
Setelah mengatakan itu, Geo pun langsung berjalan ke walk-in closet. Dia memutuskan untuk membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya.
Sementara Claudia, wanita itu mendudukkan diri di sofa. Tatapan Claudia lurus ke depan, jari-jarinya saling bertautan. Seharusnya, dia merasa senang karena menjadi istri Geo, tapi nyatanya tidak.
'Tidak apa-apa Claudia, setidaknya tujuanmu sudah tercapai,' batin Claudia.
Jika ditanya apakah Claudia tahu maksud Geo menikahinya, Claudia tahu. Bahkan dia juga tahu Geo mempunyai perasaan pada Leana.
Tidak perlu bertanya, tatapan Geo pada Leana sudah menjelaskan semuanya, hanya saja Claudia pun mempunyai obsesi tersendiri di mana dia ingin menjadi istri Geo, karena dia mencintai Geo sebelum mereka kuliah. Lalu sekarang harapannya terkabul, dan Claudia rasa dia tidak apa-apa menahan rasa sakit asalkan Geo menjadi miliknya.
Setengah jam kemudian, Geo keluar dari walk-in closet. Dia baru saja membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, lalu menghampiri Claudia.
"Claudia kau ingin berganti pakaian?" tanya Geo, menyadarkan Claudia dari lamunannya.
"Hah?" tanya Claudia tersadar, dia melupakan sesuatu.
"Aku lupa pakaianku," jawabnya.
"Sebentar biar aku meminjam pada Leana," ucap Geo. Entah kenapa wajah Geo begitu girang ketika mengatakan itu. Lelaki itu seperti yang mempunyai alasan untuk menemui Leana.
Belum Claudia menjawab, dia sudah terlebih dahulu berbalik kemudian keluar dari kamar membuat Claudia menghela napas.
Geo berdiri di depan kamar, Leana. Geo ingin mengetuk tapi dia ragu, hingga akhirnya dia terdiam untuk beberapa saat, dan sepuluh menit kemudian Geo mengangkat tangannya kemudian mengetuk pintu Leana, hingga tak lama pintu terbuka.
"Ada apa?" tanya Leana.
Sejenak, Geo terpaku saat melihat wajah Leana yang tampak berbeda, terlihat lebih pucat dari biasanya.
"Kau baik-baik saja apa ka ...." Tiba-Tiba dia menghentikan ucapannya. Dia tidak boleh perhatian pada wanita di depannya ini.
"Pinjamkan aku baju yang belum kau pakai untuk Claudia. Pakaiannya belum datang kemari," ucap Geo seperti biasa. Nadanya begitu arogan.
"Baiklah, tunggu sebentar," jawabnya.
Lagi-Lagi Geo terpaku saat melihat Leana memberikannya tanpa perlawanan. Lalu tanpa berbicara apapun, wanita itu malah berbalik pergi untuk mengambil apa yang Geo mau, padahal dia berharap Leana menolak, tapi lihatlah dia malah seperti pasrah memberikan barangnya. Padahal, Geo tahu Leana paling tidak mau barangnya disentuh oleh Claudia.
Lima menit kemudian, Leana kembali menghampiri Geo kemudian dia memberikan paper bag pada Geo. "Ini pakaianku yang belum aku pakai. Pakailah, aku rasa ukuran tubuh Claudia sama denganku," ucap Leana hingga Geo pun menerimanya. Dia sempat melihat ke kamar Leana, sepertinya wanita itu sedang memasukkan pakaian pada koper.
"Kau jadi pergi?" tanya Geo. Tidak ada keramahan dalam nada bicaranya.
"Aku pergi besok," jawabnya.
Lagi-Lagi Geo cukup terpaku saat Leana begitu pasrah menjawab ucapannya.
"Sudah, tidak ada lagi?" tanya Leana hingga Geo berdecak kesal, lelaki itu pun langsung berbalik kemudian meninggalkan kamar Leana dan setelah Geo pergi, Leana langsung menutup pintu.
Setelah menutup pintu, Leana menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dia memegang dadanya yang terasa sesak, tidak bisa didefinisikan lagi bagaimana hancurnya hati Leana saat ini.
__ADS_1
Mungkin orang lain akan menganggap Leana berlebihan karena malah tidak menerima perasaan Geo, padahal Leana mencintai lelaki itu. Namun, percayalah, tidak mudah menjadi Leana yang mempunyai segudang trauma yang sangat hebat.
***
Geo masuk ke dalam kamar. Dia langsung menghampiri Claudia. "Ini pakaian Leana, dia belum pernah memakainya," kata Geo sehingga Claudia langsung mengambilnya.
"Terima kasih," jawab Claudia.
Claudia pun langsung bangkit dari duduknya. Wanita itu berjalan ke walk-in closet untuk mengganti pakaian.
***
Siang berganti malam. Semua keluarga sudah berkumpul di ruang makan untuk makan bersama, termasuk Leana. Ini adalah hari terakhir Leana makan malam bersama keluarga angkatnya.
"Leana, kau lapar?" tanya Maudy ketika banyak sekali makanan di piring Leana. Leana mengangguk.
"Bibi, aku lapar," jawab Leana. Dia ingin menikmati masakan yang koki buat, karena jika sudah keluar dari sini, dia tidak tahu apakah dia bisa makan enak seperti ini atau tidak? Karena yang pasti ketika keluar dari sini, Leana benar-benar menjalani hidupnya yang baru tanpa koneksi dari kedua orang tua angkatnya, tanpa kemewahan yang selama ini meliputinya.
Sementara Geo yang melihat Leana seperti itu, merasa aneh. Namun tak urung, dia mengabaikan perasaannya.
Acara makan malam berlangsung dengan hening. Semua fokus pada makanannya, begitu pun dengan Leana. Suap demi suap dia masukkan ke dalam mulut, tanpa ada yang menyadari bahwa sebenarnya wanita malang itu ingin sekali menangis, hingga pada akhirnya acara makan malam pun selesai.
"Paman, Bibi, aku duluan. Aku ingin menikmati angin malam," ucap Leana hingga Maudy dan Steve mengangguk. Leana ingin memutari rumah sebagai kenang-kenangan terakhirnya menelusuri setiap tempat di rumah yang selama bertahun-tahun dia tinggali.
***
'Tuhan, aku tidak pernah mengeluh takdirku. Bagaimanapun aku tidak pernah mengutukmu atas apa yang terjadi di hidupku. Aku menerima dengan pasrah kematian ibuku, kepergian ayahku dan kebencian kedua kakek nenekku. Aku tahu di setiap kesulitan yang aku lalui, pasti ada hikmah yang aku dapatkan termasuk bisa tinggal di sini. Tuhan, aku tidak meminta apa pun. Aku hanya minta setelah keluar dari sini, tolong terus lindungi aku. Kuatkan aku, dan berikan aku kesabaran untuk melalui semuanya.' Leana membatin seraya berjalan menelusuri taman belakang hingga tidak terasa, sudah satu jam berlalu Leana mengitari seluruh area rumah kedua orang tua angkatnya, dan sekarang dia memutuskan untuk duduk di balkon.
"Kau belum tidur?" tanya Steve.
"Belum, Paman," jawabnya.
Steve maju kemudian dia mendudukkan diri di sebelah Leana. Lelaki paruh baya itu ingin bertanya pada putri angkatnya, karena dia merasa ada yang aneh dengan Leana.
Steve bersama Leana bertahun-tahun dan melihat tatapan Leana saja, dia tahu ada beban yang dipendam oleh putri angkatnya.
"Leana," panggil Steve.
"Boleh Paman bertanya?" tanya Steve.
"Silakan Paman," ucap Leana.
"Apakah tidak rindu ayahmu?" tanyanya lagi.
Leana terdiam. Otaknya tiba-tiba kosong ketika Steve menanyakan itu sedangkan Steve menanyakan itu karena dia tidak ingin Leana memendam perasaannya seorang diri. Sebab setiap kalinya merasa berbeda, Leana pasti akan mengatakan bahwa dia rindu ayahnya dan sekarang Steve yang bertanya.
Leana tersadar kemudian dia menoleh. "Entahlah," jawabnya sambil terkekeh. Namun, wajahnya dipenuhi dengan rasa sakit. "Memangnya paman tau Daddy ada di mana?" tanya Leana, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun Leana menanyakan hal ini pada Steve.
__ADS_1
Tba-Tiba tubuh Steve menegang, karena jujur saja dia tahu di mana Richard dan juga Matteo, sebab setelah Leana tinggal bersama mereka, Richard selalu meminta Steve dan Maudy mengirimkan foto Leana.
Beberapa kali Steve dan Maudy minta Richard untuk menemui Leana agar Leana tidak terlalu terluka, tapi lelaki menolak karena Matteo melarangnya.
Steve dan Maudy tidak ingin membuat Leana terluka. Itu sebabnya mereka tidak memberitahukan di mana Richard dan Matteo.
"Tidak Leana, mana mungkin Paman tahu keberadaan ayahmu. Sementara setelah itu mereka pergi tanpa meninggalkan jejak," jawab Steve hingga Leana mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oh ya Paman dan Bibi tidak akan mengizinkanmu tinggal di sana dengan waktu yang lama. Kau hanya boleh pergi ke rumah kakek dan nenekmu selama satu minggu, jika kau tidak pulang Paman dan Bibi akan menjemputmu ke Kanada," ancam Steve hingga Leana mengangguk.
"Aku akan pulang dalam waktu satu minggu," jawab Leana berpura-pura menguap.
"Paman, aku mengantuk. Boleh aku pergi ke kamar?" tanya Leana.
"Boleh Paman berbicara?" tanya Steve hingga Leana mengangguk.
"Kau baik-baik saja dengan pernikahan Geo dan Claudia?" tanya Steve.
Leana tersenyum. "Paman dan Bibi sudah menanyakan ini berkali-kali padaku, memangnya kenapa? Kenapa harus merasa tidak baik-baik saja? Aku bahagia jika dia sudah menemukan pendampingnya," jawab Leana dengan penuh ketulusan, walau tak dipungkiri hatinya berdenyut nyari hingga Steve pengangguk-nganggukan kepalanya.
"Ya sudah sekarang kau istirahat," kata Steve hingga Leana pun mengangguk.
Setelah Leana pergi, Steve menyandarkan tubuhnya ke belakang. Tatapan mata lelaki paruh baya itu menatap ke depan.
'Richard, kenapa kau mengorbankan putrimu hanya demi kesenangan? Sudah tahukah kau bahwa Leana memupuk luka yang sangat hebat?' Steve membatin, menyayangkan sikap Richard yang hanya mementingkan egonya.
***
Malam berganti pagi.
Leana sudah siap dengan tampilannya. Saat ini dia berdiri, menatap koper-kopernya yang akan dia bawa lalu dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Leana tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Kamar Ini adalah kamar yang menjadi surganya, kamar tempat dia bersembunyi dari kenyataan. Kamarnya selalu menemaninya dalam suka dan duka, dan sekarang dia harus melepaskan kamar ini.
"Terima kasih sudah menjadi tempatku untuk pulang," ucap Leana. Setelah itu dia pun keluar sambil membawa dua koper besar.
"Kau yakin tidak ingin diantarkan oleh Paman dan Bibi?" tanya Maudy ketika mereka mengantarkan Leana keluar.
"Tidak Bibi, sopir saja sudah cukup," jawab Leana hingga Leana maju ke arah Steve kemudian memeluk ayah angkatnya. Dia berusaha untuk tidak menangis agar tidak membuat semuanya sedih.
Leana langsung memeluk Maudy, dan setelah itu dia menghampiri Geo, yang ternyata Geo dan Claudia juga mengantar kepergiannya ke luar rumah.
Kini, Leana berdiri di depan Geo. Kedua insan itu saling menatap, dan entah kenapa Geo merasa akan ada ada yang terjadi. Tadi dia berniat mengantarkan Leana keluar karena ingin memanas-manasi wanita itu, tapi entah kenapa ketika melihat Leana di depannya, dia merasa ada yang aneh.
Perlahan, Leana maju kemudian memeluk Geo membuat tubuh Geo tersentak dan setelah itu Leana langsung melepaskan pelukannya. "Semoga kalian segera diberikan momongan," ucap Leana pada Geo dan juga Claudia.
Geo masih mematung walaupun Leana sudah melepaskan pelukannya. Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan, dan akhirnya sekaranglah detik-detik menyakitkan bagi Leana.
__ADS_1
Steve membantu Leana untuk memasukkan koper ke dalam mobil, kemudian Steve membukakan pintu untuk putri angkatnya hingga Leana pun masuk ke dalam mobil lalu membuka jendela. "Sampai jumpa Paman, Bibi, Geo, Claudia," ucapnya. Dia menyebutkan satu persatu nama keluarga angkatnya lalu melambaikan tangan.
Ketika mobil mulai melaju, Leana mulai menutup kaca jendela. Dia menyadarkan tubuhnya ke belakang. Jari-jarinya saling bertautan. Dia tidak mungkin menangis di sini karena tidak ingin menangis di hadapan sopir yang mengantarkannya.