Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Terjebak dengan Rencana


__ADS_3

"Kau dengar, 'kan, apa kata ayahku? Kau tidak usah khawatir. Aku tidak akan merebut Geo darimu," ucap Steve setelah Maudy mematikan panggilan dari Nauder.


Maudy tidak menjawab, dia memeluk Geo dengan erat hingga anak itu kesulitan untuk bernapas.


"Mommy, aku tidak bisa bernapas," ucap Geo hingga Maudy tersadar.


"Maafkan Mommy."


Setelahnya, Steve langsung menyalakan dan menjalankan mobilnya kembali, hingga setelah sampai setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, dia pun sampai di rumah keduanya yang selama ini ditempati oleh Maudy.


"Cukup, jangan masuk ke dalam. Tunggu di sini saja," ucap Maudy.


"Kau tidak ingin aku masuk?"


"Tidak, aku mengharamkanmu untuk masuk ke dalam rumahku," kata Maudy.


"Ayo Geo," ucap Maudy tapi dia masih terdiam di tempat seolah tidak ingin turun dari mobil.


"Aku ingin bermain bersama Daddy," ucap Geo dengan wajah memelas membuat Maudy ingin sekali menangis, karena dia tidak bisa menolak permintaan Geo. Dia tidak tahan jika melihat anaknya seperti ini.


"Aku akan mampir sebentar, setelah itu aku akan pergi," ucap Steve yang berusaha meyakinkan Maudy.


Maudy terdiam sejenak. "Kemarikan ponsel dan dompetmu," ucapnya pada Steve karena takut pria itu akan kabur.


Steve dengan sukarela memberikan dompet dan ponselnya pada Maudy. Lelaki itu langsung merogoh saku kemudian mengambil dompet dan ponsel lalu memberikannya ke tangan sang mantan istri.


Setelah itu, Maudy pun turun dari mobil. Begitu pula dengan Steve yang juga turun lalu menggendong putranya untuk masuk ke dalam.


"Bolehkah aku bermain saja di sini? Aku rasa dia butuh waktu bermain denganku."


"Kau bisa menunggu di depan kamarnya," jawab Maudy membuat Steve mengerutkan keningnya.


Walaupun pernikahan Maudy dengan Steve hanya sebentar, tapi dia mengerti betul bagaimana watak pria itu. Dia jelas mengerti tipe seperti apa mantan suaminya, mana mungkin dia yang begitu arogan bersedia menuruti permintaannya yang jelas bukan siapa-siapa.


"Ayo Daddy," ucap bocah kecil itu terus menarik tangan sang ayah, hingga Maudy tidak punya pilihan lain yang memutuskan untuk menunggu di luar kamar Geo.


***


Satu jam berlalu, Maudy terus melihat ke arah kamar Geo. Terdengar suara gelak tawa dari dalam sana membuat hati Maudy sedikit menghangat.


Ini adalah pertama kalinya dia melihat Geo tertawa lepas seperti sekarang setelah tiga tahun yang lalu.


Apalagi saat awal-awal mereka pindah ke India, Geo selalu menanyakan keberadaan Alya juga Steve, dan itu membuat Maudy kesusahan untuk menjawab. Dia tidak mungkin memberitahukan apa yang terjadi.


Namun seiring berjalannya waktu, Nauder dan Elsa memberikan pengertian hingga Geo tidak pernah lagi bertanya Steve dan Alya.


Lalu sekarang, ketika Steve ada di depannya, dia langsung melampiaskan kerinduan yang dia rasa dan itu membuat hati Maudy pedih.


Tidak lama, tawa Geo tak lagi terdengar membuat Maudy langsung merasa curiga. Wanita itu segera bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah kamar.


Ternyata di dalam sana, Steve dan Geo sedang berbaring. Anak itu tampak mengantuk.


Setelah Geo tidur, Steve menarik selimut untuk menutupi tubuh putranya. Lelaki itu menatapnya lekat-lekat. 'Daddy akan melakukan apapun untuk mengambilmu kembali. Daddy tidak peduli dengan perasaan orang lain, yang Daddy pikirkan adalah kau harus kembali ke tanganku, batin Steve yang tak berniat memikirkan perasaan Maudy.


Tujuan utamanya saat ini adalah mengambil hati Maudy, dan setelah dia luluh, dia akan mengambil Geo dari tangan wanita itu.


Setelah Geo terlelap, Steve langsung turun dari ranjang kemudian langsung keluar kamar hingga sekarang dia pun telah berdiri di depan Maudy.


"Sudah, kau boleh pergi sekarang," ucap Maudy.


Steve melihat jam di pergelangan tangannya. "Aku meninggalkan mobilku di sana dan aku ingin istirahat. Bolehkah aku menumpang di sini?"


"Tidak boleh. Kau tidak boleh berada di sini," jawab Maudy.


"Tapi di luar hujan, Maudy. Bagaimana aku akan mengambil mobilku dan pergi ke hotel?"


Maudy tampak berpikir. "Baiklah, kau bisa tidur di belakang tidak di rumah utama," jawabnya dengan singkat padat dan jelas.


Setelah itu, Maudy langsung masuk ke dalam kamar Geo dan menutup pintu. Steve menggeram kesal. 'Awas saja jika kau sudah luluh, aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Geo,' batin Steve. Kali ini, dia sungguh emosi saat Maudy terus mengusirnya.


Selama ini, Steve tidak pernah diperlakukan buruk oleh siapapun, dan sekarang tiba-tiba wanita itu bersikap seenaknya. Sayang sekali, dia hanya bisa bersabar. Dia sudah berpisah dengan Geo selama tiga tahun, dan dia tidak ingin Nauder memisahkannya lag darii anak itu.


***


Maudy berjalan ke arah ranjang. Wanita itu langsung mendudukkan dirinya di sebelah Geo kemudian mengelus pipi putranya. Dia dia menaikkan kaki kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah sang anak.


"Mommy tidak tahu kesalahan apa yang Mommy lakukan di masa lalu, hingga bertemu dengan orang seperti ayahmu," lirih Maudy.

__ADS_1


Cukup dari tatapan mata Steve saja, dia tahu bahwa apa yang dilakukan pria itu hanya berpura-pura. Feeling-nya tidak akan pernah salah, dia yakin mantan suaminya itu sedang berusaha untuk mengambil Geo.


Setelah cukup lama terdiam, akhirnya tanpa sadar Maudy pun terlelap di samping Geo.


***


Beberapa jam berlalu, Maudy terbangun. Dia mengusap kasur di sebelahnya dan langsung bangkit dari berbaringnya ketika tak mendapati Geo.


Wajah Maudy terlihat takut. Dia mulai berpikir, bagaimana jika Steve yang membawa Geo?"


"Geo ... Geo!" panggil Maudy. Dia dengan cepat berjalan ke arah luar.


"Geo!" panggilnya lagi.


"Apa kau melihat Geo?" tanya Maudy pada pelayan yang lewat di hadapannya.


"Dia sedang berenang dengan Tuan Steve."


Maudy langsung berjalan ke arah luar. Samar-Samar dia mulai mendengar suara gelak tawa.


Tubuh Maudy mematung saat melihat apa yang di depannya. Ternyata Steve dan Geo sedang berenang.


Sebagai seorang ibu yang selalu ketakutan anaknya di ambil oleh Steve, kali ini hatinya menghangat melihat pria itu karena selama ini dia tak pernah melihat Geo seriang sekarang.


"Tidak Maudy, kau tidak boleh percaya padanya," ucapnya pada diri sendiri. Wanita itu segera menetralkan ekspresinya kemudian berjalan ke arah mereka berdua.


"Geo."


"Momny, ayo ke mari. Kita berenang bersama," ucap Geo.


Steve tersenyum yang terlihat menakutkan di mata Maudy. Entah kenapa, dari dulu dia tidak pernah bisa berdamai dengan Steve. Apalagi dia sudah tahu dan yakin tentang kedatangannya ke India. Walaupun mertuanya menjamin bahwa dia tidak akan macam-macam.


Maudy mendudukkan diri di kursi yang ada di tepi kolam, sedangkan Steve langsung kembali mengajak Geo untuk berenang.


***


"Apa aku tidak boleh menginap di sini?" tanya Steve ketika Geo sudah tertidur. Hari sudah sangat larut dan ternyata di luar masih hujan.


"Tidak boleh, kau tidak boleh menginap di sini."


Maudy melihat ke arah jendela kemudian kembali menoleh pada Steve. "Baiklah, kau boleh tidur di sini, tapi setelah ini jangan pernah datang lagi untuk menemui Geo. Kau mengerti?"


"Maudy, kita bicara dari hati ke hati," ucap Steve berkata selembut mungkin, padahal hatinya telah mengingkari apa yang dia perlihatkan pada Maudy. Dia bahkan merasa begitu mual ketika harus berpura-pura baik pada wanita di depannya ini.


"Tidak mau, tidak ada yang harus kita bicarakan lagi."


“Maudy, mental Geo akan kacau jika terus seperti ini. Aku akui, aku bersalah karena memisahkanmu dengan Geo. Tapi aku benar-benar tidak akan memisahkan kalian lagi. Aku hanya ingin kita membesarkan Geo secara bersama-sama,” ucap Steve. “Mental Geo lebih penting dari apapun. Aku sama sekali tidak berniat untuk mengambil Geo. Jika aku mau, sudah aku lakukan dari dulu tapi aku baru menemui dia sekarang,” sambungnya lagi berusaha meyakinkan Maudy.


Maudy menatap Steve lekat-lekat tadi dia ragu. Tapi saat melihat tatapan Stev seperti ini, rasanya Maudy berubah pikirannya. Apalagi Stev terlihat sangat bersungguh-sungguh.


Tentu saja Stev hanya berakting, dia mengetahui Maudy masih mencurigainya itu sebab sebabnya dia meyakinkan Maudy agar Maudy yakin padanya.


“Lalu apa maumu?” tanya Maudy


“Aku sudah bercerai dari Aliya, dan aku ingin membesarkan Geo bersama-sama, agar Geo mempunyai keluarga utuh. Kita tidak harus menikah, kita hanya perlu membesarkan dia secara bersama-sama,” lagi-lagi Steve menjawab dengan meyakinkan.


“Kau sudah bercerai dari Alia?" Ulang Maudy dia menatap Steve dengan tatapan tak percaya.


“Hmm, kami sudah bercerai dan aku sekarang ingin hidup tenang dengan melihat perkembangan Geo. Jika kau tidak percaya kau boleh menyuruh aku untuk melakukan apapun, asalkan aku bisa tetap bersama Geo," balas Steve. Dia benar-benar berbicara dengan meyakinkan, hingga pada akhirnya Maudy yang sempat tidak percaya akhirnya setengah percaya pada mantan suaminya.


“Kenapa kau bercerai dengan Aliya?” tanya Maudy. Semenjak kepergian Geo ....” Stev pun . meskipun menceritakan semuanya, tentu saja dia sedikit berbohong agar Maudy percaya.


Maudy mengangguk-anggukkan kepalanya,


“Apa buktinya kau bercerai dari Alya?”


Stev sudah menduga Maudy akan menanyakan ini hingga sudah menyiapkan semuanya, Stev merogoh saku kemudian mengambil ponsel, lalu mengutak-atik ponselnya kemudian dia memperlihatkan sebuah foto ia dan Alia sedang berada di pengadilan, dan sayangnya Maudy percaya begitu saja.


Stev berencana untuk terus menghasut Geo agar Geo merindukan juga Aliya dan melupakan Maudy, karena faktanya mereka belum bercerai. Mereka sudah menyusun rencana ini berdua, tanpa Stev sadari mungkin saja dia akan terjebak dengan rencananya sendiri


“Bagaimana, kau setuju bukan denganpa yang aku katakan?” ucap Stev. Raut wajahnya terlihat seperti orang yang sedang memohon.


Maudy menghela nafas sebanyak-banyaknya. kemudian dia menjawab. “Beri aku waktu aku, akan memutuskannya besok," jawab Maudy.


“Baiklah kalau begitu? Jadi sekarang bolehkah aku tidur di sini sekarang?” tanya Stev.


“Tidak boleh, jika mau kau tidur saja di pavilun belakang, awas aja jika kau masuk ke rumah utama.”

__ADS_1


“Maudy ...”


“Ia atau tidak,” Jawab Maudy hingga Stev menghela nafas.


“Baiklah, tapi bagaimana aku ke sana, di luar hujan, di sana kan gelap. Aku paling Phobia pada kegelapan,” jawab Stev membuat Maudy berdecak.


“Ya sudah kau boleh tidur di sofa!” Maudy langsung berbalik, kemudian dia memutuskan untuk tidur di kamar Geo, dia takut Stev menculik Geo ketika dia tertidur.


Saat Maudy berbalik, wajah Step berubah menjadi menggelap. Sungguh dia begitu muak ketika harus bersikap baik pada gadis itu , hingga pada akhirnya Steve menundukkan diri di sofa kemudian dia bertukar pesan dengan Aliya.


***


Malam berganti pagi, Maudy diterbangun dari tidurnya, dia langsung terkejut saat melihat Geo tidak ada di sampingnya. Dia pikir Stev menculik putranya, hingga dengan cepat wanita itu pun langsung bangkit dari berbaringnya kemudian keluar dari kamar.


Helaan nafas terlihat dari wajah cantik Maudy dan ternyata Geo sedang sarapan bersama Steve dan putranya pun sudah rapi memakai seragam sekolah.


“Kau sudah bangun? Ayo sarapan bersama,” ajak Stev, Maudy menggeleng.


“Tidak, aku ingin makan di luar saja,” Jawab Maudy dengan dingin. Setelah itu Maudy lebih memilih berbalik berniat untuk membersihkan dirinya dan mengantar Geo ke sekolah.


***


“Kenapa kau ikut bersama kami?” tanya Maudy ketika Steve berjalan ke arah luar dan mengikuti langkah mereka


“Mommy Aku ingin diantarkan juga oleh Daddy,” ucap Geo hingga Maudy menoleh pada mantan suaminya.


“Kau menghasut Geo?” tebak Maudy.


“Mana mungkin aku menghasutnya dia sudah dewasa,” dustanya. Padahal jelas-jelas dia tadi yang membujuk Geo. Dan jika sudah Geo yang memintanya, Maudy tidak bisa lagi untuk menolak hingga pada akhirnya Maudy meneruskan langkahnya diikuti Stev di belakangnya.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Steve sampai di sekolah Geo, Maudy turun kemudian mengantar Geo ke dalam


“Kita akan kemana lagi?” tanya Steve saat Maudy masuk ke dalam mobil.


“ Aku ingin pulang, dan kau ya terserah kau.”


“Maudy, ayo bicara. Bukankah kau sudah menyiapkan jawaban tentang permintaanku kemarin.”


Semalaman dia sudah banyak berpikir sepertinya, Stev ada benarnya dia harus memperhatikan mental Geo Tapi tentu saja dia tidak percaya sebenarnya 100% pada mantan suaminya.


Dia akan tetap mengawasi Stev dan dia juga seperti tidak percaya Stev dan Alia sudah bercerai, karena dari pengalaman yang sudah berlalu dia mengetahui betul pasangan suami istri itu sangat licik. Untuk sementara dia akan membiarkan Stev dekat dengan Geo.


“Baiklah, aku akan memberikanmu satu kesempatan. Aku tidak akan melarangmu dan Geo untuk dekat tapi jangan pernah membahas Aliya di depan Geo, kau mengerti maksudku?” ucap Maudy, Steve mengangguk dengan semangat raut wajah bahagia terlihat jelas dari lelaki tampan itu.


Dia mengangguk menyetuju ucapan Maudy untuk tidak membahas Alia di depan Geo. Tentu saja dia tidak akan setuju karena walau bagaimanapun, ia akan terus menghasut Geo agar suatu saat Geo bisa dekat lagi dengan Alia lagi dan meninggalkan Maudy.


Tapi itu hanya rencana, tidak ada yang tahu ke depannya seperti apa, bisa saja Stev terjebak dengan rencananya sendiri.


“Jadi bisalah kita berteman," ucap Stev.


"Tidak mau, aku tidak mau berteman dengan lelaki sepertimu.” Steve mencengkram erat setir kemudi, dia begitu marah dengan ucapan wanita yang ada di sampingnya ini.


Namun tak lama dia berusaha menormalkan ekspresinya. “Bagaimana jika kita menikmati secangkir kopi, kau juga belum sarapan bukan?” ajak Stev, dia harus memulai pendekatan pada wanita itu, agar Maudy luluh dan percaya padanya.


“Baiklah, sudah lama juga aku tidak menikmati secangkir kopi,” ucap Maudy.


Dan di sinilah mereka berada, di sebuah yang cafe yang tak jauh dari sekolah Geo.


Saat masuk, Steve menarik kursi untuk Maudy. Namun bukannya senang, dia malah merasa aneh dengan apa yang dilakukan Stev.


“Stev, Kau ini kenapa?" tanya Maudy.


“Aku hanya ingin ....”


“Ah sudah, lupakan saja!” Maudy mengangkat tangannya memanggil pelayan hingga tak lama pelayan pun datang dan mereka pun langsung memesan.


“Kau sudah mempunyai kekasih?” tanya Stev ketika mereka menunggu pesanan.


“Bukan urusanmu," jawab Maudy dengan ketus.


Tangan Stev mengepal di bawah meja. sungguh dia tidak pernah sesabar ini menghadapi orang lain, tapi sekarang dia benar-benar dipaksa sabar untuk menghadapi Maudy.


“Aku hanya ingin tahu saja siapa tahu ...”


“Kau tidak perlu tahu apapun, cukup jadi ayah yang baik saja untuk Geo.”


‘Cih, sombong sekali wanita ini! Awas saja kau!’

__ADS_1


__ADS_2