Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Tegar


__ADS_3

Leana terus melihat ponsel yang berdering. Rasanya, begitu menyakitkan ketika tertera nama Aaron. Meski sulit, tapi dia berusaha untuk untuk menahan diri agar tidak mengangkat panggilan dari suaminya.


Jujur saja, Leana rindu dengan Aaron, tapi di sisi lain rasanya juga menyakitkan. Leana menghela napas kemudian mengembuskannya, lalu setelah itu dia mengangkat panggilannya.


Pada akhirnya, Leana kalah dengan egonya. Leana kalah oleh kerinduannya, hingga dia menuruti hatinya. Dia sangat-sangat rindu mendengar suara pria itu.


Hening.


Tidak ada yang berbicara, baik Aaron ataupun Leana sama-sama mengunci mulutnya hingga tak terdengar sepatah kata pun. Namun setelah lama menunggu, pada akhirnya suara bariton Aaron membuat Leana mengusap dadanya.


"Halo Leana," panggil Aaron dari seberang sana. Leana berdeham dengan mata yang basah, air mata mengalir di pipinya. Dia mendongak menahan agar bulir bening tidak terus jatuh.


"I-iya, Aaron," jawab Leana dengan terbata.


"Kau belum tidur?" tanya Aaron dengan getir.


"Aku terbangun," jawab Leana.


"Lalu, apa Yuma dan Yum—"


"Aaron, maaf aku mengantuk," ucap Leana, memotong ucapan Aaron begitu saja. Dia langsung mematikan panggilannya.


Leana tak mampu lagi menahan tangisnya ketika Aaron membahas Yuma dan Yumi, hingga dia langsung menutup panggilan. Leana menyimpan kembali ponselnya, lalu membaringkan tubuhnya di ranjang, di sebelah anak kembarnya. Dia menarik selimut untuk Yuma dan Yumi, kemudian menyelimuti tubuhnya.


Leana menatap Yuma dan Yumi lekat-lekat, dan saat itu dia bisa melihat wajah Geo pada keduanya. Tiba-Tiba, Leana terpikirkan sesuatu yang membuatnya tersenyum getir.


'Dalam waktu delapan tahun, aku mampu mengganti namamu di hatiku karena ada Aaron. Namun sekarang, aku sendirian di sini. Tak ada siapa pun yang bisa aku jadikan sebagai genggaman. Sungguh, akan sulit rasanya untuk melupakan lelaki itu,' batin Leana.


Leana mengusap wajahnya, membersihkan air mata kemudian wanita cantik itu memutuskan untuk memejamkan matanya, berusaha untuk terlelap.


***


Setelah Leana mematikan panggilan, Aaron bergegas membanting tubuhnya di ranjang. Lelaki tampan itu melihat ponsel, di mana masih tertera nomor Leana di sana. Aaron memejamkan matanya menahan rasa perih yang luar biasa, hingga pada akhirnya lelaki tampan itu memejamkan matanya, berusaha terlelap.


Malam berganti pagi.


Aaron terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara ribut-ribut dari arah kamar, hingga lelaki itu pun langsung mengucek matanya untuk mengumpulkan nyawa, dan ketika suara gaduh itu semakin terdengar, Aaron melihat jam dinding. Ternyata, waktu menunjukkan pukul delapan pagi.


Aaron mencari sumber gaduh, hingga dia pun langsung berjalan ke sana. Mata Aaron membulat saat melihat apa yang dia lihat.


"Apa-apaan kau?!" Aaron berteriak ketika melihat Melisa sedang menyingkirkan barang-barang Leana yang tertinggal, atau barang-barang yang tidak Leana bawa.


"Aku tidak mau ada jejak dia di sini. Lihat saja, aku akan mengisi lemari-lemari ini dengan barang-barangku," ucap Melisa.


Aaron mengusap wajah kasar. Dia merasa Melisa sudah keterlaluan. "Simpan lagi ke tempatnya," ucapnya.


"Baby, kita akan segera menikah. Lalu kenapa kau masih menyimpan barangnya?" Melisa protes.


"Melisa, kau dengar aku? Simpan lagi itu ke tempatnya," ucap Aron yang mendadak tidak terima ketika Melisa menyingkirkan barang-barang Leana, hingga pada akhirnya Melisa berdecak kesal.


Wanita itu bukannya menurut, melainkan menghentakkan kakinya lalu berjalan ke arah Aaron dan melewati tubuh Aaron begitu saja.


"Melisa!" bentak Aaron.


Melisa menghentikan langkahnya. "Aku akan menyuruh pelayan untuk membereskannya," ucapnya.


Setelah mengatakan itu, Melisa pun berbalik. "Dasar menyebalkan," gerutu Melisa pada Aaron.


Sementara Aaron, langsung terpaku ketika melihat barang-barang itu. Dia baru menyadari bahwa Leana tidak membawa barang-barang berharga. Dia pun langsung langsung berjalan ke arah lemari tempat Leana menyimpan perhiasan.


"Ke-kenapa dia ti-tidak membawa ini?" Aaron berucap dengan terbata. Dia menatap lemari tersebut dengan tatapan tidak percaya. Dia pikir Leana akan membawa perhiasan-perhiasan yang sudah dia belikan, tapi ternyata tidak. Perhiasan itu tentu saja berharga fantastis, bahkan Aaron meminta dari desainer khusus untuk membuatkannya untuk Leana. Namun sekarang, lihatlah perhiasan itu tidak istrinya bawa.


Leana memang hanya membawa beberapa cincin dan juga kalung, itu pun adalah hadiah pernikahan Aaron dari tahun ke tahun, sedangkan dia tidak membawa perhiasan lainnya. Dia juga tidak membawa barang-barang mewah dari suaminya. Dia hanya membawa pakaian-pakaian miliknya.


Aaron terdiam saat melihat perhiasan itu. Lelaki itu mengusap wajah kasar dan tak lama, pelayan mengetuk pintu hingga Aaron mempersilakan masuk.


"Bereskan itu, jangan sampai ada yang berkurang sedikit pun. Taruh dengan sangat rapi," ucap Aaron pada pelayan, hingga pelayan itu pun mengangguk. Lalu setelah itu, Aaron berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.


Di bawah kucuran shower, Aaron menengadahkan kepalanya ke atas hingga air mengenai wajahnya. Dia memejamkan matanya menahan rasa yang dia sendiri pun tidak tahu. Saat ini, jiwa Aaron seperti hilang dari raganya, hingga pada akhirnya Aaron mematikan keran kemudian mengusap wajahnya. Lalu setelah itu, Aaron mengambil handuk dan bercermin.


"Daddy, ini hari minggu. Ayo kita main."


"Daddy, apa kita tidak akan jadi pergi ke taman hiburan?"


"Daddy, kenapa bekalku hanya ini?"

__ADS_1


"Daddy, ayo kita belanja mainan."


Lagi-Lagi, Aaron menguasap wajah kasar ketika kata-kata yang selalu diucapkan Yuma dan Yumi terus terngiang di kepalanya, hingga lelaki itu pun langsung menegakkan tubuhnya lalu keluar dari kamar.


Aaron keluar dari kamar, lelaki itu berencana untuk sarapan. Hari ini dia tidak ingin pergi ke kantor, moodnya hancur gara-gara Melisa memberantakkan barang Leana.


"Baby." Tiba-Tiba, terdengar suara dari arah samping. Melisa yang tadi merajuk, sepertinya harus membujuk Aaron. Akan bahaya jika Aaron murka padanya.


Aaron yang masih kesal pada Melisa, hanya menoleh sekilas hingga Melisa dilanda kepanikan. Wanita itu langsung berjalan ke arah Aaron dan menggandeng tangan lelaki itu yang sedang berjalan. "Aku minta maaf," ucap Melisa.


Aaron menghentikan langkahnya kemudian dia menoleh. "Jangan ulangi lagi. Aku tidak suka kau mengacak barang-barang Leana " ucap Aaron hingga Melisa pun mengangguk. Namun dalam hati, dia mengutuk lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


"Ayo sarapan, aku sudah membuatkanmu makanan," kata Melisa. Aaron tidak menjawab. Dia kembali melanjutkan langkahnya.


"Kau yang memasak ini?" tanya Aaron ketika berada di meja makan. Wanita itu pun mengangguk, tentu saja itu berbohong karena jelas-jelas dia membelinya dari restoran.


"Sekarang aku sudah bisa memasak, dan setiap hari aku akan memasak untukmu," kata Melisa lagi hingga Aaron mengangguk-nganggukkan kepalanya. Tidak ada raut senang sedikit pun, berbeda ketika Leana memasakkan makanan untuknya.


Aaron menarik kursi, kemudian lelaki itu mendudukkan dirinya di sana, disusul Melisa yang juga ikut duduk di sebelah Aaron. Saat mencicipi makanan itu, Aaron terdiam. Makanan itu cukup enak, hingga dia melihat ke arah Melisa.


"Makananmu enak," ucap Aaron hingga Melisa tersenyum penuh kemenangan. Tentu saja dia merasa bangga karena dipuji, walaupun masakan yang dia buat dari restoran.


"Baby, setelah ini kita ke mana?" tanya Melisa.


"Aku tidak ingin menemanimu berbelanja. Aku ingin istirahat," ucap Aaron.


Wajah Melisa tiba-tiba cemberut saat mendengar itu, padahal sejuta list sudah dia simpan di otak. Dia ingin berbelanja sepuas-puasnya, tapi lihatlah Aaron malah tidak bisa diajak.


"Tapi aku, 'kan, sudah memberi kartu padamu. Kau bisa gunakan, lalu kenapa kau masih harus merepotkanku?" tanya Aaron dengan pedas hingga Melisa terdiam. Dia mengubah ekspresi wajahnya menjadi sedih. Di masa lalu, mana mungkin Aaron menolak keinginannya, tapi lihatlah sekarang bahkan Aaron terang-terangan tidak ingin menemaninya.


Aaron menghela napas kemudian mengembuskannya. Dia pun langsung mengelus rambut Melisa. "Ya sudah aku temani," kata Aaron, walaupun rasa itu sudah berbeda, tapi Aaron paling tidak bisa melihat wajah Melisa seperti ini, hingga pada akhirnya Melisa kembali mengembangkan senyumnya.


***


Sekarang, di sinilah mereka berada, di sebuah pusat perbelanjaan yang sangat besar yang ada di Rusia. Seperti biasa, Melisa menggandeng tangan Aaron kemudian mereka pun masuk ke dalam.


"Kau ingin membeli apa?" tanya Aaron.


"Aku ingin membeli tas lagi," jawab Melisa.


"Kemarin kau sudah membeli tas. Sekarang beli tas lagi?" tanya Aaron. Hari kemarin, Melisa memborong semua yang ada di store itu dan sekarang Melisa kembali memborongnya.


Ketika Melisa memilih, Aaron mendudukkan diri di sofa. Lelaki itu mengutak-atik ponselnya, dan tanpa sadar dia mengetuk galeri, di mana banyak sekali fotonya Leana dan juga foto Yuma dan Yumi.


Jujur saja, Aaron paling senang ketika memotret Leana, Yuma dan Yumi ketika mereka sedang tertidur, karena wajah ketiga orang itu begitu damai ketika sedang terlelap. Tak lama, Aaron tersadar hingga pada akhirnya Aaron keluar dari galeri lalu mengotak-atik ponselnya.


Saat melihat ke arah luar, tanpa sengaja Aaron melihat Leana, Yuma dan Yumi melintas di depan store yang sedang dia kunjungi, hingga dengan cepat lelaki itu langsung bangkit dari duduknya kemudian berlari ke arah luar, lalu mengejar Leana, Yuma dan Yumi.


"Leana, Yuma, Yumi!" panggil Aaron.


Leana, Yuma dan Yumi yang sedang berjalan langsung menghentikan langkahnya, kemudian mereka pun berbalik. Hari ini, Leana sengaja mengajak Yuma dan Yumi untuk membeli boneka, karena Yumi mengeluh ingin tidur sambil memeluk boneka. Mereka tidak menyangka akan bertemu Aaron di sini.


"Yuma, Yumi," panggil Aaron. Wajahnya begitu berbinar ketika melihat Yuma dan Yumi, tapi tak lama wajahnya kembali meredup saat Yuma enggan menatapnya, sedangkan Yumi langsung memalingkan tatapannya ke arah lain. Leana yang melihat reaksi putrinya, langsung melihat ke arah Aaron.


"Halo Aaron," ucap Leana hingga Aaron tersadar, kemudian memalingkan tatapannya pada Leana.


"Kalian sedang berbelanja?" tanya Aaron. Leana mengangguk.


"Yuma, Yumi, ayo sapa Paman Aaron," ucap Leana.


Aaron mematung ketika Leana memanggilnya paman. Padahal, bukankah dia yang pertama kali meminta Yuma dan Yumia memanggilnya paman, lalu kenapa sekarang dia tidak terima?


Leana menoleh ke arah Aaron, begitu pun kedua gadis kembar itu yang menundukkan kepalanya. "Halo Paman Aaron," sapa keduanya.


Lagi-Lagi, luka yang menganga di hati Aaron, terasa disiram garam ketika mendengar Yuma dan Yumi memanggilnya paman.


"Baby." Tiba-Tiba terdengar suara Melisa dari arah belakang. Rupanya, wanita itu menyusul karena Aaron tidak ada di tempat, hingga Leana menoleh ke arah Melisa. Jangan ditanyakan betapa hancurnya Leana saat ini, yang pasti dia benar-benar hancur melihat suaminya berjalan dengan wanita lain, walaupun sebentar lagi mereka akan bercerai.


"Aaron, kalau begitu kami permisi." Leana memutuskan untuk berbalik kemudian dia mengajak Yuma dan Yumi untuk pergi meninggalkan Aaron, sedangkan Aaron masih terdiam di tempat.


Rasanya, Aaron ingin menggerakkan tangannya menggapai punggung Yuma dan meminta mereka untuk berbalik dan menghampirinya, tapi tubuhnya mematung. Dia sadar dia tidak bisa melakukan itu karena keputusan yang diambil sendiri.


"Ayo masuk. Tunggu di dalam, aku butuh pendapatmu," ucap Melisa.


Aaron tidak menjawab, tatapan matanya terus melihat ke arah punggung istri dan kedua anaknya, hingga Melisa langsung menarik lengan Aaron dan mau tak mau, Aaron kembali masuk ke dalam store tersebut.

__ADS_1


Ketika duduk kembali di sofa, Aaron merasa separuh jiwanya kembali hilang, hingga dia mengusap wajah kasar. Dia tidak boleh menyesali keputusannya, begitulah pikir Aaron.


***


"Kita duduk dulu di sana," ucap Leana. Saat berjalan, dia mengajak duduk karena melihat Yuma dan Yumi tertunduk. Dia tahu pertemuan Yuma dan Yumi dengan Aaron, pasti memberikan luka tersendiri untuk kedua putri kembarnya hingga pada akhirnya, Yuma dan Yumi pun mengangguk dan mereka kini sudah duduk di kursi yang ada di sisi.


Leana membuka tas kemudian dia mengambil tumblr, lalu setelah itu memberikannya pada Yuma dan Yumi, mempersilakan kedua putrinya untuk minum.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Leana.


"No, aku tidak baik-baik saja," jawab Yumi, sedangkan Yuma tidak menjawab. Dia menatap ke depan sambil memegang botol minum.


"Tidak apa-apa, cepat atau lambat kalian pasti akan melupakan Paman Aaron," ucap leana.


"Mommy, jangan menyebut namanya lagi." Tiba-Tiba Yuma berbicara hingga Leana menoleh, kemudian mengangguk.


Lima belas menit kemudian, akhirnya Leana, Yuma dan Yumi pun bangkit dari duduknya mereka memutuskan untuk langsung pergi ke tempat store yang menjual boneka. Saat masuk, mata Yuma dan Yumi langsung berbinar ketika melihat boneka yang ada di depan mereka.


Kedua anak itu pun langsung melihat-lihat boneka yang terpajang. Ada satu boneka yang Yumi mau, hingga dia meminta sang ibu untuk mengambilnya dan ketika Leana mengambil itu, Leana melihat harga yang terpasang di dalam boneka tersebut.


Leona memejamkan matanya ketika boneka itu sangat mahal. Mungkin, Leana mempunyai uang untuk membeli boneka tersebut, tapi dia harus tetap hidup hemat. Walau bagaimanapun sebulan lagi, dia akan pergi. Namun rasanya, dia tidak tega jika mengatakan pada Yumi bahwa ini sangat mahal.


"Mommy," panggil Yumi.


Leana tersadar kemudian dia memberikan boneka itu pada Yumi. "Ini Yumi," ucapnya.


Yumi melihat sang ibu dengan aneh karena wajah sang ibu mendadak seperti orang kebingungan, hingga pada akhirnya mata Yumi membulat saat melihat harga boneka tersebut, kemudian dia memberikannya pada ibunya lagi.


"Mommy, jangan ini. Ini tidak bagus," kata Yumi. Leana tersadar.


"Yumi, ini bagus. Kau boleh memilih ini," ucap Leana.


"Tidak Mommy, harga boneka ini mahal," ucap Yumi. Pada akhirnya, Yumi jujur bahwa boneka itu bukan tidak bagus, melainkan harganya yang sangat mahal membuat Leana mengusap rambut putri bungsunya.


"Tidak apa-apa. Kita tidak tahu kapan kita kembali lagi ke sini, dan kita tidak tahu boneka ini akan ada lagi atau tidak," ucap Leana.


"Bolehkah Mommy?" tanya Yumi hingga Leana mengangguk.


Yumi langsung memeluk boneka itu, kemudian dia akan memperlihatkannya pada Yuma.


"Yuma, lihat aku membeli boneka ini," ucap Yumi, pamer.


Yuma yang belum memilih, langsung menoleh kemudian dia melihat harga boneka yang tertera di sana. "Yumi kenapa kau memilih ini?" tanyanya.


"Mommy memperbolehkannya," kata Yumi.


"Oh." Yuma hanya ber-oh-ria. Tadinya, dia juga ingin membeli boneka, tapi melihat harga yang ada di tangan Yumi, dia mengurungkan niatnya karena dia tidak ingin membuat sang ibu pusing. Setidaknya, mungkin Yumi lebih dewasa, lebih mengerti dengan apa yang terjadi pada mereka, hingga dia memutuskan untuk tidak membeli boneka karena dia tidak ingin sang ibu terbebani.


"Yuma, kenapa kau belum memilih?" tanya Leana yang menghampiri kedua putri kembarnya.


"Tidak ada yang menarik Mommy," dusta Yuma.


"Ayo pilih, tidak apa-apa," kata Leana lagi, dari sorot matanya saja kelihatan bahwa putrinya berbohong, sebab Yuma beberapa kali melirik ke arah boneka yang ada di samping Yumi.


"Kau ingin ini?" tanya Leana ketika mengambil boneka yang terpajang, lalu memberikannya pada Yuma, hingga Yuma menggeleng.


"Tidak mau, Mommy. Ayo kita bayar itu saja. Lalu setelah itu, belikan aku milkshake saja," ucap Yuma. Tidak ingin mendengar penolakan dari sang ibu, akhirnya Yuma pun berjalan mendahului untuk menunggu di luar membuat Leana menghela napas.


Leana pun langsung berjalan ke arah kasir untuk membayar. Setelah selesai, Yumi langsung memeluk boneka tersebut kemudian membawanya keluar, begitu pun dengan Leana yang juga menyusul Yumi.


"Ayo kita membeli milkshake," ajak Leana hingga Yuma yang sedang menunggu, mengangguk kemudian dia menegakkan tubuhnya, lalu berjalan mengikuti sang Ibu.


"Yuma, kau hanya ingin milkshake? Kau ingin makanan yang lain?" tanya Leana ketika pesanan sedang diproses.


Yuma menoleh ke sekelilingnya, dia melihat stand yang menjual waffle kesukaannya. "Mommy, bolehkah aku membeli itu?" tanya Yuma.


"Oh, iya Mommy, aku juga ingin itu," ucap Yumi, "Yuma, bagaimana jika kita membaginya berdua?"


"Tidak, kita bagi saja bertiga dengan Mommy," ucap Yuma.


"Aku tidak akan kenyang, Yuma," kata Yumi.


"Sudah, ayo kita beli dua," ucap Leana.


"Mommy, jika tidak ada uangnya, tidak usah membelikanku. Yumi saja," kata Yuma lagi hingga Leana menggeleng.

__ADS_1


Entah seberapa berat luka yang ditanggung oleh Yuma, hingga Yuma bisa sedewasa ini, padahal Yuma dan Yumi masih anak-anak di mana seumuran mereka sudah seharusnya tidak pernah memikirkan apapun. Namun sekarang, Yuma dan Yumi harus memikirkan tentang kehidupan yang akan mereka jalani ke depannya.


Setelah itu, mereka pun berjalan ke arah stand waffle lalu memesan. Tanpa Leana, Yuma dan Yumi sadari, ada yang melihat mereka dari jauh.


__ADS_2