Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Menjadi orang lain


__ADS_3

"Istirahat aja," kata Aaron. Baru saja Aaron akan menghampiri Leana, Leana mundur satu langkah.


"Tolong jangan seperti ini, aku ingin pulang," kata Leana.


Aaron melanjutkan langkahnya, kemudian tanpa diduga, dia malah membopong tubuh Leana membuat Leana berteriak. Sungguh, Leana mengira dia terjebak dengan pria psikopat seperti Aaron.


Aaron tidak peduli dengan teriakan Leana. Dia terus berjalan hingga pada akhirnya Aaron membuka pintu kamar, lalu setelah itu dia menekan sidik jari dan menguncinya. Setelahnya dia berjalan ke arah ranjang, lalu membaringkan tubuhnya Leana dan dengan cepat Aaron berbaring di sebelah tubuh wanita itu, lalu mengunci tubuh Leana yang akan kabur.


"Diam sebelum aku berbuat lebih jauh, kau tidak ingin aku nekad, bukan?" Aaron memberikan ultimatum hingga tiba-tiba tubuh Leana yang sedang meronta terdiam. Seketika ucapan Aaron bagai ultimatum untuknya, dan seketika tubuh Leana menegang dan Aaron yang merasakan itu langsung mengangkat kepalanya kemudian mengelus rambut Leana.


"Tidak akan ada yang terjadi, Sweet Heart. Jadi, ayo istirahat." Aaron menutup ucapannya dengan membungkuk, lalu mencuri kecupan di bibir Leana, membuat Leana langsung menjauhkan wajahnya. Namun, tetap saja akan berhasil mencium bibirnya dan setelah itu Aaron langsung merebahkan kepalanya di bantal. Dia tetap pada posisinya mengunci tubuh Leana agar tidak bergerak, hingga pada akhirnya Leana yang lelah berpikir dan diambang ketakutan, memutuskan untuk memejamkan matanya. Tak lama, terdengar napas Leana teratur pertanda gadis itu sudah tertidur.


Aaron melepaskan pelukannya kemudian lelaki itu mengelus perut Leana. Senyum tak henti-hentinya mengembang di bibir Aaron. Selama sebulan ini dia memang tidak pernah pergi ke kantor, tapi dia selalu memantau Leana lewat CCTV, bahkan dengan beraninya Aaron menyuruh orang untuk menyimpan CCTV di rumah Leana. Tentu saja dia menghubungi pemilik rumah yang disewa oleh wanita itu, meminta kunci duplikat agar bisa memasang CCTV dan ketika pergi ke dokter, Aaron mengikuti Leana. Sekarang, dia tidak akan membiarkan wanita itu pergi lagi dari sisinya. Dia akan terus mengunci Leana di sampingnya, begitulah pikir Aron.


Dua jam kemudian, Leana terbangun dari tidurnya. Dia mengerjapkan pandangannya. Leana sempat bingung karena dia tidak mengingat apapun, tapi sepersekian detik dia mengingat sesuatu bahwa dia bersama Aaron.


Leana menoleh ke arah belakang, ternyata Aaron tidak ada. Dia pun bergegas turun dari ranjang, berniat untuk pulang ke rumahnya. Walau bagaimanapun dia tidak ingin terus di sini terjebak dengan lelaki searogan Aaron, karena sekarang di mata Leana, Aaron adalah lelaki yang benar-benar gila. Bagaimana tidak, mereka awalnya hanya orang asing dan Aaron malah mengikatnya di sini.


Leana berjalan dengan pelan, berharap Aaron sedang keluar dari apartemen tersebut. Saat keluar dari kamar, Leana berjalan dengan pelan. Dia menolehkan kepalanya ke sana kemari memastikan bahwa Aaron tidak ada, hingga pada akhirnya ketika di depan pintu, Leana menghela napas lega.


Baru saja dia akan akan membuka pintu, Leana dibuat terkejut karena pintu itu sama sekali tidak terbuka, hingga tak lama dia melihat ke arah samping. Ada sidik jari di di sana.


"Tunggu, apa dia memakai sidik jari agar aku tidak bisa keluar?" monolognya.


"Kau tidak akan bisa keluar tanpa izinku." Tiba-Tiba terdengar suara Aaron dari arah belakang. Rupanya, Aaron baru saja keluar dari ruang kerjanya.


"Tuan, kumohon bebaskan aku. Kenapa kau menahanku seperti ini? Kita hanya orang asing," pinta Leana.


"Orang asing yang akan menjadi orang dekat sebentar lagi," kata Aaron dengan entengnya.


"Kau ingin makan sesuatu? Apa kau mengidam sesuatu?" tanya Aaron.


"Tuan, cukup. Ini bukan ana—"


"Kau ingin makan apa?" Tiba-Tiba Aaron memotong ucapan Leana.


"Tuan, kumohon izinkan aku pergi dari sini. Aku punya kehidupan sendiri, kita hanya orang asing. Lalu kenapa kau menahanku di sini?" tanya Leana.


"Karena kau telah menjadi milikku, kau dan anak-anakku sekarang tanggung jawabku. Tidak ada kata bantahan, jika kau tidak menurut kau akan tahu akibatnya," jawabnya.


Sendi-Sendi Leana semakin melemah. Wanita itu benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini. Dia pergi dari orang tua angkatnya karena ingin hidup dengan tenang dan damai, tapi sekarang dia malah direcoki lagi dengan Aaron.


"Katakan satu alasan kenapa kau begitu ingin aku ada di sampingmu, sementara kita tidak saling mengenal?" tanyanya.


"Karena kau mirip dengan Melisa, mantan kekasihku yang sudah tidak ada," jawab Aaron.


Leana speechless saat mendengar ucapan tersebut, bagaimana mungkin lelaki ini menjadikannya sandra hanya karena mirip dengan masa lalu?


"Ayo kita bicara dan setelah aku bicara jangan pernah membantah apapun lagi," kata Aaron. Dia tidak ingin menutupi apapun dari Leana, dia harus jujur tentang Melisa hingga Leana setuju untuk berbicara dengan lelaki itu.

__ADS_1


Sekarang, Leana mengikuti langkah Aaron untuk berjalan ke arah ruang kerja lelaki itu, dan setelah berada di depan pintu, Aaron membuka pintu tersebut kemudian mempersilakan Leana masuk hingga Leana langsung mendudukkan diri di sofa, sedangkan Aaron pergi ke arah lemari untuk mengambil sesuatu.


Tak lama, Aaron berbalik kemudian lelaki itu berjalan ke arah sofa. Dia membawa sesuatu di tangannya yang tak lain adalah sebuah kotak, di mana kotak itu berisikan foto-foto kenangan dia dengan Melisa. Aaron mendudukkan diri di sebelah Leana. Dia memberikan kotak itu pada Leana.


"Bukalah kau mengerti semuanya?" tanya Aaron.


Leana menoleh ke arah Aaron.


"Biar aku membuka kotak tersebut." Pada akhirnya, Leana memberanikan diri untuk membuka kotak yang sekarang ada di pangkuannya, dan yang pertama dia lihat adalah sebuah wanita yang sedang berdiri di pinggir pantai.


"Ini apa?" tanya Leana ketika melihat wanita itu yang sangat mirip dengannya, bahkan mereka seperti saudara kembar. Tidak cukup sampai di situ, Leana mengambil beberapa foto kemudian dia melihatnya dengan seksama. Di sana banyak sekali foto-foto Melisa dan juga Aaron. Terlihat jelas bahwa Aaron begitu bahagia di samping Melisa. Sekarang, dia mulai mengerti kenapa Aaron terobsesi padanya karena dia mirip dengan Melisa.


Tiba-Tiba Leana terpikirkan sesuatu. Dia sudah tidak akan bisa mundur dari lelaki gila ini, dan akan lebih baik jika dia ikut memanfaatkan situasi. Setidaknya, jika dia hidup dengan Aaron, dia dan kedua anaknya tidak akan kekurangan dan juga kedua anaknya akan mendapatkan status hukum yang jelas.


"Jadi, maksud Anda, Anda ingin menganggapku sebagai mantan kekasih Anda yang sudah meninggal?" tanya Leana.


Aaron mengangguk. "Selagi kau menurut padaku dan menjaga anak-anakku dengan baik, maka tidak ada yang harus dikhawatirkan," katanya.


Leana memegang perutnya. 'Nak, maafkan Mommy. Mommy terpaksa melakukan ini. Maafkan Mommy yang nanti memperkenalkan orang lain sebagai ayah kalian.' Leana membatin. Dia menghirup oksigen berkali-kali kemudian menatap Aaron dengan tegas.


"Baiklah Tuan, aku akan menurut," jawabnya.


"Good, kau membuat keputusan yang tepat," kata Aaron sambil mengelus rambut Leana.


"Kita akan pindah ke mansion yang cukup besar agar anak-anakku nanti terasa nyaman, dan kau tidak boleh bekerja. Nikmati saja waktumu, aku akan menghujanimu dengan berbagai kemewahan, tapi tidak. Ada satu lagi yang harus kau turuti," katanya.


Leana mengerutkan keningnya. Entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak.


"Aku juga mengajukan syarat. Apa kau berniat menikahiku, Tuan?" tanya Leana, "tentu anak-anakku butuh status hukum yang jelas."


Leana menghela napas lega. Kemarin-Kemarin dia tidak setuju untuk menikah karena ia takut untuk melangkah, dan ketika dia hamil, Geo sudah menikah dengan Claudia hingga dia tidak bisa menuntut pertanggungjawaban dari lelaki itu, tapi sekarang walaupun dia trauma, tapi mau tak mau dia harus menjalani ikatan pernikahan dengan lelaki asing yang tidak dia tidak kenal sebelumnya, dan ini adalah demi kedua anaknya. Biarlah dia menekan traumanya agar kedua anaknya mempunyai keluarga yang utuh, begitulah pikir Leana.


"Ya sudah, ayo ikut aku Melisa," panggil Aaron. Ada sebersit rasa sedih di dalam diri Leana ketika dia dianggap orang lain, tapi tidak apa-apa, anggap saja ini sebuah bisnis. Aaron bisa menganggap dia sebagai wanita lain dan anak-anaknya bisa mendapatkan status hukum yang jelas. Leana menerima genggaman tangan Aaron, kemudian mereka pun keluar dari ruang kerja lelaki itu.


"Kita mau ke mana?" tanya Leana.


"Kita akan pindah ke mansion. Apartemen ini terlalu sempit, aku tidak mau anakku tinggal di apartemen sempit ini," jawabnya.


Leana menggeleng saat mendengar ucapan Aaron, padahal apartemen Aaron adalah apartemen yang sangat mewah, tapi Leana tidak protes. Selama Aaron menyayangi kedua anaknya, maka itu tidak masalah. Dia akan menurut yang terpenting anaknya mempunyai kehidupan yang layak.


"Kau ingin sesuatu?" tanya Aaron.


"Tidak, aku tidak ingin apa-apa," jawab Leana.


Aaron yang sedang menyetir, menggenggam tangan Leana hingga Leana tersentak. Hampir saja dia melepaskan genggaman tangan Aaron, tapi dia langsung tersadar hingga dia membiarkan Aaron menggenggam tangannya. Ini asing dan ini aneh, dia tidak pernah sedekat ini dengan lelaki lain kecuali dengan Geo.


Jika dengan Geo pun dia menghabiskan waktunya untuk berdebat, tapi sekarang ada lelaki asing yang memperlakukannya dengan baik, penuh kelembutan tapi dia harus menjelma menjadi orang lain.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Aaron sampai di mansion mewah miliknya membuat Leana berdecak kagum. Apartemen Aaron megah, tapi ini berkali-kali lebih megah.

__ADS_1


Aaron memarkirkan mobilnya di pekarangan, kemudian dia melihat ke arah Leana. "Ayo Melisa kita turun," ajaknya.


"Melisa," panggil Aaron lagi ketika Leana melamun, hingga Leana tersadar.


Aaron keluar dari mobil kemudian dia memutari mobil, lalu setelah itu membuka pintu untuk Leana. Lelaki itu mengulurkan tangannya pada Leana, hingga Leana menerima uluran tangan Aron. 'Sepertinya kau beruntung sekali dicintai oleh seorang Aaron,' batin Leana ketika Aaron berjalan sambil menggenggam tangannya.


Saat masuk ke dalam, Leana dibuat terperangah dengan kemewahan yang ada di dalam mansion tersebut.


"Helena! Helena!" teriak Aaron hingga tak lama muncul sesosok wanita yang mungkin sudah berumur, memakai seragam pelayan menghampiri Aaron dan juga Leana. Mata Helena membulat saat melihat sosok Leana.


"Nona Melisa," panggil Helena membuat Leana menggeleng.


"Dia adalah nyonya utama di rumah ini. Tidak boleh ada yang membuatnya tidak nyaman. Kau mengerti?" tanya Aaron.


"Baik, Tuan," jawabnya.


"Berikan Melisa tiga asisten pribadi yang akan membantunya kemana pun dia pergi. Buat senyaman mungkin di sini," kata Aaron lagi hingga Helena mengangguk.


"Kalau begitu aku permisi," ucap Helena sembari menunduk hormat pada Aaron dan Leana, lalu setelah itu wanita itu pun berbalik pergi meninggalkan Leana dan juga Aaron.


"Ayo kita lihat kamar kita," ucap Aaron, kembali menarik lembut tangan Leana, hingga Leana mengikuti langkah Aaron. Lagi-Lagi Leana kagum saat melihat interior yang ada di dalam mansion. Sungguh, ini lebih mewah daripada Steve dan Maudy.


"Ini kamar kita, Sayang," ucap Aron ketika mereka sudah berada di depan pintu yang sangat megah, dan sepertinya pintu itu dilapisi emas hingga Leana langsung menoleh ke arah Aaron.


Seketika, Aaron membuka pintu kamar tersebut. Tak bisa didefinisikan lagi bagaimana terkejutnya melihat kamar milik lelaki di sampingnya ini, yang pasti ini jauh lebih dari megah.


"Apa ada yang ingin kau ubah? Apa kau ingin pindah kamar lain, atau ada yang kurang?" tanya Aaron.


Leana menggeleng. "Tidak, ini saja sudah cukup," jawab Leana hingga Aaron mengangguk.


"Kau boleh minta apapun pada Helena. Semua akan melayanimu dengan baik di sini," ucapnya. Leana pun mengangguk.


"Terima kasih," jawabnya.


"Kau tidak perlu berterima kasih, Melisa. Ini semua dari awal milikmu," kata Aaron. Leana merasa sedih ketika Aaron menganggapnya orang lain.


***


Wajah Geo sudah memucat. Keringat dingin sudah membasahi wajah lelaki itu. Dia memarkirkan mobilnya untuk beristirahat sejenak. Geo menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dia melihat jam di pergelangan tangannya, ternyata ini sudah pukul tiga dini hari.


ini sudah sebulan berlalu semenjak kepergian Leana. Jangan ditanyakan betapa hancurnya Geo, yang jelas dia benar-benar hancur. Sesal membayanginya hingga selama sebulan ini, dia tidak pernah pulang ke mansion. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya mencari Leana.


Selama sebulan ini, ia tidak pernah berhenti mencari wanita itu. Namun setelah sebulan berlalu, Leana tetap tidak ditemukan di mana pun, begitu pun kedua orang tuanya yang juga ikut mencari, bahkan sekarang Maudy sedang di rumah sakit, kondisi Maudy drop, karena memikirkan keadaan Leana.


Sementara Claudia, dia pun melalui harinya selama sebulan ini dengan hampa. Awalnya dia senang karena Leana tidak akan datang lagi ke rumah mertuanya, tapi kesenangan Claudia hanya bertahan sebentar saja, sebab keesokan harinya Geo pergi dan selama sebulan tidak pernah pulang ke rumah. Claudia sudah berusaha mencari tahu di mana laki itu, tapi ponsel Geo mati, sedangkan kedua mertuanya jarang sekali ada di mansion apalagi sekarang Maudy sedang dirawat di rumah sakit.


Lima belas menit berlalu, tubuh Geo sudah merasa baikan. Lelaki tampan itu sepertinya sudah mengembalikan sedikit tenaganya, hingga Geo menegakkan tubuhnya kemudian lelaki itu langsung menyalakan dan menjalankan mobilnya kembali.


"Leana, di manakah kau? Kembalilah padaku," ucap Geo dengan berlinang air mata. Kepalanya menoleh ke sana kemari, berharap menemukan Leana. Jangan ditanyakan betapa menyesalnya Geo saat ini, yang pasti titik sesal Geo ada di paling terdalam, apalagi dia mengetahui bahwa Leana sudah mengandung darah dagingnya.

__ADS_1


Sebelum pergi mencari Leana, Geo kembali lagi ke kamar wanita itu, berusaha mencari petunjuk walaupun dia tahu tidak ada petunjuk di sana.


Dan ketika akan keluar, tanpa sengaja ada sebuah kertas yang jatuh dari atas lemari hingga Geo mengambilnya. Pada akhirnya, dari kertas USG itu dia tahu bahwa Leana mengandung darah dagingnya, dan itu menjadi sesal terdalam Geo. Dia tidak nekat dan lebih sabar menghadapi Leana. Tentu saja saat perjalanan masih bersama mereka.


__ADS_2