
Maudy tampak berpikir. Sebenarnya bukan hanya soal uang, karena dia tidak memerlukan uang atau tidak memerlukan gaji yang besar. Tapi dia merasa aneh ketika tiba-tiba dia harus mengejar secara pribadi.
“Bagaimana, Nona Maudy?” tanya Richard membuat Maudy tersadar.
Pada akhirnya, Maudy pun mengangguk. “Baik, Tuan terima kasih tawarannya. Aku menerimanya,” jawab Maudy. Richard mengembangkan senyumnya, lelaki itu menatap Maudy dengan tatapan terima kasih kalau, seolah puas dengan keputusan Maudy yang mau menerima tawarannya.
“Kalau begitu aku permisi," pamit Richard. Semua para guru yang ada di ruangan sana bangkit dari duduknya kemudian membungkuk hormat pada Richard.
“Wah Nona Maudy Anda beruntung sekali bisa direkrut. Banyak sekali guru-guru di sini yang ingin bekerja pribadi bersama Tuan Richard.”
“Maaf, kenapa anak Tuan Richard tidak di sekolahkan?" tanya Maudy yang penasaran.
Semua yang ada di sana saling tatap.
“Anda janji jangan bocorkan ini pada siapapun," ucap kepala sekolah Maudy mengangguk, dia sungguh penasaran.
__ADS_1
“Terlalu jahat jika menyebut anak itu berbeda, hanya saja anak itu sangat jahil dan selalu mengamuk dia tidak ingin bergaul dengan siapapun dan juga ....”
“Aku mengerti," ucap Maudy yang tidak ingin mendengarkan lagi jawaban dari kepala sekolah, dia merasa sesak ketika ada orang yang membeberkan tentang kekurangan anak lain, karena dia merasa teringat dengan Geo.
“Kalau begitu aku permisi," ucap Maudy yang lebih memilih pamit. Maudy dibangkit dari duduknya kemudian keluar dari kelas, wanita itu memutuskan untuk mulai mengajar.
beberapa hari kemudian
Maudy terdiam menatap istana yang ada di depannya yang tak lain milik Richard, ini bahkan lebih mewah dari mansion kedua mertuanya. Entah seberapa kaya Richard hingga dia memiliki istana semewah ini.
“Permisi ...." tiba-tiba penjaga menghampiri Maudy, mereka menatap heran pada wanita yang sedang berdiri di depan rumah Tuhannya, hingga Maudy tersadar.
Penjaga itu mengangguk kemudian menelepon ke dalam dan ternyata benar saja Maudy adalah orang yang sedang ditunggu oleh tuannya.
“Silakan nona." Penjaga mengarahkan Maudy untuk menaiki sebuah kendaraan yang akan mengantarkannya ke dalam, karena dari luar sampai ke rumah Richard jaraknya sangat jauh dan tidak mungkin ditempuh oleh k oleh jalan kaki.
__ADS_1
Maudy menatap kagum pada sekelilingnya, wanita itu benar-benar seperti ada di dunia dongeng, di mana dia memasuki rumah bak istana yang ada di kartun-kartun.
Setelah sampai Maudy pun dipersilakan turun dan belum hilang keterkejutan Maudy karena halaman yang luas, dia dibuat terpengah lagi dengan area dalam istana Richard. Tak lama terdengar suara pintu terbuka, Maudy menoleh dan ternyata Richard sendiri yang membukanya.
“Halo Tuan Richard, maaf aku datang terlambat," ucap Maudy. Richard terkekeh lagi-lagi senyuman Richard mampu menembus jantung Maudy.
“Silakan masuk," ucap Richard. Maudy pun mengangguk, lalu mengikuti langkah lelaki itu. ”Leana ... Leana!” panggil Ricard dan tak lama muncul sosok gadis remaja yang sepertinya berusia 12 tahun menghampiri mereka.
“Daddy dia siapa?" tanya Leana dia menatap Maudy dengan aneh
“Dia guru lukismu," ucap Richard.
“Guru lukis?” Gadis itu berdecak senang namun berbeda dengan Maudy. Dia merasakan ada yang aneh dengan gadis remaja ini.
“Ya, sudah kalau begitu, kau tunggu di kamarmu biar Daddy siapkan semuanya."
__ADS_1
Leana mengangguk, kemudian dia pergi dan meninggalkan Ricard.
“Nona Maudy bolehkah saya jujur tentang sesuatu?” tanya Ricard.