
'Tubuh Damian diam mematung saat melihat Elsa dan Nauder, hatinya benar-benar terasa hancur seperti ada ribuan panah yang menusuk jantungnya, ketika melihat tangan Nuader merangkul pundak Elsa.
Tidak perlu diberitahu lagi, Damian sudah tahu apa yang terjadi di antara Elsa dan Nauder, begitupun dengan Elsa. Dia merasa tidak enak pada Damian, wanita itu langsung menyingkirkan tangan Nauder dari pundaknya.
Namun tentu saja, Nauder tidak tinggal diam, dia malah semakin mengeratkan rangkulannya. Hingga Elsa menoleh lalu menginjak kaki Nauder hingga Nauder kesakitan, apalagi Elsa memakai flat shoes.
“ Damian aku tidak tahu kau akan datang kemari,” ucap Elsa Demian tersenyum. Namun Elsa bisa melihat raut wajah Damian yang berbeda.
“Aku hanya ingin mengantarkan makan malam untukmu.”
“Aku pikir, kau tidak perlu repot-repot. Elsa sudah makan di apartemenku tadi,” dusta Nauder. Padahal mereka belum makan apapun.
“Bohong, aku belum makan apapun. Terima kasih Damian." Elsa mengambil paperbag dari tangan Damian, sedangkan mata Nauder membulat saat Elsa membela Damian.
Sebenarnya Elsa hanya tidak enak, pada Damina karena walau bagaimanapun selama ini Damian yang selalu ada di sampingnya, Walaupun dia tidak pernah bisa membuka hati untuk lelaki itu.
“Kalau begitu aku permisi,” pamit Damian.
“Damian tunggu! Bagaimana jika kita makan bersama,” ajak Elsa. Mata Nauder membeliak, saat mendengar ucapan Elsa. Sejujurnya Elsa benar-benar merasa tidak enak pada Damian, dia tidak mau hubungannya dengan Damian retak, dia ingin tetap menjalin pertemanan.
Saat mendengar ucapan Elsa yang mengajaknya masuk. Damian tampak melihat ke arah Nauder, lelaki itu menyeringai sepertinya akan seru juga bersaing dengan Nauder.
“Baiklah, tapi aku hanya membawa makanan satu jadi ....”
“Tidak masalah, aku akan memasak untuk kalian.” Elsa membuka pintu, dan ketika Elsa masuk Nauder dan Damian malah seperti anak kecil, kedua lelaki itu berjalan ke arah pintu secara bersamaan untuk menyusul Elsa, kedua orang itu tidak mau kalah. Bahkan mereka terjebak di pintu karena nauder ingin masuk terlebih dahulu begitupun Damian
Elsa yang melihat keributan langsung menoleh dia menghela nafas ketika Damian dan Nauder malah saling senggol di pintu dan tidak ada yang mau mengalah.
“Kalian ini kenapa? bagaimana jika pintuku rusak,” ucap Elsa Nauder dan Damian saling tetap dengan aura permusuhan, mereka langsung menoleh hingga Nauder langsung mendorong tubuh Damian ke belakang dan dialah yang menyusul Elsa terlebih dahulu membuat Damian berdecih.
“Kalian duduk disini, aku akan membuat makanan.”
“Elsa buatkan makanan untukku saja, dia kan sudah membawa makanannya, berikan makanan yang ada di tanganmu untuk lelaki ini," kata Nauder membuat Damian berdecak kesal.
“Makanan ini untuk nanti malam, aku akan memasak untuk kita semua,” jawab Elsa. Demian menyeringai, ia menatap puas pada Nauder.
__ADS_1
“Jangan kau pikir kau menang ya. Sudah jelas Elsa menjadi milikku lagi.”
“Kau belum melakukan pemberkatan. Elsa masih bisa menjadi milikku. Siapa tahu aku bisa menculiknya nanti," balas Damian yang tidak mau kalah
Satu jam kemudian, Elsa selesai memasak ia menyimpan tiga piring dan menyimpannya di nampak, lalu membawa kemeja makan.
Nauder dan Damian yang sedang duduk langsung bangkit, dia dengan cepat berjalan ke arah meja makan, kedua orang lelaki itu saling dorong satu sama lain, karena mereka ingin duduk di sebelah Elsa.
Lagi-lagi Elsa menghela nafas besar. “Tolonglah, kalian jangan bersikap seperti anak kecil, ini apartemenku tolong patuhi aku sebagai pemilik di sini.”
“Elsa aku kan pemilik apartemen ini," jawab Damian.
“Ya sudah Elsa, pindah saja ke apartemenku.” seloroh Nauder.
“Kalian mau makan atau kalian ingin ku usir dari sini?”
seketika Kedua lelaki itu terdiam dan pada akhirnya Nauderlah yang menang, dia yang duduk di sisi Elsa. Sedangkan Damian duduk di depan Elsa.
Makan malam berlangsung dengan hening, kedua orang itu tidak ada yang berbicara sedikitpun, hingga akhirnya acara makan pun selesai.
“Hmm, Elsa sudah larut di luar juga hujan. Aku juga akan menginap di sini,” ucap Damian.
“Ya sudah kalian menginap di sini, aku akan menginap di hotel,” ucap Elsa, baru saja dia akan bangkit Damian menarik tangan Elsa.
“Cukup!” kali ini Elsa benar-benar berteriak, dia benar-benar kesal pada Kedua lelaki ini.
“Pergi kalian dari sini!”
“Elsa kau mengusir bosmu sendiri?” tanya Damian
“Ya sudah, Elsa. Ayo bekerja lagi di perusahaanku.” kali ini Nauder yang berbicara.
“ Ah terserah kalian saja.” Elsa dengan cepat berlari ke arah kamar, dia tidak ingin Kedua lelaki itu mengejarnya.
***
__ADS_1
Damian masuk ke dalam rumah, lelaki itu baru saja tiba setelah dari apartemen Elsa. 4 tahun ini hubungan Helmia dan Damian masih sama seperti kemarin-kemarin.
Sedari awal semenjak ditemukan oleh Damian, dia memang sudah menyadari betul bahwa Damian adalah putranya, hanya saja saat itu dia pura-pura tidak tahu karena dia terlalu malu dengan apa yang dilakukannya di masa lalu, dan setahun ke belakang Helmia kerap membuatkan makanan untuk Damian. Namun tentu saja Damian selalu melempar makanan itu ke lantai.
Sebenarnya Damian sudah tidak membenci lagi ibunya, tapi sampai saat ini, dia selalu menghardik Helmia jika Helmia melakukan kesalahan. Bahkan dia selalu memaki ibunya ketika memasak makanan untuknya.
Tapi walaupun masakannya selalu di lempar oleh Damian, Helmia tidak menyerah, dia tetap membuat masakan untuk sang putra. Walaupun dia tau makanan yang dia buat pasti akan berakhir di lantai.
Damian masih belum bisa bersikap seperti biasa, karena ibunya sama sekali tidak pernah meminta maaf padanya, sedangkan Helmia bukan tidak ingin meminta maaf. Tapi dia terlalu malu untuk berbicara pada Damian dia juga selalu ketakutan setiap melihat wajah putranya yang selalu menatapnya dengan bengis.
Sehingga selama 4 tahun ini Helmia tidak pernah berbicara apapun jika makanannya dibanting atau jika Damian mengomelinya, dia tetap diam dan tidak berbicara sepatah kata pun, yang bisa Helmia lakukan adalah menangis, menangis dan menangis.
Saat masuk kedalam rumah, suasana tampak sepi. Biasanya ibunya selalu berada di depan pintu, seperti sedang menunggunya. Tapi sekarang ibunya tidak ada di mana pun.
“Di mana dia?” tanya Damian pada pelayan yang sedang berada di dapur.
“Nyonya sepertinya tidak enak badan Tuan. tadi Nyonya mengeluh kakinya sakit.” Wajah Damian terlihat khawatir. Namun, tentu saja dia menyamarkan ekspresinya.
“Panggil dokter kemari, periksa keadaannya. Setelah mengatakan itu, Damian pun langsung jalan ke arah kamarnya.
***
Nauder tak lepas memandang Elsa yang sedang bermain di panti asuhan, dia tersenyum ketika melihat Elsa tertawa lepas, ini sudah satu minggu berlalu semenjak hubungan keduanya membaik.
Namun anehnya selama 1 minggu ini pula Elsa tidak pernah mengangkat panggilannya, setiap Nauder pergi ke apartemen Elsa
Elsa tidak pernah mau membuka pintu, dan setiap dia pergi ke kantor untuk menjemput Elsa, Elsa selalu pulang melewati jalan lain
Sebenarnya Elsa masih bimbang dan ada ketakutan di dalam dirinya, walau bagaimanapun Nauder pernah melukainya dengan sedemikian rupa, hingga Elsa terlalu takut untuk melangkah dan pada akhirnya dia menjauhi Nauder.
Setidaknya dia ingin pikir jernih, apa dia bisa yakin lagi dengan mantan suaminya, atau tidak. Sebab dia tidak mau ada kejadian seperti di waktu lalu, di mana dia ditinggalkan hanya karena tidak bisa mempunyai anak.
Nauder turun dari mobil, ini sudah satu jam berlalu, Nauder mengamati Elsa, dia pun memutuskan untuk turun.
“Paman Nauder.” tiba-tiba anak-anak memanggil Nauder saat Nauder masuk ke dalam gerbang, membuat mata Elsa membulat.
__ADS_1
“Tunggu kenapa dia tahu tempat ini.”