
"Mana minumnya?!" teriak Melisa ketika Felix hanya memberikannya roti. Felix yang tak acuh, kembali menutup pintu dan tidak mempedulikan Melisa. Lelaki itu sama sekali tidak terpengaruh dengan teriakan Melisa, toh Ana sebagai majikan juga melarangnya untuk memberikan makan.
Sepertinya, Ana ingin memberi hukuman pada Melisa hingga dia menyuruh Felix untuk tidak memperdulikan wanita itu, apalagi sekarang Ana sedang berada di perjalanan untuk memberi pelajaran secara langsung pada wanita yang telah menghancurkan rumah tangga keponakannya.
"Ah!" Melisa berteriak di balik pintu ketika teriakannya tidak digubris. Namun dengan cepat, dia pun langsung membuka roti.
"Mana aku kenyang makan segini," kata Melisa saat melihat roti mungil di tangannya. Tidak, ini bukan waktunya mengeluh. Dia harus memakan roti yang ada di tangannya untuk menjadi sumber tenaga, setelah itu dia akan mencari cara untuk kabur karena di dalam kamar yang dia tempati, ada jendela.
Ketika mengunyah roti yang dipegangnya, Melisa terpikirkan sesuatu. "Ah!" dia berteriak ketika mengingat ini apartemen, bukan rumah. Jika dia kabur lewat jendela, tentu saja dia akan terjun bebas ke bawah.
Satu jam kemudian, terdengar suara derap langkah hingga Melisa yang sedang duduk di lantai langsung bangkit dari duduknya. Dia berencana untuk bersembunyi di belakang pintu dan ketika ada yang masuk dia akan mendorong tubuh tersebut agar dia bisa keluar.
Ketika sudah bersembunyi, gagang pintu berputar dan sedetik kemudian pintu terbuka. Melisa pun bersiap untuk mendorong tubuh Ana, ya karena Analah yang masuk. Namun rupanya, gerakannya diketahui oleh Ana karena dia melihat Melisa dari pantulan cermin hingga dia langsung berbalik. Sementara Melisa yang baru saja akan mendorong tubuh Ana, langsung menurunkan tangannya.
"Bibi," panggil Melisa.
"Seharusnya kau itu hidup tenang tanpa mengganggu Aaron dan Leana, tapi kau malah datang lagi. Apa kau tahu itu saja itu sama saja menghantarkan nyawamu padaku?" tanya Ana. Dia menatap Melisa dengan tajam hingga Melisa hanya mampu menunduk. Entahlah, kharisma wanita paruh baya di depannya ini begitu kuat hingga rasanya Melisa tidak mampu menatap mata bibi dari Aron tersebut dan pada akhirnya daripada memberontak, Melisa memutuskan untuk berlutut di hadapan Ana kemudian wanita itu langsung menggesek-gesekan tangannya dengan gerakan memohon.
"Bibi, aku mohon, tolong bebaskan aku dari sini. Aku berjanji aku tidak akan mengganggu Aaron lagi. Aku tidak akan mengganggu rumah tangganya," kata Melisa.
Seketika, Ana tertawa. "Kau pikir aku bodoh?" tanya Ana.
"Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Aku harus membalas apa yang kau lakukan," ucap Ana.
"Bibi, kau mau apa?" tanya Melisa ketakutan.
"Felix," panggil Ana, hingga Felix yang sedang berada di luar langsung masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Iya, Nyonya?" sahutnya.
"Kau tahu, 'kan, apa yang harus kau lakukan?" tanya Ana hingga Felix pun mengangguk dengan seringai yang lebar. Setelah itu, Felix pun langsung masuk ke dalam kamar, sedangkan Ana keluar dari kamar tersebut dan pada akhirnya, pelajaran yang lebih pun dimulai.
Sementara Ana yang mendengar jeritan, sama sekali tidak peduli dengan jeritan Melisa yang terus merintih meminta tolong padanya.
"Itu hukuman karena kau telah berani mengganggu Aaron dan Leana," lirih Ana yang menoleh ke arah pintu kamar, di mana Felix dan Melisa sedang ada di sana.
***
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Geo terus mondar-mandir di kamarnya. Lelaki itu rasanya tidak sabar untuk bertemu dengan Leana dan mendengar pernyataan dari wanita itu, bahwa Yuma dan Yumi adalah anaknya, padahal tanpa dia sadari Yuma dan Yumi sudah tidak ada di hotel tempat kemarin dia bertemu dengan ketiganya.
Karena merasa gelisah, Geo tidak bisa menghentikan gerakannya hingga dia terus berjalan ke sana kemari. Setelah lelah, dia pun mendudukkan diri di sofa. Tak lama, ponselnya berdering. Satu panggilan masuk dari Claudia hingga Geo pun langsung mengangkatnya.
"Halo Claudia?" sapa Geo.
"Tidak, memangnya kenapa?" tanya Geo.
"Rea ingin melakukan panggilan video denganmu. Kau tidak keberatan?" Claudia meminta izin.
"Tentu tidak, aku tidak keberatan." Geo pun mematikan panggilan dari Claudia, lalu setelah langsung mengalihkan dengan panggilan video. Dia tersenyum saat melihat Rea yang juga tersenyum padanya. Entah kenapa, senyumnya begitu memikat dan untuk pertama kalinya Geo menyadari bahwa senyuman Rea begitu indah.
"Halo Daddy," ucap Rea di seberang sana hingga Geo tersenyum.
"Halo putri Daddy. Kau sedang apa? Sudah tidak terasa sakit?" tanya Geo lagi. Entah kenapa, hati Geo terasa nyeri ketika menatap Rea.
"Tidak, Daddy aku sudah tidak sakit lagi. Sebentar lagi aku akan terbebas dari rasa sakit ini," ujar Rea.
__ADS_1
"Rea, apa yang kau katakan?" Tiba-Tiba terdengar suara Claudia yang berbicara. Dia begitu terkejut dengan apa yang diucapkan oleh putrinya, begitu pun dengan Geo. Dia tidak mengerti dengan maksud ucapan Rea. Kenapa Rea bisa mengatakan seperti itu?
"Rea, kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Geo dengan lemah lembut
"Tidak, aku yakin sebentar lagi aku tidak akan sakit. Aku tidak akan dipasangi alat seperti ini," jawab Rea, "Daddy, ayo nyanyikan lagu kesukaanku."
"Lagu kesukaanmu?" ulang Geo karena dia tidak tahu lagu kesukaan putrinya.
"Ah, Daddy payah. Daddy masih tidak mengingat apa yang aku suka?" Rea berkata dengan cemberut, tapi entah kenapa hati Geo terasa sesak.
"Baiklah, Daddy akan menyanyikannya," ucap Geo.
"Yang itu bukan?" tanya Geo ketika dia sudah menyanyikan setengah nyanyian.
"Sebenarnya bukan yang itu, tapi baiklah. Teruskan," kata Rea.
Walaupun sedang melakukan panggilan video, Rea menyimpan ponsel itu di telinga untuk mendengar nyanyian sang ayah kemudian dia memejamkan matanya dengan damai, lalu setelah itu napas Rea terdengar teratur dan sepertinya gadis kecil itu terlelap, hingga dengan pelan Claudia mengambil ponsel dari tangan Rea.
"Geo," panggil Claudia.
"Bagaimana, apakah sudah berhasil berbicara dengan Leana?" tanya Claudia.
Geo menggeleng dengan wajah yang lemas. Tentu saja wajah Geo begitu menyakitkan untuk Claudia, tapi dia tetap tersenyum.
"Leana masih belum mengaku bahwa Yuma dan Yumi adalah anakku," kata Geo, "jadi aku akan berbicara besok dengannya."
Claudia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Semoga berhasil, Geo. Semoga kau cepat membawa Leana dan kedua anakmu untuk kembali ke sini," kata Claudia. Dia bisa saja mengatakan itu sambil tersenyum, tapi hatinya benar-benar tersayat.
__ADS_1
"Ya sudah Geo, kalau begitu aku matikan panggilannya." Setelah mengatakan itu, Claudia pun langsung menutup panggilan, begitu pun dengan Geo yang yang langsung menyimpan ponselnya ke bawah lalu kembali menyandarkan tubuhnya ke belakang..