
“Untuk apa kau menemuiku?’ tanya Nauder pada Damian. Saat ini, mereka sedang berada di sebuah cafe yang tak jauh dari kantor Damian.
Setelah mendengar ucapan Elsa tentang Nauder, Damian langsung menghubungi nomer Ponsel Nauder yang dulu, dan ternyata ponsel Nauder masih bisa dihubungi, hingga dia langsung minta Nauder untuk bertemu dan meminta Nauder untuk menjauhi Elsa.
Damian menegakkan tubuhnya, lelaki itu menatap Nauder dengan haleaan nafas yang panjang. “Jauhi Elsa,” ucap Damian tiba-tiba membuat Nauder tertawa.
Pembawaan Nauder begitu kalem tidak terintimidasi sedikitpun. “Kenapa kau mengaturku, memangnya apa hubunganmu dengan?” tanya Nauder.
Skak! Damian terdiam, dia tidak bisa menjawab. lelaki tampan itu berusaha untuk untuk memutar otak, agar bisa menjawab ucapan Nauder.
“Selama 4 tahun ini aku mengejarnya. Aku tidak mau Elsa goyah karena kehadiranmu. Harusnya kau sadar diri, mana mungkin Elsa mau denganmu lagi yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya.”
, “Aku tidak punya pembelaan dari apa yang aku lakukan di masa lalu. Tapi, aku yakin Elsa aku menjadi milikku.” Nauder bangkit dari duduknya, lelaki itu menatap Damian. “Jangan hubungi aku lagi hanya untuk membahas ini.
Satu Bulan kemudian
Elsa masuk kedalam apartemen dengan langkah gontai. Wanita itu merasa tubuhnya sangat lemas, pekerjaannya begitu menumpuk, Hingga ia pulang dengan keadaan yang tak karuan.
1 bulan ini Nauder dan anak buahnya tidak pernah mengikutinya lagi. Sebulan lalu, hari di mana dia pergi ke apartemen Nauder dan Nauder mengantarkannya ke apartemennya, hari itu pula adalah hari terakhir dia melihat mantan suaminya.
Tidak ada jejak yang Nauder tinggalkan dan itu membuat Elsa merasa aneh, dia berusaha menyibukkan dirinya dengan pekerjaan tapi tetap saja dia malah terpikirkan oleh mantan suaminya.
Ting!
Satu pesan masuk ke dalam ponsel Elsa, hingga Elsa merogoh tasnya lalu mengambil ponsel, ternyata itu pesan dari Alexander..
“Sudah pulang ke apartemen?” tanya Alexander dalam pesannya.
“Hmm, aku sudah pulang, tubuhku lemas sekali hari ini,” jawab Elsa.
“kenapa, Apa pekerjaan menumpuk?”
“Sebenarnya, aku memikirkan mantan suamiku.”
“Memangnya ada apa dengan mantan suamimu?”
“Bukankah aneh, dia mengikutiku selama bertahun-tahun. Tapi selama sebulan ini dia menghilang. Menurutmu kenapa dia tidak mengikuti aku lagi?”
“Jadi kamu merasa senang diikuti olehnya?”
“Entahlah aku merasa ada yang aneh saja saat dia tidak mengikutiku, apa aku hanya merasa bersalah saja karena dia telah menolongku?” tanya Elsa.
“Sepertinya kau mulai tertarik dan jatuh cinta lagi pada mantan kekasihnya.”
“Mana ada, kau ini menyebalkan sekali! Tidak mungkin aku jatuh cinta lagi padanya.”
__ADS_1
”Bagaimana jika mantan suamimu pergi dan tidak akan melihatmu lagi, karena kau selalu menampakan kekesalanmu. Bisa jadi dia masih merasa bersalah, hingga dia tidak berani lagi untuk menemuimu dan memutuskan untuk pergi karena merasa kau sudah aman.”
Elsa tampak tercenung saat mendengar pesan dari Alexander. “Jadi menurutmu aku harus bagaimana?”
“Bersikap biasa saja tidak usah ketus, bisa jadi juga suamimu sekarang sedang tidak baik-baik saja, kau bercerita bahwa suami tertembak bisa saja bukan, dia sekarang sedang merasakan rasa sakit karena luka tembakan.”
Elsa bangkit dari duduknya kemudian dia tampak berpikir. Hingga dia menoleh ke arah ponselnya karena ponselnya berbunyi lagi.
“Temui dia Elsa, siapa tahu dia sedang kesulitan,” tulis Alexander lagi. Setengah termenung dalam waktu yang cukup lama, dia pun langsung bangkit dari duduknya.
***
Nauder tertawa saat membaca percakapan pesannya dengan Elsa, dan dia yakin, pasti Elsa akan datang kemari.
Nuader dengan cepat mempersiapkan dirinya, dia memakai sweeter dan juga memakai celana panjang, dia akan berpura-pura demam pada Elsa.
1 jam berlalu
Nauder terus mondar-mandir di ruang tamu, barusan Elsa mengatakan pada Alexander bahwa Elsa sedang dalam perjalanan menuju ke apartemennya dan Nauder benar-benar bersyukur, dia menjadi Alexander. Hingga dia bisa tahu apa yang mantan istrinya lakukan.
Tak lama terdengar suara bel berbunyi, Nauder menghentikan langkahnya, lelaki itu langsung menormalkan ekspresinya berpura-pura lemas lalu dia berjalan ke arah pintu.
“Oh kau Elsa!” panggil Nauder, dia meredupkan matanya, agar Elsa menyangkanya sakit.
“Maksudku aku khawatir padamu. Eh, bukan maksudku aku ....”
“Silakan masuk,” ucap Nauder mati-matian dia menahan tawa saat melihat Elsa seperti ini.
“Kau baik-baik saja?” tanya Elsa.
“Aku sedikit demam," jawabnya. Elsa melihat ke arah dapur, dia melihat bahan masakan tentu saja itu disiapkan oleh Nauder, agar Elsa memasakannya lagi.
“Kau belum makan?” tanya Elsa.
“Belum, tadi aku ingin memasak. Tapi tubuhku lemas. Aku akan memesannya sekarang.”
“Tidak usah, biar aku yang memasakan makanan untukmu.”
“Baik terima kasih,” jawab Nauder dengan suara yang pelan, seolah dia tidak mempunyai tenaga untuk berbicara.
Elsa berjalan ke arah dapur sedangkan Nuader pergi ke arah ruang tamu, Nauder bersorak ketika berbalik, rencananya berhasil
1 jam berlalu, akhirnya Elsa selesai dia membuat bubur dan juga membuatkan sayur ginseng untuk Nauder, setelah itu dia berjalan ke arah ruang tamu, menyusul mantan suaminya.
“Ini makan,” ucap Elsa dengan ketus. Tapi saat melihat wajah Nauder yang lemas.
__ADS_1
“Ayo cepat makan,” jawab Elsa dengan lemah lembut.
“Aku akan memakannya sebentar lagi, tunggu dingin dulu,” jawabnya.
“Ya sudah aku mau pulang.”
“Kau mau pulang?” tanya Nauder dengan lemas.
.“Oh, aku pikir kau akan menemaniku di sini.”
“Baiklah karena kau memintanya. Aku akan di sini.”
Elsa mengambil mangkok bubur yang telah dia simpan. “Ayo bangun, aku akan menyuapimu,” ucap Elsa.
Dengan semangat Nauder pun bangkit dari berbaringnya, lelaki itu langsung mendekat dan Elsa langsung menyuapi Naude, hingga bubur di mangkok hampir habis.
Nauder makan dengan lahap, walaupun bubur itu sedikit panas.
“Kau benar sakit?” tanya Elsa.
“Aku demam,” jawabnya.
“Tapi biasanya, orang sakit tidak pernah nafsu makan. Tapi kenapa kau!”
Uhuk. Nauder tersedak. “Itu karena aku belum makan dari tadi,” jawab Nauder.
“Kau ini bodoh, kenapa kau tidak bisa memesan?” tanya Elsa dengan kesal.
“Ke-kenapa kau memarahiku," ucap Nauder.
Elsa meniup poninya, dia menatap Nauder dengan kesal. “Sudah aku malas meladenimu, kau ini tidak pernah berpikir. jika kau lapar, pesan makanan jangan menahannya,” kata Elsa.
“Ia ... Ia, maaf. Aku bersalah,” kata Nauder.
“Tunggu Elsa apa kamu khawatirkanku?” tanya Nauder lagi.
Elsa tidak menjawab, wanita itu menatap Nauder. “Kenapa selama ini kau mengikutiku?’ Akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Elsa.
Kemarin-kemarin dia terlalu gengsi untuk bertanya. Namun sekarang dia memberanikan dirinya untuk mengatakan apa yang selama ini membuatnya penasaran.
“Kau yakin ingin mengetahuinya?’ tanya Nauder. Elsa mengangguk mantap.
“Karena sampai detik ini, aku belum bisa melupakanmu.”
Elsa ...
__ADS_1