Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Apartemen


__ADS_3

Larry terpekik saat Leana tidak sadarkan diri. Dia langsung menangkap tubuh wanita itu, lalu membopongnya, membawanya ke ruangan Aaron. Dia dan Aaron memang belum pulang, sebab ada beberapa pekerjaan yang harus ditangani.


Larry menepuk bahu Leana karena ada noda putih di bahu wanita itu, dan dia tidak menyangka Leana akan terkejut hingga tak sadarkan diri.


"Kenapa dia?" tanya Aaron ketika Larry masuk ke dalam ruangannya.


"Aku tadi menepuk pundaknya, Tuan. Sepertinya dia terkejut hingga tak sadarkan diri," jawab Larry.


Aaron bangkit dari duduknya, kemudian lelaki itu langsung menghampiri Leana yang sudah dibaringkan di sofa.


"Sebentar, aku akan mengambil kunci mobilku dulu," kata Larry, "setelah itu, aku akan mengantarkan ke rumah sakit," ucapnya lagi.


Aaron mengangkat tangannya. "Tidak perlu, baringkan dia di kamarku," ucap Aron dengan entengnya.


Saat mendengar ucapan Aaron, Larry bertanya, "Maksud Anda, Tuan?"


Aaron tidak menjawab. Dia kembali ke mejanya, tapi Larry mengerti dengan apa yang diperintahkan oleh tuannya, hingga Larry pun kembali membungkuk, lalu membopong tubuh Leana dan membawanya ke kamar yang ada di ruangan pribadi Aaron.


Setelah Larry pergi, Aaron bangkit dari duduknya kemudian lelaki itu langsung berjalan ke arah kamar pribadinya, di mana Leana sedang dibaringkan di sana.


Aaron membuka kemejanya, kemudian lelaki itu juga membuka kausnya hingga kini dia bertelanjang dada, lalu setelah itu dia berbaring di sebelah Leana. Dia menopang kepalanya dengan tangan, menatap Leana dengan lekat. Tangannya tergerak untuk mengelus pipi wanita itu. Dia bergumam seorang diri berbicara tentang Leana, hingga pada akhirnya dia pun terlelap.


***


"Apa yang terjadi?" pekik Leana ketika melihat dia berbaring di sebelah Aaron.


Jangan ditanyakan betapa terkejutnya Leana. Dia bingung kenapa dia ada di sini. Seingatnya, dia semalam akan pulang. Tidak, bukan saatnya memikirkan apa yang terjadi semalam. Kini, saatnya dia pergi dan menghilang dari hadapan bosnya.


"Tetap di tempatmu," ucap Aaron ketika Leana akan turun membuat tubuh Leana mematung. Jantung Leana semakin berpacu dengan cepat, napasnya kian memburu ketika mendengar suara Aron.

__ADS_1


"Tuan," panggil.


"Sudah kubilang diam di tempatmu," ucapnya lagi dengan nada tidak ingin dibantah, hingga tubuh Leana dia mematung.


Beruntung posisi Leana membelakangi Aaron, hingga tidak bisa melihat raut wajahnya yang gugup.


Setengah jam berlalu, Aaron bangkit dari berbaringnya, lalu dia melihat ke arah Leana.


"Kau boleh pergi," kata Aaron hingga dengan cepat, Leana pun langsung turun dari ranjang. Baru saja Leana akan berlari, dia menghentikan langkahnya karena perutnya terasa keram, hingga Aaron pun bertanya,


"Kau tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa, Tuan," jawabnya, tapi baru saja dia akan melanjutkan langkahnya, keram di perut Leana semakin menjadi-jadi hingga dia berusaha mendudukkan diri di lantai, membuat Aaron langsung bangkit menghampiri Leana.


"Ada apa?" tanya Aaron.


"Maaf Tuan, izinkan aku menunggu di sini. Perutku sakit," kata Leana lagi.


"Tuan, kenapa aku ada di sini?" tanya Leana. Setelah dia dibaringkan Aaron, dia memberanikan diri bertanya, berharap dia menemukan jawaban.


Namun sayang, bukannya jawaban yang Leana dapat, dia malah merasa malu karena Aaron tidak menjawab pertanyaannya dan malah berbalik pergi begitu saja.


Ketika Aaron pergi, Leana menguatkan dirinya. Dia turun dari ranjang kemudian keluar dari kamar. Aaron berencana untuk pulang sebentar ke rumahnya, karena dia tidak memakai pakaian.


***


Setelah selesai bersiap dan sarapan, dia kembali ke kantor. Kali ini dia berharap Aaron atau Larry tidak ada di kantornya. Dan ketika sampai di kantor harapan Leana terkabul. Dia melihat ruangan Aaron tertutup dan tidak ada Larry di ruangannya. Sepertinya kedua orang itu sudah pergi, hingga bisa bebas bekerja.


"Leana."

__ADS_1


Leana memegang jantung yang berdegup sangat kencang ketika mendengar siapa yang memanggilnya. Ternyata, yang memanggilnya adalah Larry. Dia pikir Larry sudah tidak ada, dan jika Larry ada berarti Aaron pun ada.


"Iya, Tuan Larry?"


"Nanti malam persiapkan dirimu. Tuan Aaron akan mengajakmu untuk meneliti sesuatu," kata Larry membuat mata Leana membulat. Dia mati-matian menjauhi Aaron, tapi sekarang lihatlah dia malah harus bertatap muka dengan lelaki itu.


"Baik Tuan," jawab Leana. Dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan orang itu.


***


Leana berdiri di depan apartemen. Dia ragu untuk menekan bel karena ini adalah apartemen baru. Saat Larry mengantarkannya kemari dan menunjukkan unit apartemen milik bosnya. Tidak tahu kenapa dia harus datang ke sini, padahal tadi mengatakan akan meneliti sampel baru.


Sepuluh menit berlalu, akhirnya Leana memberanikan diri mengangkat tangannya. Wanita itu menekan bel, hingga tak lama pintu terbuka dari dalam. Muncullah Aaron membuka pintu dengan bertelanjang dada. Sepertinya lelaki itu baru saja mandi.


"Tuan," panggil Leana. Dia menunduk. Dia tidak berani menetap Aaron, apalagi Aaron hanya memakai handuk.


"Masuk," jawabnya. Suara dingin itu begitu menggetarkan. Leana mengikuti langkah Aaron masuk ke dalam apartemen.


"Silakan duduk," titahnya.


Leana duduk di sofanya, dan Aaron mengganti pakaian. Lima belas menit kemudian, Aaron keluar dengan pakaian casual seperti orang yang akan pergi.


Setelah keluar, Aron bukannya menghampiri Leana lelaki itu malah berjalan ke arah dapur sepertinya ingin mengambil minum dan tak lama terdengar suara derap langkah hingga Leana semakin menundukkan kepalanya.


Bagaimanapun melihat Aron bagai melihat hal yang menakutkan, karena tentu saja wajah Aron yang terlihat dingin dan terkesan tidak ramah.


“Minumlah,” kata Aron sambil menyimpan dua kaleng soda di meja. Baru saja Leana akan mengambil soda tersebut, menggigit bibirnya dia tidak mungkin minum-minuman seperti itu.


“Kenapa?” tanya Aron.

__ADS_1


Leana.


__ADS_2