini Papaku ke Singapur, jadi aku ga bisa tinggalin kantor," ucap Nina dengan nada menyesal.


Nina memberikan kode pada Raymond untuk mengajak Erik turut bersamanya. Raymond menggeleng dan berkata tanpa suara 'Dia?, kamu gila? AKU GA MAU!'


Nina hanya mengangkat bahu, menyerahkan semua pilihan pada Raymond. Perlahan Raymond maju dan berdiri di sisi Erik.


"Bi-bisakah kamu temani aku mencari Lea?" Suara Raymond hampir tidak terdengar sangking pelannya ia berbicara.


Erik tidak mengatakan apapun, hanya melirik dan melengos malas.


"Tolonglah," Raymond sudah bersimpuh di sisi Erik.


"Apa-apan kamu ini." Erik bangkit lalu berdiri menjauhi Raymond. Ia merasa tidak nyaman dengan tingkah pria itu yang di rasa terlalu berlebihan.


"Aku ga akan berdiri dari sini, kalo kamu belum bersedia temani aku mencari Lea dan Maura," Raymond bersikukuh.


"Sampai kamu jadi patung pun aku ga peduli." Erik melangkah ke arah pintu hendak keluar dari sana.


"Rik, di sana ada Beni kamu ga mau kan kejadian dulu terulang lagi pada Lea?" Kalimat Nina menghentikan langkahnya.


Erik menarik nafas dan menghembuskannya dengan keras. Ia berbalik dan berkata pada Raymond, "Demi Lea dan Maura, bukan karena kamu yang meminta."


"Iya, iya ... demi Maura dan Lea. Terima kasih." Raymond segera berdiri dan menyalami tangan Erik dengan sedikit memaksa.


"Nin, tolong foto dan rekam perkataannya. Jika aku nanti ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di jalan tol, kamu tau siapa pelakunya," ucap Erik sinis.


"Jangan berlebihan," sergah Rarmond kesal.


"Pergilah Rik, biar aku yang sampaikan ijin pada atasanmu," ucap Nina pada Erik.


Nina mengantar Raymond dan Erik sampai berada di dalam mobil.


Ia merasa sedikit geli melihat penampilan kedua pria itu di dalam mobil.


Kemeja yang kusut berantakan, rambut acak-acakan dan wajah keduanya yang lebam di sana sini.


"Hati-hati di jalan, tolong segera kabari keadaan Lea di sana. Ingat!, kalian jangan sampai saling membunuh di tengah jalan." Nina tertawa geli melihat keduanya saling bertatapan dengan salah tingkah.


Lima belas menit pertama mereka berdua hanya diam, suasana dalam mobil begitu dingin, sunyi dan mencekam.


"Terima kasih, sudah menemani," ucap Raymond mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


"Sudah kamu katakan tadi, ga perlu berbasa-basi. Kamu sudah tahu apa alasanku ikut bersamamu," sahut Erik dingin.


Raymond menarik dan menghembuskan nafasnya dengan kesal. Ia harus menahan diri untuk tidak mencekik dan melemparkan Erik keluar dari mobilnya.


"Lea dan Maura bahagia?" tanya Erik, setelah beberapa saat mereka terdiam.


"Bahagia ... sangat bahagia." Raymond mengangguk dan tersenyum lebar.


"Jika dia bahagia kenapa dia sampai pergi dari rumah?" Erik tertawa sinis.


"Sudah ku bilang tadi, itu semua hanya salah paham," cetus Raymond tak suka.


"Separah-parahnya permasalahanku dengan Lea, dia tidak sampai pergi meninggalkan rumah."


"Jangan sombong dan sok mengenang masa lalu. Sekarang Lea adalah istriku, tidak perlu mengungkit kenanganmu bersama Lea di dalam sini, atau besok ada beritamu ditemukan dalam keadaan mengenaskan di pinggir jalan." Erik tidak tersinggung dengan ancaman Raymond, yang ada ia malah tertawa terbahak mendengarnya.


"Kamu selingkuh sama mantan istrimu?" tanya Erik setelah tawanya mereda.


"Sakit jiwa kalau aku memilih selingkuh dengan wanita macam dia. Lea datang ke kantorku pada saat yang salah."


"Aku juga salah, tidak melibatkan dia tentang keinginan mantan istriku bertemu dengan William. Bagaimanapun juga, Lea sekarang adalah ibunya William," papar Raymond yang terdengar sangat menyesal.


"Kamu sendiri, bagaimana dengan wanita itu?"


"Perkenalan lebih dalam bagaimana maksudnya?, bukankah kalian sudah saling mengenal luar dan dalam?" sahut Raymond dengan menekankan kata luar dan dalam.


"Aku pernah mengalami gagal sekali dalam pernikahan, aku ga mau harus kedua kalinya gagal. Pernikahan itu kan tidak berpusat hanya pada kebutuhan s*eks semata." Raymond tertawa dan mengangguk setuju.


"Tidak hanya karena kami sudah tidur bersama, lalu besoknya kami sudah harus menjadi suami istri. Kami sadar itu salah dan dosa, tapi lebih salah dan dosa lagi jika aku menikahinya tapi menyakiti hatinya dengan sikapku."


"Ia memberikan aku ruang dan waktu untuk menata hatiku. Jika aku sudah selesai dengan masa lalu, dia dengan tangan terbuka akan menyambutku, dan sekarang kami sudah dalam proses itu." Erik tersenyum lebar.


"Selamat. Mengalahkan diri sendiri itu memang berat. Aku memilih sendiri tidak menikah selama lebih dari lima tahun. Bukan karena aku ga laku, hehehe ... tapi karena aku memang tidak siap. Aku akui, aku pengecut untuk memulai komitment dengan seorang wanita." Raymond memandang Erik sebelum ia melanjutkan kalimatnya.


"Tapi saat aku mengenal Lea, semua prinsipku berubah. Aku akui, aku tertarik padanya saat ia masih berstatus sebagai istrimu ... eehh tunggu dulu aku bukan pebinor." Raymond segera meralat kalimatnya saat Erik menatapnya dengan sebal.


"Aku tidak pernah mendekati, merayunya apalagi menggodanya. Aku mengajak Lea menikah awalnya murni untuk melindunginya dari Beni, dan sekarang aku benar-benar jatuh dalam pesonanya."


"Lea memang wanita istimewa," sahut Erik.


"Jangan coba-coba memuji istriku!" Erik mendecih kesal melihat jiwa posesif Raymond muncul.


"Kamu sudah ikhlas, Lea sekarang menjadi istriku?"

__ADS_1


"Asal ia bahagia, aku ikhlas ... tapi sepertinya dia sedang tidak bahagia? apakah aku harus merebutnya kembali?" goda Erik.


"Sial*an, jangan berani-berani punya pikiran laknat macam itu." Erik kembali tertawa terbahak diikuti oleh Raymond yang tertawa geli dengan perkataannya tadi.


Dua pria yang belum ada setengah hari tadi saling memukul dan memaki, sekarang sudah tertawa bersama. Saat ini pun mereka berada dalam satu kendaraan yang sama, menuju satu tempat mencari satu wanita yang sama.


Sangat lucu kedengarannya.


...❤...


"Ini rumah kami dulu." Setelah menempuh hampir empat jam perjalanan. Akhirnya mereka berdua sampai di depan rumah almarhum kedua orang tua Erik.


Tepat saat itu kedua pekerja rumah tangga Beni, baru saja keluar dari rumah dan hendak kembali pulang.


"Kok dari dalam Mba?, ini rumah saya. Kuncinya rumahnya dapat dari mana?" cecar Erik.


"Maaf Pak, kami hanya disuruh bersihkan rumah ini aja sama Tuan."


"Kalian kerja sama siapa?" tanya Erik.


"Pak Beni."


"Brengs*ek!" Kedua pekerja rumah tangga itu terlonjak saat Raymond memaki dengan keras.


"Mba ada lihat, Ibu Lea dan putrinya, Maura?" tanya Erik lagi.


"Iya, ada di rumah," sahut salah satu pekerja rumah tangga itu takut-takut.


"Erik!, cepat naik kita ke sana!" seru Raymond tidak sabar. Emosinya sudah di ujung tanduk siap meledak, mendengar istrinya ada bersama orang yang sangat berbahaya baginya.


...❤❤...


Mengingatkan kembali


Like


Komen


Bunga


Kopi


Vote

__ADS_1


Jangan lupa yaaa 🥰


__ADS_2