
"Steve, ada apa?" tanya Alya ketika mereka sudah berada di luar.
Walaupun tangannya terkena tembok, tapi Alya masih berusaha untuk bertanya pada Steve secara baik-baik. Dia tidak mengerti kenapa suaminya seperti ini, apalagi selama hidupnya pria itu tidak pernah memperlakukan fisiknya dengan buruk. Namun sekarang, semuanya telah berubah.
"Sekarang, pergi dari sini dan jamgan pernah datang kembali."
Layi-Lagi, Alya menatap heran pada suaminya. Dia sungguh tidak mengerti dengan alasan dibalik sikap Steve. "Steve ada apa? Kenapa kau bersikap begini? Aku ingin menemani Geo, dia juga anakku."
"Tutup mulutmu!" teriak Steve yang tidak mampu lagi mengendalikan emosi, membuat dia membentak Alya yang menatapnya dengan sorot tidak percaya.
Bagaimana bisa lelaki yang telah bersamanya selama dua belas tahun, berteriak dengan kencang hanya karena dia ingin mendampingi Geo?
"Pergilah dari sini, dan aku akan mengirimkan surat cerai secepatnya," ucap Steve.
Tubuh Alya melemas. Jantungnya seperti berhenti berdetak saat mendengar kata cerai yang terucap dari mulut Steve.
"Apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba mengajak bercerai?" tanya Alya, dia menarik tangan Steve meminta penjelasan.
Namun, Steve langsung menghempaskan tangan Alya. "Jangan pernah menyentuhku lagi!"
Pertama kalinya selama mereka bersama, Alya melihat Steve seperti sekarang. Walaupun belakang ini pria itu memang banyak berubah dengan sering menyudutkan Alya, tapi menurutnya semua itu masih dalam tahap wajar.
Namun barusan, dia ternyata melihat sisi lain dari Steve di mana pria itu tampak sangat marah padanya.
"Jelaskan apa salahku, bukankah selama ini kita baik-baik saja?" Wajah Alya tampak pucat, begitu juga bibirnya karena dia sungguh tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh sang suami.
"Kau pikir aku bisa terus bertahan dengan wanita pembohong sepertimu?"
Nada suara Steve kali ini pelan, tapi jelas terdengar geraman di dalamnya pertanda bahwa dia sangat emosi. Alya menutup mulut dan menatap pria itu dengan bingung.
"Bertahun-tahun aku mengharapkan anak darimu, bahkan tanpa lelah terus mencoba membujukmu. Tapi ternyata, kau sendiri tidak mempunyai rahim."
Belum cukup rasa pedih akibat ucapan Steve tentang perceraian mereka, hatinya kian sakit saat mendengar hal tersebut. Dia masih tidak menyangka bahwa Steve ternyata tahu masa lalunya.
"Steve," ucap Alya dengan wajah sayu. Hal yang paling dia takuti adalah kebenaran dim masa lalu bahwa dia pernah melahirkan.
"Kenapa? Kau heran aku tahu dari mana?" tanya Steve, "kau pikir aku bisa bertahan dengan wanita yang pernah melahirkan anak dari laki-laki lain?"
"Steve," panggil Alya lagi, dia mencobq memegang dinding untuk menopang tubuhnya agar tidak ambruk.
Pada akhirnya, hal yang dia takutkan terjadi di mana Steve mengetahui semuanya. Tunggu, lalu bagaimana jika pria itu pun tahu tentang sang ibu?
"Seharusnya aku sadar dari dulu kenapa orang tuaku tidak pernah menerimamu, padahal mereka bukan tipe orang yang melihat seseorang dari status. Ternyata jawabannya adalah di masa lalu, ibumu yang pernah berusaha memisahkan orang tuaku."
Pada hari ini, di detik ini, hidup Alya telah menemui kehancuran karena ternyata Steve sudah semuanya. Dia juga tidak menyangka suaminya akan murka seperti ini.
Dulu, diq memang pernah menjalin hubungan dengan manajernya, tapi itu jauh sebelum mengenal Steve. Lalu masalah ibunya, dia tak bersalah karena dia sendiri pun tidak terlibat dengan apa yang wanita itu lakukan.
Alya pernah berpikir jika suatu saat Steve mengetahui kelakuan sang ibu, dia tidak akan murka karena itu di luar kuasanya. Terlebih selama menikah dengan Steve, dia tidak pernah mengkhianati lelaki itu.
Lalu, satu-satunya kesalahan Alya pun adalah dia tidak mempunyai empati pada Maudy dengan menghasut Steve untuk mengakui Geo sebagai anak mereka hingga berakhir mengusir Maudy.
"Steve, aku bisa menjelaskan semuanya." Alya tersadar dari lamunannya kemudian berjalan ke arah Steve. Dia menarik tangan pria itu lalu menggenggamnya dengan erat agar tidak lagi bisa dilepaskan.
Steve dan Geo adalah segalanya dan ketika suaminya mengucapkan kata cerai, dia merasa dunianya hancur berkeping-keping mengingat sekarang pun dia tak memiliki siapapun selain mereka.
"Dengar, walaupun kau tidak bersalah, bahkan mungkin kau sudah berubah lebih baik, tapi aku tidak akan pernah bisa menerima kebohongan. Aku tidak akan pernah mau melihatmu apalagi hidup bersama dengan wanita sepertimu lagi. Jadi, sebelum kau pergi, aku berbaik hati memberikan beberapa asetku padamu, tapi setelah ini jangan pernah menampakan dirimu lagi di hadapanku."
Saat Steve akan berbalik, dia berhenti melangkah karena Alya yang tiba-tiba memeluk lututnya. Sungguh, wanita itu tidak ingin berpisah dengan suami dan anak tirinya.
__ADS_1
Namun, perasaan itu berbeda dengan Steve yang sudah telanjur kecewa atas apa yang terjadi pada Alia. Sekali pun itu masa lalu, tapi tetap saja menyakitkan.
Andai Alya jujur dari awal dan mengatakan bahwa dia tidak mempunyai rahim, mungkin Steve tidak akan sekecewa saat ini. Namun faktanya, wanita itu justru berbohong untuk menutupi hal tersebut.
Lalu sekarang, Alya melakukan ini karena dia tidak ingin ditinggalkan oleh Steve dan Geo yang merupakan dunianya.
Steve menghentakan kakinya membuat pelukan tangan Aliya terlepas. Setelah itu, dia berjalan masuk ke dalam ruangan anaknya, meninggalkan sang istri dengan perasaan yang hancur lebur.
***
Sedari dari, Steve terus menunggu di luar ruangan. Dia menanti dokter yang akan menunjukkan hasil tes sumsum tulang belakang. Dia berharap-harap cemas juga takut jika tidak ada yang cocok dengan Geo.
Sementara Alya, dia baru saja pulang dan itu pun setelah Steve menyuruh security untuk menyeretnya yang sejak tadi tak bergerak. Selain ingin melihat Geo, Alya pun masih ingin berbicara dengan Steve.
Sepuluh menit berlalu, setelah duduk, Steve mendengar derap langkah dari samping membuatnya menoleh. Ternyata itu adalah dokter dan perawat.
"Tuan Steve," panggil dokter.
"Iya Dok, apakah sudah ada hasilnya?"
"Ayo kita berbicara di dalam," ucap dokter.
Steve menggangguk, lalu mereka pun masuk dalam ruang rawat.
"Bagaimana, apa ada tulang yang cocok antara kedua orang tuaku dan kakakku?" tanya Steve terburu-buru.
Dokter yang menangani Geo, merasa sangat ingin tertawa saat melihat wajah Steve yang begitu tegang.
"Dok, bagaimana? Apakah ada yang cocok?" tanya Steve lagi.
Dokter menyerahkan map ke hadapan Steve kemudian mengubah ekspresinya menjadi sedih, setelah sebelumnya terlihat datar mengingat sekarang dia sedang berpura-pura.
“Tuan, Steve. Ada yang harus saya sampaikan. Mungkin ini bukan kabar baik dan ....” menggantungkan ucapannya, dia seperti orang yang sedang berpikir.
“Saya harus menyampaikan hal ini. Sayangnya, diantara kalian, tidak ada tulang sumsum yang cocok." Dokter berekspresi sedih, membuat Stev tampak percaya.
“Ba-bagaimana mungkin, Dok?” tanya Stev dengan wajah pucat. Jantung Stev sesak keluar dari rongga dadanya saat mendengar ucapan dokter.
“Apa ibu pasien ada?” tanya Dokter membuta Stev tersadar. Stev terdiam, dia tidak langsung menjawab ucapan dokter.
“Ibu dari anakku masih ada,” jawab Ste dengan suara pelan, seolah berat mengatakan bahwa ibu putranya masih ada.
“Tidak ada cara lain, ibu dari pasien yang harus dites. Jika tidak mendapatkan sumsum secepatnya, mungkin kondisi putra anda akan segera menyebar," jawab dokter yang masih berusaha meyakinkan Stev.
Stev mengusap wajah kasar, bagaimana mungkin dia menelepon Maudy, bagaimana jika Maudy mengambil Geo darinya, atau Maudy dendam padanya berujung memisahkannya dengan Geo.
“Apa tidak ada opsi lain?” tanya Stev.
“Todak ada opsi lain, Tuan. Sebenarnya masih ada pendonor lain, hanya saja membutuhkan waktu lebih lama dan pasti akan lebih beresiko.”
Stev memejamkan matanya saat mendengar ucapan dokter. Sepertinya dia tidak punya pilihan lain selain memanggil Maudy.
“Baik, aku akan memanggil Maudy secepatnya Steve.” Pada akhirnya, inilah keputusan yang Stev ambil, demi putranya dia harus menekan ogonya dan memutuskan untuk memanggil Maudy.
Stev pun bangkit dari duduknya, kemudian pamit pada dokter lalu keluar dari ruangan dokter yang menangani putranya.
“Stev!” panggil Elsa ketika Steve berjalan ke arah ruang rawat Geo, dan ternyata Elsa juga baru sampai di rumah sakit.
Stev mendudukan dirinya di kursi tunggu disusul Elsa yang juga ikut duduk. “ Bagaimana hasilnya?” tanya Elsa.
__ADS_1
“Tidak ada yang cocok, Mom. Aku Mommu dan Gina tidak ada satupun dari kita yang memiliki sumsum yang cocok untuk Geo,” jawab Stev dengan nada yang sangat lesu.
“Satu-satunya cara, aku harus memanggil Maudy untuk mengetes sumsum tulang belakang miliknya.”
Elsa menahan tawa saat melihat wajah Stev yang lesu, dia tahu betul apa yang dipikirkan putranya. “Jadi kau ingin memanggilnya?” tanyanya.
“Etahlah, Mom. Aku takut dia memisahkan aku dari Geo.” Helaan nafas terlihat dari wajah Elsa, dia mengelus punggung putranya.
“Stev, bukannya saatnya memikirkan keegoisanmu, bukan saatnya kau merasa takut dengan apa yang belum tentu terjadi. Bicara dari Hati ke hati bersama Maudy minta maaf dan akui kesalahanmu.” Elsa berusaha meyakinkan Stev untuk meminta maaf pada Maudy.
“Mom, bagaimana Jika Maudy mengambil Geo lagi dariku, dan tidak mengijinkanku untuk bertemu Geo.” Raut wajah Steve terlihat kusut saat membayangkan bahwa Maudy tidak akan mengijinkannya bertemu dengan Geo. “Pasti dia akan membalas dendam padaku.”
“Tidak ada yang tidak mungkin,.selama kau berusaha untuk meminta maaf, perbaiki semua.
Steve tidak menjawab lagi, pikirannya melanglang buana pada masa lalu, mengingat kesalahannya pada Maudy. Setidaknya masalahnya dengan Alia membuat Stev sedikit tersadar bahwa apa yang dilakukan di masa lalu adalah keliru, dia terlalu mempercayai Aliya karena saat itu Alia lah yang menghasutnya untuk terus menjauhkan Geo dari Maudy.
“Akan aku pikirkan nanti." Pada akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut Steve.
****
Alia berjalan ke basement dengan langkah yang gontai, rasanya dunia Alya runtuh dalam sekejap wanita itu seperti kehilangan arah ketika mendengar Steve akan menceraikannya. Dia tidak percaya masa lalu yang dia kubur akan muncul kembali.
Saat berada di dekat mobilnya, tiba-tiba tubuh Alia ambruk, rasanya dia tidak mampu lagi untuk menginjak bumi. Akhirnya tangis Alya luruh, dia mukul-mukul dadanya yang terasa sesak.
Tidak, dia tidak akan pernah mau kehilangan Steve dan tidak akan pernah mau kehilangan Geo, karena mereka berdua adalah segalanya
Dia tidak apa-apa diperlakukan buruk seperti kemarin-kemarin, asal dia tetap melihat Stev dan juga Geo.
Setelah puas menangis, Alia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia memutuskan untuk pulang ke apartemen mereka, dia ingin membereskan apartemen, nanti setelah Geo pulih dia akan berbicara pada Stev dan memohon ampun serta menjelaskan bawa apa yang terjadi adalah masa lalu.
***
Maudy keluar dari mobil, wanita itu baru saja sampai di kediaman mewah Richard, hari ini dia sengaja membawa mobilnya karena mobilnya baru saja keluar dari bengkel.
Maudy mengerutkan keningnya saat melihat Leana sudah menyambutnya, biasanya anak kecil ini tidak pernah seperti ini. “Halo Leana,” ucap Maudy.
“Halo bibi.” Maudy mengerutkan keningnya saat melihat sikap Leana yang lebih manis dari biasanya.
“Bibi, ayo masuk. Aku sudah membuatkan cookies untuk bibi," ajak Leana dan sekarang Maudy mengerti kenapa anak ini bersikap aneh. Pasti, Leana akan mengerjainya lagi.
Tapi seperti biasa, Maudy tidak pernah menolak apapun yang remaja itu lakukan.
Kini, Maudy dan Leana sudah duduk di kursi yang ada ada di dapur. “Ayo bibi, cicipi brownies ini. Aku baru saja membuat resep Ini,” ucap Leana, Maudy tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Bibi tidak mau mencobainya?” tanya Leana, raut wajah gadis kecil itu tampak kecewa.
“Hmm, bibi mau mencobanya asal kau makan terlebih dahulu.”
“Apa bibi tidak percaya padaku?” tanya Leana dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
“Biibi percaya, tapi kau harus makan ini terlebih dahulu, baru bibi makan. Mana mungkin bibi memakan makanan yang kau buat jika kau belum makannya,” jawab Maudy sambil mengelus rambut Leana..
Leana makan brownis itu dengan lahap, hingga Maudy pun mengambilnya, karena yakin anak ini tidak menjahilinya. Namun baru satu suap, Maudy langsung menghentikan suapannya.
Sial! ternyata dia tertipu, brownies yang di simpan di sebelah kiri yang diambil olehnya ternyata mengandung bubuk cabai.
”Bagaimana bibi, apa itu enak?" tanya Leana ketika, seketika Maudy dengan cepat menormalkan ekspresinya.
“mmm, ini enak sekali. Bibi suka sekali brownies seperti ini," jawab Maudy, dia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya, dan berusaha menahan pedas membuat Leana mengerutkan keningnya.
__ADS_1
’Tunggu, apa aku salah menaruh brownies yang berisi bubuk cabai.’ batin Leana bertanya-tanya.