Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Keputusan


__ADS_3

Steve meringis ketika Nauder memukull perutnya. Lelaki itu berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar oleh siapapun, sedangkan Nauder sudah kepalang emosi hingga dia memukulnya.


"Kenapa kau lakukan ini?" tanya Nauder. Dia berbicara dengan nada pelan tapi terdengar geraman di dalamnya, pertanda bahwa dia benar-benar merasa emosi.


Steve hanya bisa menegakkan tubuhnya tanpa berani mengangkat kepala apalagi melihat mata sang ayah. Sesekali, dia meringis karena pukulan Nauder benar-benar terasa nyeri hingga ke ulu hati.


"Katakan pada Daddy, apa Daddy pernah mendidikmu seperti ini? Kenapa kau tidak pernah bisa berubah? Kenapa kau dan istrimu—"


"Cukup, Daddy." Kali ini, Steve berani untuk berbicara. Jika sang ayah punya keputusan, maka dia pun punya keputusan. "Iya, memang aku yang melakukannya, aku yang menghasut Geo untuk menjauh dari Maudy."


Saat Nauder akan melangkah maju, dia tiba-tiba terdiam kala mendengar Steve berkata, "Kau boleh memukulku, kau boleh menghajarku, tapi aku tidak akan pernah lagi menyerahkan Geo pada Maudy. Cepat atau lambat, aku akan membawa dia pulang dari sini."


"Steve, apa kau gila? Apa kau bodoh hingga kau memisahkan anak dari ibunya? Di mana otakmu?!" teriak Nauder yang terpancing emosi.


Steve tertawa. "Siapa yang peduli? Yang aku pikiran hanyalah Geo anakku, dan aku tidak akan pernah lagi terima jika aku dipisahkan darinya."


"Pulang kau, Steve." Nauder berencana akan membawa Geo pergi jauh dari sini.


"Tidak, aku tidak akan pernah melepaskan Geo." Walaupun dia berani membantah sang ayah dan menjawab apapun yang Nauder ucapkan, tapi rasa takut tetap ada dalam hati pria. Namun, jika dia tidak melawan atau memberontak, Nauder akan terus menekannya.


Steve pun merasa bahwa sekarang adalah waktunya untuk membeberkan semua hal dan mengambil Geo kembali dan itu membuat Nauder kehilangan kata-kata.


Pada saat itu, sebuah tamparan mendarat di pipi Steve yang ternyata berasal dari Elsa yang tiba-tiba datang dan langsung menamparnya.


"Steve!" teriak Elsa membuat Steve menunduk. "Apa aku pernah mengajarimu untuk bertingkah seperti ini? Apa kau juga tahu siapa Alya yang sebenarnya?"


"Cukup!" teriak Steve yang sudah tidak bisa menahan serangan dari kedua orang tuanya.


"Sebenarnya siapa anak kalian? Aku ini putra kalian, bukan Maudy. Lalu, kenapa kalian tidak pernah membelaku? Apa salahnya aku tinggal dengan Geo?"


"Caramu! Caramu yang salah." Elsa sedang dikuasai oleh emosi, hingga dia pun ikut berteriak.


Pada saat itu, secara Tiba-Tiba terdengar suara pecahan membuat semua menoleh, dan ternyata Maudylah yang menjadi sumber suara.


Semula, Maudy hanya ingin mengambil air untuk minum dan saat itu, dia mendengar suara keributan dari balkon membuat dia langsung datang menghampirinya.


Sungguh, Maudy sama sekali tidak menyangka bahwa hari ini dia akan mendengar hal yang sangat menyakitkan seperti sekarang. Ternyata, dia terlalu berbaik hati pada Steve hingga tanpa sadar, dia mengizinkan pria itu untuk meracuni otak Geo.


Nauder memejamkan matanya saat Maudy melangkah maju ke arah Steve. Langkah wanita itu begitu pelan dengan matanya yang membasah dan menatap pria itu dengan sorot terluka.


Steve terlalu muak, hingga dia tanpa pikir panjang, melepaskan seluruh "topeng" di wajahnya yang selama ini dia gunakan ketika berinterkasi dengan Maudy.


Kini, Steve yang biasanya menatap dengan sorot hangat karena sedang berpura-pura, kini berubah. Dia menatap Maudy dengan tatapan menantang disertai rasa puas yang luar biasa.


"Ya, aku emang ada di balik semua ini, kau mau apa lagi?"


Nauder mengangkat tangan menghajar Steve, tapi Maudy yang melihat itu langsung mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar pria itu tidak ikut campur dengan urusannya juga Steve.


Seluruh sendi-sendi di tubuh Maudy terasa melemas. Dia tidak percaya Steve akan melakukan ini padanya. Dia sungguh membenci dirinya sendiri karena telah lengah hingga sekarang Geo pun menjauh darinya.


"Aku bersumpah, aku tidak akan pernah membiarkan kau membawa Geo dariku," ucap Maudy.

__ADS_1


Steve berdecak pelan. "Kita tanyakan saja pada dia."


Baru saja Steve akan membangunkan Geo agar anak itu berbicara tentang keinginannya di hadapan mereka semua, dia langsung terdiam saat ternyata Geo sudah berada di depannya.


Geo baru saja keluar karena dia terbangun dari tidurnya tanpa melihat Steve di sisinya.


Melihat Geo, Maudy langsung berjalan ke arah putranya kemudian menarik tangan anak itu. "Ayo kita pergi ke kamar, Geo."


"Tidak mau!" teriak Geo yang langsung menghempaskan tangan Maudy.


"Lihat, bukankah Geo tidak ingin kembali pada Maudy?" tanya Steve.


Elsa tidak menyerah, dia berusaha membujuk Geo karena dia tak ingin anak itu mendengarkan perdebatan orang dewasa dengan berkata, "Geo, ayo kita tidur."


"Tidak mau, aku ingin tidur bersama Daddy," ucapnya.


"Kau ingin tetap tinggal di sini atau kau ingin ikut bersama Daddy?"


"Aku ingin bersama Deddy agar bisa bertemu Mommy Alya."


Hati Maudy terasa begitu pedih mendengar Geo lebih memilih untuk pergi dan mengatakan ingin berjumpa dengan Alya.


"Kemari, Nak," ucap Maudy dengan suara yang pelan.


"Tidak mau!" jawab Geo dengan berteriak.


"Kalian lihat sendiri, bukan bahwa Geo memilihku dibandingkan Maudy?" tanya Steve sembari memamerkan senyum penuh kemenangan di hadapan orang tuanya juga Maudy.


Rasanya, Nauder ingin menghajar Steve saat itu juga, tapi tentu saja tidak bisa karena ada Geo di sana hingga tak ada yang bisa dia lakukan selain dari menghela napas.


Elsa berjalan ke arah Maudy lalu memeluknya. "Mommy, bagaimana ini? Aku tidak mau kehilangan Geo, tolong selamatkan Geo dari Steve, Mommy," ucap wanita itu sembari menangis tersedu-sedu.


***


Waktu menunjukkan pukul empat dini hari ketika Steve keluar dari kamar. Aura wajah lelaki itu terlihat sangat bahagia. Sekarang, dia berencana untuk berbicara dengan Maudy, karena dia tahu pasti bahwa wanita itu belum tertidur.


Steve membuka pintu, dia menyeringai saat melihat mantan istrinya sedang duduk sembari menangis. Sementara Maudy yang mendengar suara pintu, hanya menoleh sekilas. Dia merasa tubuhnya tak bertenaga, hingga dia tak bisa banyak bergerak. Dia terlalu syok dengan apa yang terjadi di hidupnya dan dengan apa yang diucapkan oleh Geo.


"Apakah ini semua menyakitkan?" tanya Steve dengan nadanya yang benar-benar menyebalkan. Dia menyandarkan tubuh pada tembok kemudian sembari bersidekap tangan di depan dada dan menatap Maudy dengan sorot mengejek.


"Maudy, kenapa kau ini bodoh sekali? Kau pikir aku akan berubah karena wanita sepertimu?" tanya Steve, "jangan bermimpi, Maudy, tujuanku kemari bukan untukmu tapi untuk mengambil Geo dan sekarang Geo sudah menjadi milikku.”


"Baiklah, aku tidak akan pernah menghalangimu lagi, tapi dengan satu syarat, izinkan aku sehari saja menikmati waktu dengan Geo," ucap Maudy yang pada akhirnya memilih melepaskan Geo pada Steve. Dia sadar mental anak itu lebih penting dari apapun.


Jika dia memaksa Geo untuk tetap tinggal, maka anak itu akan semakin terluka karena dia sudah didoktrin oleh Steve untuk membencinya. Karena itu, dia pun merelakan semuanya.


Saat melihat Maudy yang seperti ini, membuatnya mengingatkan dia saat awal dia tiba India, di mana saat itu wanita ini menolaknya dan selalu menatap dia dengan hina. Lalu sekaranglah waktunya untuk dia membalas dendam.


"Baiklah, akan kuberikan waktu untukmu satu hari bersama Geo. Aku akan membujuknya. Anggap saja ini sebagai hadiah terakhir yang aku berikan padamu," ucapnya.


Setelah mengatakan itu, Steve pun meneggakkan tubuhnya kemudian keluar dari kamar.

__ADS_1


Tepat saat pintu tertutup, tangis Maudy kian bertambah kencang. Bahunya bergetar hebat. Dia terus meraung memanggil nama Geo. Sungguh, tidak pernah terlintas dalam otaknya bahwa ini adalah hari terakhirnya dia melihat anak itu..


***


"Steve, Mommy ingin bicara denganmu," ucap Elsa. Rupanya sedari tadi wanita itu juga belum tertidur. Barusan dia sendiri mendengarkan percakapan Steve dan Maudy.


Elsa pun sengaja tidak ikut campur karena dia rasa percuma berdebat dengan Steve.


"Aku tidak mau bicara, apapun keputusanku sudah bulat. Aku akan bahagia keluar dari sini."


"Kau boleh pergi, tapi ingat satu hal. Jika suatu saat kau menyesal saat tau yang sebenarnya tentang Maudy, Mommy tidak akan pernah mau membantumu lagi. Ingat juga bahwa istrimu tidak sebaik yang kau pikirkan."


Setelah mengatakan hal itu, Elsa segera berbalik dan memutuskan untuk pergi ke kamarnya.


Sementara Steve, dia kini mengerutkan kening saat mendengar ucapan Elsa. Kenapa ibunya mengatakan hal seperti itu? Memangnya apa rahasia Maudy, dan kenapa dia menyebut Alya tak sebaik yang dikira?


"Ah sudahlah, lebih baik aku tidur saja," ucap Steve. Lelaki itu melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kamar.


***


Malam berganti pagi, dan Maudy sudah siap dengan tampilannya yang rapi. Hari ini, dia berencana untuk mengantarkan Geo untuk terakhir kalinya ke sekolah, karena dia yakin besok Geo sudah dibawa oleh Stev.


Tadi, dia sudah berbicara dengan Elsa dan Nauder. Dia menyuruh keduanya pulang, karena dia ingin hidup sendiri disini. Dia tidak akan sanggup jika harus pulang ke Rusia.


Jangan ditanyakan betapa hancurnya hati Maudy, bahkan sekarang jiwanya seperti akan terlepas dari raga ketika dia terpaksa menikmati detik-detik terakhir bersama sang putra.


Maudy keluar dan berjalan ke arah kamar. Dia mengetuk pintu dengan perlahan hingga akhirnya terbuka oleh Steve yang berkata, "Jangan harap kau bisa membawa kabur Geo dariku, aku akan mengawasi kalian."


Raut wajah Steve terlihat begitu arogan. Dia merasa puas melihat Maudy seperti ini. Dia ingat saat awal datang ke India dulu, wanita itu pun memperlakukannya dengan cara seperti ini.


Maudy tidak menjawab ucapan Steve, dia langsung masuk ke dalam kamar putranya di mana Geo ternyata sedang membereskan bukunya. Dia menekuk kaki untuk menyetarakan diri dengan anak itu.


Saat melihat wajah Geo, Maudy berusaha mengabadikan setiap inci wajah tampan anaknya tanpa ada yang terlewat, hingga akhirnya tangis wanita itu pecah. Dia langsung berhambur memeluk Geo yang tidak bereaksi sama sekali.


Tentu saja itu karena Geo sudah di doktrin oleh Steve.


Maudy melepaskan pelukannya, kemudian dia menggenggam tangan Geo yang tetap diam. "Mommy tidak tahu kau mengerti atau tidak, tapi seharian ini Mommy akan menghabiskan waktu denganmu. Kau mau, 'kan?"


"Entahlah, tanya saja pada Daddy," jawab Geo.


Jawaban kecil itu begitu menyakiti Maudy. Dia seperti kehilangan hak atas putranya sendiri.


"Daddy, apa itu boleh?"


Steve mengganggukan kepalanya. "Sehari ini saja, karena besok kita akan pulang dan bertemu Mommy Alya."


"Aku tidak sabar untuk bertemu Mommy Alya."


Hati Maudy terasa begitu tercabik-cabik, tapi dia tidak punya kuasa untuk memilih hal lain, hingga akhirnya dia pun menegakkan tubuh lalu mengulurkan tangan untuk mengajak Geo keluar.


Lalu kali ini, Geo membalasnya dengan menggenggm tangan Maudy, tak seperti kemarin di mana dia tak acuh pada wanita ini.

__ADS_1


__ADS_2