
"Setelah ini, kita ke mana?" tanya Steve ketika mereka baru saja selesai dengan aktivitas di cafe.
Maudy melihat jam di pergelangan tangannya. "Kemarikan kunci mobilnya," jawab wanita itu.
Lalu, Steve pun langsung memberikan kuncinya pada Maudy. "Tapi Maudy, bisakah kau mengantarkanku ke mobilku yang kemarin aku simpan di tepi jalan?"
"Kau bisa pakai taksi, 'kan?" tanya Maudy.
"Aku tidak tahu jalanan, apalagi aku baru pertama kali datang ke India." Meskipun sebenarnya ada aplikasi di ponsel pria itu yang bisa digunakan untuk melacak keberadaan mobilnya.
Maudy yang malas berdebat, bangkit dari duduknya. Dia tidak mengiyakan atau pun menolak ucapan Steve hingga pria itu pun ikut bangkit. Dia kemudian berjalan ke arah kasir untuk membayar makanan yang mereka pesan.
***
Maudy menghentikan mobilnya tepat di tempat kemarin meninggalkan mobil pria itu. Setelahnya, wanita itu langsung menoleh ke arah Steve. "Kau tidak turun?"
"Aku akan mengambilnya nanti saja. Kita pulang dulu. Perutku mendadak tidak enak," jawab Steve beralasan.
Sebab, jika dia ikut turun untuk mengambil mobilnya, ada kemungkinan bahwa Maudy tidak akan mengizinkannya lagi untuk masuk ke dalam rumah, sedangkan dia harus terus membujuk hingga wanita itu kembali jatuh hati padanya.
Maudy yang tidak ingin berdebat lagi pun, langsung menyalakan dan menjalankan mobilnya.
***
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Maudy pun sampai di depan rumah.
Maudy langsung turun dari mobil. Wanita itu berjalan keluar tanpa memperdulikan Steve yang berada di belakangnya hingga pria itu berdecak kesal, tapi tak urung dia mengikutinya.
"Maudy," panggil Steve ketika mereka tiba di rumah.
"Apa?"
"Bisakah kau berikan aku satu kamar untuk aku tidur? Aku akan menginap kembali di rumah ini," ucapnya.
Maudy terdiam berpikir. "Kau bisa pakai kamarku, dan aku akan tidur dengan Geo," jawabnya yang masih tidak percaya dengan Steve.
"Baiklah, kalau begitu terima kasih, Maudy."
Maudy tidak menjawab. Wanita itu langsung masuk ke dalam kamar Geo untuk segera beristirahat.
Lalu, saat Maudy sudah membaringkan tubuh di atas ranjang, ponselnya berdenting karena sebuah pesan yang tak lain berasal dari Neo, anak buah Nauder yang selama ini menemaninya juga Geo.
***
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Maudy memutuskan untuk berenang, karena dia merasa kesepian. Apalagi sejak tadi sore, Geo terus bermain dengan Steve.
Sebenarnya, dia bisa saja ikut bergabung bersama putranya. Namun, dia tidak mau berada di dekat Steve hingga keputusan yang terbaik adalah berenang saja.
***
Steve keluar dari kamar Geo ketika putranya sudah tertidur. Ini saat yang tepat untuk dia melancarkan aksinya mendekati Maudy agar kembali tertarik pada dirinya.
__ADS_1
Saat itu, terdengar suara gaduh dari belakang dan Steve yakin Maudy sedang berenang, hingga dia pun langsung berjalan ke arah kolam renang.
Dugaan Steve benar. Maudy sedang di sana hingga dia pun langsung melepaskan pakaiannya kemudian melompat ke kolam renang.
Maudy yang merasakan keberadaannya, langsung terdiam. Dia mengusap wajah dan tak lama, perutnya serasa ditarik oleh seseorang.
Maudy langsung mendorong kakinya hingga mengenai senjata Steve, membuat pria itu berteriak.
"Kau ini apa-apaan?" tanya Steve saat sudah berhasil mengendalikan dirinya, tapi meskipun begitu, dia masih meringis karena ngilu akibat ulah Maudy. "Kenapa kau menendangnya? Ini asetku!"
Steve berusaha untuk meredam emosinya. Sementara itu, Maudy tidak menjawab lagi. Dia lebih memilih untuk berenang ke tepian.
Saat Maudy dia akan keluar dari kolam renang, Steve menarik tangan wanita itu hingga dia pun menghentikan langkahnya. "Steve, aku rasa kau sudah melewati batasanmu. Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau dan Alya belum bercerai?"
Steve terdiam mematung dengan napas yang terasa tercekat. "Aku sudah bercerai dengan Alya, aku akan menunjukkan buktinya padamu jika kau mau. Kenapa kau masih menganggap aku berbohong?"
Maudy menggelengkan kepala. Sebenarnya, dia hanya bertanya asal. Entah Alya sudah bercerai atau tidak, itu bukan urusannya. Begitulah pikir Maudy yang juga tidak mau repot-repot memikirkan apa yang terjadi dengan pernikahan Steve. Dia hanya tidak ingin pria itu melewati batasan.
"Terserah saja, aku tidak peduli dengan apa yang terjadi di rumah tanggamu," ucap Maudy. Dia berencana naik ke atas, tapi lagi-lagi Steve menarik tangannya.
Tanpa diduga, Steve langsung menghimpit tubuh mantan istrinya kemudian dengan cepat mengunci kaki Maudy hingga wanita itu tidak bisa bergerak.
"Aku tahu rasanya terlalu egois mengatakan ini, tapi ayo kita berusaha untuk lebih dekat lagi agar Geo bisa mempunyai keluarga yang utuh."
Maudy tertawa. "Steve, aku mengenalmu selama bertahun-tahun, dan kau pikir, aku akan percaya padamu?"
"Maudy, tatap mataku. Apakah masih ada kebohongan di sana?" tanyanya Steve yang mulai merasa bahwa dia tidak bisa mendekati Maudy dengan cara baik-baik, hingga dia harus mengambil cara ini.
"Aku masih melihat kebohongan di matamu." Maudy langsung mendorong tubuh Steve dan dia pun langsung naik ke atas.
Tak sampai di situ, tiba-tiba Steve membulatkan matanya saat melihat tuubuh Maudy yang begitu indah. Namun, tak lama, dia tersadar ketika Maudy menenndang air hingga mengenai wajahnya.
"Jangan melihat tubuhhku seperti itu," kata Maudy yang kemudian berlari. Dia dengan cepat mengambil handuk meninggalkan Steve yang mengusap wajah kasar.
***
Tiga bulan kemudian.
Sudah tiga bulan lamanya Steve diam di India. Lalu, selama itu pula dia terus membujuk dan mendekati Maudy yang sama sekali tidak terpengaruh apapun meski dia selalu bersikap manis.
Maudy tidak pernah menggubris Steve, dia bahkan sering menatap pria itu dengan sorot aneh membuat Steve menyadari betul bahwa Maudy belum bisa percaya padanya, hingga dia harus berusaha lebih kuat.
Sepertinya saat ini, Steve sudah bersiap hingga terlihat rapi. Dia berencana untuk mengajak Maudy makan malam bersama, tapi dia juga tak tahu apakah wanita itu setuju atau tidak.
Tidak lama, pintu terbuka. Muncul sosok Maudy yang membuat jantungnya berdebar dua kali lebih cepat saat melihat tampilan wanita itu yang begitu cantik.
Maudy memakai dress merah.
"Kau sudah siap?" tanya Steve, dia pikir bahwa wanita itu setuju dengan ajakannya.
Maudy melihat Steve dengan sorot aneh. "Kau mau ke mana?"
__ADS_1
"Bukankah aku sudah mengajakmu makan malam bersama?"
"Oh iya, aku lupa. Sayangnya, aku sudah ada janji dengan Neo untuk menonton festival musik.”
"Apa?" pekik Stev saat mendengar ucapan Maudy. Bagaimana mungkin wanita ini pergi dengan lelaki lain, sedangkan dia yang terlebih dahulu mengajak Maudy.
“Kenapa memangnya?” tanya Maudy dengan heran
Steve menghela nafas, kemudian menghembusnya. Dia berusaha untuk tetap sabar menghadapi Maudy. “Aku, kan mengajakmu terlebih dahulu, Maudy. Bukan dia!" ucap Stev lagi, nada suaranya mulai sedikit meninggi karena dia benar-benar tidak terima, Maudy menolak ajakannya dan malah pergi dengan lelaki lain.
Maudy tersenyum tipis, “Tapi Neo sudah mengajakku dari kemarin. Jadi ....”
“Ehmm.” Tiba-tiba Maudy menghentikan ucapannya, kala mendengar suara Neo dari belakang dan ternyata Neo menyusul masuk ke dalam.
Maudy tersenyum saat melihat Neo, lelaki itu tampak lebih tampan ketika memakai setelan biasa. Karena sehari-hari Neo selalu memakai jas layaknya seorang pengawal.
“Anda sudah siap Nona," Neo..Maudy tersenyum. “Hmm, aku sudah siap.”
“ Tunggu aku ikut dengan kalian." Tiba-tiba Steve berbicara, hingga Maudy yang sudah berbalik langsung menoleh kembali ke arah Steve.
“Stev, Apa kau gila?" tanyanya, dia menatap Steve dengan kesal. Bagaimana mungkin mantan suaminya ini mengecoh kepergiannya bersama Geo.
”Aku ingin ikut!" ucap Stev dengan kekeh.
“Tidak, temani saja Geo di sini,” ucap Maudy kali ini dia tidak khawatir meninggalkan Geo karena anak buah yang lain berjaga di depan rumahnya.
“Tidak apa-apa, Nona. Ayo kita pergi,” jawab Neo Maudy pun mengangguk dia mengabaikan keberadaan Steve, bahkan membiarkan Stev berjalan di belakangnya.
Neo mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali dia berbincang dengan Maudy sedangkan Steve yang berada di belakang, hanya mendengarkan percakapan mereka yang sangat membuatnya malas.
Seandainya dia tidak mempunyai misi mendekati Maudy, dia tidak mau repot-repot. mengikuti dua orang ini, bahkan sekarang dia bagaikan angin yang tidak terlihat.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Neo sampai di tempat festival musik di mana ada penyanyi-penyanyi India yang akan tampil. Mereka memang tidak mengerti dan arti lagu yang akan dinyanyikan, tapi Maudy dan Neo berharap bisa menikmati festival tersebut.
Neo keluar dari mobil, lelaki itu memutari mobil untuk membukakan pintu untuk Maudy begitupun dengan Steve, hingga kini Kedua lelaki itu berebut membukakan pintu untuk maudy.
Tapi Maudy lebih memilih turun seorang diri. “Terima kasih Neo,” ucap Maudy.
“Kau tidak berterima kasih padaku?" Omel Steve.
“Terima kasih,” jawabnya dengan nada datar. wanita itu langsung menggandeng tangan Neo untuk masuk ke dalam membuat Steve menggeram kesal
***
Festival pun selesai Maudy dan Neo bangkit dari duduknya. Mereka menoleh ke arah Steve yang sedang tertidur, “Neo sudah kita tinggalkan saja dia di sini," ucap Maudy, ternyata tadi, tanpa sadar Stev tertidur.
“Anda yakin, Nona?” tanya Neo. Maudy mengangguk, “Sudah, ayo kita tinggalkan saja dia di sini, biarkan saja dia pulang sendiri,” ucap Maudy lagi. Neo menggangguk, lelaki itu pun bangkit dari duduknya kemudian mereka pun meninggalkan Steve yang sedang tertidur. Bahkan seluruh tamu di teater itu sudah pergi hingga kini Stev seorang diri.
Stev terbangun dari tidurnya kala, mendengar suara gaduh. Rupanya, para penjaga sedang membersihkan teater. Lelaki itu melihat ke sana kemari tidak ada siapapun di sana.
“Sial! ditinggalkan.” Secepat kilat Stev berlari untuk keluar dari gedung, dan ternyata sudah tidak ada mobil yang terparkir di sana karena para pengunjung sudah pulang 1 jam.
__ADS_1
“Aku harus bagaimana sekarang!”