Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Cinta sepihak


__ADS_3

Richard mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sedari tadi dia fokus mengemudi karena Maudy terus diam sembari melihat ke arah jendela.


Maudy sejujurnya bingung bagaimana cara mengatakan pada Richard bahwa dia ingin berhenti. Dia ingin menikmati seluruh waktunya bersama Geo, tapi dia juga merasa tidak enak kepada pria ini.


"Apa ada yang Anda pikirkan, Nona Maudy?" tanya Ricard membuat Maudy menoleh. Ricard bertanya karena sedari tadi Maudy hanya diam.


"Tuan Richard, bagaimana jika seandainya aku berhenti menjadi guru?" tanya Maudy, dia memberanikan diri bertanya.


Refleks, Richard menghentikan laju mobilnya membuat Maudy nyaris terjatuh ke depan. Pria itu dengan cepat menaruh satu tangannya menahan wanita di sisinya agar tidak terbentur dashboard.


Setelah Maudy aman, Richard langsung memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. "Kenapa kau ingin berhenti? Apa kau menyerah dengan tingkah Leana?"


Richard langsung memberondong Maudy dengan pertanyaan, sebab hanya dialah yang bisa membuat Leana tenang. Kenapa di saat anak itu merasa nyaman, Maudy malah ingin berhenti?.


Hati Maudy meringis saat melihat Richard dengan rasa tidak tega yang semakin menjadi-jadi. Sungguh Maudy sangat bingung sekarang.


"Nona Maudy, Kenapa kau ingin berhenti menjadi guru Leana?" tanya Ricahrd.


Maudy menggigit bibirnya. "Tuan, putraku sudah kembali ke sini, dan aku ingin menghabiskan seluruh waktuku bersamanya."


Wajah Richard terlihat sendu. Dia tidak bisa memaksa agar Maudy terus mengajar Leana. Sementara wanita itu, dia semakin tidak tega saat membayangkan bagaimana perasaan Richard.


"Bagaimana jika kita pilih opsi kedua?" tanya Maudy, "Leana saja yang datang ke rumahku, jadi aku akan mengajarnya di sana bersama Geo." Sepertinya ini adalah keputusan yang paling tepat untuk Maudy ambil. Setidaknya, dia akan terus bersama Geo dan dia bisa tetap mengajar Leana.


Wajah Richard kembali cerah saat mendengar ucapan Maudy. Semangatnya seolah tumbuh berkali-kali lipat ketika mendapatkan solusi yang sangat tepat. Dia beryukur, Maudy memberikan saran ini.


"Baiklah Nona Maudy, terima kasih karena kau masih bersedia menjadi guru Leana."


Maudy mengangguk. "Oh ya Nona Maudy, sekarang bisakah kita berteman, jangan nemanggilku, Tuan?" tanya Ricard dengan ragu.


"Baiklah, tapi tolong juga jangan memanggilku Nona," pinta Maudy sambil terkekeh. Hingga Keduanya kini sama-sama tertawa.


Richard pun menyalakan mesin dan menjalankan mobil hingga akhirnya mereka sampai di rumah mewahnya pria itu.


Maudy segera turun dan berjalan mendahului Richard karena dia harus menerima telepon terlebih dahulu. Saat masuk, dia melihat seorang pria yang dia ketahui bernama Matteo.


"Hai Maudy," sapa Matteo karena memang mereka sudah saling mengenal.


"Halo Matteo, kau sedang menunggu Richard?" tanya Maudy berbasa-basi.


Matteo mengerutkan keningnya ketika Maudy tidak memanggil Richard dengan sebutan tuan lagi, tapi tak lama dia menetralkan ekspresinya. "Iya." jawabnya.


"Baiklah, aku akan pergi kamar Leana." Maudy pun berlalu meninggalkan Matteo, dan tak lama, Richard pun masuk ke dalam.


"Kau sudah lama menungguku?" tanya Richard membuat Matteo tersadar. Dia menggeleng.


"Kenapa?" tanya Richard yang melihat wajah Matteo berubah.


***


Maudy berdiri di depan kamar Leana, dia membuka pintu dengan pelan membuatnya bisa melihat anak itu yang sedang tertidur. Dia berjalan masuk dan mendekati ranjang, kemudian mendudukkan diri di sebelah Leana.


Maudy tersenyum saat melihat wajah cantik Leana yang sebentar lagi akan menginjak remaja. Perlahan, dia mengelus rambut anak itu hingga dia terbangun.


"Bibi!" panggilnya dengan suara riang. Dari semua guru yang mengajarkannya, hanya Maudy yang berhasil membuat dia nyaman.


Selama Maudy menjalani operasi palsu, Leana benar-benar kesepian. Hidupnya terasa hampa seolah tidak mempunyai arah, membuat dia demam karena terus memikirkan Maudy.


Sampai akhirnya, Leana pun meminta pada Richard untuk menjemput Maudy karena ingin bertemu dengan wanita yang saat ini sedang tersenyum padanya.


"Kau demam?" tanya Maudy dengan lemah lembut. Dia seolah mampu menghipnotis Leana, hingga anak itu selaku Ingin tetap dekat dengannya.


***


Satu jam kemudian.


"Bibi jangan pulang, menginap saja di sini," ucap Leana, dia terus memegang tangan Maudy agar wanita itu tidak keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Raut wajah Leana tampak memelas membuat Maudy tidak tega. "Bagaimana jika kau saja menginap di rumah Bibi, biar Bibi kenalkan juga pada putra Bibi."


"Bolehkah aku menginap di rumah Bibi?" tanya Leana dengan semangat


"Boleh, sebentar biar Bibi yang minta izin pada ayahmu," jawab Maudy, dia juga seperti tidak tega meninggalkan Leana.


Maudy keluar dari kamar Leana. Dia pun langsung berjalan hingga terdengar suara orang berbicara dari arah balkon membuatnya segera pergi ke sana.


Ternyata, di sana ada Richard dan Matteo yang sedang bersenda gurau. Ketika dia datang, mereka menoleh.


"Leana ingin menginap di tempatku, apa tidak masalah?" tanya Maudy. “Aku tidak bisa menginap di sini karena hari ini Geo pulang dari rumah sakit."


"Tidak apa-apa, biar supir yang mengantarkanmu dan Leana karena aku masih ada pekerjaan," jawab Ricard.


Maudy mengganggu-ganggukan kepala.


***


“Bibi apa Geo galak?” tanya Leana, Ketika mereka sedang berada di dalam mobil, Maudy terkekeh. "Tidak, dia anak yang baik dan manis, sama sepertimu," jawabnya atas pertanyaan Leana perihal Geo.


Inilah kehebatan Maudy, dia tidak pernah membandingkan dan tidak pernah mengungkit kesalahan Leana.


"Oh ya, apa Bibi tahu siapa Paman Matteo?" tanya Leana yang secara tiba-tiba berbicara tentang Matteo.


"Siapa? Dia, 'kan, teman ayahmu? Kenapa kau bertanya pada Bibi?" tanya Maudy.


Ada yang menghimpit dada Leana saat mengingat jika Matteo teman ayahnya, tapi dia juga merasa sulit untuk menceritakan apa yang terjadi pada orang lain meskipun dia sudah dekat dengan Maudy.


"Kenapa?" tanya Maudy lagi yang mendadak penasaran.


"Tidak, lupakan saja," jawab Leana.


Maudy yang tidak ingin memaksa, merangkul bahu Leana membuat anak itu merebahkan kepalanya di tubuh Maudy lalu kini menatap lurus ke depan, dengan sorot mata yang menyiratkan rasa sakit.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh sopir sampai di kediaman Maudy dan rupanya Steve sudah lebih dulu tiba di sana.


Maudy dan Leana pun masuk. Wanita itu mengenalkan putra Richard ini pada Geo.


***


Steve yang tadinya akan turun, mengurungkan niat. Dia memutuskan untuk menghampiri wanita itu.


"Ekhem." Steve berdeham hingga Maudy menoleh.


"Kau belum tidur rupanya?" tanya Maudy.


"Belum.” Di antara mantan pasangan suami-istri tersebut, tidak ada yang berbicara membuat suasana hening.


"Maudy," panggil Steve memecahkan keheningan di antara mereka


"Apa yang tadi adalah kekasihmu?" tanya Stev mendadak penasaran dengan sosok Ricard.


"Yang tadi?" ulang Maudy yang tidak mengerti dengan siapa yang Stev maksud.


"Itu yang tadi berjumpa di rumah sakit dan menyebutmu Nona."


Maudy tertawa membuat jantung Steve berdetak dua kali lebih cepat melihatnya. Namun tak lama, dia menggeleng.


"Bukan, kami hanya sebatas teman saja. Kebetulan aku mengajar anaknya," jawab Maudy. Steve kini mengangguk-nganggukan kepalanya mengerti.


"Oh ya, apa kau jadi bercerai dengan Alya?" tanya Maudy.


"Sepertinya iya."


"Kenapa? Apakah pernikahan kalian tidak bisa dipertahankan? Apalagi kalian sudah bersama sejak lama dan aku rasa, masalah yang terjadi tidak sepenuhnya kesalahan Alya. Maksudku ... selama menikah denganmu bukankah hubungan kalian baik-baik saja? Aku lihat dia juga selalu patuh padamu," ucap Maudy.


"Mungkin bagi orang lain terdengar masalahnya cukup kecil, tapi tidak bagiku. Aku akan terus mengingat semuanya dan akan berujung lebih menyakiti dia. Jadi aku pikir, Alya berhak bahagia dengan jalan ini,” jawab Stev.

__ADS_1


Mereka pun berbincang-bincang, sampai tidak terasa waktu menunjukkan pukul dua malam. Steve dan Maudy pun pamit ke kamar masing-masing


Steve tidur bersama Geo, sedangkan Maudy bersama Leana.


***


Tiga tahun kemudian.


Waktu berlalu begitu cepat, sudah sangat banyak hal yang terjadi dengan hidup Maudy.


Sejak setahun lalu, Steve memutuskan untuk pindah ke Jerman. Dia bahkan membeli rumah yang tak jauh dari rumah Maudy, apalagi dia juga sudah resmi bercerai dengan Alya. Stev tidak sanggup jauh dari putranya hingga dia memutuskan untuk pindah.


Sementara Maudy, kisah percintaannya pun berubah banyak. Satu tahun lalu, akhirnya Maudy dan Richard pun memutuskan untuk menjalin hubungan.


Semula Maudy menolak cinta Richard karena menurutnya ini terlalu aneh. Namun, ayah Leana tersebut terus berjuang meyakinkan hingga wanita itu pun menerimanya.


Jika Richard dan Maudy sudah berpacaran, berbeda dengan Steve. Kali ini dia harus memendam rasa sakit ketika melihat mantan istrinya sudah mempunyai kekasih.


Semenjak pindah ke Jerman dan dekat dengan Maudy, Stev merasa aneh pada hatinya dan pada akhirnya. Dia menyadari hatinya telah terpaut pada mantan istrinya. Namun sayangnya, dia terlambat karena sekarang Maudy sudah bersama dengan Richard.


Walaupun dia mencintai Maudy, tapi dia tidak berniat untuk merebut. Maudy dari Richard. Dia juga tidak berniat membuat wanita itu jatuh hati padanya.


Keputusan Steve bukan tanpa alasan, melainkan karena dia sadar, sudah banyak sekali luka yang dia pupuk pada Maudy. membiarkan Maudy bahagian, bersama orang lain, adalah adalah hal terbaik yang bisa dia lakukan.


"Steve, apa kau melihat jam tangan Geo?" tanya Maudy.


Steve yang sedari tadi sedang memperhatikan Maudy, kini tersadar. Dia bangkit dari duduknya kemudian ikut mencari jam tangan Geo yang ingin dia pakai ke sekolah.


Saat ini, Maudy memang sedang berada di rumah Steve untuk mencari jam tangan putranya yang tertinggal, karena memang semalam Geo memilih tidur di rumah sang ayah


"Ini bukan?" tanya Steve yang menemukan jam tangan itu ada di sofa.


"Oh iya." Maudy pun menghampiri Steve untuk mengambil jam tersebut.


“Aaaa!” Maudy berteriak saat kakinya menginjak sesuatu, membuat dia terhuyung. Steve dengan sigap menahan tubuh wanita itu. Namun rupanya meskipun kehilangan keseimbangannya, hingga lelaki itu terjatuh dengan posisi Maudy yang menindih tubuhnya.


Jantung Steve berdetak dua kali lebih cepat ketika Maudy ada di atasnya, dan tak lama dia tersadar ketika Maudy meringis.


“Ah Maudy," ucap Steve dia mulai merasakan nyeri pada punggungnya, hingga Maudy tersadar. Dengan cepat,.dia pun bangkit dari tubuh Steve.


“Kau baik-baik saja?” tanya Maudy, dia mengeluarkan tangannya membantu Steve untuk bangkit.


“Hmm, aku baik-baik saja. Kau tidak apa-apa?" tanya step.


“Hmm, aku tidak apa-apa.” Maudy mengambil tasnya. “Ya, sudah kalau begitu aku akan pergi. Oh ya, tolong jemput Geo karena aku ada janji dengan Richard," kata Maudy lagi Steve mengangguk dan Maudy pun keluar dari rumah Steve.


Setelah Maudy turun, Steve langsung berjalan ke arah balkon, lelaki itu melihat Maudy yang sedang berjalan dari atas. Tatapan matanya terus menatap sang istri yang berjalan ke arah mobil, dan ketika mobil Maudy sudah pergi Stev tersenyum getir saat membayangkan betapa beruntungnya Richard mendapatkan Maudy, karena kemarin Maudy mengatakan bahwa Maudy dan Ricard akan segera bertumbangan.


Maudy menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia berencana untuk pergi ke sekolah dan mengantarkan jamnya Geo, yang kini berusia 15 tahun. Geo tidak ingin mau memakai jam lain, hingga terpaksa Maudy mencarinya lalu mengantarkannya ke sekolah


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang akhirnya mobil yang dikendarai oleh Maudy sampai di sekolah Geo, yang juga satu sekolah dengan Leana, Maudy pun turun dari mobil kemudian dia langsung berjalan ke arah dalam.


Dan saat dia akan masuk, dia menghentikan langkahnya ketika melihat seseorang yang sedang duduk di kursi taman, dan dari belakang dia mengenali betul bahwa itu adalah Leana.


Maudy mengerutkan keningnya saat melihat calon anak tirinya yang tampak melamun, hingga dia pun langsung menghampiri Leana.


“Ekhem!” Maudy berdehem menyadarkan Leana dari lamunannya, hingga dia pun langsung menoleh.


“Oh, bibi, kau mengagetkanku,” ucap remaja 15 tahun itu, di langsung terperanjat saat mendengar suara Maudy, membuat Maudy mengerutkan keningnya, hingga wanita itu pun duduk di sebelah Leana


“Leana, apa ada yang mengganggumu?” tanya Maudy. “Apa kau merasa tidak nyaman?” tanyanya lagi.


“Tidak bibi, aku hanya sedang lelah. Barusan aku bermain basket bersama teman-teman," jawab Leana.


“Kau sudah makan. Bagaimana jika kita makan di depan?" kata Maudy karena di depan sekolah Leana memang ada sebuah kafe.


“Tidak bibi, aku sudah kenyang.” Leana terdiam lagi, dia seperti orang yang linglung.

__ADS_1


“Leana, kau benar-bear tidak apa-apa?” tanya Maudy, dia merasa ada yang di sembunyikan oleh Leana.


Melihat Maudy, rasanya dia ingin sekali menangis, di satu sisi dia ingin Maudy menjadi ibunya tapi di sisi lain ada hal yang dia tidak bisa ceritakan pada Maudy, dan sedari tadi dia sungguh bingung bagaimana menceritakan semuanya tanpa harus membuat salah satu pihak terluka.


__ADS_2