Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Amarah


__ADS_3

"Kenapa kau mengatakan seperti itu?" tanya Claudia ketika dia mematikan panggilannya dari Geo. Dia masih cukup terkejut dengan ucapan Rea yang mengatakan bahwa dia tidak akan sakit lagi, hingga pada akhirnya dia langsung bertanya. Rea tersenyum, biasanya Rea meringis. Namun kali ini, senyuman putrinya benar-benar meneduhkan. Namun membuat Claudia begitu sesak.


"Rea," panggil Claudia. Entah kenapa dia begitu takut melihat senyuman Rea.


"Mommy, aku bermimpi," jawabnya.


"Kau bermimpi apa?" tanya Claudia.


"Aku bermimpi ada seorang wanita memakai sayap, lalu mengajakku untuk pergi bersekolah dan aku tidak akan sakit lagi," jelasnya.


"Rea!" Claudia langsung memanggil putrinya, hingga Rea terkejut.


"Mommy kenapa?" tanya Rea.


'Tidak mungkin. Rea baik-baik saja,' batin Claudia.


Claudia pun dengan cepat langsung membungkuk, kemudian memeluk sang putri. 'Tuhan, kau sudah ambil Geo dariku, tolong jangan ambil Rea. Semua boleh pergi tapi Rea tidak boleh,' batinnya.


Claudia langsung menumpahkan tangisannya saat memeluk sang putri, hingga Rea mengerutkan keningnya. "Mommy, kenapa Mommy menangis?" tanya Rea hingga Claudia tersadar.


Wanita cantik itu langsung melihat kearah Rea. "Rea, berjanjilah kau tidak akan pernah meninggalkan Mommy," kata Claudia.


"Hm, aku berjanji aku akan selalu bersama Mommy, dan juga melihat Mommy dari kejauhan" jawab Rea dengan polosnya membuat Claudia seperti tersambar petir di siang bolong.


"Rea, Mommy mohon jangan berbicara sembarangan," ucap Claudia. Entah kenapa, mendengar ucapan Rea membuat hati Claudia hancur. Ketakutan dia semakin menjadi-jadi. Dia mendudukkan diri di kursi kemudian menggenggam tangan Rea.


"Rea, ingat kau akan baik-baik saja. Kau akan sembuh. Setelah ini kau ingin pergi berjalan-jalan ke taman hiburan, bukan?" tanya Claudia. Wajahnya benar-benar panik padahal itu hanya asumsinya saja, tapi entah kenapa setelah Rea mengatakan itu, feeling Claudia berubah menjadi aneh, seolah akan ada hal yang besar yang terjadi hingga dia hanya mampu menggenggam tangan Rea.


Tak lama, pintu terbuka. Muncul sosok Steve hingga Claudia menoleh. "Daddy," panggil Claudia.


"Kau baik-baik saja?" tanya Steve ketika melihat Claudia menangis.


"Aku baik-baik saja." Claudia langsung bangkit dari duduknya, membiarkan Steve duduk di tempat yang barusan dia tempati.


Steve mendudukkan diri di kursi. Lelaki tampan lagi itu langsung menggenggam tangan putrinya hingga Rea tersenyum. "Halo Kakek," jawab Rea.


"Bagaimana, apa kau masih merasa sakit?" tanya Steve hingga Rea menggeleng.


"Ini masih sakit," katanya sembari menunjuk dadanya kemudian dia menunjuk tangannya yang sedang dipasang infus, "tapi nanti tidak sakit lagi. Aku akan pergi dengan bibi bersayap dan juga aku tidak akan dipasangi alat seperti ini," ucap Rea hingga mata Steve membulat. Dia langsung menoleh ke arah Claudia yang sedang berlinang air mata.


"Rea, apa yang kau katakan? Kau tidak akan pergi ke mana-mana," kata Steve dengan panik.


"No, aku akan pergi sebentar lagi. Kemarin bibi bersayap itu menghampiriku," jawab Rea. Wajahnya begitu ceria ketika mengatakan itu membuat hati Steve terasa tersayat.


'Tuhan, tolong jangan ambil cucuku,' batin Steve.


Ucapan Rea seperti anak yang sedang berimajinasi, tapi di telinga Steve dan Claudia ini adalah sebuah firasat.


"Kakek janji akan kabulkan apapun. Kau ingin membeli satu boneka? Satu toko boneka? Ingin membangun taman hiburan pun akan Kakek penuhi, tapi tolong kau harus sembuh," katanya panik.


Rea tidak menjawab. Dia malah menggenggam tangan Steve. "Kakek," panggil Rea.


"Nanti belikan aku boneka teddy bear yang besar sekali," ucap Rea, "nanti tolong tempatkan boneka itu di tempat tidurku."


Tiba-Tiba tubuh Steve sedikit tersentak saat mendengar ucapan Rea. "Rea, jangan berbicara itu, kakek akan membelikan banyak sekali boneka.Tapi bukan untuk di simpan, kau harus memainkan boneka itu


***


Waktu menunjukkan pukul delapan malam, Aaron baru saja selesai membuatkan makanan untuk Leana, Yuma dan Yumi. Lelaki itu seperti kembali pada kebiasaannya, di mana terkadang dia selalu memasakkan untuk keluarganya. Kali ini dia berharap Yuma dapat memaafkannya dan Leana bisa bersikap seperti semula.


Tak lama, terdengar suara derap langkah dan muncullah sosok Yumi di depan Aaron.

__ADS_1


"Hei, kenapa kau sudah turun?" tanya Aron.


"Daddy, 'kan, belum memanggilmu,"


"Aku rindu sekali masakan Daddy. Bolehkah aku meminta duluan?" tanya Yumi.


"Ayo kita makan di meja makan. Masakannya sudah selesai," kata Aaron hingga Yumi pun mengangguk.


"Sini biar aku bantu." Yumi mengambil satu piring membuat Aaron menggeleng, kemudian mereka pun langsung berjalan ke arah meja makan dan tepat ketika Yumi berjalan bersama Aaron, ternyata Yuma pun turun dari tangga. Dia melihat saudara kembarnya lalu berdecak kesal.


"Yuma, ayo makan, Sayang," kata Aaron.


Yuma berbalik. Dia tidak menoleh ke arah Aaron.


"Biarkan saja Daddy, jika lapar pun dia akan makan sendiri," kata Yumi hingga Aaron terkekeh.


Aaron menyimpan semua masakannya di meja, kemudian dia menarik kursi untuk Yumi, lalu setelah itu dia menyusul Leana.


"Sayang," panggil Aaron ketika masuk ke dalam kamar, dan ternyata Leana sedang melamun.


Leana tersadar kemudian dia menoleh sekilas, tapi setelah itu dia kembali memalingkan tatapannya ke arah lain hingga Aaron menghela napas. Lelaki itu langsung berjalan ke arah ranjang lalu mendudukkan diri di sebelah Leana.


"Sayang, ayo kita makan. Semuanya sudah siap," kata Aaron karena Leana tidak menggubris. Wanita itu memutuskan untuk turun dari ranjang lalu setelah itu dia berjalan mendahului Aaron, membuat Aaron menghela napas lagi. Sepertinya, kali ini benar-benar akan susah untuk menaklukkan Leana.


Makan malam berlangsung dengan hening. Tidak ada yang berbicara dan seperti biasa, hanya Yumi yang aktif berceloteh dengan Aaron. Beberapa kali Aaron mencoba menyuapi Yuma sama seperti dia menyuapi Yumi, tapi dia tidak mau membuka mulut.


Akhirnya, acara makan malam pun selesai. Seperti kebiasaan lama, Aaron selalu membantu Yuma dan Yumi untuk bersiap, tapi kali ini hanya Yumi yang mau dibantu olehnya sedangkan Yuma sudah memakai piyama.


"Daddy mau bacakan dongeng untukku?" tanya Yumi.


"Tentu, Daddy akan membacakannya," ucap Aaron, sedangkan Yuma yang sudah berbaring tidak bergerak sedikit pun.


"Ayo Dad, jangan pedulikan dia. Bacakan saja. Aku ingin tidur sambil mendengar dongengmu," kata Yumi hingga Aaron mengangguk dan dia pun langsung membacakan dongeng untuk putrinya.


***


Geo turun dari mobil. Lelaki itu saja sampai di basement apartemen Leana. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu Geo pun tiba, di mana dia akan mendapatkan kabar dari wanita itu tentang Yuma dan Yumi.


Semalaman setelah menelpon Rea, dia benar-benar merasa tidak tenang karena tentu saja dia takut dengan kenyataan yang ada. Namun, jika Leana tidak mau mengakui bahwa Yuma dan Yumi adalah anaknya, Geo akan menempuh jalur lain yaitu dengan menempuh jalur tes DNA.


Geo langsung berjalan ke arah lift, kemudian lelaki itu berjalan dengan cepat ke unit apartemen Leana. Geo menekan bel beberapa kali, tapi tidak ada sahutan dari dalam. Seketika, Geo langsung dilanda kepanikan. Dia pun merogoh saku untuk menelepon Leana.


Geo memejamkan matanya. Sial. Dia tidak tahu nomor ponsel wanita itu. Seketika Geo kembali menekan bel. 'Tidak, mereka pasti sedang keluar.' Geo membatin, dia menyangkal Leana, Yuma dan Yumi sedang keluar, mungkin saja ketiganya sedang berada di sekolah hingga dia pun memutuskan untuk menunggu.


Dua jam kemudian, tidak ada tanda-tanda Leana akan datang membuat Geo semakin gelisah. Geo langsung mengutak-atik nomor ponselnya untuk menelepon anak buahnya, berharap anak buahnya tahu ke mana Leana karena setelah Geo menginap di hotel dia tetap menugaskan anak buahnya berada di sekitar apartemen Leana.


Tapi sekarang beberapa kali Geo menelepon anak buahnya tapi tidak mengangkat panggilannya. Dan tak lama, ponsel Geo berdering satu pesan masuk dari anak buahnya.


"Maaf Tuan, kami harus segera pulang ke markas." tulis Anak buah Geo.


Mata Geo membulat saat melihat pesan dari anak buahnya. Bagaimana mungkin anak buahnya lancang pulang tanpa seijinnya? Padahal jelas-jelas dia sudah menggaji mereka. Ternyata, Steve yang menyuruh anak buah Geo pulang agar sang putra tidak mencari Leana.


"Hah!" Geo berteriak hingga ada yang keluar dari unit apartemen lain karena terus mendengar suara berisik.


"Maaf, kenapa Anda berisik?" tanya wanita itu hingga Geo tersadar.


"Apa Anda melihat wanita yang ada di apartemen ini?" tanya Geo, berharap wanita yang ada di depannya ini tahu Leana ke mana.


"Oh, wanita yang mempunyai anak kembar?" tanya wanita itu hingga Geo mengangguk.


"Aku kemarin berpapasan dengannya di lobi. Dia pergi membawa koper," jawabnya.

__ADS_1


Tubuh Geo langsung melemah saat mendengar itu. Bertahun-tahun bersusah payah dia mencari Leana, dan ketika dia sudah tahu keadaan Leana, dia kembali kehilangan jejak wanita itu. Dengan cepat, Geo pun langsung pergi menuju basement.


Geo mengepalkan tangannya. Jika sudah begini, dia yakin Yuma dan Yumi adalah anaknya. Dia membanting pintu mobil kemudian memutuskan untuk pulang ke hotel. Dia harus dengan kepala dingin mencari wanita itu.


***


Geo membanting tubuhnya di sofa. Jujur saja, saat ini amarah Geo sedang di puncak tertingginya. Bagaimana tidak, dia merasa benar-benar dibohongi oleh Leana dan yang paling membuat dia murka, Leana berbohong tentang Yuma dan Yumi, padahal jelas-jelas Yuma dan Yumi adalah anaknya.


Jika Yuma dan Yumi bukan anaknya, Leana tidak mungkin pergi menghindarinya. Sekarang, dia mengerti kenapa kemarin Leana menyuruhnya untuk pergi dan menjanjikan untuk berbicara hari ini.


"Aku pastikan aku akan merebut Yuma dan Yumi dari tanganmu!" teriak Geo dengan emosi.


***


Setelah Yumi tertidur, Aaron melihat ke arah Yuma yang berbeda ranjang. Dia pun langsung menghampiri ranjang Yuma dan berbaring di sebelah Yuma, lalu memeluk Yuma dari belakang karena dia tahu Yuma belum tertidur, sebab dia melihat gerak-geriknya.


Ketika Aaron memeluknya, mata Yuma berkaca-kaca. Dia rindu pelukan sang ayah, tapi luka yang diberikan Aron saat itu begitu membekas.


"Daddy tahu kau tidak tidur," kata Aaron, "ayo bicara."


Yuma menghempaskan tangan Aaron dari pinggangnya. Dia tidak ingin disentuh oleh Aaron. "Pergi, akuu mengantuk," jawab Yuma.


"Kubilang pergi!" Yuma berteriak. Kali ini gadis kecil itu bangkit dari duduknya kemudian dia langsung menatap Aaron dengan tatapan amarah yang membara.


"Iya, Daddy pergi." Aaron dengan cepat bangkit dari ranjang Yuma, lalu setelah itu keluar dari kamar. Dia tidak ingin Yuma mengamuk dan membangunkan Yumi.


Aaron masuk ke dalam kamar, ternyata Leana sedang memainkan ponselnya. Dia berjalan ke arah ranjang, kemudian melepas sandal lalu menaikkan kakinya dan berbaring di sebelah Leana. Sementara Leana tetap fokus pada ponselnya, tidak menoleh ke arah Aaron sedikit pun.


Sementara Aaron langsung mengelus rambut Leana. "Cantik sekali istriku ini," puji Aaron membuat Leana berdecak. Dia pun langsung berbalik membuat Aaron menghela napas lalu berbaring.


***


Lima bulan kemudian.


Tidak terasa, ini sudah lima bulan berlalu semenjak Leana dan Aaron kembali, selama lima bulan ini pula tidak ada perubahan yang signifikan di dalam hubungan Aaron dan juga Leana, termasuk dengan Yuma. Kedua orang itu masih dingin pada Aaron, berbeda dengan Yumi.


Aaron sudah melakukan yang terbaik untuk menebus kesalahannya, tapi apapun yang ia lakukan tidak terlihat di mata keduanya. Namun, Aaron sama sekali tidak menyerah. Dia terus berusaha untuk menjadi ayah dan suami yang baik untuk Leana dan Yuma, hingga dia mengabaikan kesehatannya dan tidak ada yang tahu bahwa sekarang ginjal Aaron bermasalah.


Sebenarnya, Aaron sudah mempunyai penyakit ginjal sedari lama, hanya saja dia mengabaikan kesehatannya. Tiap siang dia akan berusaha mendekati Leana dan Yuma dan ketika malam dia akan mulai bekerja, karena walau bagaimanapun dia tidak bisa meninggalkan kewajibannya sebagai pemimpin perusahaan.


Seperti saat ini, Aaron merasa pinggangnya begitu nyeri. Hari ini Aaron ingin beristirahat, tapi dia sudah berjanji dengan Yumi untuk berenang. Dia tidak tega menolak keinginan Yumi, terlebih lagi Yumi berjanji akan mengajak Yuma untuk berenang bersama.


"Daddy," panggil Yumi.


Aaron yang sedang berada di ruang kerjanya, langsung menegakkan tubuhnya. Lelaki tampan itu langsung menormalkan ekspresinya agar terlihat tidak kesakitan.


"Masuk, Yumi," kata Aaron hingga Yumi langsung membuka pintu.


"Daddy, ayo kita berenang. Yuma sudah ada di bawah, akhirnya dia mau ikut berenang bersama kita," ucap Yumi.


Aaron menghela napas lega, rasa sakit Aaron terbayarkan sengan hadirnya Yuma yang mau diajak berenang bersama, hingga akhirnya Aaron bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Yumi.


***


"Ayo, Yumi," kata Aaron yang sudah turun ke kolam renang.


Setelah Yumi menaiki pelampung yang berbentuk angsa. Aaron langsung berenang ke arah Yuma yang sedang duduk dengan kaki yang menjuntai ke bawah.


"Yuma, ayo, kau ingin menaiki yang mana dulu?" tanya Aaron.


Yuma tidak menjawab. Dia malah melihat lekat sang ayah. Wajah sang ayah di mata Yuma terlihat berbeda, sedikit pucat dan Yuma baru menyadari bahwa wajah ayahnya begitu tirus.

__ADS_1


__ADS_2