
Saat berjalan, Leana merasa kakinya melayang. Dia merasa tidak berpijak pada bumi. Rasa sakit itu terus membayanginya, hingga rasanya dia ingin terus menangis. Dia melihat ke arah Yuma dan Yumi, mereka sama-sama terlihat berjalan sambil melamun hingga pada akhirnya mereka pun sampai di unit apartemen yang akan mereka tempati.
Leana membuka pintu apartemen. Ini adalah apartemen yang dulu ditempati oleh Aaron, sekaligus tempat pertama kali mereka memadu kasih. Menginjak apartemen ini begitu menyakitkan, tapi Leana tidak punya pilihan hingga pada akhirnya mereka pun masuk.
"Mommy, aku mengantuk," ucap Yuma. Gadis kecil itu sepertinya tidak tahan untuk tidak menangis, karena dari tadi dia berusaha mati-matian untuk tidak menangis di hadapan sang ibu.
"Ayo, Mommy tunjukkan ke kamar," kata Leana, sedangkan Yumi langsung mendudukkan diri di sofa, terlihat jelas bahwa gadis kecil itu sedang melamun.
Setelah mengantar Yuma, Leana pergi ke dapur untuk mengambil minum dan ketika mengambil minum, tubuh Leana hampir ambruk ke bawah. Beruntung, dia memegang pinggiran meja. Jangan ditanyakan betapa sakitnya ketiga orang itu, yang pasti mereka benar-benar hancur.
Yuma menatap ke arah depan. Tatapan matanya begitu lurus, terlihat jelas gadis kecil itu menahan rasa sakit yang luar biasa. Pada akhirnya, tangis Yuma pun meledak.
'Aku bersumpah, aku tidak mau nanti bertemu denganmu.' Yuma membatin dalam hati. Dia tidak ingin lagi bertemu dengan Aaron dan rasa sakit gadis itu semakin menjadi-jadi, ketika mengingat terakhir kali mereka bermain dengan Aaron di taman hiburan.
***
Keesokan harinya.
"Yuma, Yumi kenapa kalian tidak mau sekolah?" tanya Leana ketika Yuma dan Yumi masih belum memakai seragam mereka.
Yuma dan Yumi terdiam, sepertinya mereka mulai enggan berhubungan dengan apapun yang berhubungan dengan Aaron, karena memang mereka bersekolah di yayasan milik sang ayah.
"Mom, apakah bisa kita pindah sekolah saja?" tanya Yuma.
Leana tidak bertanya lagi kenapa Yuma mengatakan itu, karena dia mengerti alasan ucapan Yuma, hingga Leana hanya bisa tersenyum. "Satu bulan lagi, oke? Sebentar lagi ada pesta kelulusan dan setelahnya, kalian boleh pindah dari sekolah dan kita pergi dari sini," ucap Leana membuat mata Yumi membulat.
"Mommy, jika kita pergi dari sini, bagaimana jika Daddy tidak menemukan kita? Bagaimana jika Daddy tidak datang ke tempat kita yang baru?" tanya Yumi walaupun dia sudah dikecewakan oleh Aaron.
__ADS_1
Mendengar ucapan Yumi, Yuma langsung menoleh. Dia langsung menatap sang adik dengan kesal. "Bukankah sudah aku bilang tentang semalam?" tanya Yuma.
"Iya, iya maaf," kata Yumi hingga pada akhirnya, Leana mengelus kedua kepala putrinya.
"Apa kita akan pindah lagi dari apartemen ini?" tanya Yumi.
Leana tersenyum kemudian mengangguk. Pada awalnya, Leana memang tetap ingin tinggal di sini agar bisa menikmati fasilitas Aaron demi kedua putrinya, agar Yuma dan Yumi bisa hidup nyaman. Namun, semalaman Leana sudah berpikir, jika terus hidup di sini dan hidup di sekitaran Aaron, putrinya tidak akan bisa lepas dari bayang-bayang lelaki itu, hingga pada akhirnya Leana memutuskan untuk pindah.
Setelah dihitung-hitung, Leana masih mempunyai cukup tabungan, dan mungkin tabungan itu masih bisa bertahan selama beberapa tahun ke depan, tapi dia harus hidup sehemat mungkin.
"Kita akan pindah dari sini," jawab Leana, "sudah, kalian bersiap. Mommy akan mengantarkan kalian lewat taksi, karena tidak akan ada lagi orang yang menjemput kalian."
Yuma dan Yumi pun mengangguk. Setelah itu, mereka pun langsung persiapan dan Leana menyiapkan sarapan.
***
Leana melambaikan tangannya ketika kedua putrinya masuk ke dalam sekolah, dan setelah putrinya tidak terlihat, Leana berbalik. Namun, saat dia akan menyetop taksi, tiba-tiba Leana terpikirkan sesuatu. Sepertinya, dia ingin menikmati secangkir kopi di cafe, dan sekarang di sinilah Leana, berada di sebuah kafe yang tak jauh dari tempat Yuma dan Yumi bersekolah.
'Daddy, seandainya kau tidak pergi, aku dan kedua anakku tidak akan terlantar seperti ini.' Leana membatin. Bulir bening terjatuh tanpa bisa ditahan. Leana selalu lemah jika berhadapan dengan masa lalu.
Selama delapan tahun ini, setelah dia hidup dengan Aaron, dia tidak pernah memikirkan sang ayah lagi, karena dia bahagia dengan lelaki itu. Namun, setelah Aaron mencampakkannya, rasa itu kembali muncul di mana dia selalu merasakan sakit ketika melihat ayahnya.
Leana menghapus air matanya, kemudian menoleh ke arah depan. Belum sembuh rasa sakitnya akibat mengingat sang ayah, dia harus dibuat sakit lagi ketika melihat Aaron dan Melisa masuk ke kafe yang sama.
Saat Aaron masuk ke dalam kafe, Aaron terdiam di tempat saat tanpa sengaja, dia melihat Leana yang juga sedang melihat ke arahnya, hingga tatapan mereka saling mengunci. Leana tersenyum samar, dan tanpa sadar dia akan melangkahkan kakinya ke arah istrinya.
Namun, karena Melisa menarik tangannya, Aaron tersadar hingga dia mengurungkan niatnya. Setelah duduk, Aaron mencuri-curi pandang ke arah Leana. Seperti ada magnet yang menyuruhnya untuk terus melihat ke arah istrinya, dan tak lama Aaron tersadar ketika Leana bangkit dari duduknya. Sepertinya, Leana sudah tidak sanggup lagi melihat Aaron hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi.
__ADS_1
"Kau melihat apa?" tanya Melisa ketika Aaron terus melihat ke arah samping. Melisa mengikuti arah pandang Aaron, dan ternyata di sana tidak ada siapa-siapa.
Aaron tersadar, kemudian menggeleng. Tidak lama, pesanan Aaron dan Melisa pun datang. Mereka pun langsung menikmati makanan yang mereka pesan. Ada yang aneh. Dulu, saat awal-awal kehilangan Melisa, dia selalu rindu dengan situasi seperti ini di mana mereka menikmati hidangan di kafe, tapi sekarang tidak lagi. Justru, dia teringat Ayuma dan Ayumi, karena satu minggu sekali dia selalu mengajak keluarganya untuk nongkrong ataupun melakukan aktivitas bersama. Namun sekarang, sudah tidak ada lagi.
Aaron menunduk kemudian dia menghela napas berkali-kali. 'Tuhan, apakah keputusanku sudah benar?' Aaron membatin, hingga tak lama Aron tersadar ketika mendengar suara Melisa yang bertanya.
"Baby, apa setelah ini kita akan berbelanja?" tanya Melisa.
Aaron hanya berdeham. Dia sungguh tidak semangat. Lagi-Lagi, pikirannya tertuju pada Leana. Selama delapan tahun ini, Leana tidak pernah mengajaknya berbelanja. Tidak pernah merepotkannya. Wanita itu tidak pernah menuntut apapun, bahkan selama ini Aaron-lah yang memaksa Leana untuk pergi berbelanja.
Namun sekarang, Melisa malah mengajaknya, tapi dia tidak punya pilihan lain. Ini pilihannya dan ini keputusannya, hingga pada akhirnya dia pun terpaksa mengikuti keinginan Melisa.
***
Yuma dan Yumi terdiam di kursi taman. Mereka saat ini sedang beristirahat, mereka tidak pergi ke kantin karena Leana memberikan bekal untuk mereka.
Kedua gadis kecil itu terus menatap kotak bekal yang diberikan oleh ibunya. Kedua gadis kecil itu merasa sesak, sebab setiap pagi yang menyiapkan bekal untuk mereka adalah Aaron, karena memang Aaron bertugas selalu menyiapkan apapun tentang Yuma dan Yumi dengan tangannya sendiri. Namun sekarang berbeda, dan itu yang yang membuat Yuma dan Yumi merasa sesak, hingga mereka tidak mau membuka kotak makan itu.
"Yuma, kau tidak lapar?" tanya Yumi. Yuma tersadar, dia menghapus sudut matanya yang berair kemudian dia membuka kotak bekal dari sang ibu.
"Ayo makan, tidak usah memikirkan dia lagi," ucap Yuma. Yumi mengangguk, kedua gadis kecil itu makan dengan perasaan yang hancur, bahkan tangis Yumi sudah berlinang. Sementara Yuma, dia mati-matian berusaha menahan tangisnya.
Memang terkesan berlebihan, tapi percayalah bagi Yuma dan Yumi ini adalah hal yang menyakitkan, sebab mereka terbiasa hidup berlimpah kasih sayang dari Aaron, dan sekarang mereka harus kehilangan sosok ayah yang mereka cintai.
***
Akhirnya, jam sekolah pun selesai. Yuma dan Yumi keluar dari kelas, mereka yakin sang ibu sedang menunggu di luar. Saat berjalan, Yuma dan Yumi menghentikan langkahnya ketika melihat mobil sang ayah.
__ADS_1
Walaupun Yuma sempat benci pada ayahnya, tapi entah kenapa hatinya merasa senang ketika melihat mobil sang ayah. Begitu pun dengan Yumi yang tampak berseri-seri ketika Aaron datang menjenguk mereka.
Namun tak lama, rasa senang Yuma dan Yumi berubah ketika bukan Aaron yang keluar dari mobil, melainkan Larry, sekretaris Aaron. Rupanya, Aaron menyuruh Larry untuk menjenguk kedua anaknya.