
"Geo, Geo," panggil Steve pada Geo yang sedang demam.
Steve langsung bangkit dari berbaringnya kemudian mengambil termometer, lalu mengukur suhu tubuh Geo. Ternyata benar saja, anak itu sedang demam tinggi.
Secepat kilat, Steve langsung ke luar. Dia mengedarkan pandangannya mencari Alya yang tidak ada di manapun. Dia melihat jam di dinding, ternyata menunjukkan pukul tiga dini hari dan istrinya tidak ada di apartemen, padahal kemarin saat dia pulang dari restoran, Alya sedang tidur di sofa.
Steve dengan cepat mengambil air untuk mengompres kening Geo dan juga mengambil obat demam.
***
Setengah jam berlalu, akhirnya panas Geo mulai turun karena Steve mengompres dahinya dan memaksa dia untuk meminum obat.
"Daddy, Mommy Maudy," ucap Geo dengan mata sayu. Di dalam mimpinya tadi dia melihat Maudy yang membuat Steve kini memejamkan matanya.
"Mommy Maudy akan datang beberapa bulan lagi," jawab Steve yang terpaksa berbohong, "tapi jika kau ingin cepat bertemu Mommy Maudy, harus sembuh, kau mengerti?" Stev berbicara dengan nada meyakinkan, tatapan matanya seolah mengatakan bahwa Maudy benar-benar akan datang. Padahal tentu saja tidak
Geo mengangguk kemudian kembali memejamkan matanya. Sementara Steve yang sudah terbangun dan tidak bisa tertidur lagi, memilih untuk duduk lalu menatap putranya.
Steve menghela napas saat mengingat Geo membahas Maudy. Jika dipikir, ini mungkin untuk pertama kalinya anak itu menanyakan sang ibu padanya. Mungkin di mata Steve ini pertama kalinya Geo bertanya. Tapi sebenarnya tidak, dia sering menanyakan Maudy pada nenek kakek dan bibinya.
Elsa melarang Geo untuk menanyakan Maudy pada Steve, sebab dia takut Stev kembali menghasut Geo itu sebabnya Geo tidak pernah bertanya pada saat ayah.
Steve menggeleng mengusir pemikiran tentang Maudy. Dia yakin, Maudy tidak akan pernah menghampiri Geo lagi, begitupun Geo yang tidak akan pernah mungkin bertemu dengan Maudy.
***
Waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi. Sedari tadi dia duduk di ruang tamu dan menunggu Alya yang entah pergi ke mana.
Sementara di sisi lain, ada Alya menatap kosong ke depan. Dia merasa malas sekali untuk pulang, ditambah rasa sakit selalu membayanginya saat dia harus berhadapan lagi dengan Steve ataupun dengan Geo.
Semalam, setelah Steve pulang dari restoran, dia berpura-pura tertidur kemudian setelah kondisi aman, dia memilih pergi ke apartemen pribadinya yang merupakan tempat pelarian Alya.
Selama ini, Alya sudah berusaha bertahan sebisanya untuk tidak berubah pada Geo dan Steve walaupun mereka memperlakukannya dengan buruk. Dia tetap berusaha untuk menjadi ibu dan istri yang baik sekalipun dia bukan wanita sempurna.
Namun semalam, setelah dia memasak dan masakannya tidak dihargai, dia merasa lelah. Entah bagaimana dia harus menghadapi Steve nanti, yang pasti Alya butuh waktu untuk sendiri.
Barusan dia memutuskan untuk pulang, tapi ketika mengingat sikap anak dan suaminya, Alya memutuskan untuk pergi selama beberapa hari untuk menenangkan dirinya.
Ponsel di samping Alya berdering, satu panggilan masuk dari Steve. Rupanya, sejak tadi pria itu terus menunggunya yang tidak kunjung datang. Alya menghela napas, mau tak mau dia harus berbicara pada Steve.
"Di mana kau?" tanya Steve membuat Alya menjauhkan ponsel dari telinganya karena pria itu sedikit berteriak.
"Steve," panggil Alya, "beri aku waktu lima belas menit untuk berbicara. Selama bertahun-tahun aku menjadi istrimu, aku tidak pernah menuntut apapun padamu. Belakangan ini pun kau dan Geo berubah. Aku punya hati dan jujur saja, sikap kalian begitu menyakitiku. Aku tidak masalah sebenarnya hanya saja aku sedikit lelah, jadi bolehkah aku beristirahat sebentar untuk menenangkan diri?" tanya Alya.
Steve terdiam di seberang sana, lelaki itu tampak berpikir. Benar, sepertinya dia sudah keterlaluan pada sang istri.
"Ya sudah terserah kau saja," jawab Steve kemudian mematikan panggilannya.
Alya menekuk kaki kemudian memeluk lututnya. Bahu wanita itu bergetar, dia menangis tersedu-sedu jika mengingat pahitnya kehidupan. Dia merasa benar-benar sendirian.
Tidak mudah menjadi Alya yang ingin mempunyai keluarga utuh di saat dia sendiri tak sempurna. Dia pun ingin mempunyai keluarga yang menyayanginya, tapi mertuanya tidak pernah menganggap dia ada. Saat ini, dia berada di titik terlelahnya di mana dia merasa tidak dihargai oleh siapapun.
***
Steve mengusap wajah kasar saat mendengar ucapan Alya. Dia melemparkan ponsel ke sembarang arah lalu mendudukkan dirinya di kursi.
Waktu menunjukkan pukul enam pagi dan Geo masih belum bangun. Hari ini, dia berencana untuk membawa anak itu ke rumah sakit.
__ADS_1
Setelah cukup lama terdiam, Steve bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah kamar untuk melihat sang putra. Lalu saat masuk, dia melihat Geo yang sudah membuka matanya.
Steve mempercepat langkahnya mendekati sang putri. "Geo," panggil Steve pada Geo yang terlihat pucat.
"Geo," panggil Steve lagi pada Geo yang baru saja duduk dan tengah merasakan pusing, dan kini menoleh padanya.
"Apa kau using?" tanya Steva melihat Geo yang terdiam.
"Kepalaku sakit."
Steve mulai khawatir, sebab bukan sekarang ini saja Geo merasakan sakit. Berkali-kali anak ini merasakan demam dan pagi hari, dia akan terbangun dengan kepalanya yang nyeri membuat dia yakin untuk membawa putranya ke rumah sakit.
Awalnya, Steve berpikir bahwa mungkin ini demam biasa, tapi entah kenapa sekarang feeling-nya mengatakan bahwa ada yang terjadi, sebab gejala yang dirasakan selalu sama ditambah lidah Geo pun seringkali membiru.
"Ya sudah ayo kita pergi ke rumah sakit, kita periksa ke dokter."
"Daddy, aku ingin bertemu Mommy Maudy."
Steve yang baru saja bangkit, kembali duduk. "Kau ingin bertemu Mommy Maudy?"
Selama ini, jarang sekali Steve dan Alya membahas Maudy. Begitu pula dengan Geo sendiri yang tidak pernah bertanya, tapi entah kenapa sekarang anak ini tiba-tiba terlihat ingin sekali berjumpa dengan sang ibu.
"Tapi, kenapa kau ingin bertemu dengan Mommy Maudy? Bukankah di sini ada Mommy Alya juga Daddy? Bahkan ada nenek, kakek, Bibi Gina juga," ucap Steve.
Geo menatap Steve dengan mata sayunya. "Aku hanya rindu saja pada Mommy Maudy, apa itu salah?" tanyanya.
"Tidak salah, tapi ...."
"Tidak mau, aku ingin bertemu Mommy Maudy. Jika tidak, aku tidak mau pergi kerumah sakit!" ucap bocah yang beranjak besar itu memberikan ancaman untuk Steve.
"Daddy pikirkan nanti, sekarang kita pergi ke rumah sakit." Steve tidak ingin membahas lagi tentang Maudy, hingga dia memutuskan untuk keluar dan mengganti pakaiannya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Steve sampai di rumah sakit. Steve turun mengeluarkan Geo dari dalam sana.
Steve kini terdiam di depan ruangan putranya. Saat ini, Geo sedang diperiksa oleh dokter. Dia begitu harap-harap cemas dan bukan hanya tentang kondisi Geo, tapi juga cemas akan hasil tes darah yang akan segera ke luar.
Tak lama, terdengar derap langkah yang sangat nyaring membuatnya menoleh dan ternyata itu adalah Elsa.
"Steve, mana Geo?" tanya Elsa.
"Geo masih diperiksa, Mom," ucap Steve, "apa Geo pernah demam saat menginap di Mansion?"
Elsa mengangguk. Berkali-kali Geo demam, tapi dia berpikir itu demam biasa karena setelah memakan obat, anak itu kembali seperti semula.
"Aku sedang menunggu hasil tes darah yang akan keluar sebentar lagi, mudah-mudahan tidak ada yang terjadi dengan Geo."
Elsa mendudukkan dirinya di sebelah Steve. "Mana istrimu?" tanya Elsa.
"Dia sedang menenangkan diri," jawab Steve.
"Menenangkan diri? Bukankah dia mati-matian ingin mempertahankan Geo, dan sekarang putramu sedang sakit dia tidak ada."
"Mom, cukup. Tolong jangan terus menyudutkan Alya."
"Mommy tidak menyudutkan. Mommy memang tidak menyukainya."
Steve melihat ke sana ke mari, sepertinya ini waktu yang tepat untuk dia bertanya pada sang ibu. "Kenapa dari dulu Mommy dan Daddy tidak pernah menyukai Alya? Kenapa kalian selalu berlaku buruk padanya padahal dia tidak pernah berbuat salah apapun? Dia selalu patuh padaku dan tidak pernah macam-macam, lalu kenapa Mommy tidak bisa menerimanya?"
__ADS_1
Elsa mengangguk-nganggukkan kepalanya.
"Apa karena Alya bukan anak orang kaya seperti kita?" tanya Steve membuat Elsa terkekeh. Tampaknya, tidak ada mannfaat lagi untuk dia menyembunyikan semuanya.
"Jika Alya bukan anak dari ibu mertuamu, Mommy akan menerimanya dan tidak ada alasan untuk kami tak menyukai orang hanya karena ekonomi mereka."
"Maksud Mommy? Kenapa Mommy membawa mertuaku?”
"Kau tahu kenapa sampai detik ini Mommy tidak bisa menerima Alya? Itu karena kelakuan ibu mertuamu dulu."
Pada akhirnya, Elsa pun menjelaskan semua yang terjadi, termasuk awal mula hubungan Sandra dan Nauder, serta kegilaan wanita itu yang hampir saja merenggut nyawa mereka.
Steve menatap sang ibu tanpa berkedip. "Mommy, kau berbohong, 'kan?" tanya Steve yang tidak percaya Sandra melakukan hal itu pada orang tuanya.
Walaupun sampai sekarang tidak pernah bertemu dengan Sandra, secara langsung karena dia sudah menghembuskan napas terakhirnya sejak lama, tapi tetap saja Steve terpukul mendengar itu.
“Kau tahu jika saat itu tidak ada ayah Maudy, yang menyelamatkan kami di mobil mungkin kami sudah terbakar di sana dan itu karena ulah ibu mertuamu. Kau tahu jika ayah Maudy tidak mendonorkan ginjalnya untuk Mommy, Mommy tidak akan ada berada di sini sekarang. Ibu mertuamu berusaha untuk melenyapkan kami, lalu kau berharap kami bisa menerima istrimu?” tanya Elsa dengan sarkas.
“Tidak Mommy, tidak akan pernah mau menerima istrimu sekalipun Aliya tidak bersalah. Dan kau tahu kebohongan macam apa yang dilakukan istrimu, apakah kau pernah bertanya kenapa sampai sekarang istrimu tidak bisa hamil setelah kalian menikah bertahun-tahun?" tanya Elsa.
Sebenarnya saat Maudy datang dan memberitahukan semua kebenaran pada Elsa dan Nauder yang mengakui bahwa Geo adalah anaknya, Nauder dan Elsa langsung menyelidiki karena mereka tidak terima bahwa Aliya berpura-pura menjadi ibu Geo, dan ternyata di luar dugaan mereka mengetahui Alia tidak bisa mengandung.
“Apa maksud Mommy?” tanya Elsa. Alia tidak mau mengandung karena dia adalah seorang model dan dia tidak mau badannya melar," jawab Stev yang masih berusaha membela Alia, karena dia tidak ingin sang ibu memojokan Aliya.
“Omong kosong macam apa itu,” jawab Elsa.
“Apa kau tidak tahu super model kelas dunia saja mau memiliki anak, karena mereka mengetahui ada tempat gym yang bisa mengembalikan tubuh mereka ada metode diet agar mereka kembali langsing. Lalu kenapa kamu percaya istrimu begitu saja?" Elsa memperjelas semuanya, agar Steve sadar bahwa dia keliru menilai Alia.
Skak
Stev terdiam, lelaki itu seperti kehilangan jiwanya ketika mendengar penjelasan Elsa. Jika dipikir memang tidak masuk akal ketika Alya mengatakan dia tidak ingin hamil, hanya karena tidak mau badannya melar.
“Jadi, maksud Mommy?” tanya Stev. Tolong jangan berbelit-belit katakan semuanya sekarang juga," sambungnya dengan nada tidak sabaran.
“Stev, rahim Elsa sudah diangkat saat dia melahirkan anaknya, karena mengalami komplikasi,” jawab Elsa, karena saat itu nauder benar-benar menyelidiki menantunya sampai detail tidak ada yang terlewat sedikitpun.
“A-anak?” ulang Stev.
“Daddy menyelidiki ini, Alia pernah hamil dengan manajernya, dan saat melahirkan dia mengalami komplikasi, hingga anaknya meninggal dan rahimnya harus diangkat.” Tubuh Stev serasa melemah saat mendengar itu.
Dia teringat jelas saat awal dia mengenal Alya, saat itu terlihat jelas bahwa Alia begitu dekat dengan manajernya dan dia tidak menyangka, Alia pernah melahirkan anak lelaki lain, dan itu membuat Stev semakin terpukul.
Jantung Stev seperti ditusuk ribuan belati saat mengetahui hal itu, bahkan dia menatap Elsa seperti orang linglung, karena apa yang diucapkan oleh sang ibu benar-benar mengejutkan.
Dua belas tahun, ia bersama dengan Aliya dan selama itu pula Alya membohonginya. Percuma selama ini dia berharap Alia mau mengandung, nyatanya sekarang dia sadar harapannya hanya sia-sia, dan kenyataan Alia yang pernah tidur dan melahirkan sungguh membuatnya terpukul, hingga rasanya sisa-sisa cinta untuk Aliya hilang begitu saja karena kekecewaan yang mendalam.
Elsa mengelus bahu Sang putra. “Mommy tahu Alya mungkin wanita baik, hingga kau memilihnya. Tapi Mommy tidak pernah mau menerimanya dan tidak akan pernah mau menerimanya sebagai menantu. Kau juga terlalu arogan Stev, memisahkan anak dari ibunya coba bayangkan jika kau ada di posisi Maudy ”
Semua ucapan Elsa dari mulai tentang mertuanya sampai Maudy barusan berputar-putar di otak Stev, hingga rasanya kepala lelaki itu ingin meledak.
Steve benar-benar tidak mampu berpikir jernih. Tatapan mata Steve seolah kosong semua terlalu mengejutkan untuknya, hingga dia tersentak.
Tak lama dokter menghampiri mereka, hingga Elsa langsung bangkit dari duduknya sedangkan Steve masih terdiam di tempat.
“Bagaimana keadaan cucu saya, Dok?” tanya Elsa
“Nyonya, ada hal buruk yang harus saya katakan,” ucap dokter lagi, membuat Stev tersadar, dia langsung ikut bangkit lalu berdiri di depan dokter.
__ADS_1
“Bagaimana dengan kondisi Putraku?”! tanya Steve dengan nafas tidak beraturan.
“Kami harus menyampaikan ini, putra Anda terkena leukemia.”