
Geo turun dari mobil. Lelaki itu baru saja sampai di basement apartemen Leana. Lalu dengan tidak sabar, dia pun langsung berjalan ke arah ke arah lift untuk pergi ke unit apartemen Leana. Semalaman, dia tidak tertidur. Dia mencari tahu semuanya tentang Yuma dan Yumi.
Geo memang belum mengetahui kenyataan yang sebenarnya, karena untuk mencari tahu terlalu singkat, hingga semalaman dia mencari tahu dengan anak buahnya. Mereka tidak berhasil menemukan apapun. Tapi dia yakin Yuma dan Yumi adalah anaknya, itu sebabnya sekarang dia akan mendesak Leana untuk mengakui bahwa Yuma dan Yumi adalah anaknya.
Geo memencet bel. Leana yang sedang menonton televisi, langsung bangkit dari duduknya kemudian dia membuka pintu.
"Geo," panggil Leana. Helaan napas lega terlihat dari wajah cantik Leana. Geo tiba ketika Steve sudah pergi membawa Yuma dan Yumi, setidaknya Geo tidak bertemu dengan Steve.
"Geo," panggil Leana lagi ketika Geo tidak menjawab panggilannya. Seketika, Geo maju kemudian dia mencengkram erat bahu Leana, lalu setelah itu mendorongnya.
"Katakan padaku, Leana. Yuma dan Yumi adalah putriku, 'kan?" tanya Geo. Tatapan matanya menatap Leana dengan tajam, membuat Leana tidak berkutik. Tubuh Leana gemetar, dia teringat ketika saat itu Geo menyentuhnya dengan paksa.
"Bukan, Yuma dan Yumi bukan anakmu," kata Leana, dia berusaha untuk tetap tenang, walaupun jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
Geo semakin mencengkram erat bahu wanita itu. "Katakan padaku. Jika kau berbohong, aku akan mengambil Yuma dan Yumi dari tanganmu secara paksa.” Geo masih tidak menyerah, hingga dia terpaksa mengancam Leana.
Wajah Leana memucat saat mendengar itu. Lidahnya seolah kelu untuk digerakkan.
"Jawab aku, Leana! Sebelum aku berbuat lebih jauh, mengambil Yuma dan Yumi darimu," ancam Geo.
Mendengar itu, mata Leana benar-benar membulat. Wajahnya sudah memucat saat mendengar ucapan Geo, dan pada akhirnya sedetik kemudian Leana tidak sadarkan diri, membuat Geo di Landa kepanikan.
"Leana," panggil Geo ketika Leana terkulai. Sebenarnya Leana hanya berpura-pura pingsan agar Geo tidak terus memaksanya. Mungkin di mata orang lain kisah Leana, Geo dan Aaron terkesan sangat rumit, tapi percayalah di posisi Leana juga tidak mudah. Tentu saja karena ada Claudia di tengah-tengah mereka. Jika dia memberitahukan Yuma dan Yumi adalah anak kandung Geo, Geo akan meninggalkan Claudia dan Rea. Itu menyakitkan untuk keduanya, dan inilah keputusan yang Leana ambil, tidak akan pernah memberitahukan Yuma dan Yumi adalah anak Geo.
Geo membaringkan tubuh Leana di ranjang. Lelaki tampan itu menatap Leana lekat-lekat. Ada rasa bersalah ketika tadi dia melakukan hal seperti itu, hingga Leana tak sadarkan diri.
Sementara Leana mati-matian untuk tidak bergerak agar Geo tidak tahu dia berpura-pura pingsan. Leana harus memikirkan bagaimana caranya untuk mengelabui Geo.
Setengah jam kemudian, Leana berpura-pura terbangun dari pingsannya. Dia mengucek mata hingga Geo yang sedang melamun, langsung menoleh karena melihat pergerakan dari Leana.
"Leana," panggil Geo. Kali ini, nada Geo begitu lembut membuat Leana menoleh.
"Geo," panggil Leana dengan lirih.
"Maafkan aku," ucap Geo yang langsung menggenggam tangan Leana, tapi dengan cepat Leana langsung menghempaskan tangannya. Leana bangkit dari berbaringnya, kemudian mendudukkan diri di ranjang, hingga kini mereka duduk berseberangan.
"Geo, bisakah kau tinggalkan aku? Kau membuatku takut," ucap Leana lagi berharap Geo menurut.
"Aku tidak akan pergi kemana-mana," tolak Geo.
"Geo, kumohon. Setelah ini aku berjanji aku akan memberitahukan yang sebenarnya," kata Leana, berusaha meyakinkan.
Mata Geo membulat saat mendengar ucapan Leana. "Kau berjanji?" tanya Geo hingga Leana pun mengangguk.
"Kau bisa kembali lagi besok, karena saat ini Yuma dan Yumi sedang sekolah," dusta Leana.
"Baik, aku akan pergi sekarang." Geo dengan cepat bangkit dari duduknya. Lelaki tampan itu langsung keluar dari apartemen Leana.
Setelah Geo keluar dari apartemen, Leana langsung bangkit dari duduknya kemudian dia keluar dari kamar, lalu setelah itu dia mengambil ponselnya yang ada di sofa. Dia harus bergegas untuk menelepon Steve.
"Halo, Paman?" sapa Leana.
"Leana, ada apa?" tanya Steve.
"Paman tolong pulang. Barusan Geo kemari," ucap Leana. Dia pun menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat dan sepertinya, Steve harus mengambil tindakan.
***
Steve yang baru saja sampai ke mall bersama Yuma dan Yumi, langsung mematikan panggilannya. "Yuma, Yumi," panggil Steve hingga Yuma dan Yumi menoleh.
"Ya, Kakek?" sahut Yumi.
"Bagaimana jika kita bergerak dengan cepat? Sebab kita harus segera pergi," katanya.
__ADS_1
"Kita akan pergi ke mana? Apa Mommy tidak ikut?" tanya Yuma. Dia langsung mundur karena takut Steve menculiknya.
"Tidak, tidak. Maksud Kakek, bukan Kakek yang pergi, tapi kalian berdua dan juga Mommy," papar Steve.
"Pergi ke mana?" tanya Yumi.
"Ceritanya panjang. Bagaimana jika kita dengan cepat memilih boneka, lalu setelah itu kita makan dan setelah itu kita pulang?" usul Steve. Dia bisa saja membatalkan acaranya bersama kedua cucunya, tapi tentu saja dia tidak melakukan itu hingga Yuma dan Yumi pun mengangguk. Mereka langsung berbalik dan berjalan dengan sedikit kencang untuk masuk ke dalam mall diikuti Steve di belakangnya.
Dua jam kemudian.
Akhirnya, acara di mall tersebut pun selesai. Yuma dan Yumi sudah membeli apa yang mereka mau. Mereka juga sudah makan di restoran favorit mereka, dan akhirnya mereka pun langsung keluar dari mall tersebut.
***
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Steve, Yuma dan Yumi sampai di apartemen. Mereka pun bergegas keluar dari mobil dan berjalan dengan sedikit cepat ke arah lift.
"Yuma, Yumi," panggil Leana ketika keduanya masuk ke dalam apartemen.
"Mommy, ada apa? Kita mau pergi ke mana?" tanya Yuma.
Belum Leana menjawab, Leana langsung melihat ke arah Steve yang baru saja masuk. "Paman, jika kita belum bisa pergi ke luar negeri sekarang, bagaimana jika kita menginap di suatu tempat yang tidak ditemukan oleh Geo?" usul Leana.
"Itu ide yang bagus. Ayo kita pergi sekarang," ajak Steve.
Leana yang sedari tadi sudah membereskan semuanya, langsung berjalan ke arah kamar untuk mengambil koper. Dia tak ingin mengambil resiko lain lagi, hingga memutuskan untuk langsung pergi.
"Mommy, kita akan ke mana?" tanya Yuma dan Yumi ketika mereka sudah berada di dalam mobil, sedangkan Steve yang berada di depan, menoleh.
"Kita akan pergi ke luar negeri dan tidak akan tinggal lagi di sini," ujar Steve.
"Apa?!" Yuma dan Yumi langsung terpekik saat mendengar ucapan Steve.
"Luar negeri?" tanya Yumi, "lalu bagaimana dengan ...." Tiba-Tiba Yumi menghentikan ucapannya, kemudian dia melihat ke arah Yuma. Biasanya, Yuma akan langsung bereaksi ketika membahas Aaron, tapi entah kenapa saudara kembarnya kali ini malah diam melamun.
"Jika kita sudah sampai, Mommy akan menjelaskan semuanya," ucap Leana. Di benak kedua gadis kecil itu, tentu saja menyimpan banyak sekali pertanyaan, hingga Leana berbicara karena dia tahu mereka membutuhkan penjelasan.
"Mommy," panggil Yumi.
"Kenapa kita harus pergi?" tanyanya lagi setelah mereka sampai di kamar hotel, sedangkan Steve menyewa kamar hotel yang lain.
"Yuma, Yumi," panggil Leana, hingga Yuma yang sedang melamun langsung menghampiri sang ibu.
"Terlalu banyak yang terjadi di sini. Mommy tidak tahu kalian mengerti atau tidak," katanya.
"Apa? Aku masih tidak mengerti," ucap Yumi.
"Sudah, jangan banyak bertanya. Ikuti saja Mommy," kata Yuma.
"Kenapa kau ini emosi sekali?" balas Yumi, menatap saudaranya dengan kesal.
***
Keesokan harinya.
"Aaron! Aaron!" teriak Ana dari arah luar. Dia memanggil Aaron seperti orang yang kesetanan, hingga Aaron yang sedang berada di kamarnya langsung bangkit.
"Bibi," panggil Aaron. Lelaki itu pun langsung turun melalui tangga untuk menghampiri bibinya, karena bibinya berteriak seperti orang yang kesetanan.
"Bibi, ada apa?" tanya Aaron.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi Aaron.
__ADS_1
"Apa kau kembali lagi dengan wanita iblis itu?" tanya bibi Aaron.
Rupanya, rencana Melisa yang ingin mencelakai Ana gagal, sebab Ana datang ke Rusia tidak sendiri, melainkan dengan beberapa anak buahnya dan anak buah Melisa yang ingin mencelakai Ana tumbang di tangan anak buah wanita paruh baya itu. Setelah itu, Ana pun langsung mengintrogasi anak buah tersebut dan mengalirlah semuanya dari mulut anak buah tersebut tentang Melisa. Dia juga berhasil mengulik bahwa Melisa selama ini berpura-pura meninggal, hingga dia langsung emosi dengan Aaron. Apalagi, dia yakin Aaron telah mengusir Leana dan kedua cucunya. Walaupun tinggal di luar negeri dan tahu alasan Aaron menikahi Leana karena mirip dengan Melisa, tapi Meika sangat menyayangi Leana dan kedua cucunya.
"Kenapa Bibi menamparku?" tanya Aaron.
"Kau ini bodoh! Mana Leana? Mana Yuma dan Yumi?" tanya Ana lagi, "apa kau sudah mengusir mereka karena wanita iblis itu?" teriak Ana dengan emosi.
"Bibi, apa yang Bibi maksud iblis itu adalah Melisa?" tanya Aaron.
"Jangan pernah memanggil namanya di hadapan Bibi. Di mana dia sekarang? Bibi harus memberikan pelajaran padanya. Berani sekali dia mencelakai Bibi," kata Ana membuat Aaron mengerutkan keningnya.
"Mencelakai apa?" tanya Aaron.
"Cih, kau ini bodoh atau apa?" sindirnya.
"Bibi, berhenti mengutukku. Ini semua salah Bibi. Bukankah Bibi yang memintanya menjauh?" tanya Aaron, akhirnya Aaron pun menceritakan tentang Melisa yang menuduh Meika, membuat mata Ana membulat.
"Berani sekali dia memfitnahku," kata Ana yang semakin terpancing emosi saat Aaron mengatakan hal tersebut.
"Maksud Bibi?" tanya Aaron.
Plak!
Satu tamparan lagi mendarat di pipi Aaron. "Dasar Bodoh! Bibi tidak pernah menyuruhnya melakukan itu. Kau benar-benar, ya."
Ana tidak sanggup lagi berbicara pada keponakannya. "Jangan bilang kau benar-benar mengusir Leana dan kedua cucu Bibi?" tanya Ana. Sebenarnya, Ana sudah mengetahui bahwa Yuma dan Yumi bukan anak Aaron, tapi dia tetap menyanyangi cucunya.
"Di mana Leana?" tanya Ana.
"Cepat cari dia! Dia sedang mengandung anakmu," titahnya.
"Apa?!" Aaron terpekik mendengar perkataan sang bibi.
"Maksud Bibi, Leana sedang mengandung anakmu, Bodoh! Dan kau malah mengusirnya," kata Ana. Seketika, dunia Aaron menggelap ketika mendengar ucapan sang bibi, sebab sebelum Aaron membawa Melisa datang, Leana sudah memberitahukan kehamilannya pada Ana hingga dia bisa tahu Leana mengandung.
"Baby." Tiba-Tiba terdengar suara Melisa dari arah luar. Sepertinya, wanita itu baru saja datang. Dia tidak mengetahui bahwa ada Meika di rumah Aaron.
"Baby kau sedang a ...." Melisa menghentikan ucapannya ketika melihat wanita paruh baya yang dia takuti. Mata Melisa membulat. Bukankah anak buahnya mengatakan bahwa mereka berhasil menyalip mobil Ana hingga terjadi kecelakaan, lalu sekarang?
Aaron yang masih terkejut karena mendengar Leana hamil, langsung tersadar ketika mendengar suara Melisa. Seketika Aaron merasa dunianya runtuh. Dia telah keliru membela Melisa yang selicik ular, dan juga meninggalkan Leana dan kedua anaknya.
Kini, Aaron ada di titik rasa sadarnya, di mana dia memang sudah mencintai Leana bukan karena Leana mirip dengan Melisa, melainkan Leana adalah Leana itu sendiri. Ditambah lagi, dia mengetuk kebodohannya karena mengusir Leana yang dalam keadaan hamil. Tidak, Aaron tidak mau terlambat. Dia pun bergegas untuk menyusul Leana. Jika perlu, dia akan berlutut di hadapan istrinya.
"Aaron, kau mau ke mana?" tanya Melisa. Dari gelagat Aaron, dia yakin Ana sudah memberitahukan kebohongannya.
Ketika Melisa menghadang langkahnya, Aaron langsung mendorong tubuh Melisa. "Minggir!" teriak Aaron. Dia mendorong tubuh Melisa dengan kencang, hingga Melisa terjatuh ke lantai. Setelah itu, Aaron berlari ke arah luar. Dia berniat untuk menyusul Leana.
Aaron menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Bodohnya, dia masih terperangkap jerat wanita itu, padahal setelah Leana pergi, dia sudah merasakan ada yang aneh dengan perasaannya. Namun sayangnya, dia baru menyadari sekarang.
"Aaron, apa yang kau lakukan?" lirih Aaron ketika menyadari kebodohannya dan menyadari bahwa dia telah menyia-nyiakan wanita sebaik Leana yang sudah mengandung anaknya, "Yuma, Yumi."
Aaron semakin menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang sangat-sangat kencang. Beberapa kali dia hampir menabrak mobil orang lain, tapi beruntung dia berhasil mengendalikannya. Rasanya, dia tidak sabar untuk sampai di apartemennya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Aaron sampai di apartemen. Sial! Aaron memukul setir ketika banyak sekali mobil yang masuk ke basement, hingga dia harus menunggu. Beberapa kali dia menyalakan klakson, tapi tentu saja itu tidak berhasil hingga pada akhirnya Aaron hanya bisa pasrah. Lelaki itu tidak mungkin meninggalkan mobilnya di sini, karena pasti akan menciptakan antrean.
Setengah jam kemudian, akhirnya mobil sudah terurai. Mobil Aaron pun sudah masuk ke dalam basement. Setelah terparkir, lelaki itu dengan cepat turun dari mobil lalu setelah itu berlari ke unit apartemen yang ditempati oleh Leana.
"Leana! Leana!" panggil Aaron ketika Leana tidak membuka pintu. Sangking paniknya, lelaki itu tidak mengingat bahwa dia pun bisa masuk karena tahu kode akses apartemennya dan setelah sepuluh menit berlalu, Aaron menyadari hingga dia pun langsung mengutak-atik tombol, menekan kode. Pintu pun terbuka.
"Yuma! Yumi!" Aaron berteriak bagai kesetanan. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh arah, tapi apartemen tersebut tampak sepi. Tidak mungkin Yuma dan Yumi sedang pergi ke sekolah.
Namun, Aaron berusaha meyakinkan dirinya bahwa Yuma dan Yumi sedang pergi ke sekolah, dan dengan cepat dia pun langsung berlari ke semua kamar untuk memastikan semuanya dan nihil, tidak ada siapa pun di sana.
__ADS_1
Walaupun meyakinkan dirinya bahwa Yuma dan Yumi sedang pergi ke sekolah, tapi entah kenapa perasaan Aaron mengatakan hal sebaliknya. Dia pun langsung berjalan ke arah kamar Leana lagi untuk melihat lemari, dan kosong. Lemari itu begitu kosong. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Koper yang dipakai Leana pun tidak ada.
"Tunggu, ke mana mereka?" tanya Aaron, wajahnya sudah memucat kala menyadari betul bahwa Leana sudah pergi.