
"Leana, kau baik-baik saja?" tanya Maudy, dia masih penasaran karena merasa ada yang disembunyikan oleh calon anak sambungnya ini. Sudah beberapa hari ini, dia selalu melihat Leana melamun.
Leana tersadar dari lamunan, dia mulai berpikir bahwa sepertinya lebih baik untuk pergi dari Maudy agar wanita itu tidak terus bertanya. "Tidak apa-apa, Bibi," jawab Leana berusaha tenang.
Leana kini melihat jam di pergelangan tangannya. "Bibi aku harus masuk dulu, sampai jumpa."
Leana bangkit dari duduknya kemudian melambaikan tangannya pada Maudy. Setelah itu, dia berlari masuk ke dalam kelas membuat Maudy menggeleng.
Setelah Leana tidak terlihat, Maudy pun bangkit kemudian berjalan ke arah kelas Geo, di mana dia yakin anak itu pasti sudah menunggunya untuk membawakan jam.
Sanpai sekarang, Maudy tidak mengerti kenapa Geo seolah terobsesi dengan jam tangan yang sedang dibawanya saat ini. Putranya bahkan tak ingin memakai arloji jika bukan yang itu.
"Geo," panggil Maudy saat sudah dekat dengan putranya.
Geo menoleh, dia yang sedang duduk di depan kelas langsung menghampiri Maudy.
"Mommy lama sekali," tegur Geo sambil cemberut membuat Maudy tertawa.
"Ayo pasangkan padaku." Geo langsung menyodorkan tangannya pada Maudy, mengisyaratkan pada sang ibu untuk membantu dia memasangkan jam tangan tersebut.
"Apa setelah ini Mommy akan pergi bersama Paman Richard?" tanya Geo setelah Maudy selesai memakaikan jamnya.
"Iya. Nanti kau pulang dijemput Daddy, oke?" balas Maudy, hingga Geo pun mengangguk. Walaupun ibu dan ayahnya tinggal terpisah. Tapi, Geo sama sekali tidak keberatan, malah dia sangat bahagia ketika melihat kedua orang tuanya akur dan dia pun mendapatkan kasih sayang yang berlimpah.
"Baiklah, sampai jumpa." Geo melambaikan tangannya kemudian masuk ke dalam kelas.
Maudy berbalik pergi dan berjalan ke arah mobil.
Maudy menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Barusan, Richard menelpon dan memberitahunya bahwa dia sudah menunggu di butik tempat yang sudah direncanakan untuk mendiskusikan perihal busana pertunangan mereka yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi.
Sampai akhirnya, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, mobil yang dikendarai Maudy sampai di butik. Wanita itu bergegas keluar dari sana kemudian masuk ke dalam butik membuatnya bisa melihat Richard yang sedang memainkan ponsel.
"Richard," panggil Maudy ketika masuk.
Richard tersenyum yang terkesan begitu mempesona dan memikat. Pria itu bangkit dari duduknya untuk menyambut kedatangan sang calon istri.
"Maaf membuatmu menunggu lama," ucap Maudy.
"Tidak apa-apa, ayo, ada beberapa gaun yang harus kau coba. Jika kau tidak suka, kita bisa memesannya dari desainer lain," kata Richard lagi membuat Maudy terkekeh.
Richard selalu mengatakan bahwa dia ingin memberikan yang terbaik untuk Maudy, hingga saat mendatangi butik, dia mengundang desainer kelas dunia untuk mendesain beberapa gaun yang baru saja selesai dan akan mereka lihat hari ini.
"Wah." Maudy menatap gaun di depannya yang begitu indah dengan sorot takjub.
"Kau ingin yang mana? Pilih saja," kata Richard.
"Richard, apakah ini nyata?" tanya Maudy yang merasa tak percaya.
"Tentu saja, aku juga sedang memesan beberapa gaun. Jadi jika tidak ada yang cocok, kau bisa memilih yang lainnya lagi," ucap Richard.
Maudy berjalan ke arah kumpulan gaun tersebut kemudian meneliti satu persatu, hingga akhirnya dia setuju memakai gaun berwarna silver dan tentu saja, senada dengan tuxedo yang akan dikenakan Richard nantinya.
"Kau yakin ingin memilih itu?" tanya Richard.
"Aku yakin," jawab Maudy.
Richard menghampiri pelayan butik, lalu menunjuk pilihannya juga Maudy. Setelah berbincang-bincang, mereka pun keluar dari butik.
"Aku lapar, ayo kita makan," kata Maudy.
"Aku juga lapar, tinggalkan saja mobilmu di sini, biar nanti sekretarisku yang membawanya."
Maudy mengangguk, dan setelah itu Richard langsung merangkul bahunya dan mereka pun berjalan ke arah mobil pria itu.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Richard saat berada di mobil dan melihat Maudy tampak melamun, seperti orang yang sedang banyak pikiran. Jujur saja, Maudy masih heran dengan Leana.
Sudah tiga tahun dia dekat dengan Leana, dan dia mengerti betul seperti apa dia ketika sedang bahagia, sedih atau bahkan sedang bingung. Lalu tadi, dia bisa mengetahui bahwa gadis itu sedang bingung akan sesuatu, tapi sayang Leana tidak ingin bercerita padanya.
"Aku memikirkan Leana," jawab Maudy.
Richard menoleh. "Leana?" ulang Ricard, dia menatap Maudy dengan tatapan tak percaya.
"Tadi, aku mengantarkan jam untuk Geo ke sekolah, lalu aku melihat Leana sedang melamun. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu. Aku mencoba bertanya ada apa dengannya, tapi dia tidak menjawab sama sekali."
Richard kembali fokus mengemudi. Tampaknya, dia mengerti dengan apa yang dipikirkan Leana. "Mungkin dia sedang lelah dan mungkin juga sedang memikirkan pelajaran. Kau tahu, 'kan, sebentar lagi ada ujian?" balas Ricard. Tapi, dia tau Leana sedang memikirkan apa.
"Aku harap juga begitu," kata Maudy meski dia tetap merasa ada yang mengganjal.
***
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Richard sampai di sebuah restoran. Pria itu turun disusul oleh Maudy, lalu mereka pun masuk ke dalam.
Setibanya di dalam, Richard menarik kursi untuk Maudy membuat wanita itu tersenyum. Tak lama, Richard pun menyusul duduk, sebelum akhirnya mereka memesan makanan.
Saat sedang mengobrol, tiba-tiba ponsel Richard berdering karena telepon, membuatnya langsung mengangkat panggilan pria itu.
__ADS_1
"Oh, ya sudah. Baiklah aku akan ke sana sekarang." Richard langsung menoleh ke arah Maudy membuat wanita itu menghela napas. bukan kali pertamanya Richard meninggalkan dia di saat mereka sedang bersama.
"Iya pergilah," ucap Maudy ketika Richard baru membuka mulut untuk bicara.
"Tidak, aku bisa menunda pekerjaan nanti," kata Richard yang mengerti tatapan kecewa Maudy.
Seseorang mengabari dia tentang hal yang cukup penting, tapi saat melihat raut wajah Maudy yang seperti ini, dia merasa tidak tega untuk meninggalkannya.
"Pergilah Richard, aku tidak apa-apa. Pasti itu sangat penting," kata Maudy yang berusaha mengerti bahwa calon suaminya ini adalah orang penting.
"Tidak, aku tidak akan pergi," jawab Richard sembari menaruh ponselnya, meyakinkan bahwa dia memang tak akan memenuhi panggilan tersebut.
Hal itu membuat Maudy tersenyum karena ternyata Ricahrd telah memilih dia, di saat sebelumnya dia sudah menyuruh pria itu untuk pergi.
Saat makanan tiba, Richard langsung memotongkan steak untuk Maudy kemudian memberikan piring itu ke hadapan calon istrinya.
Baru saja Maudy akan menyuapkan makanan ke mulutnya, tiba-tiba telepon kembali masuk ke nomor Richard membuat pria itu menoleh pada calon istrinya. Dia terlihat ragu untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Angkatlah," ucap Maudy hingga akhirnya Ricahrd pun mengangkat telepon tersebut.
"Sial! Aku sedang makan siang, bisakah menungguku?" tanya Richard.
"Tidak akan lama, Richard. Masalah ini benar-benar harus segera diselesaikan."
Maudy menghela napas. Dia menyimpan garpu yang sedang berada di tangannya kemudian menatap ke arah Richard yang baru saja mematikan panggilan.
"Pergilah Richard, aku tidak apa-apa," jawab Maudy. Tapi, raut wajahnya terlihat sangat kecewa.
"Benar kau tidak apa-apa?" tanya Richard yang merasa tidak enak.
"Pergilah."
Setelah Maudy mengatakan itu, Richard pun bangkit dari duduknya. Dia menghampiri sang calon istri kemudian mengecup keningnya.
Sepeinggal Richard, Maudy melihat makanan di hadapannya yang sama sekali belum tersentuh oleh Richard.
'Selalu saja seperti ini,' batin Maudy. Dia pun langsung melanjutkan makannya.
***
"Maudy kenapa kau sudah pulang? Aku pikir kau akan pulang malam nanti," ucap Stev ketika Maudy masuk kedalam rumahnya.
Maudy sengaja pulang ke rumah Steve, karena di rumahnya sedang ada perbaikan lantai, sedangkan dia butuh istirahat dan jelas dia tak bisa melakukan itu di rumahnya.
"Richard sedang sibuk, jadi aku memutuskan pulang. Bolehkah aku istirahat di sini? Rumahku berantakan," kata Maudy dengan wajah sendu l.
Maudy tidak menjawab lagi, wanita itu langsung berjalan ke arah kamar tamu dan langsung membanting tubuhnya di ranjang. Dia menatap langit-langit dengan pikiran yang melanglang buana memikirkan masa depan.
Entan kenapa, dia merasa bahwa akan ada sesuatu yang sebentar lagi menimpanya. Maudy menggeleng, mengusir pikiran tersebut sampai akhirnya tak terasa, dia terlelap.
***
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, Steve yang sedang bermain game di balkon, langsung menunduk saat mendengar suara pagar terbuka, dan ternyata yang masuk adalah Richard.
Rupanya, Richard menyusul ke rumah Steve karena Maudy tidak ada di rumahnya. Steve kini menghela napas. "Merepotkan saja," gumamnya ketika dia yang sedang sibuk bermain game, terpaksa turun untuk membukakan pintu.
Saat membuka pintu, Steve tetap menunjukkan keramahan walau hatinya begitu kesal. Richard bertanya, "Apa Maudy ada di dalam?" tanya Ricard. Barusan dia menyusul ke rumah Maudy. Namun, Maudy tidak ada di sana hingga dia memutuskan untuk pergi ke rumah Steve, dan benar saja Maudy ada di sini.
"Iya, sepertinya dia sedang tidur," jawab Stev. Dia tetap bersikap ramah, walaupun hatinya menggerutu kesal.
"Bisa kau kau panggilkan dia?"
"Tunggu sebentar, silakan duduk," ucap Stev.
Setelah mempersilakan Richard duduk, Steve pun berbalik pergi ke kamar tamu di mana Maudy ada di sana. Pria itu menggeleng saat melihat ruangan masih gelap, pertanda bahwa sedari sore wanita itu belum juga bangun.
Steve perlahan berjalan ke arah saklar kemudian langsung menyalakan lampu. Dia mendekati ranjang kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Maudy yang masih memejamkan mata.
Steve membangunkan Maudy dengan lembut, tapi karena dia yang masih tidak terbangun juga, pria itu memutuskan untuk menjeda sejenak kegiatannya dan malah menatap wajah mantan istrinya lekat-lekat.
Cukup pada saat-saat tertentu saja Steve bisa melihat Maudy dari dekat. Dia selalu berharap wanita ini menjadi miliknya, tapi pada akhirnya dia selalu tersadar bahwa takdir tidak mungkin menyatukan mereka berdua.
Saat melamun, Steve merasakan pergerakan dari Maudy yang berbaring membelakanginya, membuat dia langsung menyentuh bahu wanita itu untuk membangunkannya dengan lemah lembut.
Maudy pun terbangun dari tidurnya, dia mengucek mata kemudian mengedarkan pandangannya kemudian berbalik. " Steve kenapa kau membangunkanku?" tanyanya dengan mata yang setengah terpejam karena masih mengantuk.
"Ada Richard di depan."
Maudy seketika bangkit ketika mendengar bahwa ada Richard di depan. Wanita itu pun keluar dari kamar meninggalkan Steve yang kini menggeleng.
"Richard," panggil Maudy.
Richard yang sedang mengutak-atik ponselnya, menoleh kemudian tersenyum.
"Kenapa kau ke mari?" tanya Maudy.
__ADS_1
"Aku hanya tidak tenang karena meninggalkanmu di restoran, jadi aku menyusul ke mari."
"Ya sudah, ayo kita ke rumahku," ajak Maudy karena tidak enak jika mengobrol di rumah Steve.
Richard pun bangkit dari duduknya, mereka keluar dari sana menuju rumah Maudy. Sementara Steve yang melihat dari balkon, hanya bisa tersenyum getir saat melihat keduanya.
Ribuan anak panah seolah ditembakkan ke hati Steve ketika melihat itu. Dia kini menghela napas dan kembali bermain game.
***
"Apa ada hal penting di kantor?" tanya Maudy.
Saat ini Maudy sedang berbaring di sofa berbantalkan paha Richard yang sedang sibuk dengan ponselnya. Pria itu mengelus rambut mau Maudy.
"Iya, banyak sekali pekerjaan yang harus ditangani, apalagi saat ini orang kepercayaanku sudah mundur dan terpaksa aku mengurus semuanya sendiri."
Maudy bangkit kemudian langsung menyimpan ponsel di sampingnya. "Mau aku pijat?" tanya Maudy, apalagi dia bisa melihat raut wajah Ricard yang lelah.
Namun, seperti biasa Richard menggeleng, membaut Maudy terdiam. Ada yang mengganjal dari mereka. Meskipun berpacaran, tapi keduanya tidak pernah melakukan kontak fisik yang berlebih. Richard bahkan tidak pernah mengecup bibir Maudy, hal sederhana yang selalu dilakukan oleh pasangan lain.
Maudy pun tidak pernah mempermasalahkannya karena Richard memperlakukan dia dengan baik meski pria itu tidak pernah mau disentuh jika bukan Richard sendiri yang mendahului.
Mungkin Richard hanya ingin menghormatinya sebagai wanita, begitulah pikir Maudy.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Richard yang melihat Maudy sudah tertidur pun, langsung menggendongnya ke kamar. Setelah membaringkan wanita itu di ranjang, dia menutupi tubuhnya dengan selimut kemudian keluar setelah mematikan lampu.
***
Steve melihat jam di dinding dengan hati yang gelisah sejak tadi, karena membayangkan apa yang Maudy lakukan saat ini.
Perasaannya selalu tidak karuan seperti ini ketika mengetahui bahwa Richard berkunjung ke rumah mantan istrinya. Dia selalu membayangkan hal yang tidak-tidak membuat dia tak ingin tidur jika tahu bahwa pria itu masih ada di rumah Maudy.
Apalagi dari balkon, Steve bisa melihat mobil Richard masih berada di rumah Maudy.
Ketika itu, terdengar suara deru mobil membuat Steve menoleh ke samping, hingga dia bisa melihat mobil pria itu yang sudah meninggalkan rumah Maury.
Steve menghela napas. Dan setiap Ricard pulang, , maka dia akan segera masuk ke kamar. Dan saat masuk ke kamar, setibanya di sana dia mendengar suara hujan.
Baru saja Steve berbaring dan berniat untuk tertidur, dia tiba-tiba mendengar suara petir yang saling bersahutan membuatnya juga teringa akan Maudy.
Geo sedang menginap di sini, dan itu artinya Maudy sendirian di rumah, karena Januar sudah pulang ke Rusia. Dia tahu bahwa wanita itu paling takut ketika hujan dengan suara petir yang terus bergemuruh seperti sekarang.
Tiba-Tibs, lampu padam membuat Steve semakin panik mengingat Maudy yang pasti sangat ketakutan. Dia pun mengambil ponsel di sampingnya lalu menyalakan senter dan membangunkan Geo, mengajak anak itu untuk kembali ke rumah sang ibu.
"Geo," panggil Steve
Geo tidak menjawab, dia menduga bahwa itu sudah tertidur nyenyak dan jika sudah seperti ini, maka dia akan sulit dibangunkan. Dia pun langsung keluar dari kamar Geo dan berjalan perlahan menuju kamar pelayan yang mengurus rumahnya, berniat meminta dia menemani Geo karena dia akan pergi ke rumah Maudy.
Setelah selesai menyuruh pelayan untuk pindah ke kamar atas, Steve langsung keluar dari rumah menggunakan payung. Dia berjalan pelan-pelan karena area jalan begitu licin.
Saat masuk ke dalam rumah Maudy, pintu tidak terkunci membuatnya bisa langsung masuk ke dalam dan menaiki tangga. Ketika itu, dia bisa mendengar suara tangisan dari kamar Maudy, membuat dia langsung berlari.
"Aw!" Tiba-Tiba Steve meringis saat tak sengaja menabrak sofa.
Namun, karena tangis Maudy semakin kencang, Steve tidak memperdulikan rasa sakitnya dan lanjut berlari. Pria itu menyorotkan senter ke sekeliling kamar, hingga dia pun menemukan Maudy sedang duduk sambil meringkuk ketakutan di lantai.
Hari ini, Januar menginap di tempat temannya, dan karena itulah dia sendirian.
"Steve," panggil Maudy dengan bibir gemetar.
"Steve, terima kasih sudah datang," ucap Maudy. Dia menghela nafas sebanyak-banyaknya, karena bersyukur Stev datang, jika tidak ada Stev Mungkin dia akan ketakutan sepanjang malam.
Steve tidak membalas ucapan Maudy, dia langsung menyimpan ponsel dengan posisi terbalik agar senter menyoroti mereka. "Ayo bangun."
Steve mengulurkan tangan pada Maudy yang dan Maudy pun langsung menyambutnya. Dia pun mendudukkan wanita itu di ranjang.
"Tidurlah, Maudy. Aku akan di sini, dan aku akan pulang saat lampu sudah menyala."
Maudy mengangguk, dia menarik selimut kemudian menyelimuti tubuhnya.
"Tidurlah, Maudy. Tidak apa-apa, aku akan menunggu di sini," ucap Steve lagi ketika melihat Maudy masih tampak gelisah.
Maudy tidak menjawab, dia langsung memejamkan matanya karena memang masih mengantuk.
***
Satu jam berlalu, tapi lampu masih belum menyala. Sementara Steve yang sudah sangat lelah dan mengantuk, akhirnya berbaring di sebelah Maudy.
Secara tak disadari, mereka tidur di ramjang yang sama dengan posisi Steve memeluk Maudy dari belakang.
***
Maudy mengerjapkan mata saat sinar matahari menyorot ke arah kamarnya. Ternyata semalam, dia lupa untuk menutupi jendela. Tak lama, dia menyadari perutnya yang terasa berat.
Maudy menggigit bibir ketika melihat Steve tidur sambil memeluknya.
__ADS_1
Maudy tidak terkejut dengan keberadaan Steve karena sadar bahwa dia selalu menemaninya dikala hujan dan pemadaman walaupun tidak sering.
Maudy dengan pelan melepaskan tangan Steve dari perutnya, kemudian turun dari ranjang. Lalu ketika itu, Steve membuka matanya pertanda bahwa dia tersadar dari tidurnya yang hanya beberapa jam saja. Steve sudah terbangun pada pukul 05.00 pagi tadi, dia sengaja berpura-pura tertidur untuk menikmati waktu lebih lama bersama Maudy, karena dia tidak tahu lagi kapan dia bisa memeluk wanita ini.