
Setelah memberikan kartu namanya pada Maudy, Ricard tersenyum, membuat Maudy terpaku. Untuk pertama kalinya jantung Maudy berdebar dua kali lebih cepat.
Senyuman lelaki itu begitu memikat.
“Baik, Nona. Kalau begitu sampai jumpa," ucap Richard menyadarkan Maudy dari lamunannya, lelaki tampan itu pun berbalik kemudian berjalan ke arah mobilnya.
Setelah mobil Ricard pergi, Maudy masih terdiam di tempat wanita itu terus melihat mobil Richard yang perlahan menjauh. “Tunggu, apa dia malaikat, kenapa dia tidak marah padaku. Bukankah seharusnya dia memakiku karena aku merusak mobil mahalnya.” Maudy bermonolog seorang diri wanita itu benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran lelaki tersebut.
Maudy melihat ke arah tangannya di mana dia sedang memegang kartu Ricard. “Lexusia Richard," lirih Maudy yang membaca nama lengkap Ricard yang tertera di sana.
Tak lama Maudy membulatkan matanya saat melihat tulisan di bawah nama Ricard.
Maudy terkejut karena ternyata, Ricard adalah seorang Presdir direktur di sebuah perusahaan besar yang ada di Jerman, dan Maudy sangat mengenal betul perusahaan Richard, karena Januar sang adik bekerja di sana.
“Ah, aku pasti hanya mimpi," lirih Maudy, mungkin bertemu Richard aka kebanggan tersendiri untuknya, karena Januar pernah mengatakan bahwa semua karyawan di perusahaan Richard tidak mengetahui sosok CEO mereka, sebab Richard tidak pernah terang-terangan hadir lelaki itu cenderung misterius.
Dan sekarang, dia tidak menyangka dia berkesempatan untuk melihat Richard secara langsung, bahkan berinteraksi dengan lelaki itu. Pantas saja Richard tidak membiarkan dia mengganti mobilnya, karena mungkin bagi Richard, lelaki itu bisa mengganti mobil dengan yang lebih bagus dari mobil yang Maudy tabrak.
Maudy tersadar, kemudian dia pun berbalik lalu pergi ke mobilnya. Maudy menjalankan mobilnya dengan kecepatan pelan, wanita itu memutuskan untuk pergi ke bengkel terlebih dahulu karena dia juga harus membenarkan mobilnya.
Rasa senang karena bisa melihat CEO yang misterius, berganti dengan rasa khawatir karena dia baru mengingat bahwa mobilnya juga remuk. Padahal ini mobil yang baru di belikan oleh Januar, dan dia takut sang adik kecewa padanya.
***
“berapa lama mobil ini bisa selesai?” tanya Maudy ketika dia sudah berada di bengkel.
“Mungkin sekitar dua Minggu, Nona.”
“Apa! dua Minggu?” pekik Maudy. “Berapa biayanya?” kata Maudy. Hingga tak lama, Maudy membulatkan matanya saat mendengar biaya perbaikan mobil miliknya.
Maudy menghela nafas, sebenarnya biaya bukan masalah bagi Maudy, karena di rekeningnya banyak sekali uang pengiriman dari mantan mertuanya. Tapi saat mendengar biaya perbaikan mobil yang fantastis, Maudy begitu terkejut. Belum lagi, mobil ini baru diberikan Devan kemarin tapi sekarang dia sudah merusaknya lalu apa yang harus dia katakan pada sang adik.
“Baiklah, kalau begitu. Aku akan membayarnya sekarang," ucap Maudy, dia pun pergi ke arah kasir kemudian membayar DP dan akan dilunasi ketika mobilnya sudah di benarkan.
Saat berada di luar, Maudy langsung mengutak-atik ponselnya, kemudian dia menelepon Januar, meminta sang adik untuk menjemputnya.
Setengah jam kemudian, Januar datang dengan memakai motor besar membuat Maudy menoleh. “Kakak!” panggil Januar.
“Kenapa kakak ada di sini, mana mobil kakak?” tanya Januar. Lelaki itu mengedarkan pandangannya, mencari mobil yang kemarin dia beli untuk sang kakak, tapi mobil itu tidak ada di mana pun
Maudy tidak menjawab, lidahnya terasa kelu untuk digerakkan. Padahal tadi sudah dia sudah berniat untuk langsung minta maaf pada sang adik, karena dia menabrakkan mobilnya hingga mobil itu harus diperbaiki.
“Kak, kau baik-baik saja? apa ada yang terjadi?" tanya Januari bertubi-tubi.
“Januar, maafkan kakak karena kakak menabrakkan mobil." Maudy mengatakan itu dengan cepat. Lalu setelah itu dia memejamkan matanya, karena terlalu takut melihat reaksi Januari.
Januar yang mengerti langsung memegang kedua bahu sang kakak, membuat Maudy membuka matanya Dia pikir Januar akan marah padanya, tapi ternyata tidak. “Tapi kakak tidak apa-apa?" tanya Januari, sang adik.
Maudy tidak lantas menjawab. Dia pikir Januar, akan marah tapi ternyata tidak. “Kaka tidak apa-apa?” tanya Januar, yang kembali bertanya.
“Kau tidak marah pada Kaka?"
“Mana mungkin aku marah, kakak sudah baik-baik saja aku sudah bersyukur," jawabnya membuat Maudy menghela nafas. “Ya, sudah ayo kita pulang," ajak Januar, dia mengajak Maudy langsung pulang karena dia bisa melihat sang kakak masih terlihat takut menatapnya.
Selama di perjalanan, Maudy merasa gelisah walaupun adiknya mengatakan tidak apa-apa Tapi tetap saja dia merasa tak enak, apalagi dia tahu mobil itu dibeli dari tabungan Januar.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya motor yang di kendarai Januar sampai di rumah, Maudy turun dari motor, kemudian kembali menghadap adiknya.
“Januar, Kaka benar-benar minta maaf.” Maudy kembali mengulang ucapannya, dia terus meminta maaf pada Januar.
Januar turun dari motor, kemudian dia mengelus rambut kakaknya. “Sudah, Kak. Tidak usah dipikirkan, aku tidak apa-apa. Mobil itu kan masih bisa dipakai, apakah kaka punya uang untuk membenarkannya. Jika tidak punya, biar aku yang menebusnya,” jawab Januar. Rasanya dia ingin sekali menangis saat mendengar ucapan sang adik.
“Tidak apa-apa kakak masih punya uang.”
“Ya sudah ayo masuk," ucap Januar yang merangkul pundak sang kakak, dan mengajak Maudy untuk masuk.
***
“Geo, ayo pulang. Kau sudah lama sekali tidak pulang ke apartemen.” Steve masih berusaha membujuk Geo, sedangkan Geo yang sedang menikmati es krim hanya menoleh sekilas.
“Tidak mau, aku ingin tetap tinggal di sini,” jawab Geo, membuat Stev memejamkan matanya.
“ Geo sayang, ayo kita pulang. Mommy berjanji Mommy akan membuatkan makanan kesukaanmu.” Kali ini Alia yang berbicara, dia berusaha untuk membujuk Geo, sebab Stev tidak mampu membujuk putra mereka.
“Sudah kubilang tidak mau, tidak mau,” balas bocah gadis kecil itu. Geo yang sedang duduk di sofa langsung bangkit dari duduknya kemudian dia berjalan mencari kakek neneknya.
“Kakek ... nenek!” panggil Geo, dia berteriak karena kakek neneknya tidak ada di manapun.
“Geo, ada apa?” pada akhirnya Elsa menyahut dari arah kamar, hingga Geo yang sedang membelakangi Elsa, menoleh lalu setelah itu dia menghampiri sang nenek.
“Nenek, Daddy terus mengajak pulang, aku takut,” jawab Geo dengan polos.
Elsa sedikit membungkuk, kemudian berbisik.
“Sekarang, kau boleh pulang bersama Dady dan Mommy Alia. Besok nenek akan menjemputmu,” ucap Elsa. Dia membiarkan Geo pulang agar Steve tak curiga.
__ADS_1
“Aku takut pada Daddy dan Mommy Alia, Nenek.”
“Jika, kau tidak pulang sekarang mungkin Daddy akan berubah menjadi monster. Jadi agar tidak berubah menjadi monster kau harus menginap sekarang di apartemen Daddy,” jawab Elsa yang menakuti Geo, hingga bocah kecil itu tampak berpikir.
“Benarkah?” tanya Geo, bola mata bocah kecil itu memutar ke atas. “Jika aku menginap di apartemen, Daddy tidak akan menjadi monster?” tanyanya memastikan.
“Hmm, Jadi sekarang kau ikuti Daddy dan Mommy Alia. Besok nenek dan kakek akan menjemputmu.”
“Ya sudah kalau begitu," jawab Geo.
Elsa mengelus rambut cucunya. “Ayo hampiri Daddy dan Mommy, bilang kau mau pulang," titah Elsa
. Geo mengangguk, “Bye, nenek," bocak kecil itu langsung berbalik meninggalkan Maudy.
“Geo!" panggil Maudy lagi, hingga Geo yang sudah berbalik menoleh. Elsa menghampiri Geo, kemudian dia berbisik. “Jangan pernah memakan masakan Mommy Alia, itu beracun. Kau mengerti?” ucap Elsa. Geo kembali mengangguk.
“Baik, nenek,” Jawab Geo, membuat Elsa tertawa.
‘Mommy melakukan ini bukan karena membencimu Steve. Mommy melakukan ini agar kau sadar bahwa yang kau lakukan adalah salah, karena cara licik harus dibalas dengan licik.’ batin Elsa, saat Geo semakin menjauh.
Ada kalanya, Elsa merasa tak tega pada Geo, Karena anak sekecil Geo harus di doktrin kesana kemari. Tapi, dia tak punya pilihan lain. Sifat Stev sedikit tamak, sangat arogan dan manipulatif, dan putranya hanya bisa di sadarkan dengan cara seperti ini.
“Daddy, ayo kita pulang ke apartemen.” Stev dan Alia yang sedang terdiam langsung terkejut saat mendengar ucapan Geo, bahkan Stev hampir tak percaya saat Geo mengajak pulang. Padahal tadi, mati-matian dia mengajak putranya untuk pulang tapi Geo tidak mau.
“Hmm, ayo kita pulang.” Kali ini, Aliya begitu bersemangat, hingga dia langsung mengulurkan tangannya pada Geo. Namun, Geo menolaknya, membuat Alya langsung speechless, begitupun dengan Stev.
“Mau Daddy gendong?” tanya Steve yang menawarkan putranya. Rasanya, Stev rindu saat putranya ingin di gendong.
“Tidak mau." pada akhirnya, Geo mendahului untuk keluar dari mansion kakek neneknya, dan disusul oleh Steve Aliya.
“Geo, kau ingin sesuatu?” tanya Stev, ketika mereka sedang berada di mobil.
“Tidak mau,” jawab Geo, bocah kecil itu duduk di belakang seraya bermain tab. Sedari tadi, Stev terus bertanya, siapa tau Geo ingin sesuatu sebelum pulang ke apartemen Namun, Geo menggubris pertanyaan Stev dengan jawabannya yang sama.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Geo sampai di basement apartement, Stev turun, begitupun dengan Alia lalu disusul Geo yang juga turun seorang diri.
Waktu menunjukkan pukul 7 malam, Alia memasak dengan semangat, karena hari ini dia memasakkan beragam makanan yang disukai oleh Geo dan Steve, wanita itu berharap Geo mau memakan makanan masakan buatannya.
Setelah 1 jam berkutat di dapur, akhirnya acara masak pun selesai, Alia keluar dari area dapur dan langsung pergi ke ruang makan sambil membawa makanan yang sudah dia buat.
Alia tersenyum saat melihat meja makan penuh dengan makanan kesukaan Geo dan Steve, berharap hal ini mampu memperbaiki hubungan mereka, bukan hanya dengan Geo saja tapi dengan Steve juga.
“Geo .... Stev!” Alia memanggil keduanya.
Step keluar dari ruang kerjanya, kemudian dia berjalan ke arah ruang makan.
“Sebentar!” Alia langsung bergegas untuk menyusul Geo ke kamar, dan ternyata Geo sedang bermain game, hingga Alia langsung berjalan ke arah ranjang.
“ Geo, ayo taru itu dulu, kita makan malam bersama,” ajak Aliya dengan lemah lembut, dia menundukkan dirinya di sebelah sang putra.
Geo tidak menjawab, bocah itu menoleh pada Alia sekilas kemudian di kembali fokus pada game. “Ayo kita makan dulu, setelah itu kau boleh melanjutkan bermain game,” ucap Alia. Lagi-lagi Geo tidak mengindahkan ucapan Alia, membuat Alya menghela nafas Lalu setelah itu, dia mengambil paksa tab dari tangan Geo, membuat Geo angsung menoleh dan melotot galak pada Alia.
“Mommy, kenapa mengambil tabku,” ucap Geo dengan tidak terima.
“Geo, sudah waktunya makan malam. Bukankah Mommy sudah bilang bahwa kau boleh memainkan tabmuhsetelah kau makan malam, kau mengerti," jawab Alia dengan nada tegas. Rasanya Dia sudah kehilangan kesabarannya.
Pada akhirnya, tangis Geo meledak, membuat step yang sedang berada di ruang makan langsung berlari ke arah kamar.
“Geo Ada apa?” tanya Stev “Kenapa kau membuat Geo menangis?” tanya Stev lagi. Dia langsung menatap Alia dengan tajam, dan sedikit meninggikan suaranya, membuat Alya kian panik.
“A-aku tidak bermaksud, aku hanya menyuruh dia makan malam dan mengambil tabnya," Jawab Alia dengan terbata. Rasanya begitu menyakitkan ketika melihat tatapan Stev.
“Kalian jahat, kalian jahat!” teriak Geo, dia mengambil selimut kemudian menutupi sekujur tubuhnya membuat Alia dan Steve sama-sama menggeleng.
“Seharusnya kau bujuk dengan pelan, jangan seperti itu!” omel Stev, membuat Alya terdiam, dia tidak berniat membalas ucapan Steve dan memilih bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar.
Rasa senang yang Alia rasakan dan semangat yang tadi dia rasakan hilang begitu saja saat menyaksikan sikap Geo. Padahal Alia hanya menyuruh putranya untuk makan
Stev mendudukkan diri di sebelah Geo, dia mengelus rambut putranya. “Geo, ayo kita makan dulu, nanti kau boleh bermain game lagi sepuasnya,” ucap Stev yang masih mencoba membujuk, dia bahkan berbicara dengan nada yang lemah lembut, membuat Geo mengintip.
“ Aku tidak mau makanan itu, aku juga tidak mau makan di sini,” ucap Geo, karena dia di doktrin oleh Elsa bahwa makanan apapun yang dimasak oleh Alia sangat beracun.
“Ya, sudah ayo kita beli makanan. Kau ingin makan apa hmm?” tanya Stev, membuat Geo langsung melepaskan selimutnya, kemudian dia menghapus air matanya.
“Aku ingin Pizza."
“Baiklah, ayo.” Stev bangkit dari duduknya kemudian membantu Geo untuk turun, lalu keluar dari kamar.
“Kalian mau ke mana?” tanya Alia saat melihat Steve dan Geo sudah memakai mantel.
“Kami akan makan pizza di luar,” jawab Stev, membuat mata Alia membulat.
“Kenapa kalian makan di luar. Aku sudah memasak,” ucap Alia, dia menatap Steve dan Geo dengan tatapan terluka karena makanannya tidak ada yang memakannya. Tadi dia sangat bersemangat untuk memasak masakan kesukaan Stev dan Geo. Tapi sekarang.
“Aku ikut,” cap Alia lagi.
__ADS_1
“Tidak boleh,” kata Geo tiba-tiba membuat mata Alya membeliak.
“Ayo, Daddy kita pergi berdua saja.” Geo langsung menarik tangan Steve, hingga mereka pun keluar dari apartemen meninggalkan Alia yang hanya mampu menatap punggung Steve dan Geo.
“ Tuhan, kenapa jadi begini,” lirih Alia sejenak wanita itu terdiam, tubuhnya diam membeku hingga tak lama dia tersadar, lalu berjalan ke arah meja makan di mana ada makanan yang sudah dia masak berakhir dengan sia-sia. tidak ada yang menyentuh makanannya, sungguh rasanya Alia ingin mengamuk.
Alia menarik kursi, wanita itu mendudukan dirinya kemudian dia mengambil piring lalu menyimpan makanan ke piringnya dan memakan masakannya dengan berlinang air mata.
Jujur saja beberapa waktu ke belakang begitu berat untuknya, dia seperti tidak mempunyai semangat hidup, karena Stev dan Geo benar-benar sudah berubah.
Stev berubah ketika dia menolak untuk mempunyai anak. Sebenarnya Aliya ingin sekali mempunyai anak, tapi sayangnya dia tidak bisa, karena sebenarnya rahim Alia sudah diangkat sebelum mereka menikah.
Ya, inilah alasan kenapa Aliya selalu berkata pada Stev bahwa dia tidak ingin punya anak dan beralasan takut jika badannya melar. Padahal itu hanya alasan, karena faktanya rahimnya sudah diangkat sebelum mereka menikah.
Awalnya Aliya ingin jujur, tapi Stev selalu membahas anak dan anak hingga pada akhirnya dia selalu berbohong bahwa dia tidak ingin hamil karena dia takut tubuhnya melar. Dan itu sebabnya dia sangat menyayangi Geo, itu dia juga menghasut Stev untuk mengambil Geo dari tangan Maudy.
Dan beberapa waktu belakangan ini, semenjak Geo berubah, dia di Landa ketakutan yang luar biasa, bagaimana jika Stev terus mendesaknya agar hamil.
Mengingat itu, tiba-tiba Alya yang sedang makan menangis tersedu-sedu, bagaimana jika semuanya terbongkar, dia takut Stev meninggalkannya.
***
Stev menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, dari tadi dia terus mengajak putranya berceloteh ke sana kemari tapi Geo sama sekali tidak menggubrisnya hingga tiba-tiba Step terpikirkan sesuatu.
“Geo!” panggil Stev. “Apa kakek dan nenek mengatakan sesuatu padamu? apa mereka menjelekkan Daddy dan Mommy?” tanya Stev.
Geo tempat berpikir. “Tidak, mereka tidak mengatakan apapun," dusta Geo, membuat Stev menghela nafas Dia pikir orang tuanya menghasut Geo. Tapi ternyata tidak, itu berarti Geo berubah karena sendirinya.
Beruntung Elsa menasehati Geo dan menyuruh Geo menjawab demikian, karena d
Elsa yakin suatu saat Stev curiga dan benar saja dugaan Elsa.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Steve sampai di restoran. Stev turun, kemudian membantu Geo untuk turun dan mereka pun berjalan masuk ke dalam restoran.
Stev mengangkat tangannya, kemudian wanita itu langsung memanggil pelayan dan memesan makanan yang Geo mau, setengah jam berlalu, akhirnya pesanan Geo datang, dia langsung melahapnya sedangkan Steve terus menatap Geo, wajah Geo adalah perpaduan wajahnya dan juga wajah Maudy.
“Geo!"panggil Steve, Geo yang sedang asyik dengan pizzanya menoleh sekilas lalu kembali memakan pizza di tangannya.
“Apa nenek Kakek atau bibi Gina sering membahas tentang Mommy Maudy?” tanya Stev. Geo menggeleng. “Tidak pernah,” jawabnya, membuat Stev menghela nafas. Setidaknya keluarganya tidak seperti apa yang dia pikirkan. Padahal jelas-jelas semua sudah disetting oleh Elsa dan Nauder.
Acara makan pizza pun selesai, Geo dan Steve bangkit dari duduknya, kemudian mereka keluar dari restoran tentu saja setelah membayar pesanan.
***
Stev mematikan mobilnya, ketika sampai di basement dia melihat Geo ternyata Geo tertidur hingga Steve dengan pelan turun, lalu memutari mobil dan menggendong tubuh Geo dan berjalan untuk pergi apartemen miliknya.
Saat masuk ternyata Alia sedang tertidur di sofa. Namun Stev melenggang begitu saja melewati tubuh istrinya. Stev masuk ke dalam kamar, lelaki itu membaringkan Geo di kasurnya. Malam ini, dia ingin tidur dengan putranya karena sudah lama sekali dia tidak tidur dengan Geo.
Aliya langsung membuka matanya ketika Steve masuk, dia berpikir Steve akan kembali lagi kemudian menggendongnya dan memindahkannya ke kamar seperti biasa. Namun harapannya hanya angan-angan karena Stev malah menutup pintu kamar, mereka membuat hati Alia sesak.
****
“Kak, ayo ikut saja denganku. Aku akan mengantarmu," ucap Januar ketika mereka baru saja sarapan.
“Tidak usah, Januar. Kau akan akan bekerja kakak bisa menaiki taksi jawab Maudy lagi.”
“Kaka yakin ingin menaiki taksi?” tanyanya.
“Hmm, Kaka yakin, lagian kau juga tidak searah dengan sekolah, jadi biar kakak menaiki taksi. Oh, ya jika kau pulang lebih awal nanti tolong bereskan cucian di atas,” jawab Maudy.
“Hm, aku membereskannya. Kau yang menyetrika," jawab Januar. karena memang mereka terbiasa melakukan pekerjaan rumah bersama sama.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya taksi yang ditumpangi oleh Maudy sampai di sekolah, dia pun turun kemudian masuk ke dalam.
“Nona Maudy," ucap salah satu guru hingga Maudy menoleh.
“Ya, Nona Alea?” tanya Maudy.
“Ada yang ingin bertemu dengan Anda," ucap guru tersebut, hingga Maudy mengerutkan keningnya. Namun tak urung dia mengganggu lalu pergi ke ruang kepala sekolah.
“Permisi,” ucap Maudy yang masuk kedalam.
“Silakan Nona Maudy," masuk ucap Eliana yang tak lain kepala sekolah di sana.
Langkah Maudy terhenti ketika melihat siapa yang duduk di sofa, matanya membulat saat melihat orang itu yang tak lain adalah Richard.begitu pun juga Richard yang terkejut dengan kehadiran Maudy.
“Oh, hai kita bertemu lagi,” sapa Richard. Maudy belum respon karena dia terlalu bingung, kenapa Richard bisa ada di sekolahnya dan kenapa dia dipanggil ke ruangan kepala sekolah
“Nona, Maudy silakan duduk,” ucap kepala sekolah, membuat Maudy tersadar hingga dia mendudukkan diri di sofa.
“Perkenalkan ini Tuan Richard. Dia kepala yayasan di sekolah ini," jawab kepala sekolah membuat Maudy mengangguk.
“ halo Tuan Richard.” Richard mengangguk, seperti biasa senyuman lelaki itu begitu memikat.
“Nona Maudy Tuan Richard sedang membutuhkan guru les lukis, saya harap Nona bersedia, ucap kepala sekolah.
__ADS_1
“Aku akan memberikan gaji berkali-kali lipat cukup ajari anakku melukis," ucap Ricard. Sebagai seorang pengagum lelaki tampan tentu saja Maudy kecewa, ternyata Richard sudah memiliki anak, berarti lelaki itu sudah menikah. Sayangnya Maudy tidak tahu bahwa Richard adalah seorang duda.
“Bagaimana Nona Maudy, apakah anda mau?” tanya Richard. Maudy ....