Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Kritis


__ADS_3

"Yuma," panggil Aaron, menyadarkan Yuma dari lamunannya dan kali ini Yuma tidak menolak. Gadis kecil itu seolah terhipnotis dengan wajah Aaron yang pucat. Walaupun memang wajah Aaron sudah terkena air, tapi Yuma bisa tahu wajah ayahnya berubah, hingga dia langsung menunjuk angsa yang ada di belakang Aaron dan Aaron pun mengambilnya, kemudian mendudukkan Yuma di sana.


Saat Yuma dan Yumi bermain air, Aaron mendudukkan diri di tepi sebelum dia mengajari kedua putrinya berenang. Dia melihat Yuma dan Yumi kemudian tersenyum ketika kedua anak kembarnya sedang bermain air. Namun tak lama, Aaron meringis ketika pinggangnya semakin nyeri.


Setelah mengetahui ginjalnya bermasalah, Aaron tidak pernah lagi mengunjungi dokter. Dia terlalu takut dengan kenyataan yang akan dokter ucapkan. Dia juga tidak mau makan obat apapun dan berusaha mengabaikan apa yang dia rasa. Aaron paling anti dengan rumah sakit, itu sebabnya ketika dia tahu sakitnya parah, dia memutuskan untuk melupakan sakitnya dan tidak pernah datang ke rumah sakit lagi. Minggu ini, Aaron merasa nafsu makannya berkurang. Dia mulai lelah dan juga lelaki itu merasa selalu nyeri di bagian pinggangnya.


"Daddy," panggil Yumi hingga Aaron tersadar kemudian menoleh ke arah Yumi.


"Ayo mulai," ajak Yumi hingga Aaron mengangguk. Dia langsung turun lalu berenang ke arah Yuma dan Yumi.


Selama proses mengajar Yuma dan Yumi berenang beberapa kali Aaron meringis, tapi dia tetap berusaha yang terbaik untuk mengajari putrinya. Satu jam kemudian, saat sakit di pinggang Aaron sudah semakin terasa dan Aaron merasa tubuhnya lemas, dia mengajak Yuma dan Yumi untuk naik dari kolam renang.


"Daddy, kau tidak apa-apa?" tanya Yumi ketika melihat Aaron meringis.


"Daddy hanya tidak enak badan. Kalian keringkan dulu, oke? Daddy akan menyuruh pelayan untuk membantu kalian. Jangan bangunkan Mommy, Mommy sedang istirahat," kata Aaron hingga Yuma dan Yumi mengangguk, sedangkan Yuma terus menatap Aaron.


Setelah Aaron pergi, pandangan Yuma tidak lepas menatap punggung sang ayah.


"Yuma, kau lihat Daddy begitu kesakitan. Apa kau masih tidak ingin memaafkan Daddy?" tanya Yumi hingga Yuma menoleh.


"Berisik," jawab Yuma. Setelah itu, Yuma pun masuk ke dalam rumah diikuti Yumi dan mereka pun langsung mengeringkan tubuh mereka dibantu oleh pelayan yang biasa mengurus keperluan Yuma dan Yumi.


***


Aaron masuk ke dalam kamar. Dia langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan dirinya, sedangkan Leana masih tertidur. Saat berada di kamar mandi, Aaron langsung mendudukkan dirinya di toilet. Tiba-Tiba Aaron merasa tubuhnya lemah. Dia meringis karena pinggang dan dadanya terasa terbakar.


Aaron seperti tidak bisa bergerak karena dia benar-benar merasa seluruh sendi-sendinya keluar dari tubuhnya, hingga pada akhirnya Aaron beru MOUsaha untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


Setengah jam kemudian, Aaron berusaha bangkit kemudian lelaki itu langsung menyalakan air dan membersihkan dirinya. Sepuluh menit kemudian, Aaron sudah keluar dari walk-in closet. Dia memakai baju santai dan ternyata Leana sudah terbangun.


Leana menatap Aaron dengan bingung. Wajah Aaron begitu memucat. Tidak biasanya Aaron seperti ini.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Leana. Untuk pertama kalinya selama lima bulan ini, Lenaa bertanya padanya.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya tidak enak badan, Sayang," jawab Aaron. Dia tersenyum ketika Leana menanyakan keadaannya. Ini saja sudah cukup bagi Aaron. Dia pun mulai memejamkan matanya, sedangkan Leana terus menatap Aaron. Dia menyadari bahwa wajah Aaron begitu tirus.


Terdengar suara langkah berlari dan Leana yakin itu adalah putrinya. Dka pun bergegas turun dari ranjang kemudian berjalan ke arah pintu dan benar saja, ternyata Yumi yang berlari ke arah kamarnya.


"Yumi, kau kenapa? Ada apa?" tanya Leana ketika Yumi berlari dengan napas terengah.


"Mommy, Mommy, tubuh Yuma panas," kata Yumi. Rupanya setelah berenang, Yuma merasakan tubuhnya menggigil hingga dia pun langsung lemas dan langsung berbaring. Barusan tidak sengaja Yumi menyentuh kulit Yuma, hingga mengetahui bahwa tubuh Yuma panas, dan dia pun langsung bergegas memanggil sang ibu. Leana pun langsung berjalan ke arah kamar yang ditempati oleh Yuma diikuti Yumi di belakangnya.


"Yuma," panggil Leana dan ternyata benar saja, Yuma mengalami panas.


"Mommy," lirihnya.


Leana langsung mengambil pengukur suhu tubuh dan ternyata benar saja, Yuma mengalami demam. Suhunya begitu tinggi.


Leana langsung menekan tombol monitor yang ada di kamar Yuma dan Yumi, hingga tak lama satu pelayan datang ke kamar Yuma dan Yumi. "Tolong panggilkan dokter di bawah, bilang pada dokter Yuma panas dan demam," titahnya.


Pelayan itu pun mengangguk, dan sepuluh menit kemudian, dokter datang kemudian langsung memeriksa Yuma. Dia mengalami demam hingga dokter pun langsung meresepkan obat pereda demam untuk gadis kecil itu.


***


Dua jam kemudian, Aaron terbangun dari tidurnya. Lelaki itu langsung mengerjapkan pandangannya. Dia melihat jam, ternyata dia sudah dua jam tertidur.


Tubuh Aaron sudah sedikit segar. Sakit di pinggangnya berkurang. Dia sudah tidak merasa lemas lagi. Lelaki itu pun langsung turun dari ranjang kemudian berjalan ke arah luar untuk melihat Yuma dan Yumi.


"Ada apa ini?" tanya Aaron ketika melihat Leana sedang mengelus rambut Yuma. Yumi pun mengangguk hingga dia langsung berjalan ke arah ranjang.


"Yuma," panggil Aaron pada Yuma yang membuka matanya hanya sedikit.


"Sayang, apa Yuma sudah di berikan obat?" tanya Aaron hingga Leana mengangguk.


"Apa Yuma sudah tertidur?" tanya Aaron hingga Leana kembali menggeleng.

__ADS_1


Aaron pun dengan cepat mengangkat tubuh Yuma, lalu menggendong putrinya sebab dia tahu setiap Yuma demam, Yuma selalu susah untuk tertidur dan akan menghambat penyembuhan. Dulu ketika Yuma demam, dia akan mengayunkan tubuh Yuma hingga Yuma tertidur.


Satu jam kemudian. Napas Yuma sudah teratur hingga Aaron dengan pelan membaringkan tubuh Yuma.


"Sayang, boleh aku minta tolong?" tanya Aaron. Jika dipikir setelah lima bulan dia berjuang, untuk pertama kalinya dia meminta tolong pada Leana.


"Leana, bisa tolong ambilkan aku minum?" tanya Aaron karena dia merasa pinggangnya nyeri lagi, hingga Leana kemudian keluar dari kamar Yuma dan Yumi, lalu pergi ke bawah untuk mengambil air.


Lima menit kemudian, Leana kembali tiba di kamar Yuma dan Yumi kemudian menyerahkan air pada Aaron.


"Terima kasih," jawab Aaron.


"Oh iya, kau istirahatlah biar Yuma aku yang menunggu," kata Aaron lagi.


Leana mengangguk. Dia harus menyiapkan sesuatu, itu sebabnya dia meninggalkan Yuma dan Aaron, sedangkan Yumi sudah bermain ponsel Aaron karena gadis kecil itu mengeluh bosan.


Aaron membaringkan tubuhnya di sebelah Yuma kemudian dia memejamkan matanya karena sakit di pinggangnya kembali datang, sedangkan Yumi yang sedang bermain ponsel, diam-diam melihat ke arah sang ayah. Dia mengerutkan keningnya ketika Aaron tertidur dengan meringis seperti sedang menahan kesakitan, hingga Yumi langsung menyimpan ponselnya ke bawah.


"Daddy, are you oke?" tanya Yummi..


"Daddy tidak apa-apa. Kau bermain ponsel lagi saja," kata Aaron pada Yumi. Dia tidak ingin Yumi melihatnya kesakitan hingga Yumi pun mengangguk.


***


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Aaron keluar dari kamar Yuma dan Yumi karena sedari tadi Aaron tidak keluar dari kamar kedua putrinya dan barusan, dia kembali mengayunkan tubuh Yuma hingga Yuma kembali tertidur.


Panas Yuma sudah sedikit turun, hingga Aaron bisa beristirahat di kamarnya bersama Leana. Aaron masuk ke kamar, ternyata Leana sudah tertidur.


Aaron pun naik ke ranjang kemudian lelaki tampan itu langsung mendudukkan dirinya di sebelah Leana, kemudian dia mencium kening istrinya lalu setelah itu dia kembali bangkit untuk mencium perut Leana, dan setelah itu dia kembali membaringkan tubuhnya lalu menyelimuti tubuhnya dan tubuh sang istri, lalu kemudian dia terlelap.


Sedari tadi, Aaron sudah kelelahan, tapi dia tidak bisa meninggalkan Yuma hingga dia menyuruh Yuma untuk terlelap dan sekarang Aaron merasa tubuhnya benar-benar lemah, sehingga dia langsung memejamkan matanya.


Malam berganti pagi.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Leana yang melihat wajah Aron semakin pucat.


"Aku tidak enak badan," jawab Aron dengan tersenyum kecil.


"Ayo ke rumah sakit," kata Leana lagi yang terlihat khawatir pada suaminya.


"Tidak, aku tidak apa-apa, Sayang. Tolong pesankan pada pelayan untuk membuatkanku bubur jagung," jawab Aaron.


Setelah itu Aaron pun langsung bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Sementara Leana terpaku melihat punggung Aaron. Dia merasa suaminya sedang tidak baik-baik saja. Tak lama, Leana tersadar ketika mendengar suara Yummi, yang mengajaknya untuk segera berangkat sekolah.


Aaron masuk ke dalam kamar Yuma, sedangkan Leana mengantar Yumi ke sekolah, dan ternyata Yuma sedang melamun.


***


"Yuma," panggil Aaron hingga Yuma menoleh. Seperti biasa, gadis kecil itu tidak menjawab, tapi tatapannya pada Aaron sudah berubah. Dia tidak menatap Aaron lagi dengan kesal.


Aaron mendudukkan diri di sebelah Yuma kemudian dia mengelus rambutnya. "Apa kepalamu masih pusing?" tanya Aaron.


Yuma menggeleng dan tanpa diduga, Yuma langsung menyandarkan tubuhnya ke tubuh Aaron membuat mata Aaron membulat, karena memang sedari dulu jika Yuma demam, pasti Yuma hanya akan mau bersama dengan Aaron karena Aaron selalu telaten mengurusnya, menemaninya. Itu sebabnya saat ini dia langsung menyandarkan tubuhnya.


"Aku mengantuk tapi tidak bisa tidur," kata Yuma hingga Aaron langsung bangkit dari duduknya kemudian dia langsung menggendong Yuma. Padahal hari masih pagi, tapi sepertinya Yuma bangun sangat pagi sekali hingga sekarang dia mengantuk, dan ketika demam, dia tidak bisa tidur jika tidak digendong oleh Aaron.


Aaron menimang-nimang tubuh Yuma hingga pada akhirnya Yuma pun terlelap dan Aaron langsung membaringkan tubuhnua di ranjang, kemudian lelaki itu langsung mendudukkan dirinya di sebelah Yuma lalu merapikan rambut putrinya. Mata Aaron berkaca-kaca. Dia bersyukur Leana memberikannya kesempatan, walaupun sekarang dia harus menebus apa yang dia lakukan dengan sikap dingin Leana dan Yuma. Namun setidaknya, ini lebih baik daripada dia kehilangan Leana dan kedua putrinya.


Setelah itu, Aaron pun langsung bangkit dari duduknya kemudian keluar dari kamar Yuma. Ketika dia keluar, ada Larry di hadapan.


"Ada apa?" tanya Aaron.


"Tuan, ada sedikit masalah di perusahaan yang ada di Turki dan hanya Anda yang bisa pergi," kat


"Apa kau tidak bisa menanganinya?" tanya Aaron.

__ADS_1


"Tidak, ini membutuhkan tanda tangan Anda," ucapnya.


Sepertinya, Aaron tidak bisa untuk tidak hadir. "Ya sudah, jadwalkan saja minggu depan," katanya.


Larry pun mengangguk.


"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya Larry saat melihat Aaron tampak pucat.


"Tidak, aku tidak apa-apa," jawabnya.


"Tuan, seharusnya Anda mengunjungi rumah sakit. Anda har—"


"Tutup mulutmu, Larry! Jangan berbicara di sini," kata Aaron. Dia pun langsung berjalan meninggalkan Larry, sedangkan Larry langsung berbalik ke arah sebaliknya untuk naik ke dalam lift.


***


Satu minggu kemudian.


Leana masuk ke dalam kamar dan ternyata Aaron tidak ada ranjang. Wanita itu langsung berjalan ke walk-in closet karena terdengar suara gaduh dari sana, dan ternyata Aaron sedang memilih pakaian yang akan dia bawa untuk ke luar negeri.


"Kenapa kau membereskan itu?" tanya Leana.


"Oh, aku lupa memberitahukan sesuatu padamu," jawab Aaron.


"Memberitahukan apa?" tanya Leana.


"Aku harus pergi ke Turki," jawab Aron yang menghentikan sejenak aktivitasnya.


Mata Leana membulat saat mendengar ucapan Aaron. "Turki? Kenapa kau pergi ke Turki?" tanyanya terkejut.


Aaron tersenyum ketika melihat reaksi Leana yang ternyata tidak rela dia pergi.


"Ada pekerjaan, Sayang. Aku hanya akan satu minggu di sana. Kau istirahatlah, aku akan membereskan pakaianku dulu," kata Aaron.


Leana terdiam, dia menatap Aaron. Biasanya jika Aaron pergi ke luar negeri, dia yang akan menyiapkannya, tapi sekarang Aaron tidak memintanya. Mungkin Aaron masih merasa sungkan, hingga Leana pun maju kemudian dia membuka lemari lalu membantu Aaron menyiapkan pakaian hingga Aaron tersenyum.


Keesokan harinya.


Aaron mematut diri di cermin. Lelaki itu memastikan tampilannya rapi karena sebentar lagi Larry akan menjemputnya dan pergi ke bandara. Setelah bercermin, Aaron pun langsung berjalan ke arah luar dan ternyata saat di luar, ada Yuma yang menunggunya.


"Yuma," sebut Aaron.


Yuma tidak menjawab dan malah menunduk. Sepertinya, selama dia demam dan selama Aaron mengurusnya, Yuma sudah luluh. Namun, dia masih terlalu malu untuk berbicara pada sang ayah dan ketika mengetahui ayahnya akan pergi, Yuma ingin memeluk ayahnya.


"Yuma," panggil Aaron lagi.


Aaron menekuk kaki, menyetarakan diri dengan Yuma hingga Yuma langsung mengangkat kepalanya. "Ada yang ingin kau sampaikan pada Daddy?" tanya Aaron.


Bukannya menjawab, Yumma malah memeluk Aaron. Dia melingkarkan tangannya di leher sang ayah, hingga tubuh Aaron diam mematung.


"Jangan pergi terlalu lama," ucap Yuma.


Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Aaron ketika mendengar Yuma mengucapkan itu, hingga dia langsung memeluknya.


"Kemarin-Kemarin kau tidak mau mendekati Daddy, tapi sekarang?" Tiba-Tiba terdengar suara Yumi membuat Yuma melepaskan pelukannya dari Aaron kemudian menatap Yumi dengan aura permusuhan.


"Diam kau!" Yuma beseru.


Aaron bangkit dari berlututnya kemudian dia mengusap lembut kepala Yuma, lalu dia kembali membungkuk dan mencium kening putrinya. "Daddy tidak akan lama," jawab Aaron.


"Ayo antarkan Daddy ke depan," ajaknya.


Saat Aaron akan berjalan, tiba-tiba otak Aaron blank. Aaron merasa seluruh tubuhnya nyeri. Dada Aaron terasa panas, dan sedetik kemudian Aaron langsung tak sadarkan diri padahal semula Aaron baik-baik saja.


"Daddy!" teriak Yuma dan Yumi secara bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2