Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Bingung


__ADS_3

Steve mengembangkan senyumnya kala melihat Maudy yang tampak cantik dengan kalung tersebut.


"Maudy, apa kau yakin Richard tidak akan marah?" tanya Steve lagi membuat Maudy menatap heran.


"Kenapa dari tadi kau terus membahas Richard? Memangnya kenapa Richard harus marah?" tanya Maudy, dia menatap Stev dengan tatapan bingung.


"Maksudku, sebentar lagi kau akan bertunangan dan menikah dengan Richard, aku merasa tidak enak jika kau memakai kalung pemberianku. Andai dia tahu, bagaimana responnya nanti?" tanya Steve yang khawatir. Walaupun dia memang mencintai Maudy, tapi dia juga menghargai perasaan Richard.


Hal itu membuat Maudy tertawa. "Tidak, mana mungkin dia marah," jawabnya dengan senyum yang sangat mengembang. Seolah senang di berikan kalung oleh Stev.


Steve mengerutkan keningnya saat melihat reaksi Maudy saat dia bertanya tentang Richard. Bukankah seharusnya seorang wanita akan terlihat bahagia ketika akan menikah? Namun, Stev baru menyadari bahwa Maudy sama sekali tidak terlihat antusias saat membahas pernikahan.


Maudy bahkan tidak keberatan memakai kalung itu, padahal Steve pikir bahwa sejak awal dia akan menolak pemberiannya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Maudy saya Stev membuat Steve tersadar.


"Oh iya, tentu aku baik-baik saja," jawab Steve.


Maudy pun berbalik, tapi tak lama dia kembali menoleh. "Kau sudah makan? Aku sudah memasak untukmu."


Karena sejak hubungan mereka membaik dan Steve pindah ke Jerman, Maudy selalu memasak untuknya. Mungkin itulah salah satu faktor kenapa Steve bisa jatuh cinta pada Maudy.


"Terima kasih, Maudy."


Steve langsung berjalan ke ruang makan, dan benar saja, di sana sudah terhidang beberapa masakan Maudy. Pria itu langsung mengambil piring kemudian memindahkan beberapa makanan ke sana.


Meskipun dia sudah kenyang memakan makanan di mall, tapi ketika Maudy memasak, Steve tidak akan pernah membuang kesempatan untuk memakannya. Dia berpikir inilah detik-detik kebersamaan mereka, sebab sebentar lagi mantan istrinya itu akan menjadi milik Richard.


Steve selalu merasa sesak dan senang secara bersamaan jika mengingat bahwa sebentar lagi Maudy akan menikah, hingga dia tidak akan bisa melihat pemandangan semacam ini lagi.


"Steve," panggil Maudy ketika Steve melamun.


Maudy mendudukkan dirinya di sebelah Steve kemudian menarik piring bersiap untuk makan, karena dia memang ingin makan bersama Stev.


Saat Maudy duduk, Steve kembali menatap kalung pemberiannya membuat dia tersenyum tanpa sadar. Kalung itu begitu indah di leher Maudy, dan di mata Stev, kecantikan Maudy bertambah berkali-kali lipat.


Sementara Maudy yang menyadari tatapan Stev mengerutkan keningnya. "Steve, apa kau gila? Kenapa kau terus senyum-senyum sendiri?" tanya Maudy.


Steve tersadar kemudian menggeleng. Lelaki itu meneruskan kegiatannya hingga acara makan pun selesai.


***


Steve dan Maudy sedang duduk di tepi kolam renang. Masing-masing menyandarkan tubuhnya ke belakang dengan kaki berselonjor. Sementara itu, Geo dan Leana sedang berenang.


"Aku tidak menyangka kita bisa seperti ini," ucap Maudy tiba-tiba membuat Steve menoleh. Maudy mengembangkan senyumnya kala mengingat masa lalunya dengan Steve.


Namun tak lama, Steve tersadar maksud dari ucapan Maudy membuat dia mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aku juga tidak percaya ada saat ini, di mana kita sudah berdamai." Begitupun dengan Stev, dia tersenyum menghiasi wajah lelaki itu, dia benar-benar tidak percaya ada di titik oni bersama Maudy.


'Dan aku juga tidak menyangka bisa mencintaimu,' batin Steve. Dia tidak pernah mengira bahwa orang yang dulu pernah dia manfaatkan dengan Alya, kini malah menjadi cintanya.


"Maudy," panggil Steve, "boleh aku bertanya?" Stev sedikit ragu untuk bertanya, tapi jiwa penasarannya meronta-ronta.


Sedari tadi, hal ini terus mengganggu pikiran Steve. Dia tahu bahwa bukan kapasitasnya untuk bertanya, tapi karena penasaran dia pun mencoba nekad meski tak tahu apakah Maudy akan menjawab atau tidak.


"Kenapa?" tanya Maudy sembari kemudian menoleh ke arah Steve. Wajah pria itu terlihat serius.


"Apa kau bahagia bersama Richard?" tanya Steve dengan ragu. Dia hampir membatalkan niatnya untuk bertanya. Namun karena sudah sangat penasaran, akhirnya Stev melanjutkan niatnya.


Hening. Tidak ada jawaban dari Maudy membuat Steve mengerutkan keningnya. Dia pikir bahwa jika memang wanita itu bahagia bersama Richard dan yakin Ricard, maka Maudy akan langsung menjawab bahkan dengan antusias. Namun sekarang, justru Maudy terlihat bingung.


"Maudy," panggil Steve lagi menyadarkan Maudy dari lamunannya. "Kenapa kau tidak menjawab? Apa kau bahagia? Entah kenapa, aku melihatmu seperti tidak nyaman dengan Richard."


Maudy menghela napas. "Aku bahagia," jawabnya. Namun, wajah Maudy mengatakan ada yang berbeda.


Namun, Steve masih bisa merasakan bahwa Maudy ragu menjawab pertanyaannya. Namun, dia tidak ingin memaksa hingga dia tak lagi bertanya. Biarlah selebihnya itu menjadi urusan Maudy, dia hanya bisa mendoakan agar mereka bahagia.


Maudy kini kembali bersandar. Lalu tiba-tiba dia terpikirkan sesuatu. "Steve, ayo kita berenang."


Belum Steve menjawab, Maudy sudah menarik tangan Steve dan mendorongnya ke kolam renang, membuat Geo dan Leana terkejut.


"Mommy, Daddy tidak bisa berenang!" teriak Geo membuat mata Maudy membulat panik, apalagi saat tersadar bahwa dia mendorong Steve ke bagian kolam yang cukup dalam.


Cepat-Cepat Maudy meloncat ke kolam untuk menyelamatkan Steve. Setelah berhasil, dia membawa pria itu ke tepi dengan bantuan Geo serta Leana.


Saat berada di tepi kolam, ternyata Steve sudah tidak sadarkan diri hingga Maudy semakin panik. Wanita itu terus memompa dada mantan suaminya untuk memberikan pertolongan pertama.


Wajah Maudy terlihat pucat dan tanpa pikir panjang, dia langsung memberi napas buatan untuk Steve yang saat ini mati-matian menahan tawa.


Steve memang tidak bisa berenang, dia juga mempunyai trauma. Namun satu tahun belakangan, dia selalu belajar untuk itu hingga akhirnya dia bisa. Lalu sekarang, dia hanya ingin mengerjai Maudy.


Tubuh Steve menegang dengan jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat, ketika Maudy memberikan napas buatan. Dia ingin sekali membalas ciuman Maudy, tapi tentu saja dia tidak berani.


Ketika Maudy sudah menegakkan kepalanya, Steve terbatuk berpura-pura tersadar..


Maudy langsung menghela nafas lega saat melihat Steve yang kini bangkit dari duduknya. Pria itu berpura-pura menepuk dadanya agar mantan istrinya percaya akan akting yang dia lakukan.

__ADS_1


tiba-tiba, Maudy memeluknya. Dia terlalu terkejut melihat Steve tidak sadarkan diri karena ulahnya. Dia takut terjadi apa-apa dengan pria ini..


Namun tak lama, Maudy tersadar dan dia pun langsung melepaskan pelukannya sembari mendorong sedikit tubuh pria itu.


"Maudy, apa kau sedang melakukan pembunuhan berencana?" tanya Stev saat melihat wajah Maudy yang pucat.


"Tidak, mana mungkin begitu," jawab Maudy.


Tak lama Maudy mengerutkan keningnya saat wajah Steve terlihat segar. "Pasti kau sedang mengerjaiku, 'kan?" tebak Maudy.


"Tidak, mana mungkin aku menjahilimu. Aku memang tidak bisa berenang."


"Tapi saat itu, aku melihat Paman Steve berenang." Tiba-Tiba Leana bicara membuat mata Maudy membulat. Dia langsung menatap Steve dengan tatapan tak percaya, apalagi barusan dia memberikan napas buatan untuk mantan suaminya.


Tawa Steve meledak saat melihat wajah kesal Maudy. Wanita itu bangkit dari duduknya dan mendorong Steve ke kolam hingga terjatuh. Dia langsung pergi meninggalkan mereka dengan wajah memerah.


"Bisa bisanya dia mengerjaiku!," gerutu Maudy.


***


Waktu menunjukkan pukul delapan malam


Ketika Steve, Maudy, Geo dan Leana tengah menikmati makan malam. Sedari tadi duduk di meja, Maudy tidak berani menatap mantan suaminya sama sekali.


Sementara Steve terus melihat ke Maudy dengan sorot jahil. Dia ingin melupakan sejenak tentang Maudy yang akan segera menjadi milik orang lain. Apalagi sekarang di mata Stev Maudy tampak menggemaskan.


Akhirnya, acara makan malam pun selesai. Mengingat bahwa pelayan di rumah Steve sedang tidak masuk, pria itu berkata, "Maudy, biar aku saja yang mencuci piring."


"Tidak usah, biar aku saja," jawab Maudy yang kini melanjutkan langkahnya disusul Geo juga Leana yang menyimpan piring masing-masing mereka.


Saat Steve menyimpan piring, dia tidak sengaja memegang tangan Maudy yang sedang berada di wastafel membuat wanita itu menoleh, hingga tatapan Maudy dan Stev saling mengunci satu sama lain.


Tak lama, Steve tersadar dan langsung melepaskan tangannya. "Maaf aku tidak sengaja."


Rasa canggung langsung meliputi keduanya, hingga Maudy langsung mencuci tangan dan mencipratkan airnya ke wajah Steve sambil tertawa.


Steve tidak ingin kalah, dia juga melakukan hal yang sama hingga kecanggungan itu pun hilang dengan sendirinya.


Tak lama terdengar suara bel membuat Steve menoleh. Dia pun langsung berjalan ke arah pintu dan melihat Richard.


"Maaf mengganggu kalian, apakah Leana dan Maudy ada di sini?" tanya Ricard, karena barusan dia pergi ke rumah Maudy namun tidak ada siapapun di sana hingga dia langsung menyusul ke rumah Steve


Rasa bahagia yang baru saja hadir di hati Steve, hilang begitu saja saat melihat Richard ada di depannya. Namun, dia tak bisa berbuat apapun selain tersenyum seolah semuanya baik-baik saja.


"Ada, tunggu aku akan panggilkan. Silakan masuk," ucap Steve. Dia pun berbalik untuk memanggil Leana juga Maudy.


"Leana," panggil Steve.


"Ayahmu mencarimu, dia menunggu di depan."


Tubuh Leana seketika menegang saat mendengar ucapan Steve. Dia yakin ayahnya akan membahas tentang hal yang tadi dia lakukan secara diam-diam, yakni menemui seseorang.


"Bilang saja aku sudah tidur."


Leana dengan cepat bangkit dari duduknya, kemudian berbaring di ranjang dan setelah itu dia menutup sekujur tubuhnya dengan selimut. Hal itu membuat Steve dan Geo sama-sama mengerutkan kening bingung. Mereka merasa ada yang aneh dengan gadis itu.


"Maudy," panggil Steve ketika dia menghampiri Maudy


Maudy yang sedang mengutak-atik ponselnya, langsung menoleh. "Ada Richard di depan."


Maudy tidak langsung menjawab hingga Steve berpikir bahwa Maudy malas menemui Richard. Namun tak lama, ekspresi wanita itu berubah senang. "Baiklah sampai jumpa, aku akan membawa Richard ke rumahku."


Steve mengangguk dengan hati yang pedih. Dia menatap punggung Maudy dengan perasaan yang hampa. Pada akhirnya, rasa gelisah itu muncul lagi membayangkan apa yang akan mereka lakukan di rumah wanita itu.


"Richard," panggil Maudy.


Richard pun menoleh kemudian tersenyum.


"Kau sedang tidak sibuk?" tanya Maudy karena kemarin, Richard mengatakan bahwa sedang sibuk.


"Tidak, aku ingin menemuimu juga Leana, tapi Steve bilang bahwa dia sudah tertidur."


"Tapi tadi dia sedang main game dengan Geo," jawab Maudy dengan polosnya membuat Richard memejamkan mata. Dia semakin yakin bahwa Leana sedang menghindarinya.


"Richard ada apa? Apakah telah terjadi masalah?" tanya Maudy ketika Richard terlihat melamun.


"Tidak, ayo kita ke rumahmu," ajak Richard.


Maudy mengangguk, mereka pun keluar dari rumah Steve. Lalu seperti biasa, Steve yang berada di balkon hanya bisa menatap mereka dengan sorot nanar.


"Daddy," panggil Geo menyadarkan Steve dari lamunannya hingga dia langsung menetralkan ekspresi.


"Apa Leana sudah bangun?" tanya Steve.


Geo berdiri di samping sang ayah, dia menyimpan tangannya di pagar balkon lalu kembali menatap Steve.


"Kenapa kau menatap Daddy seperti itu?" tanya Steve.

__ADS_1


"Daddy, apa kau masih menyukai Mommy?" a


tanya Geo tiba-tiba.


Seketika, Steve tersedak saat mendengar ucapan Geo. Bagaimana mungkin remaja lima belas tahun ini, mengerti dengan apa yang dia rasakan?


"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Steve yang mencoba untuk menetralkan eskrpesinya, meski itu tak cukup untuk mengelabui Geo.


"Ayolah Dad, kau sering menatap Mommy. Lalu secara diam-diam kau juga sering melihat fotonya yang ada di ponselmu. Itu sudah cukup mengatakan bahwa kau menyukai Mommy."


Steve speechless mendengar perkataan putranya. "Geo, umurmu bahkan belum genap tujuh belas tahun, lalu kau sudah mengerti hal semacam itu?"


"Dad, jangan mengalihkan pembicaraan," ucap Geo.


Steve tersenyum. Dia merasa bahwa seharusnya tidak ada lagi yang perlu dia tutupi dari putranya. "Kau benar, Daddy memang mencintainya."


"Nah, lihat, 'kan, sudah kubilang bahwa firasatku tidak akan meleset." Geo berbicara dengan penuh kebanggaan karena ternyata tebakannya benar.


"Jika kau sudah tahu dari dulu, kenapa kau tidak meminta Mommy dan Daddy untuk bersama?" Kali ini, Steve balik bertanya. Dia heran pada Geo yang tidak pernah menuntut apapun, termasuk meminta dia dan Maudy untuk kembali bersama. Karena itulah, dia begitu penasaran dengan jawaban putra mereka.


Geo terkekeh. "Apa jika kalian bersama, kalian akan tetap baik-baik saja seperti sekarang? Aku rasa tidak," jawabnya.


"Maksudmu?"


"Jujur, aku lebih senang kalian berteman seperti ini."


Steve kembali dibuat kehilangan kata saat mendengar ucapan Geo. Dia tidak menyangka putranya akan berpikir sejauh itu.


"Andai Mommy dan Daddy bersama sebelum ada Paman Richard, apa yang akan terjadi?" tanya Steve.


"Bisa saja kalian sering bertengkar seperti pasangan suami istri pada umumnya. Aku juga ingat kau sering membentak Mommy Alya. Walaupun itu terjadi saat aku kecil, tapi memori itu masih tersimpan di otakku."


"Kau masih mengingatnya?"


"Tentu, jadi aku rasa lebih baik kalian berteman saja."


Saat mendengar percakapan Geo dan juga Steve, Leana yang diam-diam berada di sana, tidak menyangka bahwa ayah calon saudara tirinya itu masih mempunyai perasaan pada Maudy.


Di sisi lain dia ingin Maudy menjadi ibunya, tapi di sisi lain dia tidak ingin nasib Maudy seperti ibu kandungnya. Haruskah Leana meminta Steve untuk menculik Maudy?


Berbagai pikiran buruk langsung menghantui pikiran Leana. Dia ingin mewujudkan niatnya, tapi dia bingung harus mulai dari mana untuk meminta tolong pada Steve, sedangkan dia sendiri tidak bisa menjelaskan secara gamblang apa yang telah terjadi.


Pada akhirnya, gadis itu berbalik. Namun baru beberapa langkah, dia terdiam saat tidak sengaja menendang sesuatu membuat Steve dan Geo menoleh. Keduanya begitu terkejut saat menyadari keberadaan Leana.


'Tunggu, jangan sampai Leana mendengar apa yang kami bicarakan. Bisa bahaya ketika dia memberitahukan pada Maudy jika aku masih mempunyai perasaan padanya,' batin Steve.


Leana menoleh kemudian tersenyum kikuk. "A-aku ke mari untuk ...."


"Kau tidak mendengar apa yang kamu bicarakan sebelumnya?" tanya Steve dengan jantung berdebar kencang, dia sungguh takut Leana mendengar semuanya.


Leana kini menunduk tanpa berkata apapun karena dia bingung harus menjawab apa. Namun tanpa bertanya lagi, Steve sudah tahu apa jawabannya.


"Ya sudah tidak usah dipikirkan, tolong tutup mulut dan jangan beritahukan ini pada Maudy. Kau mengerti?" tanya Steve.


Leana menggangguk. "Baik, Paman."


Leana kini menatap Steve dengan sorot yang menyiratkan bahwa dia ingin menyampaikan sesuatu, tapi di sisi lain merasa ragu. Beruntung, pria itu peka dan mengerti perasaannya hingga dia berkata, "Apa kau ingin mengatakan sesuatu pada Paman?"


Leana menggigit bibirnya. "Paman, apa kita bisa bicara serius?"


Leana merasa bahwa sepertinya sekarang dia harus memberanikan diri untuk berbicara dan meminta tolong padanya.


Lalu di sinilah mereka berada, yakni di sebuah kamar dan hanya ada mereka berdua di sana tanpa Geo, karena pemuda itu tidak ingin terlalu ikut campur.


"Ada yang kau pikirkan? Pama lihat kau sedang menjauhi ayahmu, apakah ada masalah?" tanya Steve.


Leana terdiam. "Paman berjanji, 'kan, tidak akan mengatakan ini pada siapapun?"


Leana rasanya ingin sekali menangis saat mengatakan seperti itu pada Steve. Ayah Geo tersebut kini mengelus rambutnya, pertanda bahwa dia memahami perasaan gadis ini.


"Leana, kau bisa memegang ucapan Paman. Paman tidak akan mengatakan apapun pada siapapun. Rahasiamu aman bersama Paman."


Leana menghela napas kemudian memejamkan matanya, berusaha untuk merangkai kata yang pas karena dia tidak ingin menjelaskan secara gamblang apa yang terjadi di masa lalu, melainkan garis besarnya saja.


Namun saat itu juga, Leana masih bingung harus memulai dari mana.


"Leana," panggil Steve.


"Paman, sebenarnya ...." Leana menggantung ucapannya, dia benar-benar merasa berat untuk berbicara.


Steve mengerutkan kening, dia sungguh bingung dengan gadis yang ada di depannya ini.


"Apa itu berat untuk diceritakan?" tebak Steve.


"Sangat berat," kata Leana. Kali ini, bibir gadis itu terlihat gemetar, dan bahkan bulir bening terjatuh dari pelupuk matanya.


Steve mendekat kemudian mengelus rambut Leana dan membawa anak itu ke dalam pelukannya. "Jika berat, tidak usah bercerita. Nanti saja jika kau siap."

__ADS_1


Leana membalas pelukan Steve dan menangis sejadi-jadinya. Ingatan gadis itu kembali pada masa lalu yang sangat menyakitkan, hingga dia bahkan merasa tak bisa bercerita ataupun menangis di hadapan siapapun.


Namun ketika Steve memeluknya, dia tak bisa menahan diri untuk menangis, apalagi sekarang dia mengingat saat sang ibu terkapar setelah jatuh dari lantai empat.


__ADS_2