
Aaron membaringkan tubuhnya di samping Leana, kemudian dia memeluk Leana dari belakang lalu mengurus perut istrinya. "Terima kasih, Sayang, sudah memberikan aku kesempatan lagi," ucap Aaron.
Leana tidak menjawab, wanita cantik itu tetap diam. Walaupun dia memberikan kesempatan pada Aaron, tapi tetap saja rasanya begitu menyakitkan hingga dia hanya mampu mengatupkan bibirnya.
Aaron melepaskan pelukannya, kemudian dia menarik lembut bahu Leana hingga Leana kini menoleh, lalu setelah itu Aaron menarik tangan Leana, hingga kini posisi mereka berhadap-hadapan.
Aaron mengelus pipi Leana, hingga dengan cepat Leana langsung menyingkirkan tangan Aaron dari pipinya.
"Aku memang memberikanmu kesempatan, tapi bukan berarti aku memaafkanmu sepenuhnya. Kau mengerti, 'kan, maksudku?" tanya Leana.
"Aku mengerti," jawab Aaron. Ini seperti bukan Aaron yang selama ini terlihat, di mana tampak arogan, tegas dan tidak pernah mau mengalah dengan siapa pun. Namun sekarang, Aaron seperti lelaki yang tidak berdaya yang menunggu maaf dari istrinya.
"Ya sudah, nanti sore kita pulang. Kita pergi ke rumah bibiku," ucap Aaron.
Leana tidak menjawab, wanita itu kembali berbalik membelakangi Aaron hingga Aaron memeluk Leana dari belakang. Tangannya tidak henti-hentinya mengelus perut Aaron, sedangkan Leana baru terpikirkan sesuatu lalu tersenyum getir.
"Apa setelah anak ini lahir, sikap kau akan menyakiti Yuma dan Yumi lagi?" tanya Leana.
Aaron dengan cepat bangkit dari berbaringnya hingga kepalanya melihat pada wajah Leana. "Tidak, Sayang. Mana mungkin? Mereka adalah putriku, mana mungkin aku membedakan mereka," ujarnya.
Rasanya, ucapan Aaron begitu menyakitkan jika mengingat tentang Aaron yang menyuruh Yuma dan Yumi memanggilnya 'paman', hingga sekarang Leana sama sekali tidak tersentuh dengan ucapan suaminya.
"Aku mengantuk. Jangan ganggu aku, aku ingin tidur," ucap Leana hingga Aaron pun kembali merebahkan kepalanya di bantal kemudian terus mengelus perut istrinya.
***
"Yumi, kau ini kenapa? Bukankah sudah kubilang, jangan pernah menganggap dia ada? Lalu kenapa kau memaafkannya dan memanggil dia 'daddy' lagi?" tanya Yuma yang langsung emosi pada Yumi ketika Aaron meninggalkan kamar yang ditempati oleh mereka.
Yumi melihat ke arah Yuma. "Yuma, jika kau tidak ingin baik pada Daddy, ya sudah. Itu, 'kan, urusanmu, bukan urusanku. Kenapa kau juga melarang-larang aku?" tanyanya menantang.
"Yumi, kau ini kemarin menurut padaku, tapi sekarang kenapa tidak?" sindirnya.
"Karena aku masih menyayangi Daddy. Terserah jika kau ingin terus seperti ini," kata Yumi.
"Yumi, aku ingin menjambak rambutmu," kata Yuma.
"Jambak saja, aku masih mempunyai Daddy," ucapnya. Setelah itu, Yumi pun langsung turun dari ranjang karena dia takut dengan ancaman sang kakak, sebab Yumi tahu bagaimana jika kakaknya mengamuk.
"Terserah saja," kata Yuma. Dia pun langsung membaringkan kembali tubuhnya di ranjang, lalu menutup sekujur tubuhnya dengan selimut. Sebenarnya, ada rasa iri terhadap Yumi, di mana dia juga ingin bertingkah seperti sang adik yang bisa langsung bisa memaafkan sang ayah, tapi entah kenapa itu semua terhalang oleh gengsi, hingga ia enggan bersikap seperti Yumi.
"Tidak, aku tidak akan pernah memaafkannya. Aku tidak akan pernah mengakuinya," kata Yuma. Dia terus bergumam mengatakan kata-kata yang sama, tapi hatinya berkata lain.
***
Waktu menunjukkan pukul empat sore. Pada akhirnya, Leana setuju untuk keluar dari hotel ini dan tinggal di rumah bibi, apalagi bibinya sudah menunggu di sana.
"Yumi, mana Yuma?" tanya Leana ketika Yumi sedang berada di sofa.
"Yuma tidak mau keluar, Mommy," ucapnya.
"Aku akan membujuk Yuma terlebih dahulu," ucap Leana pada Aaron. Dia bisa saja berbicara pada suaminya, tapi tatapan matanya masih sama. Dia menatap Aaron dengan raut wajah yang dingin, hingga Aaron mengangguk.
"Daddy," panggil Yumi.
Aaron langsung menghampiri Yumi, kemudian dia menggendong tubuh putrinya. Dia benar-benar bersyukur Yumi mau memaafkannya, setidaknya bebannya tidak terlalu berat. Tidak terbayangkan jika Yumi tidak mau memaafkannya. Mungkin, Yumi menuruni sifat Leana, sedangkan Yuma menuruni sifat Geo yang keras kepala dan tidak mau mengalah pada siapa pun.
Aaron membawa Yumi ke sofa, lalu setelah itu dia mendudukkan dirinya di sana dan mendudukkan Yumi di atas pangkuannya. "Kau rindu pada Daddy?" tanya Aaron.
"Aku sangat rindu, tapi Yuma selalu memarahiku jika aku membahas Daddy. Oh ya, apa kau tahu, aku dibelikan boneka yang banyak sekali oleh kakek. Apa nanti aku boleh membeli boneka lagi?" tanya Yumi.
"Tentu, Sayang. Kau boleh membeli apapun yang kau mau, bahkan satu toko boneka pun akan Daddy belikan untuk kalian. Tapi, Daddy minta tolong," ucap Aaron.
"Apa?" tanya Yumi.
"Tolong selalu bujuk Yuma untuk memaafkan Daddy agar kita bisa bermain bersama-sama," kata Aaron.
"Tentu, tapi aku tidak yakin. Dia keras kepala. Dia selalu saja memarahiku jika aku berbicara," ucap Yumi lagi yang seperti mengadu pada Aaron, hingga Aaron terkekeh.
Aaron kembali membawa Yumi ke dalam pelukannya. Tuhan benar-benar memberikan berkat pada Aaron, di mana ternyata dia masih diberikan kesempatan untuk menebus kesalahannya, walaupun dia tahu Leana pasti akan berubah dan tidak akan seperti dulu, tapi itu lebih baik daripada dia kehilangan ketiga orang yang disayangi.
__ADS_1
***
Leana masuk ke dalam kamar. Wanita itu menggeleng ketika melihat Yuma yang masih berbaring, sedangkan Yuma langsung menoleh ketika melihat pintu terbuka.
"Mommy, jika ingin pergi dengan dia, pergi saja. Aku akan pergi dengan kakek," kata Yuma.
Melihat sikap Yuma seperti ini, mengingatkannya pada Geo dan ketika teringat Geo, dia teringat lagi sesuatu. 'Geo mungkin suatu saat aku akan memberitahukan kepadamu bahwa Yuma dan Yumi memang anakmu, tapi tentu saja itu setelah hubunganmu dan Claudia membaik. Aku yakin suatu saat kau bisa membuka hatimu untuk Claudia.' Leana membatin kemudian dia pun melanjutkan langkahnya, lalu menghampiri Yuma.
"Yuma," panggil Leana. Dia mengelus rambut Yuma.
"Jangan pegang," kata Yuma.
"Tolong jangan seperti ini, Nak," ucap Leana lagi.
"Lalu, aku harus bagaimana? Bukankah saat itu Paman Aaron mengusir kita?!" Yuma berteriak, untuk pertama kalinya dia menaikkan nada bicaranya pada sang ibu. Sementara Leana, dia tetap sabar. Dia mengelus rambut Yuma.
"Mommy tahu kau masih menyayangi Daddy. Kau hanya marah padanya. Mommy mengerti keinginanmu, jadi Mommy akan mengikuti apapun yang kau katakan. Kau ingin pergi dari sini tanpa dia, 'kan?" tanya Leana.
Sepertinya, Leana tidak bisa membujuk Yuma dengan baik-baik, hingga akhirnya dia membujuk Yuma dengan cara ini, karena dia yakin sebenarnya Yuma hanya gengsi.
Mendengar ucapan Leana, itu memang sudah terbukti benar ketika Yuma terdiam saat Leana mengatakan tidak akan lagi bersama Aaron, membuat Leana diam-diam tersenyum.
"Ya sudah ayo kita pamit padanya, kita pergi bersama kakek dan kita tidak akan lagi kembali ke sini," ucap Leana. Dia bangkit dari duduknya.
"Ya sudah ayo kita pergi. Jika bukan karena Yumi, aku tidak mau ikut lagi dengannya," kata Yuma yang langsung turun dari ranjang, kemudian dia keluar dari kamar membuat Leana terkekeh.
"Tuhan, semoga langkahku tidak salah," lirih Leana. Dia melihat ke arah bawah, lalu mengelus perutnya, memikirkan ini semua kehendak Tuhan.
"Kau akan bisa menikmati kasih sayang seorang ayah, sama seperti kedua kakakmu dulu," ucap Leana lagi. Setelah itu dia pun langsung menyusul Yuma untuk keluar.
"Yumi," panggil Yuma ketika dia sudah berada di sofa, hingga Aaron langsung menoleh. Aaron langsung menurunkan Yumi dari pangkuannya, kemudian dia langsung menghampiri Yuma.
"Jadi, kau ikut pulang bersama Daddy?" tanya Aaron.
Yuma tidak menjawab. Dia malah menghampiri Yumi lalu menarik tangan sang adik kemudian keluar dari kamar hotel membuat Aaron menggeleng.
Hening, tidak ada yang berbicara di dalam mobil. Leana duduk di belakang bersama Yuma yang memalingkan tatapannya ke arah lain, sedangkan Yumi yang duduk di depan, memainkan ponsel Aaron, melihat video di YouTube sang ayah karena memang sedari dulu, Yumi sering menggunakan ponsel Aaron karena mereka masih belum di berikan ponsel oleh Leana.
Ketika melihat Yumi memegang ponsel sang ayah, Yuma mencuri-curi pandang ke arah adiknya. Dalam benak gadis kecil itu, tentu saja dia ingin melakukan seperti Yumi, tapi semuanya terhalang gengsi.
Sementara Leana, tatapannya ke arah jendela. Perasaan Leana begitu mengambang. Dia ingin menjalani semua seperti air, tapi dia teringat semuanya. Ingin melupakan pun rasanya sulit.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Aaron sampai di rumah bibinya, rumah yang juga sama mewahnya dengan rumah yang ditempati Aaron kemarin.
Yumi berteriak ketika melihat Ana ada di depan. Gadis kecil itu langsung turun dari mobil kemudian berlari ke arah Ana hingga Ana menekuk kakinya, menyetarakan diri dengan Yumi.
"Cucu Nenek, Nenek rindu sekali denganmu," kata Ana. Tak lama, Ana melihat ke arah Leana dan Yuma yang berjalan ke arahnya, sedangkan Aaron masih berada di belakang untuk membereskan koper dan juga menunggu Steve yang tadi ikut memakai taksi.
"Bibi," panggil Leana.
Seketika Leana langsung memeluk Ana. Entah kenapa, dia ingin memeluk wanita paruh baya itu dan sedetik kemudian, Leana menangis sesenggukan di pelukan Ana.
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang terjadi," ucap Ana sambil membelai punggung Leana. Setelah itu, Leana langsung melepaskan pelukannya.
"Halo Yuma, kenapa kau tidak memeluk Nenek?" tanya Ana. Dia menekuk kakinya, menyejajarkan diri dengan Yuma.
"Halo Nenek," sapa Yuma.
Ana mengerutkan keningnya saat melihat reaksi Yuma, hingga dia langsung menoleh ke arah Leana. "Nanti aku akan menjelaskannya Bibi,” jawab Leana.
Ana yang mengerti tentang Leana, langsung mempersilahkan Yuma dan Yumi serta Leana untuk masuk.
***
Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Suasana ruang makan begitu hening, semua makan dengan tenang termasuk Yuma dan Yumi. Sesekali, Yumi meminta Aaron untuk memotong makanan yang ada di piring, sedangkan Yuma sedari tadi mencuri-curi pandang ke arah Yumi. Rasanya, dia ingin sekali menjambak rambut sang adik.
Sejatinya, Yuma ingin juga seperti Yumi yang mendekat ke arah Aaron, tapi tentu saja dia masih terhalang amarah hingga itu sebabnya, dia hanya bisa menatap Yumi dengan kesal. Sementara Leana, fokus dengan makanannya.
Akhirnya, acara makan pun selesai. Ana sudah pergi ke kamar, begitu pun dengan Steve yang juga sudah pulang karena Steve memutuskan untuk pulang ke rumah, karena ingin bertemu dengan Rea secepatnya.
__ADS_1
"Ayo kita pergi ke kamar," ucap Aaron saat Leana bangkit dari duduknya. Leana tidak menjawab, dia hanya mengikuti langkah Aaron lalu setelah itu mereka pun masuk ke dalam.
Leana langsung membaringkan tubuhnya di ranjang dengan posisi meringkuk membelakangi, sedangkan Aaron memutuskan untuk pergi ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan dirinya.
Dua puluh menit kemudian, Aaron keluar dari kamar mandi. Lelaki itu sudah rapi memakai piyama dan ternyata saat dia keluar, Leana sudah tidak membelakanginya lagi. Wanita itu tertidur sambil telentang. Rupanya, Leana sudah terlelap. Wanita itu sepertinya sangat kelelahan, karena selama berpisah dengan Aaron, Leana jarang sekali tertidur.
Saat malam, dia menghabiskan waktunya untuk berdoa dan untuk merenungi semuanya. Itu sebabnya ketika sekarang saat dia tidak mengkhawatirkan apapun lagi, dia langsung terlelap melampiaskan waktu tidur yang berkurang.
Aaron melemparkan handuk ke sofa, kemudian dia berjalan ke arah ranjang lalu setelah itu dia duduk di samping istrinya. Aaron sedikit membuka piyama istrinya untuk melihat perut Leana, kemudian dia mencium perut wanita yang sangat dia cintai hingga tanpa sadar bulir bening langsung terjatuh dari peluk mata Aaron.
"Terima kasih, terima kasih sudah ada di rahim Mommy," kata Aaron. Setidaknya, anak yang ada di dalam kandungan Leana adalah penguat cintanya dengan sang istri, mengikat Leana agar terus berada di sampingnya.
Setelah cukup puas menatap Leana yang sedang terlelap, Aaron pun langsung menaikkan kakinya kemudian berbaring di sebelah istrinya. Bukannya memejamkan mata, Aaron malah menatap wajah Leana, menikmati pemandangan yang sangat indah, karena Aaron paling suka ketika melihat Leana hingga pada akhirnya Aaron memejamkan matanya dan berusaha untuk terlelap.
***
Malam berganti pagi. Aaron terbangun ketika sinar matahari menelusup ke dalam kamar. Dia mengucek matanya, lalu setelah itu menoleh ke arah jam, ternyata waktu menunjukkan pukul delapan pagi.
Leona sudah tidak ada di sampingnya. Seketika, rasa was-was mendera Aaron. Bagaimana jika Leana, Yuma dan Yumi pergi secara diam-diam? Lelaki tampan itu langsung bangkit dari berbaringnya, kemudian dia berlari ke arah luar.
Namun tak lama, Aaron menghela napas. Ternyata, terdengar suara Leana yang sedang mengobrol dengan sang bibi. Lelaki itu pun memutuskan untuk berbalik, kemudian kembali ke kamarnya untuk menyegarkan diri.
Setengah jam kemudian, Aaron keluar dari kamar berniat untuk menghampiri istrinya. Namun, dia mengerutkan keningnya kala Leana tidak ada di mana pun, padahal setengah jam lalu istrinya sedang ngobrol bersama sang bibi.
"Bibi, apa kau melihat Leana?" tanya Aaron ketika melihat bibinya sedang ada di taman.
"Oh, mungkin sedang ada di balkon," jawab Ana.
"Lalu Yuma dan Yumi?" tanyanya.
"Mereka sedang berenang bersama pelayan. Sudah, biar Yuma dan Yumi bersama pelayan. Kau dekati saja Leana," jawab Ana hingga Aaron mengangguk.
Lelaki itu pun langsung berjalan ke arah balkon, dan benar saja, ternyata ada Leana di sana yang sepertinya sedang menikmati udara sejuk di pagi hari. Aaron pun berjalan dengan pelan kemudian memeluk Leana dari belakang hingga bahunya berjingkat.
"Kau mengagetkanku," ucap Leana.
Aaron terkekeh, tapi kekehan Aaron berubah saat Leana menghempaskan tangan Aaron dari pinggangnya. "Jangan seperti ini," kata Leana hingga Aaron maju dan menyejajarkan dirinya dengan sang istri.
"Apa kau suka rumah ini, atau kau ingin tinggal di rumah yang lain?" tawar Aaron.
"Tidak, aku suka," jawab Leana dengan singkat, padat dan jelas membuat Aaron menghela napas kemudian berbalik dan menyandarkan tubuhnya ke tembok.
"Apa kau tidak mengidam sesuatu? Apa anak kita ingin makanan aneh atau sejenisnya?" tanyanya lagi.
"Tidak, dia tidak ingin apapun," balas Leana.
Aaron mengangguk-anggukkan kepalanya. Sepertinya, sedikit sulit untuk membujuk Leana.
"Aku tidak ingin bertemu dengan Melisa. Jika kau bertemu dengannya, jangan membawanya ke sini. Terserah kau ingin bertemu di mana saja," kata Leana membuat mata Aaron membulat. Dia pikir Leana sudah percaya bahwa dia sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan Melisa, tapi sekarang Leana malah membahas Melisa.
"Kenapa kau membahas itu, Sayang? Bukankah sudah aku bilang, aku tidak akan lagi berhubungan dengannya? Kau boleh mengambil ponselku, aku akan selalu dua puluh empat jam bersamamu, jadi tidak ada yang perlu kau takutkan," kata Aaron.
"Aku tidak takut kehilanganmu," jawab Leana membuat Aaron menghela napas.
"Aku yang takut kehilanganmu," kata Aaron membuat Leana berdecak, tentu saja decakan Leana terdengar oleh lelaki itu.
"Bagaimana jika kita berkeliling di kebun belakang?" ajak Aaron.
"Tidak mau, malas," jawabannya dengan singkat. Leana pun berbalik kemudian dia langsung meninggalkan Aaron dan memutuskan untuk beristirahat membuat Aaron menggeleng. Lelaki itu pun juga mengikuti. Sepertinya, Aaron benar-benar harus menjadi orang gila dan harus tahan banting menghadapi sikap dingin istrinya.
***
Sementara di sisi lain, Melisa terus berjalan ke sana kemari. Sedari kemarin, dia dikurung di sebuah kamar yang ada di apartemen seseorang, tentu saja itu dilakukan oleh ajudan Ana. Wanita itu sudah berusaha kabur, sayangnya Melisa tidak bisa keluar atau tidak bisa menelepon siapa pun untuk meminta tolong, sebab tasnya dirampas oleh Felix hingga kini dia hanya bisa menangisi nasibnya. Dia membutuhkan anak buahnya yang berbohong tentang anak buahnya yang berhasil mencelakai Ana.
Seandainya anak buahnya jujur, mungkin kemarin dia tidak datang ke rumah Aaron agar terhindar dari wanita paruh baya itu, tapi nasi sudah menjadi bubur. Melisa harus menerima takdirnya, yaitu berurusan dengan Ana.
Tak lama, Melisa menghentikan langkahnya kemudian memejamkan matanya menahan geram. Dia memegang perutnya yang terasa nyeri, karena dari pagi dia sama sekali belum mendapat makanan. Dia pun langsung berbalik kemudian berjalan ke arah pintu.
"Tolong buka pintunya! Berikan aku makanan!" teriak Melisa. Dia terus berteriak, hingga pada akhirnya perjuangan Melisa tidak sia-sia. Pintu terbuka, muncul sosok Felix yang melemparkan roti pada Melisa. Roti itu sangat kecil, bahkan Felix juga tidak memberi Melisa minum.
__ADS_1