Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Kejanggalan


__ADS_3

Maudy menoleh saat ada yang menyematkan jaket ke tubuhnya. “Neo! panggil Maudy. "Jadi, kau mengikutiku dari tadi?" tanya.


Neo menggangguk, lelaki itu langsung menempatkan diri di sebelah Maudy. "Aku malu sekali seandainya kau tahu kalau aku menangis," ucap Maudy.


"Tidak apa-apa, Nona, menangislah, kita juga bukan malaikat yang bisa terus menahan rasa sakit. Apa ada yang mengganggumu, Nona?" tanya Neo.


Tatapan mata Maudy menatap lurus ke depan. Rasanya, dia ingin menceritakan tentang apa yang dia rasakan, tapi dia adalah orang yang tertutup. Dia tidak bisa menceritakan semua yang sebenarnya terjadi pada orang lain.


"Tidak, aku hanya sedang ingin menikmati angin malam saja," jawab Maudy dengan suara parau. Dia sudah menangis sedari tadi. Tapi saat Neo bertanya, rasanya dia ingin menangis lagi.


"Jika Nona butuh bahu untuk bersandar, Nona bisa bersandar di bahuku," ucap Neo Lalu tanpa diperintah dua kali, Maudy langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Neo. Nyaman, itulah kesan yang dirasakan olehnya.


Selama bertahun-tahun, Maudy tidak memiliki tempat untuk bersandar, tidak ada tempat untuk bercerita. Walaupun dia tidak bisa menceritakan apa yang dia rasakan pada Neo, tapi setidaknya sekarang dia merasa mempunyai teman.


Suasana hening, tidak ada yang berbicara karena Maudy dan Neo sama-sama terdiam, hingga pada akhirnya, tidak terasa waktu sudah berlalu.


"Nona, ini sudah pukul tiga dini hari, ayo kita pulang, Anda butuh istirahat," ucap Neo Maudy menggangguk. "Pakai saja jaketnya, Nona," kata Neo saat Maudy akan memberikan jaket padanya.


Stevi terus melihat jam di dinding. Nyatanya, walau dia berusaha untuk tidak memperdulikan Maudy, tapi agaknya dia sedikit khawatir, hingga dia memutuskan menunggu wanita itu.


Sebelumnya, dia sudah mencari Maudy ke sana ke mari, tapi dia tidak menemukan wanita itu di manapun. Faktanya, tanpa sadar Steve mulai khawatir pada Maudy. Namun seperti biasa, egonya sangat tinggi hingga dia enggan mengakui itu.


Tak lama, terdengar suara pintu terbuka hingga Steve menolehkan kepalanya ke arah pintu. Dia berdecak kesal saat melihat Maudy dan Neo masuk ke dalam rumah. Dia sudah berlelah-lelah memikirkan keadaan mantan istrinya, tapi wanita itu malah pergi dengan lelaki lain.

__ADS_1


Secepat kilat, Steve bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah kamar karena tidak ingin Maudy melihatnya ada di sini. 'Bisa kegeeran wanita itu jika aku ada di sini,' batin Steve.Steve pun berlari ke arah kamar lalu menutup pintu.


"Neo, terima kasih sudah mengantarkanku ke mari," ucap Maudy ketika sudah berada di depan kamar.


Neo mengangguk. "Baik Nona, sama-sama."


Neo pun berlalu, begitu juga Maudy yang masuk ke dalam kamar. Setelahnya, dia langsung berjalan ke arah ranjang. Wanita itu membaringkan tubuhnya lalu menarik selimut.


Maudy menatap bingkai foto yang ada di atas nakas, yang merupakan foto-foto dirinya dan Geo. Selama tiga tahun ini adalah masa terbahagia bagi Maudy, karena dia bisa melewati hari-harinya dengan Geo tanpa takut.


Namun sekarang, ketika Geo menjauh, rasanya Maudy mulai ketakutan. Bagaimana jika nanti Geo memilih untuk meninggalkan dia? Memikirkan itu, tanpa sengaja bulir bening terjatuh dari pelupuk matanya karena memikirkan itu.


"Tidak, dia pasti akan tetap bersamaku," lirih Maudy.


***


Malam telah berganti pagi saat Maudy terbangun dari tidurnya. Ternyata, waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sial, dia tidak sempat melihat Geo pergi ke sekolah.


Lalu dengan cepat, Maudy pun bangkit kemudian keluar dari kamar. Dia berniat bertanya pada pelayan tentang kepergian Geo.


"Apakah tadi pagi Geo sarapan atau tidak?" tanya Maudy pada pelayan yang melintas di hadapannya.


"Iya, Nona, tadi Geo sarapan. Koki yang memasakannya."

__ADS_1


Tiba-tiba, tubuh Maudy mematung saat mendengar ucapan pelayan tersebut. Dia mau memakan masakan orang lain, tapi enggan menyantap masakannya. Tentu saja walaupun itu hal kecil, tapi mampu membuat hati Maudy hancur.


Bertahun-tahun Geo selalu ingin memakan makanan yang dia buat, tapi sekarang justru sebaliknya.


"Nona, Anda tidak apa-apa?" tanya pelayan saat melihat Maudy melamun.


"Tidak apa-apa," jawab Maudy. Wanita itu langsung berbalik dan berjalan ke kamarnya. Nanti siang dia berencana untuk datang ke sekolah Geo dan membawakan makan siang untuk putranya. Dia berharap anak itu tidak lagi menolak apa yang dia buat.


***


Steve tersenyum saat melihat Geo sedang berolahraga di lapangan. Akhirnya, apa yang direncanakan nyaris berhasil. Mungkin, hanya butuh waktu dua bulan lagi untuk membawa Geo keluar dari India. Dia benar-benar harus membuat anak itu membenci Maudy, agar Geo mau kembali padanya.


Steve yang sedang melamun, tiba-tiba menatap terarah pada kaca depan, di mana dia melihat Maudy keluar dari mobil. Rupanya, Maudy ingin mengantarkan makan siang untuk Geo.


"Sial, aku tidak boleh membiarkannya." Steve dengan cepat turun dari mobil, lelaki itu berniat untuk menghadang Maudy.


"Maudy!" panggil Steve.


Maudy menoleh. "Apa Geo belum keluar dari kelas? Aku membawakan makanan untuknya."


"Oh sayang sekali, tapi sepertinya Geo sudah memakan bekal yang tadi koki buatkan."


Maudy terdiam saat mendengar ucapan Steve. Dia menatap Steve lekat. Entah kenapa, dia merasakan ada yang aneh ketika Steve mengatakan itu.

__ADS_1


Steve yang tersadar dengan reaksi Maudy, langsung berdeham. "Maksudku, tapi tidak ada salahnya jika kau ingin menawarkannya."


__ADS_2