Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
konspirasi


__ADS_3

Saat mendengar tangisan Leana, Steve terus mengelus lembut gadis ini, seolah turut merasakan beban berat yang sangat dipikul oleh putri Richard ini.


Seperempat jam kemudian, akhirnya Leana bisa menguasai diri hingga dia langsung melepaskan diri dari pelukan Steve. "Maafkan aku, Paman." Leana langsung menghapus air matanya, walaupun setelah di hapus Air mata terus mengenang, membasahi pipinya.


"Oke, tidak apa-apa. Itu pasti sangat berat untukmu," kata Steve, dia mengelus rambut Leana, membuat tangis Leana kembali mengencang.


"Benar-Benar berat karena ini berkaitan dengan ibuku." Wajah Leana terlihat sangat sendu, gadis remaja itu seolah sedang bernostalgia dengan rasa sakitnya.


"Ibumu?" Ulang Stev.


"Kematian ibuku sangat tragis, dan aku ada di sana mendengar semuanya, dan juga ...." Leana menggantung perkataannya karena tidak mampu untuk meneruskan. Suara gadis itu tenggelam dengan tangisannya sendiri.


Saat itu, dia baru berusia sembilan tahun, tapi dia mengerti betul dengan apa yang terjadi.


"Ya sudah jika berat, ceritakan pada Paman jika kamu sudah siap," ucap Steve. Dia membantu menghapus air mata Leana.


"Kau istirahat saja. Jika kau masih ingin tinggal di sini enggan bertemu ayahmu, silakan. Paman tidak akan melarangmu," ucap Steve yang memahami bahwa Leana memang sedang menghindar dari Richard.


Leana mengangguk, gadis itu langsung membaringkan tubuhnya dan menarik selimut. Pada saat itu, Steve keluar dari kamar yang ditempati oleh Leana.


"Ya Tuhan! Kau mengagetkan Daddy saja," ucap Steve pada Geo yang sedari tadi menunggu di luar.


"Sepertinya dia sedang ada masalah dengan Paman Richard," kata Geo lagi, dia mendadak penasaran dengan apa yang terjadi.


Steve mengangguk. "Tapi itu bukan urusan kita, ayo pergi," ajaknya pada Geo.


***


"Richard, apa ada yang kau pikirkan?" tanya Maudy ketika melihat Richard melamun.


Maudy duduk di sebelah Richard dan dengan refleks, pria itu bergeser menjauh. Namun tak lama, dia tersadar dan kembali ke posisi awalnya.


"Ada masalah?" tanya Maudy yang melewatkan pembahasan tentang apa yang baru saja Richard lakukan.


"Entahlah, sepertinya Leana menjauh dariku," jawab Richard dengan wajah yang sendu.


"Menjauh?" ulang Maudy.


Mata Richard membulat saat secara tak sengaja dia mengatakan perasaannya, di saat dia tidak mungkin menjelaskan bahwa Leana sengaja menjauh.


"Menjauh kenapa?" tanya Maudy.


"Karena Lean—"


"Oh mungkin dia hanya lelah." Tiba-Tiba Maudy memotong ucapan Richard, seolah mengerti dengan apa yang di rasakan oleh pria itu, Maudy mengerti mungkin berat untuk Ricard menceritakan padanya.


Richard kini mengerutkan kening. Dia baru menyadari bahwa selama ini, Maudy tidak pernah mencampuri urusannya. Dia tidak pernah bertanya berlebihan padanya tentang hal-hal pribadi seperti ini.


"Kenapa?" tanya Maudy ketika Richard menatapnya dengan sorot berbeda.


Richard menggeleng. "Tidak apa-apa," katanya sembari menepuk pahanya, membuat Maudy langsung merebahkan kepala di sana.


"Richard," panggil Maudy. Lelaki itu menunduk dengan tangan mengelus rambut wanita itu.


"Belakangan ini aku tidak melihat Matteo, ke mana dia?" tanya Maudy.


"Uhuk!" Richard seketika terseda mendengar pertanyaan Maudy.


"Kenapa kau menanyakan Matteo?" tanya balik Richard dengan gugup.


"Tidak, biasanya dia selalu ada di sekitarmu, tapi sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya. Ke mana dia?"


"Oh, dia sedang berada di luar kota," jawab Richard.


Maudy mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Apa kau ingin rumah baru setelah kita menikah?" tanya Richard yang tiba-tiba membahas hal lain karena tidak ingin Maudy kembali berbicara tentang Matteo.


"Apa kau ingin pindah rumah?" Maudy lagi-lagi bertanya balik.


"Tidak, aku pikir kau ingin suasana baru."


"Aku bisa tinggal di mana saja," jawab Maudy yang seolah menutup pembicaraan. Tatapannya kini lurus ke depan, dan saat itu dia kembali teringat kejadian tadi siang.


Namun tak lama, Maudy menggeleng melarang dirinya untuk mengingat hal itu.


***


Richard keluar dari rumah Maudy setelah wanita itu tertidur. Lalu sekarang, dia berniat untuk menemui Leana karena harus membawa anak itu pulang. Dia tidak ingin putrinya terus memikirkan soal masa lalu, apalagi sampai membuat hubungan mereka memburuk.


Kebetulan, saat Richard masuk ke dalam rumah, dia melihat Leana sedang bersama Geo, keduanya tengah memainkan kembang api di halaman rumah.


Awalnya Leana memang ingin tidur, tapi dia tidak kunjung terlelap, hingga dia pun keluar dari kamar dan mengajak Geo bermain kembang api. Dia pun berpikir bahwa Richard sudah pulang, tapi nyatanya tidak dan kini justru sedang memperhatikan mereka.


"Leana," panggil Richard saat masuk.


Leana langsung terdiam. Senyumannya luntur saat melihat Richard yang kini berjalan ke arah mereka.


"Ayo pulang bersama Daddy," ajak Richard, berharap Leana mau pulang bersamanya.


Leana masih terdiam. "Aku ingin menginap di sini." Dia berucap dengan ketus, menatap ayahnya dengan tatapan marah.

__ADS_1


"Leana," panggil Richard dengan nada menekan pertanda bahwa Leana tidak bisa menolak, hingga akhirnya dia pun mengangguk.


"Kita bermain lagi besok, Geo," kata Leana yang kini masuk ke dalam rumah untuk mengambil tas. Tak lama, dia kembali keluar menemui Richard.


***


Hening, tidak ada yang bersuara karena baik Richard atau Leana, keduanya sama-sama terdiam.


Richard fokus mengemudi, sedangkan Leana yang duduk di belakang, berpura-pura sibuk memainkan ponsel karena tidak ingin mendengar apapun yang diucapkan ayahnya. Itulah alasan kenapa dia memilih duduk belakang dan mengotak-atik ponselnya.


"Leana," panggil Richard, setengah sekian lama terdiam, akhirnya Ricard memberanikan diri memanggil Leana.


"Aku tidak mau mendengar apapun," jawab Leana, dia mendahului sang ayah untuk melarangnya bicara.


"Kenapa kau menemui dia?" Walaupun sudah mendengar ultimatum dari Leana, yang tidak ingin mendengar ucapan Richard, tapi Richard tetap berbicara pada putrinya.


Leana menghentikan gerakannya yang sedang bermain ponsel. Mata gadis itu mulai basah ketika dia tiba-tiba teringat lagi dengan apa yang orang itu katakan.


"Itu hakku mau menemui siapapun," jawab Leana.


"Leana!" Ricard meninggikan suaranya ketika mendengar jawaban Leana.


"Apa?!" sahut Leana yang kali ini berteriak membuat Richard langsung memarkirkan mobilnya ke pinggir jalan kemudian menoleh pada putrinya.


"Kenapa kau menemui dia?" tanya Richard yang sejak tadi berusaha sabar menghadapi Leana, karena dia tahu gadis itu sedang berada di titik emosi tertingginya.


"Aku tidak mau menjawab, karena tanpa itu pun kau tahu jawabannya."


"Tolonglah jangan mempersulit Daddy."


"Kau yang mempersulit posisi kita semua," ucap Leana, "apa perlu aku bongkar semua bahwa Daddy ...."


Leana menggantung meneruskan ucapannya. Dia menggeleng. "Aku tidak mau membahas ini."


Sebab jika Leana memaksakan diri berbicara dan membahas ini, maka dia pasti akan merasakan sakit yang luar biasa karena mengingat sang ibu. Richard pun akhirnya kembali menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya karena tahu bahwa emosi Leana sedang meledak-ledak.


***


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Richard sampai di kediaman mewahnya. Leana turun dari mobil kemudian masuk tanpa menunggu sang ayah.


Richard menggeleng, dia menyandarkan tubuh ke belakang sembari menatap putrinya yang sedang berjalan. "Tuhan, bukan mauku seperti ini, tapi kenapa semesta seolah tidak mendukungku?"


Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Richard. Dia sungguh bingung harus bagaimana menghadapi semua tekanan yang menerpa hingga dia merasa kehilangan jati dirinya sendiri.


Richard mengusap kasar, bagaimana pun inilah yang harus dilalui olehnya


Setelah puas merenung, Richard pun keluar dari mobil kemudian. Lelaki itu berjalan dengan cepat ke dalam sana.


***


Lalu sedari kemarin, Steve mengurung dirinya di kamar. Lelaki itu bahkan sampai berpura-pura demam karena tidak ingin melihat Maudy yang membuatkan akan bertambah sakit.


"Steve," panggil Elsa dari luar. Rupanya, ayah dan ibunya memang sudah sampai ke Jerman untuk menyaksikan pertunangan mantan menantunya, dan Elsa juga tau perasaan Stev karena dia mendengar dari Geo, bahwa putranya masih mencintai Maudy.


Awalnya Elsa dan Nauder senang mendengar itu, tapi perasaan tersebut tidak bertahan lama ketika tahu bahwa ternyata Maudy pun sudah memilih Richard.


Steve menghela napas ketika mendengar suara ibunya. Dia pun bangkit kemudian membukakan pintu untuk Elsa.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Elsa. Dia menatap Stev dengan tatapan khawatir.


"Memangnya aku kenapa?" tanya balik Steve sembari terkekeh. Namun, Elsa masih bisa melihat kesedihan yang terselip di wajah putranya.


"Ayo makan, Mommy sudah membuatkan bubur."


"Nanti saja, aku masih mau beristirahat," ucap Steve lagi.


Elsa mengangguk dan Steve kembali menutup pintu kamar lalu berjalan ke arah ranjang. Dia lagi-lagi membaringkan tubuh di sana.


Steve membuka ponsel dan melihat foto Maudy yang diambil secara sembunyi-sembunyi. Dia kini mengusap layar hingga tidak terasa, bulir bening terjatuh dari pelupuk matanya.


***


Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, Steve mematut diri di cermin. Seandainya tidak menghormati Maudy dan Richard, dia sungguh enggan datang ke acara pertunangan mereka. Tentu saja dia akan melihat hal yang sangat menyakitkan.


"Steve, kau sudah selesai?" tanya Nauder dari luar.


Steve tersadar kemudian menormalkan ekspresinya. "Sudah, Dad."


Steve pun keluar dari kamar dan ternyata, Nauder pun terlihat sudah siap.


"Ayo kita pergi," ajak Nauder. Steve mengangguk dan mereka pun keluar dari rumah untuk pergi ke acara pertunangan Maudy dan Richard.


***


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Dari tadi, Steve terus melamun. Detik demi detik yang dia lalui dipenuhi dengan rasa gelisah.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka sampai di hotel tempat diselenggarakannya acara pertunangan Maudy dan Richard. Pesta digelar begitu mewah, mobil-mobil mewah berjejer rapi di depan membuat Steve kini tersenyum getir.


'Maudy pasti benar-benar bahagia bersama Richard,' batin Steve.


"Ayo," ajak Nauder.

__ADS_1


Setelah itu, mereka pun masuk ke dalam. Saat masuk ke dalam, Richard dan Maudy sedang berada di podium. Keduanya sedang memberi sambutan untuk para tamu.


Di saat Elsa Nauder dan Geo sudah duduk di kursi tamu, Steve masih berdiri. Dia terus menatap Maudy yang sedang menggandeng tangan Richard. Tidak lama, wanita itu melihat ke arahnya.


Pandangan mata mantan pasangan suami-istri itu saling mengunci. Maudy menatap Steve dengan tatapan yang tak bisa diartikan, hingga akhirnya dia tersenyum tipis.


Steve tersadar, Steve membalas senyuman Maudy lalu dia pun duduk di kursi tunggu.


Acara demi acara pun berlangsung dengan lancar, hingga sekarang detik-detik menyakitkan bagi Steve dimulai ketika Maudy dan Richard akan saling memakaikan cincin pada satu sama lain.


Steve kini bangkit dari duduknya kemudian memutuskan untuk keluar dari hotel, dia merasa tidak akan sanggup melihat Maudy menyematkan cincin pada Richard.


Saat Steve akan melangkah, tiba-tiba lampu padam disusul oleh suara teriakan yang dia tahu itu adalah Maudy. Secepat kilat, dia mengeluarkan ponsel kemudian menyalakan senter.


Steve kini bisa melihat Richard yang sedang panik mencari Maudy karena wanita itu tidak ada di podium. Seketika, suasana begitu ricuh.


Richard berteriak memanggil anak buahnya untuk mencari Maudy. Dia juga langsung turun dan berlari ke sana ke mari mencari calon istrinya penuh kekhawatiran.


Steve kini berlari keluar mengejar sebuah mobil yang baru saja meninggalkan area hotel, dan mobil itu lah yang pertama kali keluar setelah pemadaman, membuat Stev curiga bahwa Maudy ada di sana.


"Sial!" teriak Steve ketika dia tidak berhasil mengejar mobil yang membawa Maudy. Namun, beruntung dia berhasil menghafal plat nomor mobil tersebut.


Steve berbalik kemudian berlari ke arah mobilnya untuk mengejar Maudy.


Steve mengendarai mobil dengan kecepatan sangat kencang. Berkali-kali dia melihat ujung mobil itu, tapi berulang kali juga mobil lain menyalip di hadapannya hingga Steve sedikit kewalahan.


Steve berteriak ketika dia kehilangan mobil yang tadi dia kejar. Lalu setelah itu, dia berbelok ke kiri di saat mobil yang membawa Maudy berbelok ke kanan.


***


Waktu menunjukkan pukul empat dini hari ketika Richard keluar dari mobil dengan tampilan yang berantakan. Maudy tidak kunjung ditemukan setelah dia mencarinya ke sana ke mari.


Ricard sudah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Maudy, dia juga sudah menyuruh seluruh kepolisian untuk menutup jalan, tapi sampai sekarang polisi pun belum berhasil menemukan Maudy


Ricard mendudukkan dirinya di sofa, lelaki itu menyandarkan tubuhnya ke belakang mencoba untuk menerka-nerka siapa yang menculik Maudy. Sebab, tidak mungkin Mateo Karena dia sudah mengurung Mateo dan merampas ponsel lelaki itu hingga dia yakin Mateo tidak bisa menelepon siapapun


“Maudy di mana kau,"; ucap Richard, bulir bening langsung jatuh dari pelupuk matanya saat mengingat Maudy, dia takut terjadi apa-apa dengan wanita itu.


Stev keluar dari mobil, dia juga sudah mencari mau di kesana kemari tapi Maudy tidak ada di manapun. Bahkan dia sudah mencari ke sudut-sudut kotak kecil tapi, Maudy juga tidak ada di sana.


“Stev, apakah kau sudah menemukan Maudy?"!tanya Nauder ketika Stev masu.


“Daddy belum tidur?‘ tanya Stev lagi.


“Mana bisa Daddy tidur, saat Maudy belum di temukan.”Tiba-tiba, tubuh Stev ambruk di lantai, rasanya tubuhnya melemas, membayangkan apa yang akan terjadi pada Maudy.


“Stev, kau baik-baik saja?" tanya nauder, yang ikut menekuk kakinya.


“Dad, bagaimana bagaimana jika sesuatu terjadi pada Maudy. Bagaimana jika ada yang melukai Maudy, bagaimana jika ...." pikiran buruk sudah mengelilingi Steve, berbagai prasangka buruk terus menghantam otak lelaki itu, dia sungguh takut terjadi sesuatu dengan mantan istrinya.


Nauder membantu Stev untung bangkit, kemudian membawa Stev ke sofa, lalu dia langsung berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum.


“Tenanglah, biar Daddy mencarinya sekarang.”


“Dad, tolong cari Maudy, jangan sampai dia kenapa-napa," ucap Stev lagi.


“Hmm, Daddy akan mencarinya. Sekarang, istirahatlah.” Stev yang memang sudah lelah memutuskan untuk mencari Maudy keesokan harinya. Setelah Stev selesai minum, Nauder membopong tubuh Steve ke kamar, dia tahu putranya begitu hancur dan setelah di kamar Nauder langsung membaringkan tubuh Steve lalu membuka jam tangan putranya. Setelah itu menyelimuti tubuh Stev.


Setelah putranya memejamkan mata, Nauder pun keluar dari kamar Stev, dia langsung berjalan ke kamarnya dan masuk ke dalam kamar, Karena Nauder memutuskan untuk kembali tertidur, apalagi ini masih dini hari.


***


“Tolong aku Steve, bantu aku!"


“Maudy ...." Steve berteriak, dia langsung terbangun dari tidurnya. Rupanya barusan dia bermimpi buruk, di mana Maudy diseret menggunakan tali.


Stev melihat ke arah jam, ternyata waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi. Tidak, dia tidak boleh diam saja dia harus mencari Maudy. Dengan cepat, lelaki itu pun turun dari ranjang kemudian dengan menarik handuk Lalu setelah itu dia berjalan ke kamar mandi.


Setengah jam kemudian, Stev keluar dengan tubuh yang segar, dia sudah memakai pakaian. Lalu setelah itu dia langsung pergi keluar


“Dad, Bagaimana. Apa ada perkembangan?” tanya Stev ketika Nauder sedang sarapan.


“ Bukankah Daddy tadi pagi akan bergerak?” lalu apa tidak ada hasil?” tanya Stev lagi.


“Hmm, Daddy sudah menyuruh anak buah Daddy yang ada di sini untuk menyebar ke seluruh sudut kota, tapi Maudy tidak ada, dan Daddy yakin mungkin Maudy tidak akan pergi jauh, dia pasti masih ada sekitar sini. Ayo sarapan sebelum kau mencari Maudy.” .


“Daddy dipikir aku bisa sarapan saat aku belum menemukan Maudy,” ucap Stev.


“Ya, sudah pergi saja sana," ucap Nauder lagi. Stev pun langsung berlalu pergi.


Stev mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, demi apapun dia tidak akan pernah memaafkan orang yang menculik Maudy apalagi sampai membuat Maudy terluka.


Dan di sinilah mobil Stev teerparkir, dia memarkirkan mobil Maudy di di hotel tempat dilaksanakannya acara pertunangan Maudy dan juga Richard.


Cepat saat dia turun, ternyata Richard pun juga turun. “Kau sudah menemukan Maudy tanya Steve?" Ricard menggeleng.


“Belum, Aku ingin memeriksa seluruh tv terlebih dahulu.”


“Ya, sudah ayo kita cari Maudy bersama-sama,” jawab Steve.


Sementara di sisi lain, Maudy terbangun dari tidurnya, dia melihat jam ternyata waktu menunjukkan pukul 09.00 pagi.

__ADS_1


Maudy turun dari ranjang kemudian wanita itu langsung membuka tirai, dia tersenyum ketika melihat pemandangan indah di depannya. Tak lama dia teringat kejadian semalam, dimana dia ....


__ADS_2