
"Ada apa, Tuan?" tanya Maudy yang menatap heran pada Richard, sepertinya pria itu mempunyai banyak sekali hal yang ingin disampaikan hingga terlihat begitu gelisah.
Richard terdiam. Dia memutar otak mencari cara untuk mengatakan kepribadian Leana yang sedikit berbeda dengan anak yang lain.
"Silakan duduk, Nona Maudy," ucap Richard.
Maudy mengangguk kemudian duduk di hadapan Richard yang berkata, "Aku akan meng-gajimu berapapun yang kau mau, Nona Maudy, asalkan kau mau bertahan untuk menjadi guru Leana." Ricard menatap Maudy dengan tatapan memohon, lelaki itu berharap Maudy tidak berhenti di tengah jalan saat mengajarkan Leana.
Maudy mengerutkan kening. Dia merasa ini ada kaitannya dengan apa yang disampaikan oleh kepala sekolah kemarin. "Ada apa dengan putri Anda?" tanya Maudy.
"Singkatnya seperti ini, putriku berubah setelah kematian istriku. Dia terkadang bersikap keterlaluan pada orang asing dan sudah banyak sekali guru yang aku rekrut untuk mengajarinya, tapi semua tidak tahan dengan tingkah putriku. Dia jahil dan tidak pernah mau menurut. Jadi, aku berharap kau mau bersabar dengannya." Wajah Ricard menjadi sendu saat membahas mantan istrinya, tapi dia menguatkan untuk berbicara.
'Orang lain saja menyerah, lalu bagaimana aku?' batin Maudy yang menatap Richard dengan ragu.
"Tuan Richard, sebenarnya gaji bukanlah masalah, apalagi aku juga mengajar hanya untuk mengisi waktu luang. Aku tidak berjanji aku akan bertahan, tapi aku akan mencoba untuk terus mengajari Leana," jawab Maudy, membuat Ricard menghela nafas.
"Baiklah, aku tidak bisa memaksa, tapi aku harap kau betah menjadi guru putriku," ucap Richard.
__ADS_1
Maudy mengangguk.
"Ayo."
Mereka pun bangkit dari duduknya masing-masing, lalu berjalan ke tempat di mana Maudy akan mengajar Leana.
Pintu terbuka dan ternyata Leana sudah menunggu di sana. Richard mengerutkan kening ketika melihat putrinya sudah duduk rapi. Dia yakin ada sesuatu yang disembunyikan olehnya.
"Tolong hati-hati jika ingin duduk, kelihatannya anakku akan mengerjaimu," ucap Richard pada Maudy dengan berbisik, karena takut Leana merencanakan sesuatu padanya.
"Halo Leana," panggil Maudy, "kau bisa memanggilku Bibi."
Mungkin Leana terlihat manis di mata orang lain, tapi berbeda dengan Richard karena dia yakin putrinya akan melakukan sesuatu.
Leana benar-benar berubah semenjak kematian istrinya, membuat dia harus mempertebal kesabaran menghadapinya.
Saat Maudy akan duduk di lantai dan memulai kelas lukis, dia mengerutkan kening saat melihat tikar yang sedikit terbuka dan terlihat cairan yang merupakan sebuah lem.
__ADS_1
"Bisakah kau duduk di sini?" tanya Maudy.
Saat melihat putrinya yang tampak gugup, lelaki tampan itu mengalihkan tatapannya ke arah lain, menahan tawa karena Maudy bisa menebaknya.
"Tidak mau, aku ingin duduk di sini," jawab Leana.
"Tapi Bibi akan susah menjelaskannya."
"Tidak mau," kata Leana lagi.
"Ya sudah, bagaimana jika kita pindah di sebelah sana?" tanya Maudy. Dia langsung mengangkat alat-alat yang akan dia gunakan untuk melukis dengan Leana.
Setelah itu, Richard memutuskan untuk keluar dari ruang belajar putrinya. Saat dia pergi, terlihat Gerald yang tak lain adalah temannya, masuk membuat senyum Ricard itu mengembang kemudian menghampirinya.
***
"Mommy Maudy ... Mommy Maudy.”
__ADS_1
Ketika mendengar suara Geo, Steve langsung menoleh pada putranya. Dia meraba kening anak itu yang cukup panas.