Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Kesempatan


__ADS_3

"Aaron, kenapa kau begitu bodoh? Bagaimana mungkin kau melepaskannya?" Aaron mengacak rambutnya frustrasi ketika menyadari bahwa Leana sudah pergi. Lelaki tampan itu langsung berlari ke arah luar, lalu setelah itu dia berniat untuk mencari Leana. Namun tak lama, dia teringat sesuatu. Aaron pun langsung mengotak-atik ponselnya kemudian menelepon seseorang.


"Apakah kau masih mengawasi istriku?" tanya Aaron, sebab setelah Leana, Yuma dan Yumi keluar dari rumahnya, Aaron memang menyuruh anak buahnya untuk mengawasi Leana. Namun, dia tidak memerintahkan anak buahnya untuk melaporkan apapun, hingga anak buahnya tidak melaporkan apa yang terjadi pada Leana sekarang, Aaron langsung bertanya.


"Tentu. Anda, 'kan, memerintahkan kami," jawab anak buah Aron di sebrang sana.


"Bagus, di mana dia sekarang?" tanya Aaron. Anak buah Aaron pun mengatakan semuanya, di mana tadi Leana pergi membawa koper bersama seorang pria. Sebenarnya mereka tadi ingin melapor pada Aaron, hanya saja Leana hanya pergi berpindah hotel, jadi mereka tidak melaporkan apapun pada bos mereka.


"Thanks, God," lirih Aaron, ternyata tidak sia-sia dia menyuruh anak buahnya untuk terus berada di samping Leana. Awalnya dia hanya ingin menjaga Leana, bagaimanapun ketiganya tidak terbiasa jauh darinya. Namun, dia tidak menyangka ternyata menyimpan anak buah di sekitar Leana bisa membantunya di saat dalam keadaan genting.


Aaron dengan cepat berlari ke arah mobilnya, kemudian lelaki itu langsung menyalakan dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang sangat kencang, apalagi dia sungguh takut Leana pergi dari negara ini, apalagi anak buahnya mengatakan bahwa Leana membawa koper.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Aaron sampai di hotel tempat Leana menginap. Lelaki itu pun langsung bertanya resepsionis. Dia sedikit kesulitan karena tentu saja nama tamu sangat privasi. Namun, menggunakan koneksinya, Aaron mengetahui di mana kamar Leana menginap, hingga sekarang di sinilah Aaron berada, di depan kamar yang ditempati oleh Leana.


Aaron menghela napas kemudian mengembuskannya. Lelaki tampan itu berusaha menenangkan dirinya hingga tak lama, dia mengetuk pintu lalu sedetik kemudian pintu terbuka, muncul sosok Leana.


"A-Aaron," panggil Leana dengan terbata. Aaron yang tadinya ingin berpura-pura tenang, tidak bisa menahan dirinya hingga sedetik kemudian, lelaki itu menubruk tubuh dan memeluk Leana dengan sangat erat membuat tubuh Leana diam mematung. Pelukan ini sangat dia rindukan, tapi pelukan ini juga sangat menyakitkan.


"Aaron," panggil Leana lagi dan tak lama, bahu Aaron bergetar, terdengar suara isakan membuat Leana mengerutkan keningnya ketika Aaron menangis di pelukannya.


Tunggu, apa Aaron tahu dia yang mengandung? Seketika, Leana langsung mendorong tubuh Aaron hingga pelukan Aaron terlepas, tapi tak lama, Leana terpaku saat melihat wajah Aaron yang berbeda. Biasanya, raut wajah Aaron tampak gagah, tapi sekarang dia seperti melihat Aaron yang lain.


"Le-Leana," panggil Aaron dengan terbata.


"Untuk apa kau kemari?" tanya Leana.


Seketika, Aaron menekuk kakinya kemudian dia berlutut di hadapan istrinya, membuat mata Leana membulat. "Ampuni aku, maafkan aku," ucap Aaron. Dia memeluk kaki Leana dengan erat, kemudian menangis sesenggukan. Sungguh, Leana begitu bingung.


Ada apa sebenarnya dengan Aaron? Leana hanya mampu terpaku ketika Aaron berlutut di depannya.


"Aaron, tolong jangan seperti ini," ucap Leana. Aaron sama sekali tidak melepaskan pelukannya.


"Kumohon jangan seperti ini," ucap Leana. Wanita itu berusaha untuk menarik kakinya dari tangan Aaron, tapi bukannya menurut, Aaron malah menangis semakin kencang dan memeluk kaki Leana dengan sangat erat.


Akhirnya, Leana lelah untuk meronta dan membiarkan Aaron terus melakukan apapun yang sedang lelaki itu lakukan. Setelah cukup lama, Aaron melonggarkan pelukannya kemudian dia mendongak menatap Leana.


"Leana, ampuni aku," katanya.


"Aku sudah mengampunimu, jadi tolong lepaskan tanganmu," kata Leana.


Aaron merasa hatinya tersayat saat melihat raut wajah Leana yang tidak menatapnya seperti dulu, sebelum dia mengusir Leana, serta Yuma dan Yumi dari rumahnya.


"Mommy." Tiba-Tiba terdengar suara Yumi dari arah belakang. Rupanya, dia mendengar suara Aaron hingga dia langsung menyusul sang ibu. Mata Yumi membulat saat melihat Aaron sedang berlutut di hadapan ibunya.


"Yumi, tolong masuk," pinta Leana. Dia tidak ingin Yumi melihat hal seperti ini, hingga Yumi pun mengangguk. Gadis kecil itu berbalik. Saat berbalik, Yumi mengembangkan senyumnya ketika melihat sang ayah datang pada mereka. Sebenci-bencinya Yumi, tapi dia tidak seperti Yuma. Yuma memang sudah menutup semuanya yang berhubungan dengan sang ayah, sedangkan Yumi tidak sepertinya.


"Tolong bangkit dan ayo kita bicara," ucap Leana. Dia berusaha untuk berbicara baik-baik dengan Aaron, hingga Aaron pun langsung menegakkan tubuhnya kemudian lelaki itu langsung masuk ke dalam dan sekarang, di sinilah mereka berada, di sofa sambil duduk berhadap-hadapan.


"Kenapa kau melakukan ini, Aaron?" tanya Leana.


Aaron memainkan jari-jarinya. Dia bingung harus berbicara dari mana, karena kesalahannya pada Leana sudah sangat fatal.


"Apa ini karena aku mengandung anakmu?" tanya Leana lagi. Aaron bukannya menjawab, Aaron malah bangkit dari duduknya. Lelaki tampan itu langsung menghampiri Leana, lalu dia membungkuk di hadapan istrinya, hingga kini lutut Leana menyentuh dada Aaron.


"Ini bukan tentang anak yang kau kandung. Maafkan aku yang khilaf dan ...” Pada akhirnya, Aaron pun mengeluarkan semua keluh kesahnya dari mulai dia yang menyadari dia sudah mulai mencintai Leana, dan juga mengatakan bahwa dia sudah tidak mencintai Leana sebagai Melisa.


Leana tersenyum getir ketika mendengar itu. Mungkin, kemarin-kemarin dia akan senang ketika Aaron berkata seperti itu, tapi tidak dengan sekarang. Hari di mana Aaron menyuruh Yuma dan Yumi memanggilnya 'paman', hari itu pula sepertinya hati Leana sudah membeku hingga sekarang dia tidak senang dengan pengakuan Aaron, walaupun cinta itu masih ada.


"Berikan aku kesempatan, aku akan menebus semuanya. Aku akan mengabadikan hidupku untuk kalian berempat," kata Aaron.


"Berempat?" ulang Leana.


"Yuma dan Yumi bukan anakmu, Aaron. Kau tidak perlu mengatakan begitu," kata Leana.


"Kumohon," ucap Aaron yang menyimpan kepalanya di paha lalu kembali menangis sesenggukan, dan tak lama Leana menoleh ke arah samping karena merasa ada yang memerhatikannya dan ternyata Steve yang memerhatikan.


Rupanya, dia mendengar semua pembicaraan. Steve mengangguk membuat mata Leana membulat, sepertinya Steve lebih setuju Leana kembali pada Aaron. Entah kenapa, feeling Steve mengatakan bahwa lelaki itu adalah terbaik, apalagi dia melihat penyesalan suami anak angkatnya.


Aaron bangkit dari berlututnya kemudian dia menegakkan kepalanya, lalu setelah itu dia melihat ke arah Steve dengan bingung.


"Leana, dia siapa?" tanya Aaron.

__ADS_1


"Dia ayah angkatku," jawab Leana.


Seketika, Aaron pun langsung menghampiri Steve, kemudian mengulurkan tangannya pada ayah mertuanya.


"Silakan duduk," ucap Steve, "kita bicara dengan kepala dingin."


Sepertinya, Steve-lah yang harus menengahi di sini.


"Paman, ayo kita bicara," ucap Leana sebelum mengambil keputusan. Dia tidak ingin Steve mengambil keputusan untuk hidupnya dengan gegabah, hingga Steve pun mengangguk.


"Tunggu sebentar," ucap Steve pada Aaron.


Kini, Leana dan Steve pun masuk ke dalam kamar.


"Paman, kenapa Paman mengatakan itu? Apa Paman tidak tahu bahwa aku ingin berpisah dengannya?" tanya Leana.


Steve maju kemudian dia memegang kedua bahu Leana. "Apa kau mencintai suamimu?" tanya Steve.


Leana terdiam. "Paman, aku memang mencintai suamiku, tapi Paman tahu, bukan, apa yang terjadi dan apa yang dilakukannya?" tanyanya.


"Tapi, dia sudah menjelaskannya, bukan?" timpal Steve hingga Leana menunduk.


"Tapi, Yuma dan Yumi sudah telanjur terluka," katanya.


Steve mengelus rambut Leana. "Apa selama ini hubungan Yuma dan Yumi dekat dengan Aaron?" tanya Steve lagi.


Leana mengangguk. "Sangat dekat, bahkan Aaron selalu memperlakukan Yuma dan Yumi dengan baik, walaupun dari awal tahu mereka bukan anaknya."


"Itu kuncinya," kata Steve membuat Leana langsung mengangkat kepalanya.


"Maksud Paman?" Leana bingung.


"Paman tahu ini berat untuk kalian, tapi jika kau menerima Aaron kembali, Yuma dan Yumi tidak akan kehilangan sosok ayah di masa mereka yang akan datang. Mereka akan hidup dengan tentram karena mempunyai sosok ayah seperti Aaron. Tidak akan lagi ada perdebatan antara kau dan Geo, tidak akan lagi ada yang terluka. Yuma dan Yumi mungkin sekarang sedang marah pada Aaron, tapi Paman yakin, Aaron akan meyakinkan Yuma dan Yumi hingga kalian akan seperti semula. Tapi keputusan ada padamu. Ini hanya pendapat Paman saja. Paman akan keluar untuk berbincang sebentar dengan Aaron. Kau boleh pikirkan dulu nasehat Paman baik-baik," ucap Steve lagi.


Setelah Steve keluar, Leana mendudukkan diri di ranjang. Dia mulai mengingat kebersamaannya dengan Aaron dari pertama menikah sampai dia melahirkan, dan sampai detik ini. "Haruskah aku memberi kesempatan kedua padanya?" lirih Leana. Jika dipikir, apa yang diucapkan Steve ada benarnya. Jika dia menghindar dari Aaron, Geo akan semakin giat mengejarnya. Walaupun dia berniat pergi, tapi bisa saja suatu saat Geo menemukannya dan jika itu terjadi, maka akan ada hati yang terluka, yaitu Claudia.


Leana menghela napas kemudian mengembuskannya. Pada akhirnya, wanita itu pun memutuskan untuk memberi kesempatan kedua pada Aaron walaupun dia membutuhkan waktu untuk menyembuhkan hatinya, begitu pun dengan Yuma dan Yumi.


Sementara Aaron, dengan harap-harap cemas menanti jawaban Leana. "Baiklah, aku akan beri kesempatan kedua padamu," kata Leana.


Helaan napas terlihat dari wajah tampan Aaron. Mungkin ini juga adalah balasan karena ketulusan Aaron menyayangi Yuma dan Yumi sebelum Melisa datang. Seketika, Aaron kembali bangkit dari duduknya kemudian dia langsung duduk di samping Leana, lalu memeluk wanita itu dengan sangat erat kemudian bahunya gemetar.


Aaron kembali menangis, tidak bisa dibayangkan jika Leana pergi bersama Yuma dan Yumi serta membawa anaknya. Aaron berusaha mengendalikan diri hingga dia langsung melepaskan pelukannya.


"Tapi aku mempunyai syarat," kata Leana.


"Iya, aku akan melakukan apapun syarat darimu," katanya.


"Aku tidak ingin tinggal di rumah yang dulu," katanya, "tentu aku ingin suasana baru dan juga ...." Leana menggantung ucapannya.


"Semua tergantung Yuma dan Yumi. Aku memberimu kesempatan jika Yuma dan Yumi bisa memaafkanmu," kata Leana.


"Baik, aku akan membuktikan pada kalian bahwa aku tidak main-main dengan ucapanku." Aaron berucap dengan yakin membuat Steve menghela napas. Akhirnya, dia bisa tenang. Sekarang, dia harus memikirkan sang putra. Bukan tidak ingin memberitahu Yuma dan Yumi adalah anak Geo, tapi dia akan memberitahukannya nanti setelah semuanya benar-benar membaik.


Steve bangkit dari duduknya kemudian dia melihat ke arah anak dan menantunya. "Ya sudah kalau begitu, Paman pergi ke kamar Paman, nanti Paman kemari lagi," ucap Steve.


Aaron pun mengangguk. Ketika Steve pergi, Aaron kemudian mengecup Leana.


"Terima kasih kau sudah memberikan kesempatan," ucap Aaron.


Leana menarik tangannya dari tangan Aaron. "Kau temui dulu Yuma dan Yumi, berbicara pada mereka," ucap Leana lagi. Wanita itu pun bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah balkon, berniat untuk mencari angin segar, sedangkan Aaron langsung pergi menghampiri Yuma dan Yumi.


Aaron membuka pintu, terlihat Yuma dan Yumi sedang menonton televisi. Mata Yuma dan mata Yumi membulat saat melihat ada Aaron masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh mereka, karena memang di hotel yang ditempati Leana, ada dua kamar yang berbeda.


"Yuma, Yumi," panggil Aaron.


Yumi hampir saja bangkit dari duduknya untuk menghampiri Aaron, tapi tangannya ditahan oleh Yuma hingga Yumi kembali duduk di posisinya. "Jangan pernah berbicara dengannya lagi, Yumi," kata Yuma. Tentu saja Yuma mengatakannya dengan suara pelan, berharap Aaron tidak mendengarnya.


Di dalam lubuk hati gadis kecil itu, sebenarnya Yuma senang dengan kehadiran sang ayah, sama seperti Yumi, hanya saja rasa senang itu tertutup dengan kecewa hingga Yuma seperti ini. Dia ingin menunjukkan pada sang ayah bahwa dia sedang marah.


Aaron berjalan ke arah Yuma dan Yumi yang sedang duduk di sofa, kemudian lelaki tampan itu langsung berlutut di hadapan kedua putrinya. Yumi tampak menatap Aaron, sedangkan Yuma menatap ke arah televisi. Jujur saja, mata gadis kecil itu meronta-ronta ingin melihat ke arah ayahnya, tapi tentu saja dia menahannya dan berusaha untuk tetap fokus melihat televisi tanpa menggubris kehadiran sang ayah.

__ADS_1


"Yuma, Yumi," panggil Aaron.


"Paman di sini?" tanya Yumi, sedangkan Yuma masih tetap dengan pendiriannya, yaitu tidak akan menggubris kehadiran sang ayah.


"Yumi, bisakah kau berhenti memanggil 'paman' pada Daddy? Karena Daddy tetap Daddy," ucap Aaron.


Seketika, Yuma tertawa. Dia yang sedang menatap televisi, langsung menatap ke arah Aaron. "Bukankah saat itu Paman yang melarang kami memanggil 'daddy', lalu kenapa tiba-tiba Paman menyuruh kami memanggil dengan panggilan seperti itu?" Yuma berucap dengan pedas, sedangkan Yumi hanya menatap Aaron.


"Paman pikir kami mau memanggil Paman lagi sebagai 'daddy'? Tidak, kami tidak mau," jawab Yuma. Seketika itu, Yuma turun dari sofa kemudian gadis kecil itu langsung berjalan ke arah ranjang. Dia membaringkan tubuhnya di sana dan menutup sekujur tubuhnya dengan selimut, hingga kini hanya tersisa Yumi.


"Kenapa Paman menyuruh kami lagi memanggil 'daddy'?" tanya Yumi.


Aaron menggenggam tangan Yumi kemudian mengecupnya. "Tidak, kalian anak-anak Daddy. Daddy tidak bisa menjelaskan apapun, tapi yang pasti kalian tetap putri Daddy," kata Aaron.


"Yumi, ke sini!" Yuma berteriak dari balik selimut, tapi Yumi tidak mendengarkan ucapan sang kakak. Dia lebih memilih untuk tetap bersama Aaron.


"Yumi, kau mau memaafkan Daddy?" tanya Aaron.


Yumi mengangguk. Dia tidak seperti Yuma, dia lebih memilih untuk mementingkan perasaannya karena dia menyayangi Aaron. Dia ingin seperti dulu dengan ayahnya. Seketika, Aaron langsung maju kemudian memeluk Yumi dan Yumi pun memeluk leher Aaron begitu erat, menyalurkan kerinduannya, begitu pun dengan Aaron yang juga langsung menangis saat dipelukan Yumi. Sekarang, dia hanya harus menaklukan Yuma.


Yuma mengintip dari balik selimut. "Yumi, kau ini apa-apaan," kata Yuma ketika Yumi memeluk sang ayah.


"Berisik, Yuma," ucap Yumi, untuk kali ini dia berani melawan Yuma, karena dia tidak ingin mengikuti lagi sang kakak. Terserah saja Yuma mau marah padanya atau tidak, begitulah pikir Yumi.


***


Melisa terjatuh di lantai karena didorong oleh Aaron. Dunia Melisa seketika berbalik. Dia pikir urusan dengan bibi Aaron sudah selesai, hingga dia tinggal menikmati waktu bersama lelaki itu, tapi sekarang Ana ada di depannya.


Ana yang melihat Melisa duduk di lantai, langsung berjalan menghampiri wanita itu. Melisa berteriak ketika Ana menginjak tangan Melisa dengan sepatu heels-nya.


"Kenapa kau datang lagi? Seharusnya kau lanjutkan saja sandiwaramu yang berpura-pura mati. Bisa-bisanya kau menyuruh orang untuk mencelakaiku. Apa kau tidak tahu siapa aku? Bahkan kedudukan Aaron saja masih di bawahku, dan kau ingin main-main denganku?" tanya Ana.


Melisa tidak menjawab. Wanita itu berteriak kesakitan, karena Ana terus menekan sepatunya di tangan Melisa. "Ampun, Bibi," rengeknya.


"Aku bukan Bibimu," katanya. Ana yang masih dikuasai emosi, langsung menekuk kakinya kemudian membungkuk, lalu setelah itu dia menjambak rambut Melisa. "Kau pikir kau bisa lepas? Oh, tentu tidak, karena aku akan mengabulkanmu mengabulkan keinginanmu yang berpura-pura mati," ancamnya.


Melisa langsung melihat ke arah Ana. Sesekali, dia meringis karena Ana menjambak rambutnya dengan keras.


"Maksud Bib—"


"Sudah kubilang, aku bukan bibimu! Kau berpura-pura mati, bukan? Ya sudah sekarang lanjutkan sandiwaramu!" Ana berteriak.


"Felix!" teriak Ana dari arah luar hingga ajudannya langsung masuk ke dalam.


"Bawa dia, jangan biarkan dia lolos. Letakkan dia di mana saja dan awasi dia," ucap Ana hingga Felix pun mengangguk.


"Tidak mau, tolong ampuni aku," ucap Melisa lagi, berharap Ana iba. Namun, tentu saja Ana sama sekali tidak iba.


Setelah Melisa tidak terlihat, Ana mendudukkan diri di sofa kemudian dia langsung mengutak-atik ponselnya, lalu menelepon Leana, meminta Leana untuk memaafkan Aaron.


Tak lama, Leana mengangkat panggilannya. "Halo Bibi?" sapa Leana.


"Leana, kau di mana, Sayang?" Katakan, apa Aaron di sana?" tanya Ana yang langsung membalas ucapan Leana.


"Hm Bibi, Aaron ada di sini," kata Leana.


"Leana dengar Bibi. Tolong maafkan Aaron, berikan Aaron kesempatan. Jika dia macam-macam, biar Bibi yang menghukumnya," kata Ana.


Helaan napas terlihat dari wajah cantik Leana. "Bibi, aku sudah memaafkannya. Tapi aku tidak tahu Yuma dan Yumi," jawabnya.


"Aaron pasti bisa mengambil hati Yuma dan Yumi. Oh, jangan khawatir. Bibi sedang ada di Rusia, nanti Bibi akan mengunjungimu," ucap Ana.


"Baik, Bibi," sahutnya.


"Ya sudah, Bibi tutup dulu teleponnya," ucap Ana.


Leana yang sedang berbaring di ranjang langsung menyimpan ponselnya. Setelah tadi berada di balkon sebentar, Leana memutuskan untuk masuk ke dalam kamar satunya lagi, sedangkan Aaron mungkin masih membujuk Yuma dan Yumi.


Sebenarnya, Leana sudah memberikan Aaron kesempatan, tapi tetap saja ada keraguan. Tak lama, pintu terbuka. Muncul sosok Aaron, rupanya Aaron baru saja membujuk Yuma yang masih belum bisa memaafkannya, berbeda dengan Yumi. Yumi juga tadi membantu membujuk Yuma, tapi sepertinya Yuma benar-benar membatasi dirinya hingga dia hanya diam tidak membalas ucapan mereka.


Aaron memutuskan untuk menghampiri Leana di kamar, sedangkan Yumi mengatakan akan membantu membujuk kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2