
Beberapa jam kemudian.
Aaron mengerjap. Dia membuka mata dan tak lama, cahaya langsung menyilaukan mata Aaron hingga Aaron menyipitkan matanya. Seluruh tubuh Aaron terasa nyeri. Lelaki itu mencoba mengingat apa yang terjadi, karena jujur saja Aaron tidak mengingat apapun, mungkin saja itu karena masih pengaruh obat bius.
"Aaron," panggil Leana membuat Aaron melihat ke arah Leana. Dia berusaha untuk mengingat apa yang terjadi, dan karena efek obat bius masih terasa, Aaron juga sama sekali tidak mengenali Leana. Dia menatap bingung pada Leana kemudian kembali memejamkan matanya, sedangkan Leana dengan cepat langsung berjalan ke arah luar untuk memanggil dokter.
Sepuluh menit kemudian, Leana kembali ke ruangan Aaron dengan dokter dan mereka pun langsung memeriksa kondisi Aaron.
"Apa kondisi Aaron baik-baik saja?" tanya Leana pada dokter.
"Pasien masih bingung, mungkin karena efek obat bius. Tapi kondisinya sudah stabil," jawab dokter ketika selesai memeriksa Aaron, hingga Leana menghela napas.
"Kalau begitu, kami permisi. Perawat akan memeriksa secara bertahap," ucap dokter.
Setelah dokter keluar, Leana langsung mendudukan diri di kursi. Dia menggenggam tangan Aaron, lalu setelah itu Leana menyembunyikan wajahnya dan menaruh kepalanya di brankar, dan setelah itu Leana menangis kencang-kencangnya.
Selama Aaron terbaring di brankar, Leana dirasuki ketakutan yang luar biasa. Penyesalan demi penyesalan menerpanya. Dia takut Aaron tidak selamat. Dia takut terjadi sesuatu dengan suaminya dan ketika Aaron sadar, Leana melampiaskannya dengan menangis. Tentu saja kali ini tangisan Leana adalah tangisan lega.
Mendengar suara tangis Leana yang mengencang, Aaron yang sedang memejamkan matanya dan masih tidak ingat siapa pun, langsung menoleh.
'Siapa wanita ini?' batin Aaron. Tak ingin ambil pusing, Aaron pun langsung kembali memejamkan matanya dan dua jam kemudian, sepertinya obat bius yang dirasakan Aaron sudah sedikit memudar. Dia yang sedang memejamkan mata, langsung membuka matanya kala dia mengingat semuanya. Dia melihat ke arah Leana yang sedang tertidur sambil menggenggam tangannya dengan kepala yang ditaruh di brankar.
Rupanya, Leana terlalu lelah untuk menangis, hingga pada akhirnya wanita itu tertidur tanpa sadar. Aaron yang sudah mengingat semua, langsung melihat ke sekelilingnya. Ternyata, dia ada di rumah sakit.
Yuma dan Yumi, hanya itu yang Aaron pikirkan. Dia langsung teringat kedua putrinya dan ketika melihat ke arah Leana, mata Aaron berkaca-kaca lagi ketika Leana menggenggam tangannya.
"Thanks, God," ucap Aaron. Jika tahu dengan penyakitnya Leana akan berubah dan memaafkannya, mungkin Aaron sudah akan dioperasi dari dulu.
Saat Aaron larut dalam lamunannya, tiba-tiba pintu terbuka. Muncul sosok Laery yang masuk ke dalam ruangan. "Tuan Aaron," panggil Larry saat melihat Aaron yang sudah membuka mata hingga otomatis membuat Leana terbangun.
Leana mengerjap kemudian dia menegakkan tubuhnya dan melihat ke arah Aaron. Leana pikir Aaron masih tidak bisa bereaksi, hingga dia hanya menatap Aaron dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Belum Leana dan Larry berbicara, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka lagi hingga semua menoleh dan ternyata yang datang adalah Yuma dan Yumi.
Aaron mengembangkan senyumnya ketika melihat kedua anak kembarnya, dan saat Aaron tersenyum saat melihat Yuma dan Yumi, Leana menebak bahwa Aaron sudah mengingat semuanya.
Leana bangkit dari duduknya kemudian mendekat ke arah brankar. "Aaron," panggil Leana.
Aaron tersenyum ketika melihat istrinya. Sayangnya, dia belum bisa menggerakkan bibirnya untuk berbicara karena setiap dia bernapas pun, dia merasa bagian tubuh atasnya terasa nyeri dan sesak.
"Daddy," panggil Yuma dan Yumi dengan antusias.
Leana menggeser tubuhnya, membiarkan Yuma dan Yumi dekat dengan Aaron. Matanya berkaca-kaca ketika melihat Yuma dan Yumi sekarang sudah benar-benar memaafkannya, bahkan Yuma menggenggam tangannya lalu mengecupnya.
"Daddy tidak apa-apa? Daddy sudah sembuh?" tanya Yuma.
Aaron masih tidak percaya Yuma sudah memaafkannya. Selama lima bulan, jangankan berbicara nada hangat seperti ini, berbicara saja tidak.
"Biarkan Daddy istirahat terlebih dahulu Yumma ... Yummy," kata Leana hingga Yuma dan Yumi pun langsung mengangguk, kemudian menjauh dari brankar Aaron, "kalian bisa duduk di sana."
Leana menunjuk ranjang, karena memang Aaron ditempatkan di ruang VIP di mana fasilitas ruangan itu begitu lengkap.
Dua minggu kemudian.
Kini sudah dua minggu berlalu dan kondisi Aaron sudah mulai membaik. Selama seminggu ini pula, Aaron mendapatkan perhatian, cinta dan kasih sayang dari istri dan kedua anaknya. Jangan ditanyakan betapa bahagianya Aaron. Rasanya, dia ingin terus seperti ini, berbaring di brankar agar dia bisa merasakan kehangatan keluarga, sebab ada ketakutan di dalam diri Aaron. Dia takut ketika dia pulang dan dia sembuh, Leana dan Yuma akan berubah lagi.
__ADS_1
Leana masuk ke dalam ruang rawat Aaron. Dia baru saja mengantar Yuma dan Yumi ke bawah, sedangkan Aaron yang yang sedang duduk sambil menyandarkan tubuhnya ke belakang, langsung menoleh. Dia tersenyum ketika melihat Leana, begitu pun Leana yang juga tersenyum melihat Aaron.
Leana mendudukkan diri di sebelah brankar kemudian dia langsung menggenggam tangan suaminya.
"Kenapa, hm?" tanya Aaron.
Selama dua minggu ini, Leana belum membahas apapun dengan Aaron, termasuk membahas tentang dia yang selalu curiga bahwa Aaron berkomunikasi dengan Melisa padahal sebenarnya tidak.
"Kenapa? Apa ada yang kau sampaikan, Sayang?" tanya Aaron lagi.
"Maafkan aku," ucap Leana. Wanita itu menunduk hingga Aaron langsung menegakkan tubuhnya, kemudian menarik dagu Leana hingga Leana kembali menegakkan kepalanya.
"Kenapa kau harus minta maaf?" tanyanya.
"Aku sela—"
"Curiga padaku?" jawab Aaron yang memotong ucapan Leana, hingga Leana mengangguk. Hampir saja dia menangis ketika Aaron menebak rasa bersalahnya.
Aaron terkekeh kemudian dia langsung mengelus rambut Leana. "Kau pikir aku pergi ke ruang kerja karena aku berkomunikasi dengan Melisa?" tanyanya lagi dengan sedikit meledek.
Lagi-Lagi, tebakan Aaron benar sebab Larry sudah mengatakan tentang percakapannya dengan Leana saat dia akan dioperasi, hingga Leana kembali menganggukkan kepalanya.
"Sayangku, aku mungkin pernah melakukan dosa dengan mengabaikan kalian selama beberapa waktu, tapi aku tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan. Untuk apa juga aku kembali pada wanita ular itu? Aku memilikimu Yuma dan Yumi, calon anak kita dan itu sudah cukup. Aku benar-benar sudah tidak melihatmu sebagai Melisa. Kau adalah Leana yang aku cintai, wanita yang sangat berarti di hidupku. Jadi, tidak ada hal lagi yang harus dikhawatirkan," ucap Aaron, berusaha menenangkan Leana.
Leana mengangguk dan kini tangisnya sudah berlinang ketika mendengar ucapan Aaron yang begitu tulus. Leana mendekat ke arah tubuh suaminya kemudian langsung memeluk Aaron, hingga Aaron langsung mengelus punggung Leana.
"Rasanya, aku tidak sabar untuk segera pulang," kata Leana membuat mata Aaron membulat.
"Tapi aku masih sakit," dusta Aaron, padahal dia hanya takut Leana kembali berubah ketika mereka sudah kembali pulang.
"Kenapa? Kau sakit?" tanya Leana.
Aaron mengangguk. "Aku takut pulang, Leana. Aku takut setelah sampai di rumah, kau akan berubah lagi. Yuma akan dingin lagi padaku." Aaron berucap dengan suara pelan, terdengar nada kerapuhan di dalam suaranya.
"Mana mungkin begitu. Aku saja hampir gila ketika kau berada di ruang operasi," ucap Leana. Seketika, Aaron terpikirkan sesuatu.
"Tunggu, ada yang kau lupakan," ucap Aaron hingga Leana mengerutkan keningnya, menatap Aaron dengan bingung. Dia tidak mengerti arah pembicaraan Aaron. Padahal jelas-jelas mereka sedang membahas hal lain, tapi Aaron malah melimpali dengan pertanyaan.
"Memangnya aku melupakan apa?" tanya Leana.
"Aku sudah mengungkapkan kata cinta setiap hari, tapi kenapa kau tidak pernah menyatakan perasaanmu. Apa kau tidak mencintaiku?" tanya Aaron.
"Bodoh, mana mungkin aku tidak mencintaimu. Kau yang buta. Aku sudah mencintaimu sebelum Melisa datang, tapi kau ...." Leana menghentikan ucapannya kala tanpa sadar, dia berbicara dengan kencang dan mengakui perasaannya membuat tawa Aaron meledak karena wajah Leana langsung memerah, hingga Leana menunduk.
"Kau menyebalkan sekali," kata Leana hingga Aaron langsung membawa Leana ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, maafkan aku," kata Aaron.
Beberapa hari kemudian.
Akhirnya, Aaron diijinkan pulang oleh dokter, dan saat ini Aaron sedang duduk di sofa, menunggu sopir untuk menjemput mereka. Leana sibuk memasukkan barang-barang yang selama ini dipakai Aaron di rumah sakit.
"Sayang, kemari," kata Aaron.
__ADS_1
Leana yang baru saja selesai, langsung menghampiri Aaron dan Aaron pun langsung mengulurkan tangannya pada Leana, lalu mendudukkan Leana di pangkuannya.
"Aaron, aku berat," ucap Leana, apalagi kandungannya sudah menginjak tujuh bulan. Namun, bukannya menjawab, Aaron malah mengelus perutnya, kemudian satu tangannya membelai punggung istrinya hingga Leana langsung mengalungkan tangannya pada leher Aaron.
"Rasanya, aku tidak sabar menunggu anak kita lahir," ucap Aaron.
Namun, bukannya senang, wajah Leana langsung sendu dan Aaron langsung menyadari raut wajah istrinya yang berubah. "Kenapa?" tanya Aaron.
"Sayangku, sampai kapan pun Yuma dan Yumi adalah anakku. Tidak akan ada yang bisa mengubah itu, sekalipun ayah kandung mereka mengakuinya," kata Aaron. Walaupun Leana tidak berbicara, tapi Aaron mengerti ketakutan istrinya hingga raut wajah Leana berubah menjadi berbinar kembali.
Leana mengecup kening Aaron. "Setelah ini aku ingin pulang, membeli semua yang berkaitan dengan bayi kita, pakaian, baju dan lain-lain. Jika perlu, dibuatkan toko yang dipenuhi baju anak-anak, Yuma, Yumi dan juga anak kita," katanya hingga Aaron terkekeh.
"Baiklah, baiklah. Apapun kulakukan untukmu, Sayangku," ucap Aaron.
Tak lama, pintu ruang rawat Aaron diketuk hingga Leana bangkit dari pangkuan suaminya dan membuka pintu, ternyata sopir yang masuk.
"Tolong bawa semua. Aku dan Aaron akan berjalan terlebih dahulu," ucap Leana pada sopir hingga sopir itu pun mengangguk.
Aaron bangkit dari duduknya kemudian merangkul pundak Leana, lalu setelah itu mereka pun keluar dari ruang rawat yang selama dua minggu ini ditempati oleh Aaron.
Saat mobil mulai melaju, Leana terus memeluk pinggang Aaron, begitu pun Aaron yang merangkul bahu istrinya. Sesekali, dia mengecup kepala wanita yang sangat dia cintai.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Aaron sampai di rumah. Aaron pun turun kemudian membukakan pintu untuk Leana, dan mereka pun langsung masuk ke dalam. Setelah sampai di dalam, Aaron menyadarkan pandangannya ke seluruh arah mencari Yuma dan Yumi.
"Daddy." Tiba-Tiba terdengar suara Yuma dan Yumi dari arah tangga hingga Aaron langsung berlari ke arah kedua putrinya. Dia pun langsung menangkap tubuh Yuma dan Yumi yang berlari ke arahnya, lalu memutarkannya di udara membuat Yuma dan Yumi tertawa.
"Akhirnya, Daddy sembuh," ucap Yuma.
Saat Yuma berbicara, rasanya masih merasa ini keajaiban. Tidak pernah terbayangkan dia akan kembali mendapat kepercayaan dari putri pertamanya.
"Kalian ingin main bersama Daddy sekarang?" tanya Aaron, "ingin berenang atau ingin berkuda?" tanyanya lagi.
Yuma dan Yumi menggeleng.
"Daddy ini baru sembuh, kita bisa bermain nanti. Kita masih mempunyai banyak waktu, jadi Daddy istirahat saja bersama Mommy," ucap Yumi hingga Aaron langsung mengelus rambut Yuma dan Yumi secara bersamaan.
"Ya sudah Daddy akan beristirahat dulu dengan Mommy, dan nanti malam Daddy berjanji akan mengajak kalian makan di restoran favorit kalian." Aaron pun langsung maju kemudian Yuma dan Yumi mencium pipinya secara bersama-sama membuat Aaron terkekeh.
"Yuma, Yumi, nenek mana?" tanya Leana yang menanyakan keberadaan Ana.
"Nenek di kamar mandi," jawab Yuma.
"Ya sudah, Mommy dan Daddy akan pergi beristirahat. Jika kalian ingin sesuatu, minta saja pada pelayan," ucap Leana lagi hingga Yuma dan Yumi pun mengangguk dan Leana pun berjalan ke arah lift. Mereka berencana untuk beristirahat.
Saat masuk ke dalam kamar, Aaron langsung menarik tangan Leana kemudian tanpa buang waktu dia menangkup pipi istrinya, dia langsung menyerang bibir Leana membuat Leana langsung mengalunkan tangannya ke leher Aaron. ciuman yang tadinya pelan berubah menjadi ciuman yang panas dan menuntut hingga haram melepaskan tautan bibirnya kemudian dengan pelan dia membawa Leana ke ranjang. Setelah melakukan pemanasan kini Aaeon berakhir menindih tubuh istrinya
"Apa tidak akan bahaya jika kita melakukannya sekarang?" tanya Aaron. Walaupun hasratnya sudah menggebu-gebu, tapi dia tetap menomorsatukan kondisi Leana dan calon anak mereka. Leana menarik tengkuk Aaron kemudian mencium bibir suaminya sekilas.
"Ini, 'kan, sudah semester dua. Seharusnya kita sering melakukannya," jawab Leana dengan malu-malu membuat mata Aaron bulat.
"Benarkah kita boleh sering melakukannya?" tanya Aaron hingga Leana mengangguk dengan pelan dan sedetik kemudian, jangan ditanyakan apa yang dilakukan Aron yang pasti saat ini mereka benar-benar melakukan apa yang sangat menyenangkan.
Jika dulu Leana rasa Aaron menyentuhnya karena menganggapnya Melisa, tapi sekarang tidak. Dia benar-benar percaya Aaron menyayanginya bahkan di tengah permainan Aron terus menggumamkan kata cinta padanya hingga pada akhirnya kedua insan itu pun mencapai puncaknya bersama-sama.
__ADS_1
Leana langsung terkapar di samping Aaron. Aaron mencoba mengatur napasnya. Dia menoleh ke arah istrinya kemudian mengelus pipinya yang sudah terlelap. Sepertinya Leana sudah tidak ada tenaga lagi untuk membuka mata. Aaron langsung bangkit dari berbaringnya kemudian dia berjalan ke kulkas kecil yang ada di kamarnya, dan setelah itu dia mengambil soda lalu meneguknya. Setelah itu, dia pun ikut berbaring bersama Leana di ranjang karena dia juga merasa tubuhnya lemah.