
Richard heran melihat Maudy yang tidak ingin didekati olehnya. Dia sama sekali tidak tahu, bahwa wanita itu berencana untuk memutuskan hubungan mereka hari ini juga.
"Ma-Maudy," panggil Richard dengan kikuk.
Maudy tersenyum. "Richard, aku lelah dan ingin beristirahat sekarang. Bisakah kita bicara nanti?" jawab Maudy, terkesan ingin menjauhi Ricard.
Richard mengangguk, tidak punya pilihan lain hingga Dia hanya bisa mengangguk dan tidak memaksa Maudy untuk berbicara dengannya.
"Oh iya, Steve, bisakah kau menemaniku? Aku takut," ucap Maudy membuat Januar yang berada di mobil, berdecak karena merasa kesal sendiri melihat tingkah kakaknya.
"Kenapa kau tidak bersama Richard saja?" tanya Steve yang kebingungan melihat sikap Maudy.
"Tidak, aku ingin bersamamu saja," kata Maudy lagi. Steve pun menoleh pada Richard yang kini mengangguk, memberi isyarat bahwa dia boleh menemani Maudy.
Setelah itu, Steve pun berbalik, kemudian bersama dengan Maudy, dia pun masuk ke dalam rumah.
"Maudy, apa selama di sana kau diberi makan? Apa kau lapar? Lalu sekarang, apakah kau ingin sesuatu?" tanya Steve bertubi-tubi ketika mereka sudah masuk dalam rumah.
Maudy menghapus sudut matanya yang berair terharu. Sementara itu, Steve pun ingin sekali menangis ketika melihat bahwa di depannya, ada Maudy yang sudah selamat dari penculikan itu.
Beberapa hari ini, hidup Steve bagai di neraka. Dia begitu gelisah saat tidak kunjung mengetahui kondisi mantan istrinya, lalu kini ketika melihat Maudy yang dalam keadaan baik-baik saja, dia merasa begitu bahagia. Namun, di sisi lain dia juga merasa sedih ketika membayangkan sebentar lagi Maudy akan kembali pada Ricard.
Mendengar ucapan Stev, Maudy berbalik badan, dia berjalan mendekati Steve kemudian memeluknya lalu berpura-pura menangis.
"Tidak apa-apa, Maudy, sekarang tidak akan ada lagi yang bisa menyakitimu," ucap Steve yang membalas pelukan Maudy.
Namun, bukannya menjawab, Maudy malah menangis semakin kencang dan mempererat pelukannya. "Aku takut, Steve, aku takut," ucapnya berulang kali, sembari berusaha untuk mengeluarkan air mata agar Steve percaya sandiwaranya.
"Tidak apa-apa, aku akan selalu di sisimu, kata Steve. Dia melepaskan pelukannya kemudian melihat pakaian Maudy. "Kau bersihkan dirimu dulu, aku akan membuatkan makanan untukmu!” titah Steve.
Maudy menggangguk kemudian berbalik pergi ke kamarnya. Jantung wanita itu berdetak kencang membuat dia memegang dadanya. Tadi adalah pelukan pertamanya pada Steve yang sudah dia inginkan sejak lama.
Sementara itu, setelah Maudy pergi, Steve kini bergegas masuk ke area dapur. Dia membuka kulkas kemudian mengambil bahan-bahan masakan untuk mantan istrinya nanti.
***
Dua puluh menit kemudian, Maudy keluar dari kamar dan melihat Steve sedang memasak. Dia berjalan ke arah dapur untuk menghampiri mantan suaminya.
"Steve, kenapa kau harus repot-repot? Kita bisa memesan online saja," ucap Maudy, padahal dia senang di makasakkan oleh Steve.
Steve menoleh, lalu tersenyum. "Steve, kenapa kau menangis?" tanya Maudy ketika melihat wajah Steve memerah. Nyatanya sejak tadi, pria itu memasak sembari menangis, karena merasa bersyukur Maudy pulang sedang semangat.
"Tidak apa-apa," jawab Steve, berusaha untuk menutupi kegugupannya.
Sampai akhirnya, acara masak pun selesai dan Steve langsung membawa masakannya ke meja makan.
"Makanlah," kata Steve, dia menatap Maudy dengan tatapan yang luar tulus.
Maudy menggangguk, dan kini mereka pun sudah duduk di meja makan posisi berdampingan bersampingan.
__ADS_1
"Kau tidak makan?" tanya Maudy ketika Stev malah terus menatapnya.
"Tidak, aku sudah kenyang," jawab Steve membuat Maudy langsung mengunyah makanannya.
Setengah jam kemudian, kegiatan mengisi perut pun selesai. Stev langsung berdiri hingga Maudy refleks menarik tangan Stev.
" Stev Kau mau ke mana?" tanya Maudy, dia takut Stev meninggalkannya.
"Aku ingin menyimpan piring ini,” jawab Stev.
“Bisakah kau temani aku sebentar? Aku takut penculik itu akan datang lagi," ucap Maudy, tentu saja itu hanya modus karena Maudy ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Stev.
Stev pun mengangguk. “Hmm, Maudy aku akan menemanimu," jawab Stev
"Steve, apa kau tidak keberatan menemani aku tidur? Semalaman aku tidak bisa tidur," kata Maudy setelah Stev menyimpan piring ke wastafel, lagi-lagi menyetujuinya karena memang dia pun masih rindu pada mantan istrinya ini.
Sampai akhirnya, mereka pun masuk ke dalam kamar. Maudy dan Stev berjalan ke arah ranjang, dan Maudy langsung berbaring sedangkan Steve duduk di ranjang sambil menggenggam tangan wanita itu karena Maudy sedang berpura-pura ketakutan.
"Aku ingin tidur, jangan tinggalkan aku," ucap Maudy dengan suara yang dibuat lemas. Padahal jantungnya seperti akan keluar dari rongga dadanya ketika Stev menemaninya.
"Maudy tidurlah, aku tidak akan pergi kemana-mana," kata Steve lagi yang melihat Maudy gelisah
Lima belas menit kemudian, Maudy yang sudah memejamkan mata, kembali membuka matanya.
"Kenapa kau terbangun?" tanya Stev, padahal sedari tadi Maudy sama sekali tidak tertidur.
"Aku tidak bisa tidur, bisakah kau berbaring disampingku? Aku sungguh ketakutan," ucap Maudy, mungkin Jika ada Januar, lelaki itu akan tertawa dengan kencang karena melihat kakaknya yang seperti ini
Namun tak lama, Steve kembali santai karena berpikir bahwa Maudy mungkin ketakutan hingga harus memeluknya. Dia kini mengelus rambut Maudy dan membiarkan Maudy tentang dalam pelukannya
Dua puluh menit kemudian, napas Maudy mulai teratur karena dia benar-benar tidur, pelukan Stev membuatnya nyaman hingga dia terlelap.
Steve menoleh ke arah pintu dan dia membulatkan matanya melihat Richard yang mengintip. Dia cepat-cepat turun dari ranjang karena harus menjelaskan pada Richard, dia tidak ingin ada salah paham diantara mereka.
Lalu kini, kedua pria itu berdiri berhadapan dengan perasaan yang sama-sama canggung.
"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk berbuat apapun,” ucap Stev dengan kikuk.
Richard menepuk bahu Steve. "Tidak masalah, tidak usah dipikirkan," jawab Ricard membuat Stev heran dengan reaksi lelaki itu.
"Oh ya, kau pasti ingin menemani Maudy. Silakan masuk, aku akan pulang sekarang," ucap Stev.
Walaupun berat untuk meninggalkan Maudy, tapi ketika Richard datang dia harus meninggalkan wanita yang dia cintai.
Baru saja Steve akan pergi, Richard lebih dulu menghadang langkahnya, membuat pria itu mengerutkan kening.
"Tetaplah di sini, aku yakin Maudy lebih membutuhkanmu," ucap Richard membuat keheranan Steve semakin menjadi-jadi.
"Kau tidak cemburu?" tanya Steve. Richard menggeleng.
__ADS_1
"Tidak. Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu." Sebelum Stev bertanya yang aneh-aneh, Richad pun memilih untuk keluar dan meninggalkan rumah Maudy.
Steve menggaruk kepalanya karena bingung dengan pasangan ini. Pertama, Maudy seolah tidak antusias dengan pertunangan mereka, begitu juga Richard yang tidak cemburu ketika wanita itu bersamanya.
Setelah Ricard pergi, Steve kembali masuk, kemudian kembali berbaring di samping Maudy, dia menggerakan tangannya untuk mengelus Maudy.
"Maudy, setelah ini apakah kau akan kembali pada Richard? Bisakah kau membatalkan pertunangan kalian dan kembali padaku?" Stev berucap dengan pelan, tatapan matanya menatap Maudy dengan penuh ketulusan.
Rasanya, Maudy ingin membalas ucapan Steve dengan teriakan kegirangan, Faktanya Maudy terbangun ketika Stev menghampiri Ricard.
Maudy bahkan membatin, 'Mana mungkin Richard akan cemburu padanya karena Ricard hanya mencintai Matteo.'
Saat Stev mengelus pipinya, Maudy membuka mata membuat Steve langsung menarik tangannya dari pipi wanita itu.
Namun, Maudy kembali menarik tangan Steve kemudian menaruh di pipinya lagi.
"Maudy," panggil Steve. Dia gugup ketika Maudy menggenggam tangannya, apalagi saat ini mereka berpandangan.
"Ma-Maudy," panggil Steve lagi ketika Maudy menatapnya dengan wajah yang begitu dekat, seolah ingin mengecup Steve.
Maudy tersadar. 'Tidak, aku harus jual mahal,' batin Maudy yang kembali menyimpan kepalanya di bantal.
"Maudy, barusan ada Richard," ucap Steve yang menyadarkan Maudy dari lamunannya.
"Oh." Hanya itu yang Maudy katakan ketika mendengar Stev datang
"Kenapa kau tidak mau menemuinya? Bukankah seharusnya kau membicarakan ini?" tanya Stev.
"Aku tidak mau bertemu Richard, aku takut," ucap Maudy, "aku tidak ingin menikah dengannya. Apalagi yang kemarin menculikku adalah rekan bisnisnya,” jawab Maudy.
Maudy berbohong, setidaknya dia bisa menggunakan alasan itu pada Steve.
"Jadi maksudmu, kau serius tidak akan menikah dengan Richard?" tanya Steve setengah berteriak saat mendengar ucapan Maudy, bahkan tanpa sadar dia mengguncangkan tubuh wanita itu saking tidak percayanya dengan apa yang dia dengar.
"Iya Steve, aku tidak mau menikah dengan Richard karena aku takut nyawaku dalam bahaya, dan juga—" Maudy berhenti bicara karena Steve mengecup bibirnya.
Sejak tadi, Steve sudah menahan diri karena masih menghormati Richard, tapi ketika Maudy mengatakan bahwa dia akan membatalkan pernikahan mereka, dia tak bisa lagi diam.
Mata Maudy membulat saat Steve mengecup bibirnya, sedangkan Steve langsung menggerakkan mulut menggoda Maudy untuk ikut bergerak.
Namun sepersekian detik kemudian, Steve tersadar ketika Maudy tidak membalas ciumannya hingga dia menjauhkan wajah dari wanita itu.
Steve menatap Maudy dengan binar-Binar cinta yang tampak dari mata satu sama lain, hingga Maudy pun menarik tengkuk Steve lalu membalas perlakuan suaminya.
Awalnya ciuman mereka begitu pelan, dan perlahan berubah menjadi ciuman panas dan menuntut, hingga akhirnya mereka menanggalkan pakaiannya masing-masing.
Entahlah, Maudy sudah terlalu lama merindukan Steve. Dia sudah berusaha menerima Richard untuk melupakan Stev, tapi nyatanya sampai sekarang dia tidak pernah bisa melupakan lelaki itu
Dan di saat semuanya terbuka, bahwa Steve juga mencintainya, Maudy dia tidak ingin menunda apapun lagi.
__ADS_1
Sementara itu, Januar yang sedang berada di depan pintu, menggeleng saat mendengar suara yang tidak seharusnya.
"Kenapa manusia itu rumit sekali? Harusnya mereka kembali saja dari dulu," ucap Januar kemudian berlalu meninggalkan Steve dan Maudy.