Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Selamat


__ADS_3

"Daddy!" Yuma dan Yumi berteriak ketika Aaron terkapar di lantai.


"Yuma, ayo kita panggil Mommy," ajak Yumi. Kedua gadis kembar itu pun langsung berlari ke arah tangga. Mereka tidak bisa memakai lift karena tidak bisa menekan tombol. Keduanya berlari dengan sangat kencang, rasanya mereka tidak sabar untuk segera bertemu dengan sang ibu.


Ketika anak kembarnya berlari ke arahnya, Leana bertanya dan mendengarkan ucapan kedua anak kembarnya.


"Syarif! Syarif!" teriak Leana pada kepala pelayan yang bekerja di rumah Aaron.


"Iya, Nyonya?" tanya Syarif.


"Panggil dokter!" titah Leana hingga Syarif pun mengangguk. Setelah itu, Leana pun langsung bergegas berjalan ke arah lift. Dia berjalan dengan wajah yang memucat. Sesekali dia memegang perutnya karena tiba-tiba terasa keram, apalagi dia berjalan dengan kencang diikuti Yuma dan Yumi di belakangnya.


“Arom!” Leana berteriak ketika melihat Aaron terkapar di lantai. Dia pun langsung membungkuk. Dokter pun datang beserta beberapa pelayan lain untuk membantu mengevakuasi Aaron keluar dari rumah dan dimasukkan ke dalam ambulans, karena memang ambulans selalu tersedia di rumah.


Mobil sudah melaju. Leana menunggu di dalam ambulans seraya menggenggam tangan Aaron, begitu pun dengan dokter yang tetap memantau keadaan Aaron.


Leana menggenggam tangan Aaron dengan tangis yang tidak berhenti mengaliri wajah cantiknya. Sungguh demi Tuhan, rasa takut Leana mencapai di titik tertingginya, di mana dia benar-benar takut terjadi sesuatu dengan Aaron.


"Kumohon bangun," ucap Leana dengan suara yang super pelan.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, mobil ambulans sampai di rumah sakit. Petugas medis yang sudah berjaga di luar rumah sakit, langsung membuka pintunya kemudian memindahkan Aaron ke brankar, lalu setelah mendorongnya masuk ke dalam rumah sakit.


Leana terus menatap ke ruang rawat Aaron, di mana Aaron sedang diperiksa di sana. Tidak ada yang boleh masuk, hingga sedari tadi Leana begitu harap-harap cemas. Wajah leana sudah memucat, keringat dingin sudah membasahi wajahnya Ketakutan Leana semakin menjadi-jadi ketika dokter tidak kunjung keluar.


Dia berniat untuk menelepon sang bibi, tapi dia lupa dia tidak membawa ponsel, begitu pun dengan Yuma dan Yumi yang tidak dibawa ke rumah sakit. Pada akhirnya, Leana hanya bisa khawatir seorang diri.


Satu jam kemudian.


Dokter keluar dari ruang rawat Aaron, membuat Leana langsung menghampiri dokter tersebut. "Bagaimana keadaan suamiku?" tanyanya. Dia memegang perutnya yang terasa mengencang.


"Apa Anda sama sekali tidak tahu keadaan pasien?" tanya dokter membuat Leana semakin panik.


"Apa yang terjadi?" tanya Leana lagi.


"Pasien mengalami gagal ginjal, dan selama ini, pasien tidak pernah memeriksakan dirinya hingga sekarang kita tidak bisa mengambil jalan lain selain mengganti ginjal pasien," papar dokter.


Tubuh Leana langsung ambruk ke bawah. Namun beruntung, suster yang ada di sebelah dokter langsung menuntun Leana agar Leana tetap menegakkan tubuhnya dan tidak terjatuh.


"Anda bercanda, 'kan?" tanya Leana. Jangan ditanyakan betapa pucatnya wajah Leana saat ini, yang pasti wajah Leana lebih dari sekadar pucat dan cenderung memutih. Ucapan dokter barusan benar-benar mengejutkan. Bagaimana mungkin dia tidak tahu penyakit Aaron?


"Kita tidak punya jalan lain. Kita harus segera mengoperasi Tuan Aaron," kata dokter.


"Baik, Dokter. Lakukan yang terbaik untuk suamiku." Leana mengucapkan itu dengan suara yang super pelan. Rasanya, tenaga Leana sudah terkuras dengan kabar penyakit Aaron.


"Nyonya, silakan duduk," ucap perawat yang sedari tadi memegang tubuh Leana. Perawat itu pun langsung membantu Leana untuk duduk, dan setelah perawat pergi, terdengar suara orang berlari hingga Leana menoleh.


"Nyonya, di mana Tuan Aaron?" tanya Larry dengan napas terengah. Tadi, Larry baru saja akan menjemput Aaron untuk pergi ke bandara, tapi ketika dia sampai, dia mendengar kabar bahwa Aaron dilarikan ke rumah sakit. Itu sebabnya dia langsung menyusul untuk pergi ke rumah sakit.


"Katakan, apa kau tahu tentang penyakit Aaron?" tanya Leana dengan suara yang sangat amat pelan. Beruntung, Larry masih bisa mendengarnya membuat Larry menghela napas, kemudian lelaki tampan itu langsung mendudukkan diri di sebelah Leana.


"Tuan Aaron melarang aku untuk mengatakan ini, tapi aku yakin kau sudah tahu. Sebenarnya, saat Nyonya pindah ke rumah ini bersama Tuan Aaron lima bulan lalu, Tuan Aaron divonis mengalami kerusakan di ginjalnya. Tapi, selama ini Tuan Aaron paling anti dengan rumah sakit, hingga Tuan Aaron tidak pernah memeriksakan kondisinya. Dia selalu mengatakan dia baik-baik saja, dan selama lima bulan ini, Tuan Aaron Aron benar-benar jarang sekali beristirahat ketika malam, sebab dia harus mengerjakan pekerjaannya, dan juga ...." Larry menghentikan ucapannya ketika tangis Leana mengencang.


Leana mengutuk dirinya sendiri yang selama lima bulan ini selalu memperlakukan Aaron dengan buruk. Jujur, memang benar setiap tengah malam Aaron selalu pergi ke ruang kerjanya dan akan kembali ketika pagi hari. Bodohnya, Leana menganggap Aaron pergi ke ruang kerjanya untuk berkomunikasi dengan Melisa

__ADS_1


Itu sebabnya sampai lima bulan berlalu, Leana belum bisa memaafkan suaminya karena dia berpikir Aaron masih berhubungan dengan Melisa, tapi ternyata ucapan Larry menyadarkannya. Dia melupakan sesuatu, bahwa setiap siang Aaron selalu menghabiskan waktu dengannya dan juga Yuma serta Yumi walaupun dia dan Yuma tidak pernah menghargai kehadiran Aaron. Lalu sekarang, rasa bersalah Leana semakin menjadi-jadi.


"Maksudmu, setiap malam dia selalu mengerjakan pekerjaannya?" tanya Leana dengan bibir gemetar.


"Karena Tuan Aaron siang tidak bisa bekerja, jadi dia melakukan pekerjaannya malam hari. Perusahaan Tuan Aaron sangat banyak. Dia mempunyai tanggung jawab yang besar." Larry menghentikan ucapannya ketika tubuh Leana terkulai. Rupanya, Leana terlalu syok dengan apa yang terjadi.


"Nyonya! Nyonya!" panggil Larry. Dia berusaha untuk menepuk-nepuk pipi Leana, dan ketika menyadari Leana tak sadarkan diri, Larry langsung berteriak memanggil perawat.


Satu jam kemudian.


Leana mengerjap, dia membuka mata. Saat dia membuka mata, dia langsung teringat suaminya.


"Aaron!" Leana sedikit berteriak. Dia pun langsung bergegas bangkit dari duduknya dan turun dari brankar. Tidak ada siapapun di ruang rawat Leana, karena Larry harus mengurus semua tentang Aaron yang sebentar lagi akan masuk ke dalam ruang operasi.


Saat akan turun dari brankar, tiba-tiba Leana memegang perutnya yang terasa keram.


"Nak, Mommy mohon, kuatlah agar bisa terus mendampingi Daddy." Leana mengelus perutnya, seolah berbicara dengan anak yang ada di kandungannya. Wanita itu menghela napas berkali-kali kemudian mengembuskannya dan setelah keram tidak terasa, Leana perlahan turun dari brankar kemudian wanita cantik itu langsung keluar dari ruang rawatnya menuju ruang rawat Aaron yang sedang melakukan pemeriksaan lanjutan sebelum jadi pindahkan ke ruang operasi.


Saat mendengar Aaron segera dipindahkan ke ruang operasi, Leana langsung berjalan ke ruang rawat Aaron dan ternyata dokter baru saja memeriksa keadaan suaminya. Dokter dan perawat memilih untuk keluar terlebih dahulu, memberikan ruang untuk Leana menjenguk Aaron.


"Aaron!" Leana berteriak. Dia menangis histeris saat melihat Aaron menutup mata dengan wajah yang sangat pucat. "Aaron, kumohon kau harus selamat. Kau ingin bermain bersama Yuma, Yumi dan anak kita, 'kan?" tanya Leana disertai dengan tangisan yang benar-benar kencang.


Setelah cukup lama berada di ruangan tersebut, suster kembali masuk ke dalam kemudian memberitahukan Leana bahwa operasi akan segera dimulai dan setelah itu, Leana mengangguk lalu beberapa perawat juga ikut menyusul masuk untuk mendorong brankar.


***


Yuma dan Yumi terdiam di sofa. Sedari kepergian Leana yang membawa Aaron ke rumah sakit, kedua gadis kembar itu pun melamun. Tidak ada yang menemani mereka karena para pelayan berada di paviliun belakang.


"Yuma, ayo kita meminta pelayan yang bisa menyetir mobil untuk mengantarkan kita ke rumah sakit," ajak Yumi.


"Nona Yuma, Nona Yumi," panggil salah satu pelayan yang kebetulan akan masuk rumah utama.


"Bibi, apa ada yang bisa menyetir?" tanya Yumi.


"Kenapa? Kalian ingin menyusul ibu kalian?" tanya pelayan tersebut.


Yuma dan Yumi seketika mengangguk.


"Iya Bibi," jawab Yuma dan Yumi.


"Sebentar, Bibi akan panggilkan seseorang," ucapnya.


Yuma dan Yumi menghela napas. Akhirnya, ada yang bisa membawa mereka ke rumah sakit dan tak lama, muncul pelayan lainnya.


"Ayo Nona, biar aku yang mengantarkan kalian," ucapnya yang kebetulan bisa memakai mobil hingga Yuma dan Yumi pun mengangguk. Yuma memberitahukan di mana Aaron sering menyimpan kunci mobil, hingga pelayan itu langsung memeriksa mobil yang mudah dipakai.


Saat berada di dalam mobil, Yuma dan Yumi saling menggenggam tangan masing-masing. Mereka benar-benar khawatir akan kondisi Aaron.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Yuma dan Yumi pun sampai.


"Bibi, ayo temani kami masuk ke dalam," ucap Yumi hingga pelayan itu pun mengangguk, lalu dia pun langsung turun diikuti Yuma dan Yumi.


Yumi langsung berteriak ketika melihat Leana berada di kursi tunggu. Kedua gadis kecil itu pun berlari menghampiri Leana, membuat Leana langsung menoleh. Leana bangkit dari duduknya kemudian dia langsung merentangkan tangannya untuk memeluk Yuma dan Yumi. Seketika, tangis Leana kembali berlinang.

__ADS_1


"Mommy, apa Daddy akan baik-baik saja?" tanya Yuma.


"Daddy akan baik-baik saja. Semoga, Nak," ucapnya walaupun dia sendiri tidak yakin.


Leana pun langsung melihat ke arah pelayan yang mengantarkan Yuma dan Yumi, kemudian wanita itu langsung bangkit dan menegakkan tubuhnya. "Terima kasih sudah mengantarkan anakku," ucapnya.


"Baik, Nyonya. Kalau begitu, sampai jumpa. Aku akan kembali ke rumah," ucap pelayan tersebut hingga Leana mengangguk, dan setelah itu Leana langsung mengajak Yuma dan Yumi untuk duduk di kursi tunggu.


Saat Leana, Yuna dan Yumi sedang melamun, terdengar suara sepatu heels yang berpadu dengan lantai hingga ketiganya menoleh.


"Bibi," panggil Leana dan ternyata yang datang adalah Ana. Ana juga baru saja tiba di rumah Aaron dan ketika mendengar Aaron dilarikan ke rumah sakit, dia langsung menyusul ke rumah sakit.


"Bibi," panggil Leana lagi dengan suara yang lirih.


"Apa operasinya sudah berjalan?" tanya Ana.


"Iya Bibi, operasinya sudah berjalan," jawab Leana.


Ana langsung duduk di sebelah Leana kemudian dia memeluk wanita itu. "Tidak apa-apa, pasti Aaron baik-baik saja," ucap Ana. Dia baru saja kembali dari luar negeri dan dia tidak menyangka dia akan mendapatkan kabar seperti ini.


***


Suasana di ruang operasi tampak tegang. Semua tim medis berdoa menurut kepercayaannya masing-masing dan seetelah itu, mereka pun langsung memulai operasi. Operasi cukup memakan waktu yang lama. Ketegangan demi ketegangan terjadi ketika operasi sedang dimulai.


Operasi dimulai. Tekanan darah, denyut jantung dan juga kadar oksigen dalam darah terus diawasi, dan pada akhirnya setelah tiga jam berjuang, dokter pun selesai mengoperasi Aaron dan operasi pun dinyatakan sukses.


"Pantau pasien secara berkala dan setelah itu, pindahkan ke ruang ICU," ucap dokter yang sudah mengoperasi Aaron hingga tim medis pun langsung mengangguk.


Setelah itu, dokter keluar dari ruang operasi dan ketika dia keluar, ternyata Leana, Ana serta Yuma dan Yumi masih duduk. Leana melihat dokter yang keluar dari ruang operasi dan langsung bangkit kemudian dengan tidak sabar, dia berjalan ke arah dokter.


"Dokter, bagaimana keadaan suamiku?" tanya Leana. Dia menatap dokter dengan tatapan tak sabar, hingga Ana ikut bangkit kemudian mengelus punggung Leana agar Leana tenang.


"Operasi berjalan dengan lancar, Nyonya. Tuan Aaron sudah berhasil kami selamatkan dan kami akan memindahkan Tuan Aaron ke ruang ICU," jawab dokter.


Helaan napas terlihat dari wajah cantik Leana. Dia memegang dinding agar tubuhnya tidak ambruk ke bawah.


"Pasien akan dipindahkan sebentar lagi, kalau begitu saya permisi." Dokter pun langsung berbalik kemudian meninggalkan Leana, hingga Leana kembali duduk dan menunggu Aaron yang akan dipindahkan ke ruang ICU.


Setengah jam kemudian, terdengar suara brankar didorong hingga semuanya bangkit, termasuk Yuma dan Yumi. Leana menutup mulut saat melihat kondisi Aaron yang terbaring di brankar. Lalu dengan langkah yang pelan, Leana pun langsung mengikuti brankar yang ditempati oleh suaminya.


"Apa aku boleh masuk?" tanya Leana ketika perawat keluar dari ruang ICU.


"Nyonya, lebih baik Anda masuk ketika Tuan Aaron sudah ditempatkan di ruang rawat biasa," jawab perawat tersebut.


Saat mendengar itu, rasanya Leana ingin berlari masuk. Namun, tentu saja dia menghormati saran dari perawat hingga pada akhirnya Leana menggangguk. Leana berjalan mendekat ke arah kaca kemudian dia mengintip.


Mata Leana kembali membasah ketika melihat Aaron terbaring di brankar sambil memejamkan matanya, dan yang membuat membuat Leana pedih, tubuh Aaron dipenuhi dengan alat-alat yang menempel.


Keesokan harinya.


Para perawat masuk ke dalam ruangan Aaron. Mereka berencana membawa Aaron ke ruang rawat dan ketika brankar Aaron didorong, Leana langsung mengikuti brankar yang ditempati oleh suaminya.


Sedari kemarin, Leana benar-benar tidak pergi ke mana-mana. Dia terus menunggu Aaron di rumah sakit, sedangkan Yuma dan Yumi sudah pulang dengan Ana.

__ADS_1


Setelah masuk ke dalam ruang rawat, perawat memeriksa kondisi Aaron dengan saksama, kemudian para perawat pun meninggalkan ruang rawat lelaki itu dan kini hanya ada Leana di ruang rawat Aaron.


Leana mendudukan dirinya di kursi. Dia terus menatap wajah Aaron yang sedang memejamkan mata. Wanita itu tidak melakukan apapun selain hanya menatap suaminya.


__ADS_2