
Claudia hanya bisa menatap punggung Geo dengan hati yang hampa. Fantasi yang menari-nari di otaknya hilang begitu saja, sebagai perempuan normal tentu saja Claudia membutuhkan sentuhan, apalagi mereka pengantin baru.
Lihatlah, realita terlalu jauh dari ekspektasi, hingga sekarang Claudia hanya bisa terdiam. Claudia menaikkan lagi pakaiannya, dia sungguh malu ketika barusan membuka pakaiannya di depan Geo, tapi ternyata Geo malah mengabaikannya.
Claudia seperti wanita penggoda, yang mengharapkan sentuhan dari lelaki yang tak lain suaminya sendiri. Wanita itu menghela napas kemudian menghembuskannya, lalu turun dari ranjang, dia berencana untuk pergi ke kamar mandi. Sepertinya dia ingin berendam.
Claudia mengisi bath-up dengan air. Wanita itu melepaskan pakaiannya, kemudian ketika bath-up sudah terisi, dia langsung masuk ke bath-up tersebut. Claudia menatap ke arah depan, tatapan matanya berkaca-kaca. Walaupun dia memang terobsesi dengan Geo, tapi entah kenapa rasanya ini begitu merana. Dia baru sehari menjadi istri Geo, tapi Geo sudah bersikap seperti ini. Lalu bagaimana kedepannya?
Claudia menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dia menengadahkan kepalanya ke atas, dia membatin, 'Sebenarnya apa daya tarik Leana sampai Geo begitu tergila-gila padamu?'
Leana memang cantik tapi wanita itu selalu berpenampilan sederhana, tapi tetap terlihat elegan, berbeda dengannya yang selalu tampak glamor dan secara penampilan, tentu saja lebih unggul Claudia. Namun orang-orang malah lebih menyukai Leana.
Claudia menghela napas kemudian mengembuskannya. Tanpa terasa, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya saat penolakan Geo tadi. Claudia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak boleh menyerah. Perjuangan masih panjang," ucap Claudia, "bagaimanapun aku istrinya." Claudia berusaha menguatkan dirinya sendiri, hingga pada akhirnya dia pun melanjutkan acara mandinya.
Setengah jam kemudian Claudia keluar dari kamar mandi, wanita itu mengerutkan keningnya ketika dia tidak ada di kamar. Padahal tadi dia mengatakan ingin istirahat.
Claudia tidak ingin memikirkan itu, dia memutuskan untuk menenangkan dirinya sejenak dengan cara melihat pemandangan dari balkon.
***
Geo masuk ke dalam kamar Leana. Dia melihat sekelilingnya.
"Leana kerjakan tugasku."
"Leana, ambilkan aku cemilan."
"Leana, pijat rambutku."
"Geo, bisa kau berhenti mondar-mandir ke kamarku?"
"Geo, bisakah kau tidak terus menggangguku?"
"Geo, aku ingin belajar, pergilah."
Tiba-Tiba kilasan ucapannya dan ucapan Leana yang sering terjadi di kamar ini, langsung menubruk otak Geo, bahkan sekarang dalam bayangannya dia sedang melihat dirinya dan Leana yang sedang berdebat.
Namun tak lama, perlahan bayangan itu memudar hingga Geo tersadar. Dia memegang dadanya yang terasa nyeri. Perlahan, Geo maju untuk masuk ke dalam kamar wanita yang dia cintai, lalu mendudukkan diri di ranjang.
Setelah cukup lama duduk, Geo mengangkat kakinya ke ranjang. Dia berbaring di ranjang Leana, lalu menjadikan tangannya sebagai bantalan dengan napas yang terengah ketika dia bermimpi tentang Leana.
“Geo cukup ...."
“Geo jangan lakukan ...."
“Geo kumohon jangan ....”
Geo terbaring dari tidurnya, dia melihat ke sekelilingnya, wajahnya sudah di penuhi oleh keringat dingin, lelaki itu menghela napas. Ternyata, barusan dia hanya bermimpi.
Geo melihat jam ternyata dia sudah tertidur di ranjang Leana selama setengah jam, hingga lelaki itu memutuskan untuk turun dari ranjang, kemudian keluar dari kamar wanita itu Saat dia keluar, dia berpapasan dengan Steve.
"Kau dari mana? Kenapa keluar dari kamar Leana?" tanya Steve. Dia tergagap.
"Aku hanya memastikan sesuatu saja," jawab Geo.
Sebenarnya Steve mengerti dengan pikiran putranya, jelas-jelas dia bisa melihat bahwa dia begitu menyayangi Leana, tapi putranya malah menikah dengan wanita lain. Sebagai seorang ayah dia tidak ingin ikut campur dengan apapun yang diurus putranya. Putranya sudah dewasa mampu memilih jalan yang terbaik, dia tidak ingin mengekang Geo tapi tetap saja rasa bingung itu tetap ada.
"Oh ya sudah kalau begitu," ucap Steve, langsung melanjutkan langkahnya kemudian lelaki itu langsung masuk ke dalam kamar, dan ketika dia masuk, Maudy sedang berjalan ke sana kemari seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu.
__ADS_1
"Sayang, kau kenapa?" tanya Steve ketika Maudy berjalan ke sana kemari seperti orang yang tidak tenang.
"Leana tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati."
"Mungkin dia sudah terbang."
"Tidak mungkin dia terbang. Satu hal lagi, kau tahu bukan anak itu tidak pernah mematikan ponselnya? Dia akan panik ketika ponselnya tidak menyala."
Steve tampak terdiam. Dia juga merasa perasaannya tidak enak. "Ya sudah, mungkin dia mematikan ponselnya," ucap Steve, berusaha menenangkan Maudy walaupun dia sendiri pun juga khawatir, hingga Maudy menurut pada Steve.
Maudy langsung mendudukkan diri di sofa, disusul Steve yang juga ikut duduk di samping Maudy.
"Dad, perasaanku mendadak tidak enak," kata Maudy.
Steve tidak menjawab karena dia pun merasakan yang sama, tapi dia berusaha berpikir rasional. Memangnya apalagi yang akan terjadi pada Leana? Putrinya terlihat baik-baik saja, begitulah pikir Steve.
"Kau merasakan perasaan yang aku rasakan," kata Maudy yang gemas ketika Steve tidak menjawab ucapannya.
"Sayang, memangnya apa yang harus dikhawatirkan? Leana juga pasti akan baik-baik saja," ucap Steve.
Maudy kembali diam-diam mengelus dadanya. Sepertinya, apa yang diucapkan Steve benar.
***
Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Semua keluarga sedang berkumpul di meja makan. Steve, Maudy dan Geo terlihat makan dengan tidak semangat, tentu saja karena mereka mengkhawatirkan Leana. Berbeda dengan Claudia.
Melihat kursi yang di tempati Leana, Maudy tersenyum getir, dia menghentikan suapannya kemudian dia menaruh sendok dan garpu yang dia pegang. Rasanya dia sudah tidak bersemangat lagi untuk meneruskan makan malamnya karena teringat leana.
"Claudia, Geo, Mommy minta maaf. Mommy sepertinya sudah kenyang. Mommy akan kembali ke kamar," ucap Maudy hingga semua mengangguk.
"Aku akan menyusul sebentar lagi," ucap Steve.
Maudy masuk ke dalam kamar. Wanita itu sedikit berlari ke arah nakas. Dia menggapai ponselnya lalu mengutak-atiknya kemudian menelepon Leana, tapi lagi-lagi ponsel Leana tidak bisa dihubungi.
"Leana, sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Maudy. Dia mendudukkan dirinya sejenak seraya menggenggam ponselnya, berharap Leana berbalik meneleponnya, hingga tak lama Steve pun masuk kedalam.
"Tolong cari tahu di bandara, apakah Leana benar-benar pergi ke Kanada," ucap Maudy ketika Steve masuk. Dia pun langsung mengangguk kemudian mengutak-atik ponselnya, menelepon anak buahnya dan menyuruh anak buahnya untuk menelpon pihak bandara.
***
Geo dan Claudia selesai dengan acara makan malam mereka, dan Claudia dengan cepat mengajak Geo ke kamar, bahkan tanpa mendengar jawaban Geo, Claudia langsung menarik tangan Geo hingga mau tak mau, dia mengikuti langkah wanita itu.
Setelah sampai di kamar, Claudia langsung menutup pintu. Dia menguncinya, kali ini dia tidak boleh gagal.
"Cla-Claudia, apa yang kau lakukan?" tanya Geo dengan terbata. Dia merasa bergidik saat melihat bahwa dia seperti ini.
Claudia tidak menjawab. Dia harus bersikap seagresif mungkin untuk menarik Geo, begitulah pikirnya.
"Claudia, kau kenapa?" tanya Geo yang berusaha menjauh ketika Claudia akan menarik tangannya.
Claudia bukannya menjawab, wanita itu malah mendorong tubuh Geo hingga sekarang Geo terjatuh di ranjang, dan sebelum Geo terbangun Claudia dengan cepat menindih tubuh Geo lalu menggoda lelaki itu. Pada akhirnya sepertinya Geo mulai terbuai apalagi Claudia benar-benar membuat dia tidak berkutik
Pada akhirnya, Geo mulai membalas apapun yang Claudia lakukan. Pemanasan demi pemanasan dilakukan oleh kedua insan itu.
Geo seakan lupa dengan perasaan khawatirnya pada Leana, karena Claudia benar-benar memegang kendali atas semuanya, dan pada akhirnya detik-detik yang menegangkan bagi Claudia terjadi di mana saat ini dia akan menyatukan tubuh mereka
"Geo kumohon jangan."
"Geo stop."
__ADS_1
"Geo lepaskan aku. Jangan seperti ini."
Tiba-Tiba Geo teringat teriakan Leana, hingga Geo menjatuhkan tubuhnya dari Claudia, bahkan senjata yang menegang langsung layu begitu saja ketika mengingat Leana membuat Claudia sedikit bangkit untuk melihat Geo. Terlihat jelas bahwa suaminya sedang melamun entah sedang memikirkan apa, padahal barusan nafas Geo tidak beraturan
"Geo," panggil Claudia.
Geo menatap ke arah Claudia.
"Claudia maaf, aku belum bisa melakukannya," ucap Geo.
Geo pun turun dari ranjang kemudian dia mengambil pakaiannya, lalu setelah itu berjalan ke kamar mandi membuat Claudia menatap Geo dengan tatapan tak percaya, hanya tinggal selangkah lagi dia mendapatkan lelaki itu, tapi lihatlah Tuhan seolah tidak membiarkan keinginannya menjadi nyata.
Geo mencuci wajahnya kemudian dia bercermin menatap wajahnya. Geo menopang tubuhnya di meja kemudian dia berusaha meneliti apa yang terjadi. Barusan dia sedang merasakan panas akibat sentuhan Claudia, tapi ketika dia mengingat Leana, semuanya hilang begitu saja. Senjatanya juga ikut layu.
Geo menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiba-Tiba dia juga teringat oleh Leana. Apakah wanita itu sudah bisa dihubungi atau belum?
Pada akhirnya, Geo keluar dari kamar mandi dan ketika Geo keluar, dia melihat Claudia meringkuk membelakanginya. Bahu wanita itu bergetar pertanda Claudia menangis hingga Geo menghela napas, lalu mengusap wajah kasar. Mungkin dia akan memberi pengertian pada Claudia besok, hari ini dia ingin memastikan dulu kabar dari Leana.
Geo mengutak-atik ponselnya kemudian mencari nomor Leana, tapi sampai sekarang nomor Leana juga tidak bisa dihubungi dan mungkin saat ini, Leana masih berada di pesawat.
Hal yang membuat Geo makin tidak tenang adalah, Leana tidak mengaktifkan ponselnya ketika berada di pesawat, sedangkan dia sangat tahu bahwa Leana tidak bisa tenang ketika di pesawat tanpa memegang ponsel, sebab Leana selalu ketakutan dan mengalihkan ketakutannya dengan cara mengutak-atik ponselnya.
Namun lihatlah, sekarang ponsel wanita itu tidak bisa dihubungi.
Geo keluar dari kamar membuat Claudia menoleh. Tangis Claudia semakin berlinang ketika Geo sama sekali tidak minta maaf padanya, atau tidak berbasa-basi.
Geo turun, dia berjalan ke arah luar dia berencana untuk menemui ayahnya berharap ayahnya tahu sesuatu.
***
Leana menghela napas lega ketika dia sudah sampai di kota tujuannya. Dia melihat jam di pergelangan tangan dan sekarang sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Berada di bus selama berjam-jam tanpa berhenti, membuat tubuh Leana tersiksa, dan sekarang akhirnya dia bisa menghirup oksigen sebanyak-banyaknya karena dia sudah sampai di kota tujuan.
Suasana begitu gelap, hanya ada beberapa orang di halte bus. Jujur saja Leana takut, untuk pertama kalinya dia berada di posisi seperti ini, ada di kota orang dan suasana yang sangat sepi.
Leana mengutak-atik ponsel baru yang sudah ia beli sebelum pergi, ponsel yang akan menemani hari-harinya. Dia memesan taksi lewat online menuju tempat di mana akan dia tinggali, karena sebelum pergi tentu saja Leana sudah memesan tempat tinggal yang cukup murah untuk ditempati, hingga sekarang dia hanya tinggal pergi ke rumah tersebut.
Satu jam kemudian, taksi yang dia pesan pun akhirnya datang. Leana sedikit bergidik. Dia sungguh takut taksi itu akan berbuat jahat padanya, karena dari raut wajahnya terlihat sangat dingin tidak ada keramahan sama sekali.
Namun tak lama, Leana menggelengkan kepalanya. Dia harus memberanikan diri untuk mengambil langkah apapun, hingga pada akhirnya Leana menaikkan koper ke bagasi, lalu setelah itu dia naik ke dalam taksi.
Taksi mulai melaju. Leana mulai memperhatikan jalan, karena dia takut taksi akan membawanya ke tempat lain namun setelah. Satu jam berada di dalam taksi, kekhawatiran Leana sirna ketika dia sudah sampai di tempat tujuan, dan pada akhirnya taksi pun berhenti di pinggir jalan.
Leana bergidik ketika melihat jalan yang akan dilewati untuk sampai ke tempat yang sudah dia sewa, karena dia harus melewati jalan yang benar-benar gelap, bahkan tidak ada siapapun di sana.
"Paman," panggil Leana.
"Iya?" jawab sopir taksi tersebut.
"Paman, apa Paman bisa mengantarkanku ke sana? Tempat tinggalku masih jauh. Aku takut melewati jalan itu," ucap Leana, Leana menggigit bibirnya. Dia menunduk, rasanya dia ingin menangis ketika meminta bantuan pada sopir taksi yang dia tumpangi, dan dia yakin dia pasti akan ditolak.
Namun tak lama, Leana membuka mata ketika terdengar suara pintu terbuka, rupanya sopir taksi itu menarik koper Leana tanpa berbicara sepatah kata pun, lalu berjalan hingga Leana menghela napas, dan wanita itu pun langsung berjalan di belakang sopir taksi tersebut, hingga pada akhirnya sampailah Leana di sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu kecil, hanya ada beberapa rumah di sekitarnya dan selebihnya diisi dengan beberapa pabrik yang juga akan menjadi tempat Leana bekerja.
Karena tentu sebelum Leana meninggalkan kediaman Steve dan Maudy, Leana sudah melamar kerjaan yang cocok untuknya, dan dia mendapatkan pekerjaan di pabrik kosmetik. Itu sebabnya dia menyewa rumah yang dekat dengan pabrik tempatnya bekerja.
"Ini kopermu," ucap sopir taksi tersebut.
"Paman, terima kasih," ucap Leana, ternyata Tuhan mengabulkan doanya untuk selalu melindunginya. Terbukti, sopir taksi itu mau mengantarkannya walaupun mereka hanya orang asing.
Sopir taksi itu tidak menjawab, dia langsung pergi begitu saja Leana pun langsung masuk ke dalam. Leana membuka pintu gerbang, dia langsung menggeret kopernya untuk masuk. Dia langsung menekan kode dan pintu langsung terbuka.
__ADS_1
Helaan napas terlihat dari wajah Leana. Walaupun rumah ini tidak terlalu besar, tapi setidaknya rumah ini sudah nyaman. Apalagi di dalamnya sudah tersedia beberapa fasilitas.