
"Nona Leana, Anda tidak apa-apa?" tanya sopir ketika melihat Leana seperti ini.
Mendengar pertanyaan supir. Hati Leana bagai tersengat, hingga pada akhirnya Leana pun menumpahkan tangisannya. Dia menangis sesegukan hingga supir itu tidak berani bertanya lagi, dan memutuskan untuk menunggu Leana tenang. Lima belas menit kemudian, Leana sudah bisa menguasai diri. Wanita itu langsung mengambil tisu lalu mengelap wajahnya dan menoleh ke arah sopir. "Paman, tolong jangan mengatakan apapun pada Bibi Maudy dan Paman Stev," ucap Leana.
"Apa Anda baik-baik saja?" tanya sopir.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya merindukan ayahku," jawab Leana hingga sopir tidak bertanya lagi.
Leana menyandarkan tubuhnya ke belakang, kemudian dia menatap ke arah jalan dengan hati yang hancur.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh sopir sampai di bandara. Leana turun dari mobil, begitu pun sopir yang berniat untuk membawakan koper Leana untuk masuk kedalam.
"Paman, terima kasih sudah mengantarku kemari," ucap Leana hingga sopir itu pun mengangguk.
"Ayo Nona, biar saya antar ke dalam," kata sopir, tapi Leana menggeleng.
"Tidak Paman, aku bisa pergi sendiri. Kalau begitu sampai jumpa," ucap Leana, dengan cepat menarik koper di tangannya kemudian wanita itu langsung masuk ke dalam membuat sopir itu mengerutkan keningnya. Namun, tak urung lelaki itu berbalik kemudian masuk ke dalam mobil karena Leana sudah tidak terlihat.
Leana mendudukkan diri di kursi tunggu, kemudian dia melihat paspor dan juga tiket di tangannya. Tentu saja itu tidak akan dia gunakan, sebab dia tidak akan pernah pergi ke luar negeri, melainkan dia akan pergi ke sebuah kota yang sudah dia tetapkan dari kemarin-kemarin.
Sebelum pergi, Leana sudah memikirkan dia harus bekerja apa, tinggal di kota mana dan juga mempersiapkan hal lain-lain agar ketika sampai di kota yang dia tuju, dia tidak terlalu kebingungan.
Leana melihat jam di pergelangan tangannya. Ini sudah satu setengah jam dia menunggu di bandara, dia memutuskan untuk menunggu sebentar lagi karena takut sopir masih ada di depan bandara, dan belum pulang ke rumah Steve dan Maudy.
Setengah jam berlalu, Leana bangkit dari duduknya kemudian wanita itu langsung keluar dari bandara. Dia berdiri di depan bandara, wanita itu sedang menunggu taksi.
Sebelum taksi datang, Leana menatap ke sekitarnya, kemudian tersenyum getir. Entah kapan dia bisa pergi ke kota ini lagi, kota yang memberinya sejuta kenangan indah dan juga menyakitkan.
Tak lama, ada taksi yang melintas di hadapannya hingga Leana pun langsung menyetop kemudian memasukkan koper ke dalam bagasi, dan masuk ke dalam.
Leana menyadarkan tubuhnya ke belakang. Dia yang sedang memegang ponsel, langsung mengutak-atiknya kemudian membuka galeri, di mana di sana banyak sekali foto kebersamaannya dan juga keluarga Geo.
"Paman, Bibi, tidak dibayangkan jika tidak ada kalian, aku pasti tidak akan sampai seperti ini. Aku pasti akan tumbuh menjadi anak yang penuh dengan luka. Terima kasih," ucap Leana.
Leana mematikan ponsel miliknya, kemudian dia mengeluarkan sim card dari ponselnya lalu membuka jendela, dan membuang sim card miliknya. Tentu saja agar tidak ada yang melacak keberadaannya. Dia pun tidak akan memakai ponsel yang lama, dan akan memakai ponsel baru yang sudah dia beli.
__ADS_1
.
***
Akhirnya taksi sampai di halte bus. Leana pun langsung turun dari taksi, kemudian dia langsung membuka bagasi dan membawa kopernya. Leana menunggu di halte bus. Dia mendudukkan sejenak dirinya di sana, sebab dia menunggu bus yang akan datang satu jam lagi.
Leana memegang perutnya yang terasa lapar. Dia membuka tasnya, kemudian mengambil roti gandum, lalu memakan itu. Ketika Leana memakan roti yang dia pegang, matanya berkaca-kaca. Ini adalah roti terakhir yang dia bawa, yang juga roti buatan Maudy.
Rasa sesak, rasa nyeri rasa sakit menghantam dada Leana, tangis kembali berlinang, bersamaan dengan roti yang dia makan, karena dia sadar dia tidak akan pernah lagi makan masakan Maudy.
"Aku merindukanmu," ucap Leana, padahal dia baru berpisah dengan Maudy beberapa jam lalu. Tak bisa di bayangkan betapa kesepiannya dia ketika sudah meninggalkan kota ini.
Satu jam kemudian, bus mulai terlihat. Beberapa orang yang duduk langsung bangkit dari duduknya untuk menaiki bus tersebut, termasuk Leana.
Saat akan masuk, Leana hampir saja terjatuh ketika beberapa orang menyerobot dari arah belakang. Walaupun hal yang sederhana, tapi entah kenapa Leana ingin sekali menangis, walau bagaimanapun ini pertama kalinya dia mengalami hal seperti ini.
Akhirnya setelah bersusah payah masuk ke dalam bus, Leana bisa duduk dengan tenang. Dia menyandarkan tubuhnya ke belakang, menatap ke arah jalan. Sesekali dia mengusap dadanya yang terasa sesak, hingga pada akhirnya Leana lebih memilih untuk memejamkan matanya, sebab dia masih harus menempuh perjalanan tujuh jam untuk ke kota yang akan dia tempuh.
***
Setiap detik yang berlalu, dilalui Geo dengan perasaan yang aneh. Semacam ada rasa sesak, tapi dia terlalu gengsi untuk mengakui itu. Saat dia melamun, pintu gerbang terbuka. Muncul sebuah mobil yang tadi dipakai untuk mengantar Leana, hingga lelaki itu pun langsung bangkit kemudian dia berjalan ke arah pekarangan, menunggu mobil itu di sana.
"Ada apa, Tuan?" tanya supir ketika Geo mengetuk kaca mobilnya.
"Apa Paman mengantar Leana ke dalam bandara?" tanya Geo, sopir terdiam.
"Tidak Tuan, Nona Leana melarang saya untuk mengikutinya ke dalam," jawab supir yang menatap Geo dengan bingung.
Tiba-Tiba jantung Geo bergemuruh. Entah kenapa dia merasa ada yang aneh, padahal sudah jelas koper yang dibawa Leana cukup besar dan tentu membutuhkan orang lain untuk membawanya.
"Apa Paman tadi menunggu sampai pesawat Leana terbang?" tanya Geo dengan bodohnya. Tentu saja tidak, sebab Leana akan dijadwalkan terbang pada pukul empat sore, dan tidak mungkin sopir menunggu selama itu.
"Tidak Tuan, Nona Leana melarang saya dan menyuruh saya untuk cepat pulang," ucap sopir.
Tiba-Tiba Geo merogoh saku, kemudian mengutak-atik ponselnya, lalu setelah itu menelepon nomor Leana. Padahal dia sendiri yang ingin memanas-manasi wanita itu. Namun, lihatlah dia sendiri yang merasa gelisah ketika merasa ada yang aneh dengan wanita yang dia cintai.
__ADS_1
Geo memejamkan matanya kala ponsel Leana tidak bisa dihubungi. Dia terus menekan tombol hijau, memanggil wanita itu. Namun setelah beberapa kali mencoba, tidak bisa dihubungi. Sepersekian detik, dia tersadar.
"Untuk apa juga aku memikirkannya?"
Pada akhirnya Geo pun berbalik. Dia memutuskan untuk kembali ke rumah, berusaha meredam rasa khawatir dan rasa tidak menentu yang dia rasakan, dan ketika dia masuk, terdengar suara orang berbincang dari arah ruang tamu. Sepertinya, Claudia sedang berbincang bersama kedua orang tuanya.
Geo yang sedang merasa khawatir pada Leana, memutuskan untuk pergi langsung ke kamar, tidak menemani Claudia. Rasanya dia benar-benar tidak karuan.
Walaupun sempat mengelak dengan perasaannya, tapi rasa khawatir itu tetap ada, apalagi ponsel Leana tidak bisa dihubungi, dan dia tahu betul selama hidup dengan Leana, Leana tidak pernah mematikan ponselnya. Mustahil juga Leana kehabisan baterai, wanita itu selalu membawa powerbank kemana-mana.
Geo masuk ke dalam kamar. Lelaki itu langsung berjalan ke arah ranjang, kemudian dia membanting tubuhnya di ranjang. Saat berbaring, Geo melihat cincin yang melingkar di jari tengahnya, cincin pernikahannya dengan Claudia.
Ada rasa menyesal karena telah mengambil langkah ini, tapi ketika dia mengingat penolakan Leana, dia merasa tidak ada yang harus disesali olehnya. Leana harus merasakan rasa sakit karena ditolak, begitulah pikir Geo.
Tak lama, lamunan Geo buyar kala pintu terbuka, terdengar suara derap langkah hingga Geo yang sedang melamun, langsung menoleh ke arah pintu dan ternyata Claudia yang masuk.
Entah kenapa saat melihat Claudia, rasanya Geo menjadi tidak semangat. Bukankah seharusnya pengantin baru menikmati momen yang manis? Namun entahlah dia serasa tidak memikirkan hal itu, padahal dari semalam Claudia sudah menggodanya, bahkan Claudia juga memakai pakaian yang sangat tipis. Dia hanya tergoda sebentar.
Namun, dia berhasil mengendalikan dirinya kala wajah Leana terngiang di otaknya, hingga pada akhirnya dia berhasil memberikan alasan pada Claudia, bahwa dia sedang lelah hingga malam pertama mereka pun tentu tertunda sampai detik ini, dan sekarang Claudia berencana untuk menggoda Geo lagi.
Tak masalah jika Geo sekarang belum mencintainya, tapi setidaknya dia harus mengandung darah daging suaminya agar Geo tidak bisa lepas darinya, begitulah pikir Claudia.
Claudia mendudukkan diri di ranjang. Wanita cantik itu melihat ke arah Geo. Claudia berusaha seanggun mungkin di hadapan suaminya kala dia mengangkat kakinya, kemudian dia langsung berbaring di samping Geo, lalu setelah itu tangannya mengelus disertai rasa geli.
Geo tidak biasa dengan wanita yang agresif, dan tanpa sadar Geo langsung menjauhkan tubuhnya dari tubuh Claudia membuat Claudia membulatkan matanya, karena dia merasa benar-benar ditolak oleh suaminya.
"Geo," panggil Claudia.
"Claudia, kita tunda dulu, oke? Aku masih belum siap," kata Geo membuat mata Claudia kembali membulat.
"Seharusnya kita melakukannya kemarin malam. Seharusnya kita melakukan apa yang pasangan suami istri lakukan, lalu kenapa kau terus menundanya?" tanya Claudia. Wajah Claudia menjadi sendu, membuat dia tidak tega. Dia memejamkan matanya kemudian menahan napas sebanyak-banyaknya.
"Baiklah, ayo kita lakukan," ucap Geo.
Claudia bersorak girang. Wanita itu bahkan membuka pakaiannya secara langsung dan saat Geo akan bangkit, melihat tubuh Claudia yang polos tiba-tiba wajah Leana langsung terngiang di otaknya hingga pada akhirnya dia kembali tertidur.
__ADS_1
"Nanti malam saja, ya, aku perlu mengumpulkan tenagaku," ucap Geo hingga wajah Claudia memerah, sebab dia sudah membuka pakaiannya, dan setelah itu Geo memalingkan tatapannya ke arah lain. Dia menutup matanya dan berusaha terlelap agar tidak merasa canggung pada Claudia.