
Setelah mendapat bentakan Steve, Alya memutuskan untuk pergi ke kamar. Sebab, jika dia terus di sana, maka pria itu akan semakin kesal padanya.
Alya membaringkan tubuhnya di ranjang. Dia merasa begitu kesepian ketika Geo berubah. Dia tak tahu kenapa putranya bisa berubah drastis.
Sayangnya, Alya sama sekali tidak menyadari bahwa itu terjadi karena hasutan Nauder dan juga Elsa.
Alya kini mengutak-atik ponselnya, wanita itu memilih untuk melepaskan rasa kesal dengan memainkan benda tersebut. Namun diam-diam di dalam hatinya, dia masih tetap merasakan kesedihan.
Setelah ini, Steve pasti akan mendiamkannya dan tidak akan menegur selama berhari-hari yang membuatnya cukup stres. Alya sangat ingin kembali menjadi model seperti dulu, tapi dia tidak berani meminta izin pada Steve yang sudah sejak setahun yang lalu memintanya untuk berhenti.
Terdengar suara pintu terbuka dan ternyata Steve yang masuk ke dalam kamar. Lelaki itu berjalan dengan lemas ke arah kamar mandi berniat menyegarkan diri.
***
Waktu menunjukkan pukul delapan malamSteve yang sejak tadi berada di ruang kerjanya, kini ke luar untuk makan. Namun, saat dia tiba di meja makan, tak ada apapun di sana.
"Alya!" teriak Steve.
Alya segera keluar dan menghampirinya. "Ada apa, Steve?"
Alya yang mengerti maksud panggilan Steve, kini berkata, "Aku sedang malas memasak. Jadi, kita bisa memesan makanan saja, 'kan?"
Steve menghela napas, padahal perutnya sudah sangat lapar tapi tak ada makanan. Tanpa menjawab, dia segera menyambar kunci mobil.
"Steve, kau mau ke mana?" tanya Alya.
Steve masih tidak menjawab, dia melenggang pergi begitu saja membuat Alya kini menghela napas.
***
Steve menjalankan mobil dengan kecepatan pelan. Lelaki itu menyetir sambil melamun. Selain kesal karena Geo tidak mau diajak pulang, dia pun juga kesal pada Alya. Bukan hanya karena dia yang tidak bisa memenangkan hati anaknya saja, tapi Alia pun menolak permintaannya untuk hamil.
Yap, setelah menikah bertahun-tahun dengan Alya, Steve merasa ingin mempunyai anak lagi, terlebih Geo kini sudah beranjak besar. Tahun lalu, dia sengaja menyuruh istrinya berhenti menjadi model agar Alia cepat hamil, tapi yang terjadu justru di luar dugaan. Alya tetap tidak mau mengandung apalagi sampai punya anak karena bagi wanita itu Geo pun cukup.
Dan itu membuat Steve kesal, hingga seringkali dia menyalahkan Alya dan menjadikan wanita itu sebagai sasaran amukannya.
Pada akhirnya, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, mobil yang dikendarai Steve pun sampai di sebuah restoran. Lelaki itu segera turun kemudian masuk ke dalam sana.
Steve yang sudah duduk, mengangkat tangannya memanggil pelayan untuk memesan makanan.
***
Di saat Steve sedang asyik makan, tiba-tiba dia melihat Neo yang tak lain adalah tangan kanan ayahnya. Melihat pria itu mengingatkan dia akan Maudy, membuatnya cukup penasaran dengan kabar mantan istrinya tersebut.
Sampai akhirnya, Steve yang sudah selesai menghabiskan makannnya, melihat ke meja yang ditempati oleh Neo. Dia bergegas bangkit berniat menghampirinya.
Steve berdeham saat berada di meja Neo, hingga dia yang sedang menikmati secangkir kopi, langsung menoleh. "Tuan Steve."
"Neo, boleh aku bergabung?" tanya Steve.
Neo menggangguk hingga Steve pun langsung menarik kursi dan mendudukkan dirinya di seberang Neo. Sejenak, suasana hening karena tidak ada yang berbicara. Ayah Geo tersebut bingung harus memulai dari mana.
"Kau tidak di India lagi?" tanya Steve pada Neo sebagai pembuka obrolan.
Neo kini menyeruput kopi pada gelas yang sedang dia pegang kemudian menatap Steve. "Tidak, karena kebetulan Nona Maudy pun sudah tidak di India, jadi aku pulang ke mari."
"Apa?" Entah kenapa, Steve terkejut saat mendengar Maudy tidak ada di India. "Apa maksudmu? Dia pergi ke mana?" tanyanya.
"Entahlah, Nona Maudy hanya mengatakan bahwa dia akan menyusul adiknya, dan aku tidak bertanya lagi. Memangnya ada apa? Kenapa Anda tiba-tiba bertanya tentang Nona Maudy?" tanya Neo.
"Tidak, aku hanya penasaran saja bagaimana kabarnya selama ini."
"Nona Maudy cukup baik," ucap Neo memancing penasaran di diri Steve.
"Maksudmu, dia baik-baik saja ketika ditinggalkan Geo?"
"Nona Maudy hanya mengurung dirinya sekitar satu minggu, dan setelah itu dia terlihat baik-baik saja," jelas Neo.
Entah kenapa, Steve merasa tidak terima ketika Maudy baik-baik saja, padahal dia pikir mau wanita itu akan berduka setelah kepergian Geo.
__ADS_1
"Kenapa, apa ada masalah?" tanya Neo menyadarkan Steve dari lamunannya.
"Tidak, aku pikir dia akan bersedih ketika aku mengambil Geo," ucap Steve.
Neo tidak membalas lagi karena dia tidak ingin menggosipkan Maudy.
"Apa kau punya pertanyaan lain?"
"Tidak. Ya sudah kalau begitu, terima kasih." Steve bangkit dari duduknya kemudian memutuskan untuk pulang. Neo yang melihatnya kini menggeleng.
***
Di sinilah Steve berada, yakni di depan mansion orang tuanya. Setelah pulang dari restoran Geo Stev berencana untuk menginap di sana dan tidur bersama Geo karena sudah lama sekali dia tidak menghabiskan malam bersama anak itu.
Steve turun dari mobil dan langsung berjalan ke dalam mansion. Setibanya di sana, dia melihat sang ayah sedang membaca majalah. Dia berpikir untuk meminta Nauder membujuk Geo hingga kini dia segera mendekatinya.
"Daddy," panggil Steve.
Nauder menoleh sekilas sebelum kembali fokus pada majalahnya. Dia hanya bergumam tanpa menatap lawan bicara.
"Apa Geo sudah tidur?"
"Sudah."
"Dia tidur bersama siapa?"
"Bersama Gina," jawab Nauder membuat Steve bangkit dari duduknya, berniat untuk menyusul Geo.
"Kau mau ke mana?" tanya Nauder.
"Daddy, bisakah kau meminta Geo untuk pulang? Lagi pula, kenapa dia harus tetap di sini?" tanya Steve.
Nauder mengangkat bahunya tak acuh. "Kenapa tidak kau sendiri yang mencoba berbicara dengan putramu?" tanyanya balik membuat Steve kini mengusap wajah kasar.
Jika saja Geo bisa diajak bicara, maka tentu saja dia akan langsung berbicara dengan anak itu. Namun nyatanya, setiap dia mengajaknya pulang, Geo akan langsung mengamuk dan berteriak.
Steve yang berpikir bahwa tidak ada gunanya terus di sini dan berbicara dengan sang ayah, memutuskan untuk langsung bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah lift untuk pergi ke kamar Gina.
Steve berjalan masuk mendekati ranjang. Dia membangunkan Gina hingga gadis itu membuka matanya.
"Pergi tidur di kamar lain, aku ingin tidur dengan Geo."
Enggan berdebat dengan Steve, Gina pun langsung bergerak turun dari ranjang kemudian keluar dari sana. Dia berniat untuk pindah tidur di kamar orang tuanya.
Steve kini naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping Geo. Dia menatap wajah anak itu lekat-lekat kemudian mengelus pipi bulat putranya.
Sebenarnya, walaupun tidak tahu bahwa Nauder dan Elsa menghasut Geo, tapi ada kalanya Steve berpikir bahwa mereka melakukan hal yang sama seperti yang pernah dia perbuat kepada Maudy. Namun, dia selalu menepisnya karena mengira bahwa tidak mungkin mereka berlaku seperti itu.
Saat Steve melamun, Geo membuka membuka matanya membuat pria itu tersadar. "Ah maaf, kau pasti terbangun karena Daddy."
Alih-Alih membalas, Geo malah membelakangi Steve dan memeluk gulingnya. Pria itu kini menghela napas dan mencoba untuk memeluk putranya dari belakang. Namun tanpa diduga, Geo langsung menyingkirkan tangannya.
***
Malam telah berganti pagi ketika Steve bangun tidurnya, dan ternyata Geo sudah tidak ada di sana. Dia langsung mengedarkan pandangan dan tak melihat siapapun di sana.
Steve bangkit dari berbaringnya, lelaki tampan itu terdiam mengumpulkan nyawa, hingga sepuluh menit kemudian dia pun berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajah.
***
"Mana Geo?" tanya Steve saat Gina baru saja keluar dari ruang olahraga.
"Kenapa kau menanyakannya padaku? Mana aku tahu, mungkin dia pergi dengan Daddy dan Mommy."
"Pergi ke mana?"
"Entahlah. Oh ya, istrimu ada di bawah, dia mencarimu."
Steve mengusap wajah kasar saat dia melihat Alya yang rupanya nekad datang ke sini, karena ponsel sang suami tidak bisa dihubungi. Beruntung, hari ini Nauder dan Elsa sedang tidak ada, hingga dia tak terlalu ketakutan.
__ADS_1
"Alya, sedang apa kau di sini?" tanya Steve. Jujur saja, dia paling tidak suka ketika Alya menyusulnya.
"Aku bingung kenapa kau tidak pulang, jadi aku menyusulmu ke mari," ucap Alya.
Terdengar suara Geo yang sedang berbincang dengan Nauder dan Elsa. Ternyata, mereka baru saja pulang dari taman.
"Geo," panggil Steve yang tak menghiraukan Alya dan memilih menghampiri Geo yang sedang memakan es krim.
Geo hanya menoleh sekilas pada Steve yang kini berkata, "Geo, ayo kita pulang."
Sekarang, di mata Geo, Steve tak lebih dari sekadar ayah yang jahat. Doktrin yang ditanamkan Elsa pada Geo cukup kuat, hingga diingatan anak itu telah terbentuk sebuah perintah, bahwa dia harus menjauhi Steve sama seperti dulu dia menjauhi Maudy.
"Tidak mau, aku ingin bersama Kakek dan Nenek di sini," jawabnya. Setelah itu, Geo pun berlalu pergi dari sana bahkan melewati Alya begitu saja.
Elsa dan Nauder yang baru saja masuk, langsung melihat ke arah Alya yang berdiri tak jauh dari mereka. Pasangan suami-istri itu menatap menantunya dengan sorot tak suka.
"Mom, Dad, bisakah kalian membujuk Geo untuk pulang? Aku tidak tenang jika harus membiarkan dia terus di sini," ucap Steve dengan nada memohon.
"Kau lihat sendiri bukan, bahwa memang Geo yang tidak mau pulang?" tanya Elsa yang kemudian berlalu begitu saja tanpa menyapa Alya, begitu pun dengan Nauder membuat Steve mengusap wajah kasar.
Sementara Alya, tak perlu ditanya lagi seperti apa hancurnya hati wanita itu melihat perlakuan orang tua sang suami yang penuh dengan kebencian.
***
Maudy mengendarai mobilnya dengan perasaan yang riang. Sudah lama sekali dia menginginkan mobil tersebut. Walaupun selama ini mantan mertuanya selalu mengirimi dia uang dalam jumlah yang banyak, tapi Maudy tidak pernah memakainya.
Bukan karena tidak ingin, tapi karena Maudy merasa tidak membutuhkan apapun. Namun, ketika Januar membelikannya mobil yang dia mau, tentu saja dia bahagia.
Saat itu, ponsel Maudy berdering karena panggilan dari seseorang. Dia segera menepikan mobilnya sejenak untuk melihat siapa yang meneleponnya dan ternyata adalah Gina.
"Halo?"
"Maudy," ucao Gina dari seberang sana.
"Ada apa?"
"Apa kau belum ingin menelpon Geo? Dia sudah berkali-kali menanyakanmu," ucap Gina.
"Nanti saja, Gina, belum saatnya. Oh ya, bisakah kau mengirimkan foto Geo? Sedang apa dia sekarang?" tanya Maudy.
Gina mematikan panggilannya, dan tak lama, dia mengirimkan foto Geo pada Maudy. Mata wanita itu berkaca-kaca saat melihat foto putranya. Dia mengusap layar ponsel kemudian menciumnya.
"Geo, bersabar sebentar lagi, ya. Setelah ini kita pasti akan bertemu," ucap Maudy.
Maudy pun kini kembali menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya. Namun tak lama, dia menginjak pedal rem ketika menabrak sesuatu di hadapannya.
Maudy membawa mobil dengan melamun, hingga dia tidak menyadari bahwa barusan, dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga secara tak sengaja menabrak mobil di depannya. Maudy kini menutup mulut tak percaya saat menyadari itu.
Jantung Maudy berdebar dua kali lipat saat melihat pemilik mobil yang barusan dia tabrak keluar dan berjalan menghampirinya. Dia sungguh takut orang itu akan marah-marah.
Sedetik kemudian, lelaki itu mengetuk kaca mobil Maudy, hingga dengan tangan gemetar dia pun langsung membukakannya.
"Nona, Anda tidak apa-apa?"
Maudy membulatkan matanya saat mendengar pertanyaan lelaki yang berada di hadapannya ini. Bagaimana mungkin pria itu tidak marah, saat seseorang menabrak mobil mewah miliknya?
"Tuan, maafkan aku. Aku akan memperbaiki mobilmu."
"Tidak usah, Nona, aku hanya ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja," jawab lelaki itu, "kau tidak apa-apa, 'kan?"
Maudy segera melepaskan sabuk pengamannya kemudian turun dari mobil karena merasa tidak sopan jika terus berbicara dari dalam sana.
"Maafkan aku, aku akan memperbaiki mobilmu," ucapnya yang merasa tidak enak.
Richard terkekeh. "Tidak apa-apa, aku bisa memperbaiki mobilku. Kalau begitu, aku permisi," ucap Richard.
"Tuan," panggil Maudy.
"Bolehkah aku minta kartu namamu? Aku sungguh merasa tidak enak, jadi aku ingin membawa mobilmu ke bengkel," ucap Maudy lagi.
__ADS_1
Richard menggangguk. "Jika itu membuatmu tidak nyaman, baiklah."
Richard mengambil dompetnya kemudian mengeluarkan kartu nama yang segera dia berikan pada Maudy.