
Yuma dan Yumi terdiam. Mereka mendudukkan diri di ranjang dengan posisi saling memunggungi. Terdengar isakan dari Yuma dan Yumi, kedua anak kecil itu begitu hancur. Ucapan sang ayah barusan, benar-benar membuat dunia Yuma dan Yumi hancur berkeping-keping. Bagaimana tidak, mereka yang biasa mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari Aaron, harus mendengar hal semacam ini.
Mereka yang biasa dengan kehadiran Aaron, harus menerima bahwa besok dan seterusnya, tidak akan lagi ada Aaron. Tidak akan ada lagi sosok yang mereka panggil "daddy".
"Yuma," panggil Yumi, "benarkah yang tadi aku dengar? Benarkah yang tadi kita dengar? Apa kita tidak bermimpi?" tanya Yumi.
Yuma menoleh kemudian dia bangkit dari duduknya, lalu setelah itu mendudukkan diri di sebelah Yumi. Dia membawa sang adik lalu memeluk Yumi. "Sudah tidak apa-apa, Yumi. Sekarang kita hanya punya Mommy," ucapnya.
Walaupun umur Yuma dan umur Yumi baru tujuh tahun, tapi kedua anak itu sangat pintar. Bisa membedakan situasi yang sedang terjadi, termasuk saat ini.
Tak lama, Leana masuk ke dalam kamar. Sepertinya, wanita itu sudah bersiap. Yuma dan Yumi turun dari ranjang, kemudian mereka berlari menghampiri Leana dan ketika ia berlari ke arahnya, Leana berusaha untuk tidak menangis.
Namun, tidak bisa. Melihat putrinya menangis, air mata kembali turun dari pelupuk mata Leana. Dia membungkuk, menyetarakan diri dengan mereka lalu merangkul tubuh Yuma dan Yumi yang baru saja berlari ke arahnya, memeluk Leana begitu erat. Tangis terdengar dari ketiganya.
"Apa kita harus pergi dari sini?" tanya Yumi, Leana melepaskan pelukannya kemudian wanita itu melihat ke arah Leana, setelah itu mengangguk.
"Waktunya kita pergi," jawab Leana dengan hati yang hancur, "Mommy tidak tahu kalian mengerti atau tidak, yang Mommy ingin katakan, tolong kalian jangan bersedih. Jangan menangis lagi, ini memang sudah waktunya kita pergi." Leana berusaha tersenyum di hadapan anak-anaknya.
"Ayo kita bereskan pakaian kalian. Tidak usah membawa banyak-banyak," kata Leana hingga Yuma dan Yumi mengangguk. Leana bangkit dari lantai, kemudian wanita itu mengambil koper yang ada di kamar Yuma dan Yumi, lalu setelah itu mereka membawa pakaian. Tidak ada yang di bawa dari rumah selain pakaian yang ada.
Pada akhirnya, acara pengemasan pun selesai. Yumi melihat ke arah tempat mereka bermain yang ada di kamar mereka. Banyak sekali mainan boneka dan lain-lain di sana, sayangnya Yuma dan Yumi tidak diperkenankan bahwa itu oleh Leana karena bagi Leana, itu adalah milik Aaron. Itu sebabnya, Yuma dan Yumi hanya bisa menatap tempat bermain mereka, mengabadikan semuanya dalam benak karena mereka tahu mereka tidak akan kembali ke tempat ini, mereka tidak akan kembali melihat mainan mereka.
Leana maju ke arah Yuma dan Yumi, kemudian dia mengelus rambut putrinya.
"Mommy, bolehkah aku membawa bonekaku satu saja?" tanya Yum dengan penuh harap.
"Tidak boleh, Yumi," ucap Yuma. Seperti biasa, Yuma paling tegar daripada Yumi hingga dia langsung melarang sang adik untuk membawa apapun.
"Cuma satu saja," pinta Yumi.
"Tidak, Yumi. Aku masih mempunyai tabungan, nanti kita beli saja," ucap Yuma. Sepertinya, kekecewaan Yuma sudah sangat besar pada Aaron melebihi dari kekecewaan Yumi, itu sebabnya dia tidak memperbolehkan sang adik membawa apapun selain pakaian mereka.
"Ayo kita pergi," kata Leana, dia tidak sanggup untuk terus berada di tempat ini. Dia tidak sanggup melihat kesedihan Yuma dan Yumi yang menatap tempat bermain mereka. Itu terkesan sederhana, tapi bagi Leana begitu menyakitkan. Ini bukan tentang mainan, tapi tentang kenyataan yang harus mereka hadapi, bahwa mereka harus kehilangan sosok Aaron yang seharusnya tidak pernah ada di hidup mereka.
__ADS_1
Yuma mengangguk, kemudian dia menggenggam tangan Yumi lalu setelah itu mereka pun keluar dari kamar.
Di sinilah mereka berada, di ruang tamu, di mana Aaron dan Melisa sudah menunggu di sana.
"Aaron, terima kasih. Selama delapan tahun ini sudah menjadi tempat pulang," kata Leana. Rasanya, hati Aaron begitu nyeri ketika melihat Yuma dan Yumi tidak mau melihat ke arahnya. Kedua anak kecil itu malah memalingkan tatapannya ke arah lain.
"Yuma, Yumi," panggil Aaron.
Yuma dan Yumi menoleh sekilas. Tatapan Yumi begitu membuat Aaron terpaku, sedangkan tatapan Yuma seperti dipenuhi dengan kebencian. Dalam sekejap, Yuma merasakan rasa benci yang luar biasa pada Aaron, berbeda dengan Yumi yang masih berharap Aaron melarangnya untuk pergi.
Aaron maju ke arah Yuma dan Yumi, kemudian dia menekuk kakinya lalu menyetarkan diri dengan Yuma dan Yumi. "Paman berjanji, akan sering mengunjungi kalian dan kita bisa bermain seperti biasa," ucap Aaron.
"Tidak perlu," jawab Yuma hingga Aaron mengalikan tatapannya pada Yuma.
"Yuma," panggil Aaron. Dia menatap Yuma dalam-dalam. Sungguh, Aaron begitu ingin sekali memeluk kedua anaknya dengan erat dan melarang mereka untuk pergi, tapi dia menahannya.
"Kalau begitu kami permisi, Aaron. Sampai jumpa," ucap Leana.
"Kalian tidak pamit padaku?" Tiba-Tiba Melisa berbicara hingga Leana menoleh.
Lagi-Lagi, hati Aaron terasa nyeri ketika melihat Yuma dan Yumi serta Leana pergi dari rumahnya.
"Ayo Baby, kita ke atas," kata Melisa hingga Aaron tersadar. Lelaki itu pun mengangguk kemudian membawa Melisa untuk ke kamar mereka.
Saat Melisa menggandeng tangannya, ada yang aneh. Dia merasa tidak bersemangat, padahal dia selalu bahagia ketika Leana manja, karena Leana jarang sekali menunjukkan sifat manjanya pada Aaron.
Saat berada di kamar Aaron, Melisa langsung mendorong tubuh lelaki itu ke ranjang dan dengan cepat dia bertindak agresif. Tentu saja Aaron tergoda apalagi sekarang Marisa sudah memakai lingerie, tapi tak lama ketika Melisa akan berbuat lebih jauh, wajah Leana tiba-tiba menubruk otak Aaron hingga dengan cepat dia mendorong tubuh Melisa.
"Baby, kenapa?" tanya Melisa dengan terkejut.
"Nanti Melisa," kata Aaron, "sebentar. Aku harus mengurus sesuatu di ruang kerjaku."
Lelaki itu pun langsung bergegas meninggalkan Melisa, padahal dia tidak pergi ke ruang kerja, melainkan ke balkon untuk melihat Leana dan juga Yuma dan Yumi.
__ADS_1
Semua sudah masuk ke dalam mobil, hanya tinggal Leana yang belum masuk, wanita Malang itu berdiri di depan rumah Aaron dan melihat rumah mewah Aron lekat-lekat.
"Terima kasih sudah menjadi tempatku selama delapan tahun. Terima kasih sudah menjadi tempat ternyaman untuk kedua anakku," ucap Leana, dan ketika Leana melamun, tanpa sengaja Leana melihat ke arah Aaron yang baru saja sampai di balkon.
Leana tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. "Kau lelaki baik, Aaron. Semoga kau mendapat kebahagiaan," ucapnya, melambaikan tangannya pada Aaron. Setelah itu, Leana berbalik kemudian masuk ke dalam mobil.
Setelah mobil pergi, hati Aaron terasa hampa. Jiwanya seolah pergi dengan Melisa dan kedua anak kembarnya. Matanya membasah, dia bahkan hampir menangis. Tanpa sadar, kepergian Leana, Yuma serta Yumi membuat Aaron seperti orang linglung.
"Baby," ucap Melisa, menyadarkan Aaron dari lamunannya.
"Kau sedang apa?" tanya Melisa lagi.
Aaron tersadar kemudian menggeleng. "Tidak, ayo masuk," ajaknya.
***
Saat di dalam mobil, Leana memeluk kedua anaknya. Yumi terus menangis dari tadi, sedangkan Yuma memalingkan tatapannya ke arah lain. yumi terus bertanya ke mana mereka akan pergi? Apakah mereka akan bertemu lagi dengan Aaron atau tidak?
Berbeda dengan Yuma yang sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun, mungkin kekecewaan Yuma lebih besar dibandingkan Yumi. Leana menghapus air matanya kemudian mengusap rambut kedua putrinya.
"Kalian lapar?" tanya Leana karena mereka belum sempat makan siang.
Yuma menggeleng. "Tidak," jawabnya.
Sementara Yumi mengangguk. "Aku lapar," jawabnya.
Leana ingin meminta sopir mengantarkannya ke restoran, tapi keadaan ketiganya sedang kacau hingga pada akhirnya Leana memutuskan untuk membuat makanan di apartemen saja. Karena memang Aaron sudah mengatakan bahwa Leana akan tinggal di salah satu apartemen miliknya.
Mungkin, wanita lain akan pergi untuk menyelamatkan harga dirinya tapi berbeda dengan Leana. Ya, jika dipikir Leana pun ingin pergi dan menghilang dari Aaron. Dia tidak ingin ada sangkut pautnya lagi dengan lelaki itu, tapi dia memikirkan kedua anaknya, Yuma dan Yumi.
Jika dia pergi dari Aaron, dia tidak tahu harus ke mana. Dia tidak tahu harus apa. Mencari pekerjaan pun tidak mungkin karena dia sedang mengandung, hingga pada akhirnya Leana lebih memilih pasrah, toh Aaron juga tidak akan datang untuk bertemu dengannya maupun kedua putrinya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh sopir sampai di apartemen.
__ADS_1
"Silakan Nyonya, biar saya antarkan kopernya ke dalam," ucap sopir hingga Leana mengangguk. Dia, Yuma dan Yumi pun turun dari mobil lalu menggenggam kedua tangan putrinya.