Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Sebuah Ide


__ADS_3

"Leukimia."


Steve menatap dokter dengan tatapan tak percaya. Penjelasan itu membuat dunianya terasa hancur dalam sekejap.


"Kau bercanda, 'kan?" tanya Steve. Dia berusaha untuk tetap tidak percaya pada dokter.


Dokter menggeleng. "Seandainya saya bisa mengatakan demikian, maka saya akan katakan b ,ahwa ini hanya bercanda. Tapi sayangnya bukan. Putra Anda benar-benar terkena leukimia," jawab Dokter dengan raut wajah yang serius. Membuat Stev semakin yakin dengan apa yang di ucapkan dokter.


Seketika Steve langsung terduduk di kursi tunggu. Lelaki itu seperti kehilangan jiwanya. Beberapa saat lalu, dia baru saja mendengar hal yang menyakitkan tentang Alya dari ibunya, dan sekarang dia harus kembali mendengar hal yang lebih menyakitkan dari dokter tentang kondisi Geo. Lalu, sekarang dia harus bagaimana menghadapinya.


"Kalau begitu, bisakah anda ikut dengan saya untuk menandatangani sebuah dokumen?" tanya dokter. Elsa melihat ke arah Steve kemudian memutuskan untuk maju. "Kau tunggu di sini, biar Mommy yang mengurus," ucap Elsa.


Dokter pun berbalik dan Elsa mengikutinya. Saat sudah menjauh, wanita itu menoleh ke arah belakang memastikan Steve masih berada di sana.


"Terima kasih kau sudah membantuku, Dokter," ucap Elsa.


Dokter menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka. "Sama-Sama, Nyonya. Terima kasih juga atas bantuan Anda," jawab Dokter.


Faktanya, Geo sama sekali tidak menderita penyakit apapun. Bocah kecil itu hanya demam biasa dan tanpa Steve sadari, kondisi anaknya itu berasal dari es krim yang dia makan kemarin.


Saat Geo memakan es krim itu, dia akan langsung drop dan kemarin Elsa sengaja memberikan itu pada cucunya. Bukan karena tidak menyayangi Geo, hanya saja dia ingin menyadarkan Steve lebih cepat.


Setelah ini, dokter akan mengatakan bahwa Geo membutuhkan tulang sumsum belakang lalu dia pun akan mengatakan bahwa milik Steve tidak cocok, hingga pilihan terakhir adalah Maudy.


Lalu pada saat itulah, Geo akan kembali pada genggaman Maudy. Elsa merasa tidak bisa menahan Geo lebih lama lagi, sebab anak itu pasti akan terluka jika terus menerima doktrin dari kedua belah pihak. Karena itulah, dia dan Nauder mengambil langkah ini.


Rencana mereka memang terkesan konyol, tapi hanya inilah cara cepat yang bisa dilakukan dengan aman.


***


Steve masih terdiam di tempatnya dengan dunia yang terasa runtuh.


"Geo," lirih Steve dengan wajah yang terlihat pucat. Dia tidak bisa membayangkan anak sekecil Geo menderita karena penyakit tersebut. Bagaimana anak sekecil Geo merasakan rasa sakit yang luar biasa.


Bulir bening terjatuh dari pelupuk mata Steve. Setelah sekian lama terdiam, dia bangkit dari duduknya untuk menemui Geo di ruang rawat.


Steve masuk ke dalam, ternyata Geo sedang tertidur yang jelas bukan karena penyakitnya, melainkan akibat obat yang diberikan oleh dokter. Obat itu cukup aman karena dokter sendiri yang memberikannya.


Steve mendudukkan dirinya di samping Geo. "Geo, Daddy janji, jika kau sembuh, Daddy akan mempertemukanmu dengan Mommy Maudy," ucap Steve yang berbicara dengan tulus.


Setidaknya, ucapan Elsa barusan menamparnya membuat dia bisa membuka hati dengan memberikan Geo pada Maudy, padahal sebelumnya dia sangat tidak rela wanita itu menyentuh anak mereka.


***


"Nona Maudy, terima kasih. Hari ini kau begitu hebat," ucap Richard saat mengantarkan Maudy ke luar.


Hari ini Maudy benar-benar luar biasa, dia mampu menghalau kejahilan Leana dari awal hingga akhirnya kelas pun selesai.


Sepanjang Maudy mengajar, Leana tidak berhenti menjahilinya. Entah itu menukar makanan atau yang lain. Namun, tetap saja sepintar apapun Leana, Maudy lebih darinya.

__ADS_1


"Sama-Sama, Tuan, ini sudah tugasku," jawab Maudy dengan pancaran ketulusan.


"Ayo Nona, biar aku yang akan mengantarmu pulang," ucap Richard.


"Tidak usah, Tuan Richard. Aku bisa meminta adikku untuk menjemput," jawab Maudy, pasalnya tadi Januar meminta Maudy untuk mengabarinya jika butuh jemputan rupanya, Januar penasaran dengan sosok pemimpin perusahannya. Dan berharap jika menjemput sang Kaka dia bisa melihat sosok Ricard.


"Tidak perlu, ayo biar aku yang mengantarmu. Sekalian, aku juga ingin keluar." Richard yang tidak ingin mendapat penolakan, langsung mendahului Maudy dengan berjalan ke arah mobilnya membuat wanita itu menggigit bibir.


Maudy merasa tidak enak, tapi Richard sudah mendahuluinya membuat dia terpaksa mengikuti langkah lelaki itu.


***


Hening, tidak ada yang berbicara di dalam mobil sampai tiba-tiba Richard berkata, "Nona Maudy, apa Anda ingin menanyakan sesuatu tentang Leana? Aku yakin banyak sekali pertanyaan yang kau simpan.” Ricard langsung bertanya karena dia selalu melihat terkadang, Maudy menatapnya dengan tatapan tanda tanya seolah penasaran dengan apa yang terjadim


Maudy terdiam. Dari pengamatannya, dia merasa bahwa Leana bukan anak yang nakal, melainkan anak manis yang sama seperti pada umumnya.


Namun, Leana tampak memiliki banyak trauma. Dia cenderung ingin diperhatikan dan ingin mendapatkan kasih sayang.


"Bolehkah aku bertanya tentang ...." Maudy menghentikan ucapannya karena merasa tidak enak, tapi Richard menoleh membuat mereka beradu pandang.


"Tidak apa-apa, tanyakan saja."


"Sebenarnya, aku melihat Leana bukan senagai anak yang jahil atau nakal. Di mataku, dia cukup manis. Hanya saja ...." Lagi-Lagi, Maudy menghentikan ucapannya karena merasa tidak enak mengatakan hal yang dia pikirkan pada Richard.


"Awalnya Leana tidak seperti itu, tapi sejak kematian istriku dua tahun lalu, dia berubah. Ditambah lagi selama ini aku fokus bekerja dan sejak setahun lalu, aku berhenti pergi ke kantor dan tak lagi berkecimpung lagi dalam dunia pekerjaan. Tapi, tetap saja Leana tidak berubah meski aku sudah mencoba untuk selalu ada setiap saat di sisinya." Richard berucap dengan pelan.


Leana seperti ini karena dia tidak bisa berbicara dari hati ke hati bersama putrinya. Dia tidak yakin anak itu mengerti dengan kehidupan yang dia jalani.


"Aku mengerti," jawab Maudy yang tidak ingin memperpanjang obrolan, sebab dia menyadari Richard merasa berat mengatakan yang terjadi.


"Pokoknya, aku berterima kasih karena kau bisa mengajar Leana. Aku berharap kau tidak menyerah jika dia melakukan apapun padamu."


Maudy mengangguk. "Tentu, Tuan."


Sampai akhirnya, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, mobil yang dikendarai oleh Richard sampai di rumah Maudy.


"Oh ini rumahmu, Nona?" tanya Richard.


"Iya, terima kasih sudah mengantarkanku. Kalau begitu sampai jumpa." Maudy turun dari mobil kemudian melambaikan tangannya pada Richard.


Ricahrd pun langsung pergi, dan tepat saat itu gerbang terbuka oleh Januar, karena Maudy tidak mengirimkan pesan, Januar pun memutuskan untuk menyusul kakanya, dia berniat menjemput kakaknya melalui titik lokasi yang ada di ponsel wanita itu.


"Kakak kenapa sudah pulang? Bukannya aku bilang aku mau menjemput Kakak?" tanya Januar, Maudy terkekeh saat melihat kekesalan di mata adiknya yang penasaran dengan sosok Richard.


"Kau barusan diantarkan oleh Richard?" tekan Januar.


"IHmm" jawab Maudy yang langsung masuk meninggalkan Januar membuatnya tersadar.


"Apa Kakak diantarkan Tuan Richard?" tanya Januar lagi dengan nada setengah berteriak karena tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh kakaknya.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah?"


"Kau mimpi apa hingga bisa diantarkan Tuan Richard?" tanya Januar.


"Sepertinya tidak ada yang aneh dengan itu, apalagi aku pun mengajar anaknya," ucap Maudy sambil membuka pintu.


"Tunggu, Kak, jangan sampai kau jatuh hati padanya."


"Kenapa?" Maudy menoleh. "Lagi pula, siapa juga yang mau jatuh cinta padanya? Apa kau tidak melihat perbedaan kami?"


"Bukan karena itu."


"Lalu karena apa?"


Januar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Selama ini, banyak sekali kabar yang beredar tentang CEO di perusahaan mereka, ditambah lagi Richard tidak pernah menampakan dirinya dan pria itu pun tak pernah membantah kabar tersebut.


"Kenapa?" tanya Maudy lagi yang penasaran.


"Tidak, lupakan saja. Pokoknya jangan sampai kau jatuh cinta pada lelaki itu. Menurut teman-temanku, Tuan Richard memang baik. Dia bahkan seperti malaikat yang selalu menolong orang lain, tapi ada satu hal yang harus kau pertimbangkan jika kau mau dekat dengannya."


"Kau ini berbelit-belit sekali, katakan saja ada apa dengan Tuhan Richard?"


"Aku tetap tidak mau mengatakannya, pokoknya jangan sampai kau jatuh cinta padanya."


"Karena apa?" tanya Maudy lagi.


"Karena kita tidak sebanding dengannya, nanti seperti adegan di sinetron di mana kau akan diusir oleh keluarga Tuan Richard," ucap Januar sambil tertawa membuat Maudy langsung menendang kakinya.


Setelah mengatakan itu, Januar pun berlalu meninggalkan Maudy yang kini berjalan menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya.


***


Maudy keluar dari kamar mandi, wanita itu langsung mendudukkan diri di sofa lalu mengutak-atik ponselnya. Ketika dia akan mengirim pesan pada mantan Ibu mertuanya, ternyata Elsa lebih dahulu menelepon dia.


"Maudy," sebut Elsa di seberang sana.


"Mommy, ada apa? Apa Mommy sudah berhasil melakukan rencana Mommy?" tanya Maudy yang mati-matian menahan tawa.


Jujur saja, walaupun Nauder dan Elsa sudah berumur, tapi keduanya selalu mempunyai ide yang sangat brilian. Meskipun harus membiarkan Geo sakit, tapi Maudy akui dia begitu senang dengan bantuan mereka. Apalagi jika tidak dengan cara seperti ini, belum tentu dia akan segera bertemu dengan Geo.


"Mommy sudah menjalankan semuanya, Steve juga terlihat sangat percaya."


"Mommy, apa Mommy baik-baik saja?" tanya Maudy ketika mendengar suara Elsa yang terselip kesedihan.


"Mommy sebenarnya tidak tega melihat Geo terbaring di rumah sakit, tapi mau tak mau kita harus melakukan ini."


"Mommy, maafkan aku yang merepotkan Mommy."


"Tidak Maudy, kau tidak merepotkan Mommy. Mommy justru senang Geo akan kembali padamu secepat mungkin supaya mentalnya tidak lelah."

__ADS_1


__ADS_2