
Nina tersenyum tipis melihat reaksi Ghea. Dugaannya semakin kuat benar ada sesuatu di antara Erik dan Ghea.
Setelah semua pamit pulang, hanya ada Nina dan Lea dalam kamar. Sedangkan Erik belum kembali dari mengantar rekan kerjanya hingga ke lobby rumah sakit.
"Haaiii, chayaankk lagi emiiik yaaa ..." Nina menoel-noel pipi Maura yang asyik menikmati sumber kehidupannya.
"Pingin?, buat sendiri dong." Lea menggoda Nina.
"Kalau cuman buat sih kecil aja buat aku tuh, masalahnya belum ada calon yang setor bibit unggul."
"Kalau bibit unggul pasti maunya milih di tanam dan tumbuh di lahan yang subur dan keren, kalau tanah tandus letaknya di pinggir empang mana mau tumbuh juga meski bibitnya unggul."
"Yeeiii lahanku sudah pasti suburlah, sekali semprot crooott ... jadi." Nina memperagakan gerakan menembak.
"Yaaaksss, kita lagi ngomongin apa sih?" Lea mengernyit jijik.
"Entah ... emang kita obrolin tentang apa sih?" Keduanya tergelak bersama, menertawakan kekonyolan masing-masing.
"Gimana kamu selama menikah dengan Kak Erik?" tanya Nina hati-hati.
"Baik aja .. eh, maksudnya gimana sih Nin?" tanya Lea sedikit tidak mengerti arah pembicaraan Nina.
"Maksud aku, apa Kak Erik memperlakukanmu masih baik seperti dulu? ... mmm, maksudnya orang kan bisa berubah gitu."
"Baik sih ...." Lea sedikit menggantung kalimatnya dengan sedikit diam merenung,
"Kak Erik baik ... sangat baik," lanjut Lea.
Hanya dalam hitungan detik raut wajah Lea berubah menjadi ceria dan tersenyum kembali.
Nina tidak melanjutkan lagi pertanyaannya tentang Erik, karena sepertinya Lea masih belum mau terbuka padanya.
"Yang kemarin bawa kamu ke rumah sakit itu siapa?, yang pakai kacamata itu benar dokter? ... dokter psikiater kata si brewok temannya tuh benar?" Nina teringat dengan dua pria yang menemani Lea.
"Oww ... mmmm ya, itu teman." Lea menghindar dari kejaran pertanyaan Nina dengan berpura-pura sibuk dengan Maura.
Nina merasa ada hal yang disembunyikan Lea darinya, tapi Nina menghargai hak Lea jika temannya itu belum siap untuk berbagi dengannya.
...đšī¸...
Genap satu bulan sudah Lea menjadi seorang ibu. Dengan usianya yang tergolong masih muda Lea merasa kesulitan mengatur emosinya.
Merawat bayi baru lahir seorang diri tanpa pengalaman, di daerah baru tanpa keluarga dekat yang dapat memberikan support membuat Lea mengalami baby blues syndrom.
Emosinya sering tidak terkendali, tiba-tiba menangis sendiri, lalu marah tanpa alasan yang jelas.
Apalagi jika Maura rewel menangis tidak bisa dihentikan dan itu berlangsung hampir tiap malam.
Hubungan Lea dan Erik semakin tidak harmonis. Lea yang depresi karena merasa tidak bisa menjadi seorang ibu yang baik, sedangkan Erik yang merasa diabaikan sejak kelahiran Maura dan ia juga sering menjadi sasaran kemarahan Lea saat istrinya itu frustasi.
__ADS_1
Seperti pagi ini Lea yang tiba-tiba meraung, karena merasa lelah kurang tidur selama beberapa hari terakhir.
Erik yang sudah jenuh mengatasi perubahaan emosi Lea, kembali naik pitam mendengar suara tangisan Lea yang hanya bisa terisak dan menjerit tanpa mau menjelaskan apa yang terjadi.
"Kamu kenapa lagiii??!" Suara Erik memecah keheningan pagi.
Lea sedang duduk di dapur memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya di antara lututnya, tetap diam dan terus menangis.
Erik mulai tidak sabar, ia menghampiri Lea lalu menarik kedua bahu Lea untuk berdiri.
"Kalau ada masalah ... bilang!!, aku tidak bisa mengerti arti jeritanmu!!" Erik berkata dengan suara yang lantang sambil mencengkram kedua bahu Lea.
"Akhuu chapheeekkk kak ... huuhuhuaa ...."
"Khepalakuuu shakiiitt ...."
"Ma ... mau ... ra nangiss teruss hhhuu ... huuu ... ga mau berhentiii, akhuu ... binguuungg ... huhuuuhhaaaa ...."
Lea terus menangis dan terus meremas rambut juga memukul-mukul dadanya berulang kali.
"Lantas aku bisa apaaa Leaaa?!"
"Kamu ibunya!!, seharusnya kamu bisa menenangkan anakmu sendiri!! Bukannya hanya bisa menangis terus!!"
Suara Erik semakin meninggi dan penuh tekanan.
"Khakak ... hhuuhuu ... shelaluuu cuman bhisaa maraaahh ga mau bhanntuu aa ... akhuu urus anak khitaaa." Suara Lea semakin parau dan dengan nafas tersengal.
Tersentak Lea mendengar suara tajam dan keras dari Erik. Seketika tangisnya berhenti berganti dengan jeritan Maura dari dalam kamar.
Beberapa detik mereka berdua saling bertatapan dengan dua macam sorot berbeda.
Erik memandang Lea dengan emosi yang masih tinggi, Lea memandang Erik dengan tatapan kosong.
Lea beringsut tanpa kata masuk ke dalam kamar, karena mendengar suara tangisan Maura semakin keras meninggalkan Erik yang masih berdiri tegak di hadapannya.
"Be*engsek!." Erik menendang kursi lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
Ia berlalu begitu saja dari dapur menuju pintu depan, hendak langsung berangkat kerja tanpa berniat berpamitan dengan Lea.
Langkah Erik terhenti di ruang tamu saat melihat Nina berdiri memandangnya dengan tajam.
Erik terus melangkah keluar melewati Nina tanpa berkata apapun.
Perlahan Nina membuka pintu kamar, dilihatnya Lea duduk menghadap jendela membelakangi pintu kamar.
Lea sedang menyusui Maura masih dengan tangis dan nafas tersengal.
Miris hati Nina melihat sahabatnya dalam kondisi tertekan seperti itu.
__ADS_1
"Lea ...." Nina menyentuh pundak Lea pelan, sambil memberikan senyum untuk menguatkan.
Tangis Lea pecah seketika melihat siapa yang ada di dekatnya sekarang. Nina merengkuh erat bahu Lea tanpa berkata apapun.
Mereka berdua larut dalam tangis dengan Maura tertidur di pelukan Lea.
"Masih ada aku Lea ... kamu lupa? aku masih temanmu, aku masih ada di sini Lea." Nina memeluk semakin kencang saat tubuh Lea bergetar menahan tangis.
Nina mengambil Maura dari pelukan Lea dan membaringkan di tempat tidurnya.
"Kamu mau ... menghubungi dokter Lukman?" tanya Nina perlahan.
Lea mengangkat wajahnya memandang Nina yang sama dengannya berurai air mata.
Lea mengangguk, "Aku ... mau cerita." Lea menggenggam erat tangan Nina.
Nina menuntun Lea ke arah dapur, mengambilkannya minum untuk Lea dan juga untuk dirinya.
Mereka duduk diam berdua berusaha menenangkan diri masing-masing. Nina menguatkan genggaman tangannya pada Lea.
"Aku siap mendengarkan."
"Maura bukan anak Kak Erik ... anak Pak Beni." Lea mulai menangis lagi, tapi tetap melanjutkan ceritanya.
Nina berusaha tenang tidak menyela setiap perkataan Lea, meski banyak pertanyaan dan kemarahan dalam hatinya.
"Pak Beni tahu kamu hamil?" Lea menggeleng.
"Lalu apa masalahmu dengan Kak Erik?, bukannya dia sendiri yang menawarkan pernikahan?" Lea menggeleng kepalanya dengan keras.
"Mungkin Kak Erik bosan mendengar aku selalu ngeluh?," atau mungkin ... Kak Erik ... menyesal?" Nina menatap Lea dengan sedih. Ia jadi teringat kejadian-kejadian saat Lea melahirkan.
Nina merangkai seluruh kejadian yang ia tangkap kebersamaan Erik dan Ghea saat di kantor sebelum Lea melahirkan.
Keduanya memang terlihat dekat, sering makan berdua walaupun hanya di cafetaria kantor mereka.
Awalnya Nina tidak berpikir terlalu jauh, karena Erik yang ia kenal sangat mencintai dan memuja Lea dulu. Apalagi saat itu mereka sedang menanti kelahiran sang buah hati.
Namun kecurigaan Nina semakin kuat saat menemukan kejanggalan sikap Ghea dan Erik saat Lea melahirkan.
"Kamu mau aku menghubungi dokter Lukman sekarang?"
...â¤â¤...
Terima kasih masih mengikuti đđ
Baby blues syndrom adalah merupakan gangguan suasana hati yang dialami oleh ibu setelah melahirkan. Kondisi ini menyebabkan ibu mudah sedih, lelah, lekas marah, menangis tanpa alasan yang jelas, mudah gelisah, dan sulit untuk berkonsentrasi.
(sumber : google)
__ADS_1
Aku agak mewek nulis part ini, angkat dua jempol untuk ibu-ibu muda yang baru melahirkan dan untuk yang sedang menyusui đđ
Ditunggu Like, vote dan komen yg santun ya đđ¤