
"Dad, bagaimana, apakah sudah mendapatkan info tentang Leana?" Maudy kembali bertanya saat melihat Steve terdiam, hingga membuat Steve tersadar. Dia mencoba memutar otak untuk menenangkan Maudy. Dia hanya ingin bergerak sendiri agar semuanya cepat berakhir, sebab jika semuanya tahu hanya akan mempersulit pencariannya.
"Baik-Baik saja, Sayang. Tadi aku menelepon Tuan Andrew, beliau mengatakan bahwa tadi sebelum terbang, Leana sempat menelepon mereka dan mengatakan bahwa ponsel Leana powerbank-nya mati, dan chargernya rusak. Jadi, Leana tidak sempat untuk mengaktifkan lagi ponselnya," jawab Stev dengan gugup.
Maudy menatap Steve lekat-lekat, mencari kejujuran di mata suaminya. Entah kenapa, Maudy merasakan ada yang berbeda. Steve berbicara tidak menatapnya, jika sudah seperti ini Maudy yakin ada yang disembunyikan oleh suaminya.
"Dad, apakah kau menutupi sesuatu dariku?" tanya Maudy, menatap suaminya dengan tatapan menyelidiki membuat Steve berusaha menormalkan ekspresinya.
"Oh Sayang, kenapa aku harus menyembunyikan sesuatu? Memangnya apa untungnya? Leana memang benar pergi ke Kanada. Jika kau tidak percaya, aku telepon saja Tuan Andrew," ucap Steve lagi. Jantung lelaki itu berdebar dua kali lebih cepat, karena takut Maudy menyetujui ucapannya menelpon Andre yang tak lain kakek Leana.
Helaan napas terlihat dari wajah cantik Maudy, hingga sepertinya dia pun sedikit percaya pada suaminya. "Ya sudah kalau begitu," ucap Maudy.
Akhirnya, Maudy bisa bernapas dengan lega. Dia pun memutuskan untuk berbaring, apalagi waktu sudah sangat malam membuat Steve menghela napas karena istrinya percaya padanya. Dia pun langsung mengikuti Maudy untuk ikut berbaring.
Steve memejamkan matanya, tapi wajahnya sangat terlihat gelisah. Beberapa kali dia mengintip, ternyata Maudy masih anteng dengan ponselnya karena setelah Maudy tidur, dia akan kembali ke ruang kerjanya untuk memantau anak buahnya.
"Kau kenapa? Aku tahu kau tidak tertidur," ucap Maudy. Rupanya, sedari tadi dia merasakan bahwa Steve terus mengintip.
"Aku ingin mengerjakan sesuatu di ruang kerja. Kau tidak apa-apa aku tinggalkan sendiri?" tanya Steve, sebab Maudy paling tidak mau ditinggalkan ketika malam.
"Tidak boleh. Kerjaan nanti saja. Ini rumah bukan kantor," omel Maudy hingga Steve maju kemudian dia memeluk istrinya.
***
Geo masuk ke dalam kamar, ternyata Claudia masih dalam posisi semula, yaitu menutup sejujur tubuhnya dengan selimut dan juga meringkuk dengan bahu yang gemetar. Sepertinya wanita cantik itu masih menangis.
Claudia benar-benar hancur. Bagaimana tidak, padahal mereka hanya tinggal selangkah lagi untuk saling memiliki seutuhnya, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Ekspektasinya terlalu tinggi hingga saat tidak sesuai realita, Claudia jatuh dan hancur sehancur-hancurnya. Dia terlalu malu menatap Geo, apalagi dia barusan bertindak sangat agresif.
Geo mengusap wajah kasar, kemudian dia mendudukkan diri di sebelah Claudia, lalu mengelus rambut wanita itu hingga Claudia menoleh. Namun, dengan cepat Claudia kembali memalingkan tatapannya ke arah lain karena dia enggan melihat Geo.
"Maafkan aku, Claudia," ucap Geo.
"Kenapa kamu menikahiku jika hanya untuk seperti ini, Geo?" tanya Claudia. Dia berusaha untuk membuat Geo merasa bersalah.
Geo menggigit bibirnya. "Maafkan aku," ucapnya. Dia tidak bisa menjawab selain kata maaf.
Cukup itu yang bisa lelaki itu katakan, membuat Claudia ingin sekali menampar suaminya.
"Maafkan aku. Aku berjanji aku akan melakukan semuanya, tapi tolong beri aku waktu," jawab Geo. Pada akhirnya, itulah kata-kata yang dikeluarkan oleh Geo. Tentu saja Geo tidak berniat melakukan itu. Dia mengatakan itu hanya untuk menenangkan Claudia.
Namun, bukannya berhenti menangis, Claudia malah semakin mengencangkan tangisnya membuat Geo semakin panik. "Claudia, jangan menangis seperti itu, Mommy dan Daddy bisa mendengarkanmu. Nanti aku yang disalahkan," ucap Geo hingga Claudia menggigit selimut agar tangisnya tidak terdengar.
Setelah tangis Claudia mulai mereda, Geo menggerakkan tangannya kemudian dia mengelus rambut Claudia. "Maafkan aku, Claudia. Aku berjanji, jika aku sudah siap, aku sendiri yang akan mengajakmu untuk bercinta," kata Geo. Ketika mengatakan "bercinta", hati Geo terasa aneh. Dia seolah mengkhianati dirinya sendiri, sehingga Claudia menoleh, wanita itu mengubah posisinya hingga menghadap ke arah Geo. Dia menggeser tidurnya.
"Peluk aku," kata Claudia.
Geo menghela napas kemudian menghembuskan. Lelaki itu langsung membuka kausnya, hingga kini bertelanjang dada dan berbaring di sebelah Claudia, lalu setelah itu Claudia berhambur memeluknya.
Claudia menarik tangan Geo dan menyimpan di kepalanya, mengisyaratkan agar Geo mengelus rambutnya. Ada yang aneh di hati Geo ketika dia mengelus rambut Claudia seolah mengingkari apa yang dia lakukan. Dia mengelus rambut Claudia dengan perasaan yang hampa, yang ada di pikirannya adalah Leana, Leana dan Leana.
Geo tidak boleh terus seperti ini. Tidak boleh terus mengkhawatirkan Leana, karena pasti Leana akan kembali dan setelah itu dia akan kembali memanas-manasi wanita itu, membuat Leana menyesal telah menolaknya.
Setelah cukup lama mengelus rambut Claudia, Geo menghentikan gerakannya. Lelaki itu sedikit menjauh dari tubuh istrinya, kemudian dengan pelan Geo berbalik lalu turun dari ranjang. Setelah itu, dia pelan-pelan keluar dari kamar, memutuskan untuk tidur di kamar tamu.
__ADS_1
Di sinilah Geo berada. Bukannya tidur di kamar tamu, dia malah tidur di kamar Leana, seolah ada yang menuntun langkahnya untuk kembali ke kamar wanita yang dia cintai, padahal tadi dia sudah berniat untuk tidur di kamar tamu.
Geo masuk ke dalam, kemudian lelaki itu berjalan ke arah ranjang, dan dengan cepat dia membanting tubuhnya. Lalu setelah itu menggapai bantal yang selalu dipakai oleh Leana. Wangi rambut Leana masih tercium di bantal tersebut, hingga Geo terus menghirupnya dan tanpa sadar lelaki tampan itu terlelap.
***
Setengah jam berlalu, Claudia membuka kamar Leana. dia hanya mampu tersenyum getir ketika melihat suaminya tidur di kamar wanita lain. Ya, Claudia memang sempat tertidur, tapi saat Geo turun dari ranjang, dia terbangun dan dia mengikuti langkah suaminya.
Claudia kembali ke kamar, mengganti pakaiannya dan setelah itu dia kembali ke kamar Leana. Namun, dia tidak berani masuk karena takut Geo masih terbangun, dan setelah setengah jam menunggu, akhirnya Claudia masuk ke dalam kamar dan ternyata Geo sudah tertidur.
Claudia melihat kamar Leana. Kamar itu didominasi warna ungu. Tampak sederhana, tapi terlihat nyaman. Tampak biasa saja, tapi sangat terlihat elegan.
'Leana, bisakah kau tak usah kembali ke sini? Bisakah kau jangan menghantui pernikahanku lagi?' Claudia membatin. Dia berharap Leana tidak akan kembali lagi ke rumah ini, dan tanpa dia sadari harapannya terwujud. Leana memang tidak akan kembali lagi ke rumah keluarga suaminya.
Setelah cukup lama menatap punggung Geo, Claudia maju kemudian berjalan ke arah ranjang. Lalu setelah itu, dia menarik selimut kemudian menyelimuti tubuh suaminya, karena Geo bertelanjang dada. Wanita itu mematikan AC kemudian mematikan lampu, lalu setelah itu keluar dari kamar Leana dan berjalan ke kamarnya sendiri.
***
Malam berganti pagi. Geo terbangun dari tidurnya ketika sinar matahari mulai menelusup ke kamar Leana. Dia mengerjapkan pandangannya, dan tak lama mata Geo terbuka. Dia melihat Claudia sedang tersenyum padanya.
"Cla-Claudia," panggil Geo dengan terbata. Dia merasa tidak enak karena dia tidur di sini.
Claudia tersenyum. "Sudah siang, ayo kita ke kampus. Kita, 'kan, ada kelas," jawab Claudia membuat Geo berdeham.
Geo tahu senyuman Claudia bukan senyuman seperti biasa, melainkan senyuman penuh luka, hingga Geo hanya mampu mengangguk. Lalu setelah itu, Geo pun turun dari ranjang dan keluar dari kamar Leana, diikuti oleh Claudia.
***
Geo menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tidak ada yang berbicara di dalam mobil itu. Claudia terdiam, begitu pun dengan Geo. Suasana canggung mendera keduanya, terlebih lagi setelah Claudia menyusul Geo tadi pagi ke kamar Leana.
"Kau rindu Leana?" Tiba-Tiba Claudia berbicara membuat Geo tersadar. Dia dengan cepat menoleh lalu menggeleng.
"Tidak," jawab Geo. Sepertinya, Claudia benar-benar mempunyai indera keenam, di mana wanita itu selalu bisa menebak pikiran Geo, dan tak lama terdengar suara klakson dari arah belakang. Lampu sudah berubah menjadi hijau, hingga Geo langsung menyalakan dan menjalankan mobilnya kembali.
Setelah melewati perjalanan yang cukup jauh, mobil yang dikendarai oleh Geo sampai di kampus.
"Claudia," panggil Geo hingga Claudia menoleh.
Geo merogoh saku kemudian mengambil dompet. Lalu setelah itu dia mengeluarkan beberapa kartu untuk Claudia. "Pakailah ini untuk berbelanja. Ini sama sekali tidak ada limit. Ini tidak terbatas, kau boleh membeli apapun," ucap Geo.
Mata Claudia berbinar saat melihat kartu di depannya, American Express. Kartu yang sangat sulit untuk didapatkan, dan hanya orang-orang tertentu saja yang mendapatkannya, dan sekarang dia mendapatkan itu dari suaminya.
"Terima kasih, Geo," jawab Claudia.
Geo mengangguk. Dia bisa melihat raut wajah ceria dari istrinya, setidaknya ini mengurangi rasa bersalah Geo dan pada akhirnya, mereka pun turun dari mobil dan masuk ke dalam kampus.
***
Leana mematut di cermin. Wanita itu sudah rapi memakai pakaian formal. Dia akan mulai bekerja pada hari ini, di mana dia menjadi staff di kantor kosmetik tersebut.
Setelah merasa tampilannya sudah rapi, Leana langsung mengambil tas kemudian wanita itu berjalan ke arah luar Saat akan keluar dari kamar, Leana menghentikan langkahnya sejenak karena merasa keram di perutnya, dan setelah keram mereda Leana
turun dengan pelan sambil memegang perutnya, dan setelah itu dia keluar dari rumah.
__ADS_1
Di sinilah Leana berada, di sebuah pabrik kosmetik yang menyatu dengan sebuah kantor, di mana dia akan memulai bekerja menjadi staff. Tugas Leana cukup mudah. Dia hanya menginput data dan juga memastikan barang yang masuk dan barang yang keluar.
"Selamat siang, Madam," kata Leana ketika dia sampai di resepsionis.
"Oh, Anda Nona Leana," ucap resepsionis tersebut.
“Ia madam, saya Leana.”
“Silahkahkan, aku akan tunjukkan ruanganmu."
Leana mengangguk. Rasa gugup langsung menghinggapinya. Walau bagaimanapun Ini pertama kalinya dia bekerja, dan dia takut kemampuannya tidak maksimal.
"Oh ya ini ruangan Anda, dan nanti siang akan ada pemimpin perusahaan yang kemari. Tolong siapkan beberapa sampel yang keluar dari pabrik ini. Nanti, ada bagian data yang mengantarkannya kemari," kata resepsionis tadi hingga Leana mengangguk.
"Baik Madam," ucap Leana. Dia masuk ke dalam ruangan. Ruangan itu hanya ada satu kursi, yaitu kursi Leana saja, sedangkan kursi karyawan dan staff lain ada di ruangan yang berbeda. Ruangan Leana dekat dengan ruangan sekretaris dan ruangan CEO perusahaan tersebut, tapi walaupun begitu, CEO perusahaan tersebut jarang sekali mengunjungi pabrik tempat Leana bekerja.
***
Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Leana langsung menghentikan aktivitasnya yang sedang meneliti sampel. Dia langsung merapikan tampilannya karena sebentar lagi, akan ada CEO yang datang ke pabrik dan dia harus menyerahkan berapa sampel yang sudah dia teliti, dan juga beberapa data yang keluar.
Saat dirasa tampilannya rapi, Leana langsung bangkit dari duduknya. Dia berencana menunggu di depan lift.
Leana melihat jam di pergelangan tangannya. Ini sudah lima belas menit berlalu, tapi CEO perusahaan itu belum juga sampai.
Saat dia berbalik dan memilih untuk menunggu di ruangannya, Leana menghentikan langkahnya kemudian dia menegakkan tubuhnya karena terdengar lift berhenti dan sedetik kemudian, pintu lift terbuka.
"Selamat siang, Tuan," sapa Leana.
Aaron dan sekretarisnya yang akan keluar dari lift, menoleh. Dia mengerutkan keningnya saat melihat ada seorang gadis yang menyapanya.
"Siapa dia?" tanya Aaron pada sekretarisnym
"Kau siapa?" tanya Larry, sekretaris Aaron.
"Staff yang baru bergabung, Tuan," jawab Leana
Aaron melihat Leana dari bawah sampai ke atas, membuat Leana dilanda kegugupan, sebab dia tidak mengerti tatapan Aaron. Entah tatapan Aaron sinis, ataupun menatapnya dengan tatapan biasa. Namun yang pasti, dia merasa aura Aaron begitu berbeda. Sangat dingin, tapi berkharisma. Namun, sangat menakutkan.
Aaron tidak berbicara lagi. Lelaki itu berbalik kemudian berjalan ke ruangannya, hingga kini menyisakan Larry dan Leana.
"Jadi, kau baru bergabung di sini?" tanya Larry.
"Iya, Tuan," jawabnya.
"Ya sudah, ayo ikut aku. Bawa semua sampel," kata Larry hingga Leana mengangguk.
Leana kini berdiri di depan ruangan Aaron. Rasanya, wanita itu begitu ragu untuk mengetuk. Di tangannya sudah ada beberapa berkas yang dia teliti, dan akan dia perlihatkan pada Aaron.
Sepuluh menit kemudian, akhirnya Leana memberanikan diri mengetuk pintu, kemudian wanita itu langsung masuk ketika mendapat sahutan dari dalam. Jantung Leana berdebar dua kali lebih cepat saat melihat Aaron duduk di singgasananya.
Seperti tadi, aura Aaron begitu kuat berkharisma, tapi menakutkan hingga Leana rasanya tidak mampu mengangkat kepalanya. Dia juga ragu untuk menatap bosnya.
"Bawak kemari," ucap Aaron. Bahkan suaranya saja terdengar sangat menawan di telinga Leana, hingga Leana tersadar kemudian wanita itu berjalan ke arah meja Aaron, lalu menyimpan berkas di meja bosnya.
__ADS_1
"Apa ada yang perlu saya lakukan lagi, Tuan?" tanya Leana. Dia memberanikan diri bertanya.
Aaron menyadarkan tubuhnya ke belakang, lagi-lagi lelaki itu menatap Leana dengan tatapan aneh, hingga Leana menunduk. Sementara Aaron, sepertinya sedang memikirkan sesuatu tentang wanita ini.