Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Tempramental


__ADS_3

"Memangnya apa yang aku lupakan?" tanya Steve ketika Gina mendekat, Gina menatap Stev dari bawah sampai ke atas.


"Kau ini dianugerahi otak yang cerdas, tapi sampai sekarang kau tidak bisa menebak apa yang terjadi."


"Tunggu," ucap Steve mencoba mencerna ucapan kakaknya hingga dia menyadari sesuatu. "Apa maksudnya Daddy sudah pergi?"


Wajah Steve memucat. Seluruh tubuhnya terasa lemas saat menyadari bahwa sang ayah telah pergi.


"Hmm, Mommy dan Daddy sudah pergi ke tempat yang sangat tidak akan terduga olehmu." Gina bangkit dari duduknya kemudian berniat pergi.


Namun, langkahnya dihadang oleh Steve yang kini memegang bahu Gina dengan mata menatap dengan sorot memohon. Ada rasa tidak tega di diri wanita itu saat melihat sang adik seperti ini, tapi dia juga tidak membenarkan tindakan Steve.


"Aku tidak akan sanggup berpisah dengan Geo. Aku tahu aku salah memisahkan Maudy dan Geo, tapi aku berjanji aku tidak akan menghalangi lagi jika Maudy ingin bertemu dengan Geo andai kau memberitahukan ke mana dia membawa putraku."


Baru saja rasa kasihan menghinggapi Gina, dia sudah melihat keegoisan adiknya yang membuat perasaan itu menghilang dan berganti dengan tawa karena merasa bahwa Steve begitu bodoh. "Pertama, aku tidak tahu Daddy membawa mereka ke mana, kedua jika kau pun aku tau, aku tidak akan memberitahu ke mana Daddy dan Mommy membawa dia pergi. Jadi, renungi saja kesalahanmu."


Gina langsung menyingkirkan tubuh Steve dari hadapannya. Pria itu ambruk di sofa sepeninggal sang kakak.


Dunia Steve seakan berhenti berputar. Jantungnya pun seolah berhenti berdetak. Juwanya terasa direbut paksa dari raganya karena ucapan Gina barusan benar-benar menampar.


Otak Steve terasa kosong. Dia bahkan merasa kakinya tidak berpijak pada bumi. "Geo," lirihnya dengan berlinang air mata.


Demi apapun, dia merasakan sakit yang luar biasa hebat ketika dia kehilangan putranya dan dia yakin jika Geo sudah ditangan ayahnya, dia tidak akan mudah untuk menemukan mereka kembali.


***

__ADS_1


Alya mondar-mandir di apartemennya. Dia merasa tidak sabar menunggu kepulangan Steve.


Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam dan dari tadi Steve belum juga kembali. Dia sangat berharap pria utu berhasil membawa Geo kembali ke dalam pelukan mereka.


Saat Alya sedang mondar-mandir, pintu apartemen terbuka hingga dia langsung berjalan ke arah pintu untuk menyambut Steve dan Geo. Namun tak lama, tubuhnya Alya diam mematung dengan napas mendadak beraturan saat melihat Steve pulang dalam kondisi mabuk.


Tidak perlu bertanya lagi, jika sudah seperti ini, dia yakin suaminya gagal mendapatkan Geo. "Steve," panggil Alya dengan mata berkaca-kaca.


Steve yang sedang berjalan dengan sempoyongan, mengangkat kepalanya lalu dia menunjuk kening Alya dengan jarinya. "Kau ini egois sekali, Alya."


Secara tiba-tiba, Steve bicara hal itu membuat Alya membulatkan matanya. "Apa maksudmu, Steve?"


"Seharusnya kau itu bersyukur aku menikahimu dan mengangkat derajatmu. Seharusnya kau juga mau mengandung. Andai kau mempunyai anak, maka kita tidak akan kesepian setelah Geo pergi. Dasar wanita tidak berguna!" Steve langsung menyingkirkan tubuh Aliya hingga dia hampir terjatuh andai tidak berpegangan pada tembok.


Mata Alya memanas saat mendengar ucapan Steve yang benar-benar menghancurkannya. Dia tidak percaya ucapan semacam itu akan keluar dari mulut suaminya yang selama ini begitu menyayanginya. Selama ini, mereka tidak pernah bertengkar masalah apapun.


Sementara Steve yang sedang mabuk dan tertekan, sama sekali tidak menyadari apapun. Isi kepalanya hanya tentang Geo, Geo dan Geo.


Steve masuk ke dalam kamar. Lelaki itu langsung membanting tubuhnya di ranjang. Dia membuka matanya dengan arah pandang lurus ke depan. Air mata mulai berlinang.


Kenangan-Kenangan kebersamaannya dengan sang putra menubruk otak pria itu, lalu sekarang Geo telah pergi dan dia tidak mau di mana.


***


Tidak terasa, waktu berlalu begitu cepat hingga kini sudah tiga tahun berlalu semenjak kepergian Maudy. Lalu, sudah selama itu pula hubungan Geo dan Alia, memburuk.

__ADS_1


Steve berubah temperamental. Dia juga memperlakukan Alya dengan sangat buruk dan sering menyalahkannya atas apa yang terjadi.


Steve pun sudah berkali-kali mencoba memohon pada kedua orang tuanya agar dia bisa bertemu lagi dengan Geo, tapi Elsa dan Nauder tidak terpengaruh dengan apa yang dilakukan oleh sang putra. Mereka tahu benar bagaimana sikap manipulatif Steve.


Jika mereka memberitahukan keberadaan Maudy, mereka sangat yakin bahwa putranya pasti akan menculik Geo. Tujuan Nauder melakukan ini, semata-mata karena ingin memberi pelajaran yang berarti untuk Stev karena pria itu tidak akan pernah sadar sebelum dia mengalami rasa sakit yang luar biasa.


Waktu menunjukkan pukul empat sore. Steve menyandarkan tubuhnya ke belakang. Dia merasa begitu malas untuk pulang ke apartemen. Dia enggan melihat wajah Alya. Entah kenapa, semenjak kepergian Geo cinta untuknya seolah hilang begitu saja


***


"Geo," panggil Maudy berulang kali. Dia sudah mencari Geo ke seluruh area sekolah, tapi putranya tidak ada di mana pun.


Padahal, sekolah sudah dibubarkan sepuluh menit lalu dan sayangnya dia terlampat menjemput Geo. Itu sebabnya kini dia langsung mencari sang putra ke sana ke mari karena tak ada siapapun di kelas.


Walaupun dia sudah pindah ke negeri yang jauh, ditambah mantan Ayah mertuanya pun sudah memberi jaminan keselamatan dirinya juga Geo, tapi tetap saja dia merasa was-was ketika Geo tidak ada di penglihatannya.


"Mommy," panggil seorang anak kecil.


Maudy langsung menoleh ke sumber suara yang ternyata Geo sedang bermain di ayunan. Dia pun langsung berlari mendekat.


"Geo, kenapa kau tidak menunggu Mommy di kelas?" tanya Maudy.


"Lalu kenapa kau ...?" Maudy menghentikan ucapannya saat melihat ada satu cup minuman yang terletak di ayunan sebelah Geo.


"Geo, itu milik siapa?" tanya Maudy. tiba-tiba dia merasa was-was saat melihat Geo juga memegang cup minuman yang sama dengan yang ada di ayunan.

__ADS_1


"Oh itu, milik ...."


__ADS_2