Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Masa lalu


__ADS_3

"Januar, apa Steve dan Maudy ada di dalam?" tanya Elsa ketika Januar turun dari tangga.


"Bibi, jangan ganggu mereka," kata Januar membuat Elsa mengerutkan kening.


"Memangnya kenapa? Apa ada yang terjadi?" tanya Elsa lagi.


Januar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bingung harus bagaimana mengatakan apa yang dia dengar pada wanita di hadapannya ini.


"Mereka sedang bercocok tanam, Bibi," jawab Januar disertai dengan tawa.


"Bercocok tanam?" ulang Elsa yang tidak mengerti bahasa itu, membuat Januar lagi-lagi kebingungan bagaimana harus menjelaskannya.


"Ya, pokoknya terdengar suara yang tidak seharusnya dari kamar," jawab Januar.


Sekarang, Elsa mengerti dengan ucapan Januar.


“Ah, kau ini kenapa tidak tho teh point saja," ucap Maudy sambil terkekeh.


"Bibi biarkan saja mereka, siapa tahu mereka akan memberikan adik untuk Geo," kata Januar lagi membuat Elsa menutup mulut menahan tawa mendengarnya.


Elsa pun berbalik, dia mengurungkan niat untuk menemui Maudy. Lalu ketika turun, dia melihat Geo yang baru saja masuk ke rumah ibunya.


"Mana Daddy? Aku perlu sesuatu dengan Daddy," kata Geo membuat Elsa dengan cepat merangkul bahu cucunya lalu mengajak dia untuk keluar.


"Nenek, kenapa Nenek mengajakku keluar? Aku harus berbicara dengan Daddy," ucap Geo yang ingin berbalik masuk, tapi Elsa segera menarik tangan bocah itu.


"Jangan sekarang," kata Elsa yang bingung menjelaskan dari mana


"Kenapa? Sebentar saja, Nenek."


"Iya, nanti dulu. Sekarang, ayo kita pulang," ajak Elsa sembari menarik tangan Geo karena takut dia akan mengganggu Steve dan Maudy.


"Sayang, apa kau tidak jadi memanggil Steve dan Maudy untuk makan bersama?" tanya Nauder ketika melihat Elsa masuk hanya dengan Geo. Tak lama, pria itu mengerutkan kening saat melihat sang istri tersenyum-senyum sendiri.


"Sayang, kau kenapa?" Nauder mengerutkan keningnya saat melihat istrinya senyam senyum sendiri.


"Mereka sedang bercocok tanam," jawab Elsa.


"Bercocok tanam? Apa maksudmu, Sayang?" tanya Nauder lagi yang benar-benar tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Elsa.


"Mereka sedang ...."


"Ah iya-iya, aku mengerti," jawab Nauder, dia langsung paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Elsa.


Senyum lelaki paruh baya itu mengembang. Tuhan memberikan karunia yang sangat indah. Di saat dulu dia mati-matian menyatukan Maudy dan Steve, keduanya malah saling menjauh satu sama lain.


Namun kini, Tuhan justru mempermudah jalan Maudy dan Steve untuk kembali bersatu.


***


Steve menggulingkan tubuhnya ke samping, lelaki itu berusaha mengatur napas, begitu pula dengan Maudy.


Akhirnya, apa yang dinantikan oleh Steve tiba, dia mana dia mendapatkan seluruh hati Maudy. Karena barusan di tengah percintaan mereka, beberapa kali Maudy menggumamkan kata cinta padanya, begitu pun dengan dia yang terus mengumamkan kata cinta untuk Maudy.


Secara tidak langsung, keduanya mengakui bahwa mereka saling mencintai satu sama lain.


Maudy menoleh ke arah Steve setelah mengatur napas, begitu juga pria itu membuat pandangan mereka beradu. Tak lama, kedua insan itu tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan, tapi mereka merasa ini semua begitu lucu.


Steve yang sedang terlentang, langsung merubah posisinya menghadap Maudy, begitu pun dengan wanita itu hingga kini mereka saling berhadapan.


Maudy menarik selimut kemudian menyelimuti tubuhnya dan juga Steve dengan pandangan masing-masing yang saling mengunci.


"Apa benar yang aku dengar tadi?" tanya Maudy setelah sekian lama.


"Mendengar apa?" tanya balik Steve yang berusaha menggoda Maudy padahal dia tahu, bahwa wanita ingin mendengar pernyataan cinta darinya.


"Yang tadi," ucap Maudy dengan rasa kesal hingga wajahnya sedikit memberengut.


"Yang mana? Memang aku melakukan apa?" tanya Steve lagi. Dia merasa begitu gemas ketika melihat Maudy yang cemberut.

__ADS_1


"Ternyata kau berbohong, aku menyesal melakukan ini." Maudy langsung bangkit dari berbaringnya, tapi dengan cepat Steve menariknya membuat wanita itu kembali berbaring.


"Kenapa kau ragu padaku?" tanya Steve, "dengarkan aku dan tanamkan ini dalam hatimu. Aku, Steve mencintaimu wahai Maudy yang sangat baik hati, yang sangat lucu dan sangat menggemaskan," ucap Steve membuat pipi Maudy memerah.


"Kau pikir aku percaya, ya?" tanya Maudy dengan seringai mengejek.


"Jika kau tidak percaya, mana mungkin kau akan terus berteriak memanggil namaku seperti tadi?" goda Steve membuat Maudy berdecak.


Tiba-Tiba, Steve terpikirkan sesuatu.


"Apa kau mencintaiku?" tanya Steve.


"Tidak, aku tidak mencintaimu. Sebentar lagi aku akan menikah dengan Richard," kata Maudy yang berbalik mengerjai Steve.


Steve yang mendengar ucapan Maudy tampak terkejut, bagaimana mungkin wanita ini memiliki pemikiran yang aneh, padahal mereka sudah melakukan itu?


"Kau akan menikah Ricard, lalu kenapa kau melakukannya denganku?" Steve sedikit bangkit dari berbaringnya karena tak menyangka dengan apa yang diucapkan oleh Maudy.


Seberengsek-brengseknya Steve, dia tidak akan pernah menyentuh calon istri orang lain.


Maudy menarik tubuh Steve hingga lelaki itu kembali berbaring dengan sorot mata yang masih menyiratkan tanya. Alih-Alih menjawab kebingungan pria itu, Maudy malah memeluknya.


"Bagaimana jika aku menikah dengan Richard, tapi kau jadi kekasihku?" tanya Maudy membuat mata Steve benar-benar membulat.


"Maudy, sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan otakmu. Apa penculik kemarin melakukan sesuatu padamu, hingga kau seperti ini?" tanya Steve membuat Maudy tertawa.


Pada akhirnya, Maudy mengangkat tubuh lalu mengelus kemudian mencium seluruh wajah lelaki itu.


"Aku mencintaimu," ucap Maudy, "aku tidak pernah mencintai Richard, aku tidak pernah mencintai siapapun selain dirimu. Aku menerima Richard pun karena ingin melupakanmu."


Pada akhirnya, Maudy pun mengakui bahwa sebenarnya dia mencintai Steve membuat Steve benar-benar kehilangan kata. Lalu selama ini, untuk apa dia merasakan sakit jika ternyata Maudy mencintainya? Jika tahu seperti itu, akan lebih baik santai-santai saja sejak dulu, begitulah pikir Steve.


"Kenapa kau tidak mengatakannya dari dulu?" tanya Steve dengan wajah yang sedikit kesal.


"Aku masih takut, Steve." Secara tiba-tiba, wajah Maudy berubah sendu membuat Steve kini menggenggam tangan wanita itu.


"Kau mau apa?" tanya Maudy. Dia terpekik dengan apa yang di lakukan oleh Stev.


"Tenagaku masih banyak untuk mengulang hal tadi."


Belum Maudy berbicara, Steve sudah terlebih dahulu menyerang wanita ini hingga keduanya pun kembali melakukan hal sebelumnya.


***


Steve dan Maudy keluar dari kamar mandi dengan wajah keduanya yang tampak berseri-seri. Namun Maudy sedikit lebih malu untuk menatap pria itu.


Mungkin tadi, Maudy berani untuk mengatakan seluruh isi hatinya, tapi entah kenapa, setelah keluar dari kamar mandi wanuta itu merasa canggung.


Seperti saat ini, Maudy terus mengutak-atik ponsel ketika Steve memperhatikannya.


"Ke-kenapa kau menatapku begitu?" tanya Maudy terbata bahkan tanpa melihat ke arah lelaki itu.


"Wajahmu lucu sekali jika sedang memerah seperti ini," kata Steve.


"Tidak, wajahku tidak memerah," jawab Maudy membuat Steve tertawa.


Steve mengulurkan tangannya. "Ayo kita umumkan pada Momny dan Daddy tentang ini."


Maudy pun langsung menerima uluran tangan Steve, dan mereka segera keluar dari kamar. Ketika mereka membuka pintu rumah, tampak Richard yang hendak masuk dengan membawa sesuatu untuk wanita itu. Rupanya sedari tadi Richard belum pergi, dia menunggu di dalam mobil, kebetulan ketika dia masuk ternyata Maudy dan Steve turun dari tangga.


Tatapan mata Richard teralih pada tangan Maudy yang sedang digenggam oleh Steve, dan disadari oleh Stev, hingga Steve berniat melepaskan genggaman tangan Maudy, tapi Maudy menahannya.


Pemandangan di hadapannya ini membuat Richard tersenyum. "Pada akhirnya, kalian akan bersama juga. Selamat untukmu, Steve," kata Richard. Tidak ada sedikitpun raut marah di diri lelaki itu, dia sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun pada Maudy. Tapi setidaknya, dia lega ketika Maudy terlihat bahagia.


Faktanya, Richard memang tahu bahwa Steve mencintai Maudy. Karena dia pernah memergoki Steve menatap Maudy dengan tatapan berbeda. Namun saat itu, dia belum tahu bahwa ternyata kekasihnya pun membalas perasaan Steve.


Namun sekarang, Richard sudah melihat bahwa Maudy tidak pernah mencintainya, dan sekarang dia juga berbesar hati untuk melepaskan wanita itu karena tidak ingin lagi melibatkan Maudy dalam alur hidupnya. Dia tidak ingin membuat Maudy celaka.


"Maaf, aku ingin membatalkan pertunangan dan pernikahan kita, Maudy," kata Richard, "Terima kasih selama ini kau sudah baik pada Leana, aku harap kita masih bisa berteman."

__ADS_1


Steve kini menoleh pada Maudy kemudian mengembangkan senyumnya.


"Oh iya, aku ingin mengembalikan ini." Richard berniat mengembalikan cincin yang pernah diberikan oleh Steve yang merupakan kado pertunangan Maudy dengan Steve.


Maudy pun mengambilnya sembsri berkata, "Terima kasih Richard, semoga kau dan Matteo ...."


Maudy menggantungkan ucapannya ketika melihat ekspresi terkejut Richard dan Steve yang membuatnya gugup. "Tidak-Tidak, maksudku bukan begitu. Semoga kau bisa terus bersama dengan Matteo, karena aku melihat dia sebagai teman yang baik. Iya, 'kan?" tanya Maudy karena tidak ingin memperpanjang masalah.


Richard pun menggangguk. "Baiklah, sampai jumpa."


Richard pun berbalik kemudian keluar dari rumah Maudy. Setelahnya, wanita itu dan Steve melanjutkan langkah, hingga mereka pun tiba di rumah Steve.


Saat masuk, ternyata di sana sudah ada Elsa dan Nauder yang sedang duduk santai bersama-sama sembari melihat kolam ikan.


"Kalian dari mana? Apa kalian sudah bercocok tanam?" tanya Elsa membuat mata Steve dan Maudy membulat terkejut.


“Apa maksud Daddy?” tanya Steve dengan gugup, wajah mereka Langsung memerah saat mendengar ucapan Nauder.


“Tidak, Daddy pikir, di kamar kalian sedang ada hujan jadi siapa tahu kalian ..."


“Tidak, kami tidak melakukan apapun," jawab Maudy dengan gugup.


“Lehermu membuktikan semuanya, Maudy.” setiap memejamkan matanya, begitupun dengan Maudy membuat tawa Nauder dan Elsa meledak. Rasanya menggemaskan ketika melihat kedua orang ini sedang malu-malu.


“Kenapa kalian harus malu, Daddy dan Mommy pun lebih hot dari kalian." Elsa yang sedang berada di dekat Nauder langsung mencubit pinggang suaminya. Bagaimana mungkin suaminya berkata seperti itu di hadapan anak dan calon menantu mereka.


“Tidak usah dengarkan Daddy. Ayo cepat masuk, kalian belum makan bukan. Mommy rasa kalian lelah, karena baru saja bertarung." Maudy dan Stev benar-benar tidak bisa berkata-kata ketika kedua orang tuanya terus menggoda, hingga pada akhirnya Steve mengajak Maudy untuk masuk.


Ketika mereka masuk, langkahnya mereka dihadang oleh Geo, lelaki itu bersedikap menatap kedua orang tuanya. “Kenapa kalian berpegangan tangan?”; tanya Geo.


“Memangnya kenapa, apa tidak boleh?” tanya Steve lagi.


“Bukankah kalian tau aku tidak suka kalian menikah lagi?tanya Geo.


Stev menghela nafas, kemudian dia melepaskan genggaman tangannya dari Maudy. “Geo kami sudah membuat pilihan, kami akan bersama lagi. Pegang janji Daddy, Daddy tidak akan pernah mengecewakan Mommy, kami akan terus baik-baik saja," kata Steve lagi yang berusaha memberikan pengertian pada Geo, dia mengerti betul Bagaimana ketakutan putranya


“Tidak masalah kan jika kami kembali," kali ini Maudy yang berbicara, Geo tampak berpikir


“Memangnya jika aku melarang kalian akan membatalkan pernikahan kalian?” tanya Geo, lelaki itu pun berbalik membua Steve dan Maudy menggeleng. Tapi, Stev dan Maudy tau, bahwa Geo tidak masalah dengan pernikahan mereka


“Ayo kita makan," kata Stev, mereka pun melanjutkan langkahnya dan berjalan ke ruang makan. Steve menarik kursi untuk Maudy dan dia pun menuangkan juga makanan untuk calon istrinya.


“Kau lapar?” tanya Stev ketika Maudy terlihat sangat lahap.


“Hmm, aku sangat lapar, kau menguras tenagaku. Bagaimana mungkin kau melaku ....” Tiba-tiba Stev membekap mulut Maudy, karena Maudy hampir saja berbicara yang tidak-tidak membuat Maudy langsung membulatkan matanya, dia tersadar dengan apa yang dia ucapkan.


“Jangan membahas ini di sini, malu jika didengar orang lain," ucap Stev, hingga Maudy pun mengangguk-nganggukkan kepalanya, kemudian Steve melepaskan bekapan mulutnya dari calon istrinya.


“Kalian berbicara malu tapi kalian tidak mengingat bagaimana suara kalian yang begitu nyaring sampai terdengar keluar kamar.” tiba-tiba Januar berbicara dari arah belakan, membuat Stev dan Maudy menoleh mereka memejamkan matanya menahan malu yang luar biasa, mereka terlalu bersemangat hingga akhirnya suara mereka terdengar.


Januar tergelak saat menatap wajah keduanya ketika malu-malu, Januar pun langsung menepuk bahu Steve dan berbicara “Lain kali jika ingin melakukannya kau harus memasang alat kedap suara di kamarmu,” kata Januar lagi, dia mengambil jus dari meja makan kemudian tertawa lalu meninggalkan ruang makan.


“Ini semua gara-garamu, Stev,” kata Maudym


“Ini juga gara-garamu, kau yang terlalu bersemangat,” jawab Stev yang tidak mau kalah.


“Sudah cepat makan, kenapa terus kalian berdebat," kata Elsa lagi yang ternyata menyusul masuk hingga pada akhirnya kedua insan pun langsung memakan makanan mereka.


Richard turun dari mobil, dia langsung berjalan ke arah rumah. Mata Richard membulat saat melihat ada mobil kedua orang tuanya, dengan cepat dia pun langsung berlari. Sepertinya orang tua Richard ingin menanyakan kepastian tentang hubungan Richard dengan Maudy, dan dia takut Leana mengatakan sesuatu pada kedua orang tuanya.


“ Mommy Daddy!” panggil Richard. Savana dan juga Andre menoleh, mereka menatap putranya lalu menggeleng. Rupanya Leana benar-benar sudah memberitahukan pada kakek dan neneknya, bahwa sampai sekarang Richard dan Mateo masih berhubungan karena selama ini Ricard mengatakan pada kedua orang tuanya, bahwa dia sudah tidak berhubungan lagi dengan Mateo.


“Duduk, Daddy ingin berbicara denganmu?” kata Andrew, tatapan Richard langsung teralih pada Leana, dia tidak mungkin memarahi putrinya.


“Bukankah Daddy sudah melarangmu untuk terus melakukan hal gila?” tanya Andrew, kali ini dia masih berusaha untuk meredam emosinya.


“Bagiamana jika semua tahu tentang apa yang kau lakukan, Kau hanya akan mencoreng ...."


“Apa ini salahku?”! tiba-tiba Andre berbicara. apa kalian tidak ingat kenapa aku menjadi seperti ini? tanya Andre lagi.

__ADS_1


__ADS_2