Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Sampai jumpa


__ADS_3

“Tutup mulutmu, Geo!” sentak Maudy ketika dia berbicara hingga leana langsung menunduk, Stev yang berada di samping Leana langsung menggenggam tangan anak angkatnya.


“Pergilah ke kamar," kata Steve, dia rasa suasana sudah tidak kondusif hingga Lena pun mengangguk.


Leana bangkit dari duduknya, dan berniat untuk pergi namun langkah Leona terhenti ketika mendengar ucapan Geo.


“Aku benar kan, Mom. Untuk apa menahan orang yang ingin pergi, dia punya hak untuk pergi dari sini, lalu kenapa harus repot menahannya toh selama ini kita sudah memberikan hidup yang layak untuknya.” Geo berucap dengan sadis, membuat Maudy menggeleng.


Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Leana saat mendengar itu. “Geo tutup mulutmu!” kali ini Stev yang berbicara, hingga dia Geo mengatupkan bibirnya.


“Ayo sayang, duduk." Geo lebih memilih untuk mengajak Claudia duduk bergabung dengan Stev dan juga Maudy.


“Hall, bibi, hallo paman," ucap Claudia hingga Steve dan Maudy tersenyum samar, mereka tidak masalah dengan pilihan Geo itu hak Geo menikah dengan siapapun tapi yang dipermasalahkan adalah sikap putranya yang sangat kurang ajar pada Leana.


“Claudia silakan makan bersama Geo, bibi harus pergi ke kamar,” Maudy yang pamit pada calon menantunya.


“Oh, ya paman juga." stev pun ikut bangkit dari duduknya, hingga sekarang di meja makan itu hanya ada dia dan Claudia.


“ Geo!” panggil Claudia saat dia terus menatap punggung Leana yang semakin menjauh, hingga Geo tersadar lalu tersenyum, lelaki itu mempersilahkan Claudia untuk makan.


Leana masuk ke dalam kamar, wanita malang itu langsung berjalan ke arah ranjang, lalu setelah itu dia mendudukan dirinya sejenak. Tiba-tiba, dia teringat kejadian satu bulan lalu, di mana Geo mampu meluluntahkan hati Leana, hingga dia dipaksa untuk tetap tegar.


Tak lama, Leana langsung menoleh dan Maudy yang masuk. “Leana boleh bibi masuk,” ucap Maudy.

__ADS_1


“Silahkan, Bibi," jawab Leana hingga Maudy pun langsung masuk ke dalam lalu dia lalu berjalan ke arah ranjang dan mendudukan diri diri di sebelah Putri angkatnya.


“ Apa ada yang terjadi denganmu dan Geo?” tanya Maudy.


Leana menggeleng. “Tidak apa-apa bibi, kami hanya sedang berselisih paham, tapi hanya sedikit," jawab Leana berusaha meyakinkan Maudy. Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya.


“Kau tidak bisa berbohong pada bibi, Kau pasti sedang menyembunyikan sesuatu, apalagi aku Geo bersikap kurang ajar padamu, apa dia menyakitimu?” tanya Maudy bertubi-tubi, hingga Leana dengan cepat menggeleng.


“Tidak bibi, kami hanya berselisih paham sedikit,” jawabnya.


“Ya sudah bibi, tidak akan bertanya lagi masalah kau dan Geo. Tapi tolong jawab ini, kenapa kau ingin pergi ke Canada, sedangkan kakek dan nenekmu ..." Maudy tidak meneruskan lagi ucapannya, tidak mungkin dia mengatakan hal yang sangat sensitif tentang kakek nenek Leana yang tidak pernah akan menerima Leana lagi.


“Aku sudah menelpon nenek kemarin, dan ternyata nenek sudah tidak marah padaku,” jawab Leana, tentu saja itu berbohong. “Jika bibi mau menelpon nenek, tidak apa-apa telepon saja," jawab Leana lagi, berharap Maudy tidak menyetujui ucapannya dia mengatakan seperti ini agar Maudy percaya.


“Berapa lama kau pergi?” tanya Maudy. “Bibi tidak akan membiarkanmu lama-lama di sana," ucapnya lagi. Mendengar ucapan Maudy seperti ini, rasanya Leana ingin sekali menangis kencang-kencangnya, karena wanita di sampingnya ini begitu baik, begitu menyayanginya tapi dia juga tidak bisa terus di sini.


“Apa kau keberatan dengan pernikahan Geo dan Claudia?” tanya Maudy, sebab dia tau Geo mencintai Leana, tapi anaknya malah menikah dengan wanita lain.


“Tidak, bibi. mana mungkin aku keberatan.”


“Ya sudah kalau begitu, bibi akan mengurus semuanya," kata Maudy. Leana pun mengangguk.


Saat Maudy pergi dari kamarnya, Leana menoleh ke arah belakang, dia menatap punggung Maudy dengan tatapan nanar.

__ADS_1


“Bibi, terima kasih selama ini selalu bersamaku, terima kasih sudah menganggap sebagai anak bibi sendiri. Aku tidak punya apapun, aku hanya bisa mendoakan agar bibi dan paman baik-baik saja, dan selalu dilimpahkan kebahagiaan." Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya. Namun dengan cepat, Leana menghapus air matanya.


Setelah itu, Leana mengangkat kakinya, wanita malang itu membaringkan tubuhnya di ranjang, seraya meringkuk, Leana mengangkat tangannya dia melihat cincin yang melingkar di jari manisnya, cincin itu adalah cincin hadiah pemberian Geo dan mungkin satu-satunya yang akan menjadi kenangannya.


Siang berganti malam Leana bangkit dari duduknya, dia memutuskan untuk membuat sesuatu yang pedas di dapur.


Dia merasa harus menyegarkan otaknya dengan makanan pedas. Padahal dia mempunyai asam lambung.


Saat dia turun, terdengar suara gelak tawa dari arah ruang tamu dan dia mengenal betul suara itu, yaitu adalah suara Geo dan Claudia sepertinya mereka belum pulang dari tadi siang .


“Kau ingin bulan madu di mana?” tanya Geo, ketika Leana berjalan di depannya, dia sengaja bertanya seperti itu untuk memanas-manasi Leana.


“Oh, aku ingin bulan madu di Prancis, aku juga ingin pergi ke Filipina bisakah kita berbulan madu di beberapa negara?” tanya Claudia.


“Hmm, kita akan bulan madu kemanapun yang kau mau,” jawab Geo,


Leana menghela nafas beberapa kali, dia berjalan dengan cepat agar tidak mendengar hal yang menyakitkan.


Saat melihat Leana , yang tampak datar, Geo rasanya ingin sekali berteriak di hadapan wanita itu, bisa-bisanya Leana sama sekali tidak bereaksi, bahkan sekarang wanita itu ingin pergi ke rumah neneknya.


Sayangnya Geo tidak tahu bahwa Leana bukan pergi ke rumah kakek dan neneknya, melainkan pergi meninggalkan semua dan mungkin jika dia yang tahu yang sebenarnya, lelaki itu akan menangis darah memohon ampun pada Leana.


Akhirnya acara yang sangat menyakitkan bagi Leana pun tiba, di mana saat ini dia melihat Geo dan Claudia berdiri di depan altar, mereka akan Melangsungkan pernikahan.

__ADS_1


Leana sengaja duduk di bangku paling belakang guna menetralkan rasa sakit hatinya, dia hanya mampu tersenyum getir menatap Geo yang tampak gagah dan Claudia yang sangat cantik dengan gaun pengantinnya.


‘Geo walaupun kau sering menyakitiku, tapi aku dengan segala ketulusan mendoakanmu, semoga kau bahagia.” Leana membatin, dia mengadakan kepalanya agar tangisnya tidak jatuh. Dan ketika dia sudah menatap ke depan, tatapannya langsung bersibobrok dengan Geo yang sedang menatapnya dengan menyeringai, seolah menertawakan Leana.


__ADS_2