
Maudy menyiapkan sarapan sambil melamun. Entah apa yang wanita itu pikirkan, tapi yang pasti dia merasa ada yang aneh dengan hatinya sendiri, dan dia pun tidak tahu kenapa bisa seperti ini.
Maudy menggelengkan kepala, dia melanjutkan acara memasak sarapannya untuk Steve yang masih ada di rumahnya.
Lima belas menit kemudian, sarapan pun siap. Maudy langsung membawa masakannya ke meja makan di mana Steve sudah menunggu di sana.
"Maaf aku hanya memasak ini," kata Maudy yang menaruh piring berisi sandwich dan beberapa hidangan lainnya
"Tidak masalah, itu juga enak," kata Steve yang langsung mengambil sandwich dari piring kemudian melahapnya.
"Steve, kapan kau akan kembali ke Rusia? Mommy terus menelepon dan bertanya padaku karena kau tidak mengangkat panggilannya?" tanya Maudy, yang juga ikut menyuapkan sarapannya.
Steve terkekeh. "Biarkan saja, Mommy pasti ingin bicara tentang perusahaan. Aku sudah lelah mengurusnya, jadi biar Gina saja yang mengambil alih tentang itu," jawab Steve dengan enteng.
Selama bertahun-tahun Steve memimpin perusahaan sang ayah, dan sekarang dia ingin rehat dari kegiatannya dengan menghabiskan waktu bersama Geo.
Oleh karena itu, sekarang perusahaan dipimpin Gina yang sepertinya mulai menyerah, hingga Gina mendesak sang ibu untuk menyuruh Steve kembali. Itu sebabnya Steve tidak mau mengangkat panggilan Elsa.
Maudy mengangguk-anggukan kepalanya, pertanda mengerti dengan jawaban Stev.
"Oh ya, bagaimana persiapan pertunanganmu? Apa semua berjalan lancar?" tanya Steve. Dia bisa saja berbicara dengan nada yang terdengar santai seolah dia memang benar-benar teman Maudy, padahal nyatanya hati pria itu berdenyut nyeri. Dia merasa seolah ada bongkahan batu yang menghantam jantung.
Maudy yang sedang makan sandwich, menggeleng. "Richard yang mengurusnya, jadi aku tidak tahu apapun," jawab Maudy.
"Kau seperti tidak semangat, padahal kau akan bertunangan sebentar lagi?” tanya Stev seraya menatap dalam dalam wajah Maudy.
"Entahlah, aku hanya mengikuti Richard saja."
"Mommy!" Tiba-Tiba terdengar suara Geo dari arah belakang. Ternyata, anak itu sudah siap dengan seragamnya.
"Kau sudah siap rupanya? Ayo sarapan, Mommy sudah membuatkannya untuk kita," ucap Steve pada Geo.
"Aku aka sarapan nanti, cepat antarkan aku ke sekolah. Aku bisa terlambat nanti."
"Tunggu di mobil, Daddy akan mengantarkanmu," ucap Steve yang bangkit dari duduknya.
"Habiskan dulu sarapanmu, Steve!” titah Maudy ketika Stev bangkit dari duduknya
"Nanti saja, Geo akan terlambat," kata Steve. Maudy menggeleng saat melihat tingkah pria itu, dia pun meneruskan sarapannya.
***
"Kenapa, apa ada yang kau pikirkan?" tanya Richard ketika dia sedang sarapan bersama Leana yang kini melamun.
Leana tersadar kemudian menggeleng. "Tidak, aku tidak apa-apa," jawabnya, tapi Richard bisa mengerti bahwa ada beban yang sedang ditanggung oleh putrinya.
Sebenarnya pula, Richard tahu betul apa yang tengah dipikirkan oleh sang putri, tapi dia tidak ingin memperpanjang pembicaraan, karena jika dia terus bertanya maka dia pun akan kesulitan untuk menemukan jawaban Leana.
Pertunangan Richard dan Maudy semakin dekat, dan semakin berat pula tanggungan gadis yang sebentar lagi akan menginjak usia enam belas tahun tersebut.
Kepingan kenangan di masa lalu masih tercetak jelas di ingatan Leana yang tidak mungkin untuk dia lupakan begitu saja. Dulu, dia begitu menyayangi Maudy dan saat mendengarnya akan menikah dengan Richard, dia juga senang.
Namun, entah kenapa, seiring berjalannya waktu dia tidak mau Maudy menjadi ibunya dengan alasan yang tidak bisa dia katakan.
Tidak lama, terdengar derap langkah mendekat membuat Leana dan Richard menoleh. Ternyata, itu adalah Matteo.
Melihat pria itu, Leana langsung mempercepat sarapannya kemudian meninggalkan meja makan tanpa pamit pada Richard.
***
"Kenapa? Apa ada yang kau pikirkan?" tanya Geo kepada Leana ketika mereka sedang berada di lapangan. Dia bertanya karena Leana terus melamun.
"Bolehkah aku bercerita padamu?" tanya Leana. Sungguh, dia bisa menceritakan hal-hal kecil pada Maudy, tapi tidak untuk kali ini.
"Katakan, kenapa?" Geo menatap penasaran pada Leana.
Leana menoleh ke arah Geo. Dia baru saja ingin membuka pembicaraan tentang apa yang terjadi, tapi di saat yang bersamaan dia pun merasa merasa tidak sanggup untuk itu, padahal hubungan mereka juga sudah cukup dekat seperti saudara pada umumnya.
"Tidak apa-apa, ayo kita kembali ke kelas."
***
Maudy menatap ke depan dengan sorot takjub. Aula hotel yang dipesan Richard untuk pesta pertunangan mereka ini sangat indah.
"Apa kau suka?" tanya Richard.
Maudy menoleh. "Aku suka, ini sangat mewah," kata Maudy. Matanya berbinar ketika melihat apa yang ada di depannya.
"Ini bahkan tidak lagi terlihat seperti pesta pertunangan, tapi pesta pernikahan," ucapnya lagi membuat Richard terkekeh.
"Aku akan memberikan pesta pernikahan yang lebih megah dari ini," jawab Ricard.
"Setelah ini, ayo kita ke kantorku. Temani aku bekerja," ucap Richard, dia merangkul bahu Maudy. Maudy mengangguk kemudian mereka pun langsung keluar dari area hotel.
"Apa kau sudah menelepon mantan ibu dan ayah mertuamu?" tanya Richard ketika mereka di dalam mobil.
"Sudah, dan mereka juga akan segera datang ke mari."
Richard mengangguk-anggukkan kepalanya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Richard sampai di perusahaan. Kali ini, dia memang sudah menampakkan diri di depan para karyawan hingga kesan misterius tidak lagi menempel padanya.
__ADS_1
Semua pekerjanya juga sudah tahu tentang rencana pernikahan Richard, tapi sebagian dari mereka masih percaya pada rumor yang beredar.
Richard kini membuka pintu ruangannya kemudian mempersilahkan Maudy untuk masuk. Wanita itu mendudukkan diri di sofa, sedangkan Richard kini menempati kursi kerja.
Saat itu, sebuah panggilan masuk ke ponsel Richard yang langsung mengangkatnya.
"Apa? Leana menemuimu?" tanya Richard, dia begitu terkejut saat mendengar apa yang orang itu katakan di seberang sana.
Richard kemudian menghela napas. Dia sudah menduga bahwa anaknya akan melakukan ini. Sementara Maudy yang sedang mengutak-atik ponsel, langsung menatap pria itu dengan terkejut karena teriakannya.
"Tentang Leana, biar aku yang berbicara dengannya," kata Richard. Lelaki itu pun langsung mematikan panggilannya.
'Leana, kenapa kau harus sejauh ini?' batin Richard.
Dulu, mungkin Leana tidak berani untuk menemui seseorang tersebut karena dia masih kecil, tapi sekarang putrinya sudah besar hingga mampu mengajak sosok itu untuk berjumpa.
"Richard, ada apa?" tanya Maudy.
Richard tersadar kemudian tersenyum. "Tidak, hanya ada sedikit masalah dengan Leana, dan aku akan berbicara dengannya nanti," jawabnya.
Maudy pun mengangguk. Walaupun dia ingin tahu, tapi dia sama sekali tidak berniat memaksa apalagi mencampuri urusan Richard jika memang pria itu sendiri yang menolak untuk bercerita.
***
Leana terdiam di sebuah halte bus. Gadis itu baru saja mengeluarkan unek-uneknya pada orang yang sangat dia benci. Dia sudah sangat stres karena tidak bisa berbicara pada Maudy secara langsung, apalagi kepada Richard. Lalu satu-satunya cara adalah dengan berbicara langsung pada orang yang membuatnya muak.
Namun ternyata, respon orang itu begitu menghancurkan Leana membuat dia merasa ingin menangis sekencang-kencangnya. Saat mereka berjumpa tadi, dia pun kembali teringat akan detik-detik di mana sang ibu meregang nyawa.
Padahal Leana harap, berbicara langsung pada orang tersebut akan menjadi solusi, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Dia sengaja menemuinya tanpa sepengetahuan Richard karena dia yakin pria itu akan melarang.
Tiba-tiba, terdengar suara mobil hingga Leana menoleh melihat kendaraan tersebut yang ternyata milik Steve. Pria itu berniat untuk menjemput Geo, tapi dia lebih dulu melihat putri Richard ini menangis di halte bus hingga dia menghentikan laju mobilnya.
Stev turun dari mobil, dan Leana menghapus air matanya ketika Steve keluar dari mobil. Gadis itu tersenyum membuat mantan suami Maudy tersebut mengerutkan keningnya.
“Leana kau sedang apa?" tanya Stev.
“Aku habis dari rumah teman, Paman," jawab Leana.
"Ayo, kita jemput Geo, setelah itu paman akan mengajakmu pulang," ajak Steve.
Leana mengangguk. Tadi dia memang meminta izin pada pihak sekolah untuk pulang terlebih dahulu. Dia juga meminta sopir untuk meninggalkannya setelah menemui orang itu, karena tidak ingin pulang ke rumah untuk sementara waktu.
Leana yakin, Richard akan memberikan ceramah dan melakukan berbagai pembelaan yang membuat Leana sangat muak.
"Apa yang terjadi? Apa kau ada masalah?" tanya Steve dengan lemah lembut .
Leana menggeleng. "Tidak ada, Paman. Paman, bolehkah aku ikut kerumah paman?” tanya Leana. Stev mengangguk, dia tidak bertanya lagi karena sepertinya gadis remaja ini sedang memiliki masalah yang berat.
Stev memutuskan untuk menyalakan mesin dan menjalankan mobil, hingga akhirnya mereka pun sudah tiba di sekolah, di mana Geo pun sudah menunggunya.
"Aku hanya kebetulan saja bertemu Paman Steve," jawab Leana.
***
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Steve sampai di tujuan.
"Bolehkah aku izin ikut istirahat di kamar tamu?" tanya Leana, rasanya tubuh gadis remaja itu sudah melemah, hingga rasanya dia ingin membaringkan dirinya.
"Tentu, istirahatlah. Nanti Paman akan memesan makanan untuk kalian."
Leana pun turun dari mobil lalu masuk ke dalam dan berjalan ke arah kamar yang selama ini selalu ditempatinya jika menginap di rumah Steve.
"Menurutku, ada yang aneh dengan Leana," ucap Geo sepeninggal Leana.
"Entahlah, mungkin dia ada masalah," jawab Steve.
"Apa itu tentang pernikahan Mommy dan Paman Richard?" tanya Geo.
"Sudahlah jangan ikut urusan orang dewasa, ayo kita masuk ke rumah."
***
Richard turun dari mobil, lelaki itu bergegas masuk ke dalam rumah untuk berbicara dengan Leana setelah sebelumnya mengantar Maudy pulang.
Sayangnya, Richard tidak menyadari bahwa Leana sedang ada di rumah Steve.
"Leana! Leana!" panggil Richard mencari gadis itu, hingga tak lama pelayan masuk menghampirinya.
"Maaf Tuan, Nona Leana belum pulang,” ucap pelayan tersebut
"Apa?!" Richard terpekik kaget saat mendengar ucapan pelayan. Dia langsung kebingungan mengingat seharusnya gadis itu pulang sejak satu jam yang lalu.
Richard merogoh saku kemudian mengutak-atik ponselnya. Dia pikir bahwa setelah Leana bertemu dengan seseorang di kafe, dia langsung pulang, tapi nyatanya dia justru tidak ada di rumah.
"Di mana Leana? Apa kau tidak menjemputnya pulang?" tanya Richard pada sopir di seberang sana.
"Setelah dari kafe, Nona Leana meminta saya untuk tidak mengikutinya," jawab sopir itu membuat Richard mengusap wajah kasar.
Richard pun langsung menutup panggilan kemudian berlari keluar untuk mencari Leana.
***
__ADS_1
Richard kini mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju ke makam Katrina. yang tidak lain adalah mendiang istrinya. Dia berharap Leana ada di sana.
Sampai akhirnya, Richard tiba di area pemakaman. Dia bergegas turun dan masuk ke dalam sana tapi sayang, dia tidak melihat Leana di sana.
Richard semakin kebingungan. Dia lalu kembali merogoh saku, mengambil ponsel dan menelepon Leana. Namun, gadis itu tidak mengangkat panggilannya membuat Ricard benar-benar frustrasi. Dia sungguh takut terjadi sesuatu dengan Leana
Pada akhirnya, Richard berbalik kemudian keluar dari area pemakaman. Dia memilih untuk mencari Leana di tempat teman-temannya.
Saat Richard sudah di dalam mobil, sebuah panggilan masuk ke nomornya membuat dia menghela napas ketika mengetahui bahwa Leana-lah yang menelepon.
"Leana, Kau di mana? Apa kau tahu Daddy khawatir padamu?" tanya Richard dengan panik.
"Aku akan menginap di rumah Bibi Maudy, jangan dulu menyusulku." Setelah mengatakan itu, Leana pun mematikan panggilannya yang lagi-lagi membuat Richard mengusap wajah kasar.
Richard menyandarkan tubuhnya ke belakang untuk beristirahat sejenak, kemudian memejamkan mata.
***
"Kau tega membohongiku, kenapa kau sampai hati melakukan itu padaku?!" teriak Katrina.."kenapa kau tega mengorbankanku?!"
Katrina menatap Richard dengan penuh amarah.
"Tetap di tempatmu dan aku akan menjelaskan semuanya," jawab Richard, dia berusaha berbicara dari hati ke hati bersama
Namun, Katrina tetap mundur dan akhirnya terdiam punggungnya menyentuh balkon
"Katrina Dengarkan aku, aku bisa —"
"Tutup mulutmu dan aaaaaaa!" Katrina berteriak ketika kakinya terpelesat dan terjatuh dari lantai 4.
Richard langsung membuka matanya, keringan dingin sudah membanjir tubuhnya. Rupanya tanpa sadar, Ricard tertidur dan mimpi itu kembali datang.
***
Steve keluar dari rumah untuk pergi ke mall seorang diri. Dia berniat membelikan hadiah pertunangan Maudy dan juga Richard. Lelaki itu memang merasakan nyeri yang tidak berujung mengingat bahwa perempuan yang dia cintai, akan menjadi milik pria lain sebentar lagi.
Namun, Steve masih ingin memberikan hadiah untuk wanita yang menjadi cintanya. Prinsip pria itu sekarang adalah, selama Maudy bahagia maka itu sudah cukup.
Sampai akhirnya, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, mobil yang dikendarai Steve sampai di sebuah mall yang cukup besar.
Steve keluar dari mobil kemudian berjalan masuk ke dalam. Dia pun kini melihat-lihat perhiasan, hingga pilihannya jatuh pada sepasang cincin yang cocok digunakan untuk Richard juga Maudy.
Setelah menemukan apa yang dia cari, Steve meminta pelayan untuk membungkuskan benda itu.
Ketika Steve menunggu pembayaran, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sebuah kalung yang sangat cantik membuatnya segera menghampiri benda itu.
Steve kemudian meminta pelayan untuk mengambilkannya. Kini, dia tersenyum saat melihat kalung tersebut yang dia rasa pasti akan sangat cocok dengan Maudy.
"Tolong bungkus yang ini juga," ucap Steve yang akhirnya membeli kalung tersebut untuk Maudy. Bukan sebagai hadiah pertunangannya dengan Richard, tapi sebagai tanda bahwa dia mencintai wanita itu.
Setelah selesai memilih kado, Steve memutuskan untuk datang ke kafe di dalam mall untuk menikmati kopi.
Steve yang sudah berada di dalam, kini mendudukkan diri lalu memesan kopi dan beberapa hidangan yang tersedia di buku menu.
Saat menunggu, Steve menatap ke arah luar untuk memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang. Keadaan memang ramai, tapi hatinya merasa sepi. Pria itu tersenyum getir saat tiba-tiba terbayang bahwa dia akan bersama Maudy.
Steve pernah berani untuk membayangkan Maudy akan kembali menjadi miliknya, tapi dia tertampar oleh kenyataan yang mengatakan bahwa sebentar lagi, wanita itu justru menjadi milik Richard yang sangat baik juga dekat dengan Geo.
Setelah menikah, Maudy pun berencana tinggal di rumah Richard. Sementara Steve, dia tidak berniat untuk pindah lagi ke Rusia, dan tetap menetap di rumahnya sekarang bersama Geo.
Geo pernah mengatakan bahwa dia ingin tinggal bersamanya, dan memilih untuk pulang pergi jika ingin bertemu Maudy.
Oleh karena itu, walaupun tahu bahwa Maudy akan dimiliki orang lain, dia tetap memilih berada di Jerman. Setidaknya dia masih bisa melihat Maudy walau jelas tak bisa memiliki wanita itu.
Lima belas menit berselang, pesanan Steve tiba. Dia langsung menyeruput kopi sembari melamun.
Sampai akhirnya, setelah cukup lama di sana, kegiatan Steve di kafe pun selesai. Lelaki itu bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke luar berniat pulang setelah membayar.
***
"Kau dari mana?" tanya Maudy ketika dia baru selesai mengajar Geo dan Leana di rumah Steve.
Steve tersenyum kemudian mendekat ke arah Maudy, lalu menyerahkan paper bag berisi kalung yang dia beli tadi.
Steve sengaja memberikan kalung itu sekarang, sedangkan untuk hadiah pertunangannya dengan Richard akan dia berikan saat acara nanti.
"Apa ini, Steve?" tanya Maudy yang penasaran.
"Saat melihatnya, aku merasa bahwa sepertinya akan terlihat cantik jika kau memakainya. Tapi, jika kau tidak mau menggunakannya, tidak apa-apa, simpan saja," kata Steve.
Maudy merogoh paper bag mini tersebut kemudian membuka isinya. "Wow cantik sekali," ucap Maudy.
"Kau suka?" tanyanya. Raut wajah Steve sangat bahagia ketika Maudy terlihat menyukai kalung pemberiannya.
Maudy langsung mengambil kalung itu, lalu memberikannya kepada Steve. "Tolong pakaikan itu di leherku."
"Maudy, apa kau yakin? Apakah Richard tidak akan marah?" tanya Steve.
"Tidak, kenapa dia harus marah?"
Maudy pun berbalik, membiarkan Steve memasangkan kalung di lehernya. Jantung pria itu kini berdetak dua kali lebih cepat. Dia satu sisi dia bahagia, tapi di sisi lain dia merasa sesak.
__ADS_1
"Sudah selesai," ucap Steve hingga Maudy menoleh padanya.
"Ini bagus sekali."