Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Maudy Yang Malang


__ADS_3

“Kau senang?” tanya Steve ketika mereka sudah berada di dalam mobil. Steve sengaja meminta sopir untuk menjemput mereka di bandara, karena dia malas menaiki taksi dan sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju untuk pulang ke apartemen.


“Hmm, aku sangat senang. Udara di sini sejuk, tidak seperti di sana," jawab Geo. Steve yang sedang duduk di belakang bersama Geo, langsung merangkul putranya.


“Sekarang, lupakan Mommy Maudy! Di hidup kita hanya ada Mommy Alia, kau mengerti," ucap Stev yang masih berusaha mendoktrin kembali Gio, untuk melupakan Maudy, karena dia tidak ingin setelah sampai Rusia bayang-bayang Maudy menghantui putranya.


Geo tampak terdiam, dia menatap sang ayah dengan bingung. “Kenapa aku harus melupakan Mommy Maudy?” tanya Geo, dalam benak anak kecil itu dia meronta, tidak terima dengan ucapan sang ayah. Sehingga Stev Langsung mengigit bibirnya.


Rupanya, untuk masalah ini dia tidak bisa mendoktrin Geo. “Maksud Daddy, untuk sekarang kau bisa melupakan Mommy Maudy, jika sedang di sini karena Mommy Alia.”


Pada akhirnya Steve kembali membelokkan ucapannya, hingga Geo mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti. Padahal, dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Di pikirkan adalah, dia begitu rindu dengan Alia.


Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang akhirnya mobil yang dikendarai oleh Steve sampai di basement. “Tolong bawakan koper!” titah Steve pada supir yang mengantarkannya.


“Dad, gendong aku,” ucap Geo. Steve mengangguk, dia membukakan pintu Geo, lalu setelah itu mereka pun berjalan


“Geo!" Pekik Alia dengan girang, di berlari ke arah Geo, kemudian di langsung berlari menghampiri putranya, lalu setelah itu dia menggendong tubuh Geo dan mengayun-ayunkannya ke udara, serta memeluk Geo begitu erat.


Mata wanita cantik itu berkaca-kaca saat melihat putranya kembali. “Mommy rindu sekali denganmu," ucap Alia, dia mencium seluruh wajah Geo tanpa ada yang terlewat, membuat Geo tertawa.


“Mommy geli!”teriak Geo. Alia menurunkan Geo dari pangkuannya, kemudian dia melihat ke arah Steve. Lalu setelah itu, wanita itu pun melompat memeluk suaminya yang sudah 3 bulan tidak dia temui, begitupun dengan Steve yang juga membalas pelukan Alia.


Kini, kebahagiaannya sempurna seperti dulu. Tidak ada yang perlu dirisaukan lagi, mereka akan hidup bahagia. Tapi sayangnya, mereka tidak tahu dengan apa yang akan terjadi ke depannya.


***


Waktu menunjukkan pukul 09.00 malam, Stev masuk ke dalam kamar, rupanya dia


Baru saja selesai menidurkan Geo dan ketika masuk ternyata Alya sudah memakai hal yang sangat disukainya, hingga Steve langsung berlari ke arah ranjang dan menyerang tubuh istrinya, membuat Alia tertawa, dan mereka larut dalam percintaan yang panas dan menggelora, bersenang-senang di atas kehancuran Maudy.


Stev Menggulingkan tubuhnya ke samping, kedua insan itu itu mencoba mengatur nafasnya masing-masing. Dan beberapa menit berlalu, tiba-tiba Aliya tertawa membuat Stev menoleh?


“Why?” tanya Stev menatap Alya dengan heran. Sebab tiba-tiba istrinya tertawa tanpa sebab.


“ Aku tidak menyangka Maudy begitu bodoh," ucap Alia, dia tertawa puas menertawakan nasib Maudy, yang mungkin sekarang sedang menangisi kepergian Geo.


Stev mengangguk-anggukan kepalanya, dia setuju dengan apa yang diucapkan oleh Alya. “Seandainya dia pintar, dia pasti tidak akan mengijinkanku untuk masuk 3 bulan lalu,” jawab Stev.


“Kira-kira, sedang apa dia sekarang. Dia pasti sedang meratapi semuanya," Alya bergumam, seraya membayangkan sedang apa wanita itu di sana.


“Kau tidak melakukan macam-macam, kan di sana?” tanya Alia dia memberondong Steve dengan berbagai pertanyaan. Alya memang percaya pada Stev. Tapi tentu saja dia ingin mendengar dari mulut Stev. Walau bagaimana pun, Steve menghabiskan waktunya dengan Maudy selama tiga bulan.


Stev mendadak terpaku mendengar pertanyaan Alia. Namun, sepersekian detik, dia menggelengkan kepalanya. “Tidak, Mana mungkin aku berselera dengannya,” jawab Stev, lelaki itu pun turun kemudian memakan pakaiannya kembali, begitu pula dengan Aliya.


Setelah itu, mereka kembali berbaring dengan posisi berhadap-hadapan. “Aku rindu sekali denganmu, tiga bulan ini aku benar-benar kesepian,” ucap Alia, kemudian Stev membawa Aliya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


“Kau tidak berbelanja, atau tidak melakukan apapun?” tanya Steve


“Aku berbelanja, tapi aku tetap merasa bosan kau juga jarang bisa dihubungi,” balas Alia karena tentu saja Steve tidak bebas untuk berkomunikasi dengan Alia, sebab Stev mengatakan bahwa mereka sudah bercerai.


“Tapi sekarang, tidak ada yang perlu dipikirkan lagi, kita bisa bahagia bersama Geo,” Alia mengangguk-anggukkan kepalanya, dia memeluk Steve begitu erat, kedua insan itu malam ini tertidur dengan perasaan yang tenang bahagia, berbeda dengan Maudy yang saat ini sedang duduk di tepi kolam renang tangis yang berlinang.


***


Maudy merasa tubuhnya tidak bisa digerakkan, sedari tadi siang Maudy tetap diam di tepi kolam renang dan tidak bergerak sedikitpun, dia seperti orang yang kehilangan jiwanya.


Neo sudah beberapa kali mengajak Maudy untuk masuk, tapi wanita itu bahkan tidak merespon ucapan Neo. Di pikirnya hanya ada putranya, putranya dan putranya.


Dia sudah berapa di luar selama berjam-jam, tapi dia tidak merasakan kedinginan sama sekali, dia tidak merasakan haus dan tidak merasakan lapar.


Neo yang sedari tadi berdiri di samping Maudy rasanya sudah tidak tahan lagi, dia pun langsung menghampiri Maudy, kemudian menekuk kakinya menyetarakan diri dengan wanita malang itu.


“Nona, ini sudah sangat malam. Ayo ke dalam. Anda bisa sakit nanti,” ucap Neo. Maudy tersadar, kemudian dia menatap Neo dengan tatapan terluka.


“Neo, bisakah kau membawa Putraku kembali?" tanya Maudy dengan tangis yang semakin mengencang.


Neo tidak menjawab, pada akhirnya dia memberanikan diri mengangkat tangannya, kemudian menghapus air mata Maudy.


“Ayo nona, kita masuk.” Tanpa mendengar ucapan Maudy, Neo langsung menegakan tubuhnya, kemudian lelaki itu langsung menggendong Maudy, sedangkan Maudy sama sekali tidak melawan, wanita itu juga tidak memberontak dan membiarkan Neo menggendongnya.


“Aku ingin tidur di kamar Geo,” lirih Maudy, Neo yang akan masuk ke dalam kamar Maudy menggangguk, kemudian dia berbalik lalu berjalan ke arah kamar.


“Neo pergilah. Aku ingin sendiri," ucap Maudy.


“Baik, Nona. Aku akan menunggu di luar. Jika ingin apa-apa tolong berteriak saja," ucap Neo. setelah itu lelaki itu pun menegakkan tubuhnya kemudian berbalik lalu keluar dari kamar.


Setelah Neo pergi, Maudy menarik guling yang selalu dipeluk oleh putranya, kemudian dia memeluk guling itu menghirup aroma guling tersebut karena di sana masih tertinggal jejak wangi dari putranya.


“Geo!” lirihnya.


Malam itu, Maudy tidak bisa tertidur sama sekali, di saat Stev dan Aliya merayakan euforia mereka, karena berhasil mengambil Geo dari Maudy, Maudy malah tidak berhenti menangis, meraung memanggil nama putranya berharap kembali lagi.


malam berganti pagi


Neo membuka pintu kamar, ternyata Maudy masih memejamkan matanya, membuat Neo langsung menutup kembali pintu. Sedari semalam, Neo tidak bergerak sedikitpun dia tetap berada depan di kamar Geo, dan dia terus mendengar Maudy menangis sepanjang malam.


Pada pukul empat dini hari, tangis Maudy tidak terdengar lagi, hingga Neo mengintip dan ternyata Maudy sudah tertidur.


Neo mengutak-atik ponselnya, kemudian lelaki itu langsung menelpon Nauder. “Tuan, saya ingin mengabarkan bahwa Nona Maudy masih sedang tidur," ucap Neo ketika Nauder mengangkat panggilnya.


“Oh, baiklah. Minta koki untuk membuatkan makanan untuk Maudy,” jawab Nauder di seberang sana, hingga Neo pun mengangguk. Setelah itu, Neo menurunkan ponselnya, karena panggilannya sudah di matikan oleh Nauder.

__ADS_1


Nauder menatap ke arah depan dengan tatapan kosong, dia benar-benar merasa gagal menjadi seorang ayah. Di masa lalu, dia pernah melukai Elsa. Dan sekarang putranya malah mengikuti jejaknya.


“Dad!" panggil Gina yang menghampiri ayahnya. Nauder yang sedang duduk di sofa langsung menoleh. Dia mengelus rambut Gina, ketika Gina sudah duduk di sampingnya.


“Rasanya ingin ku hancurkann dia,” ucap Gina, membuat Nauder terkekeh.


“Fokus aja pakai pada pekerjaanmu, Gina. Jangan mengurus Stev, karena mengurus Stave tidak akan ada habisnya," jawab Nauder. Dia ingin sekali tertawa saat melihat wajah Gina yang memerah, terlihat jelas Gina begitu kesal pada kembarannya


“Kenapa dia bisa semanipulatif itu, apa saat Daddy muda Daddy seperti Stev?" tanya Gina.


Nauder menggigit bibirnya. “Tidak, mana mungkin Daddy seperti itu," jawab Nauder berusaha tenang.


“Tapi, dari raut wajah Daddy sepertinya mengatakan sebaliknya. Apa Daddy pernah menyakiti Mommy seperti Stev menyakiti Maudy?” tanya Gina lagi, dia mendadak penasaran.


“Hmm, pernah, bahkan sangat menyakitkan.” Tiba-tiba terdengar suara Elsa dari arah belakang, dia datang membawa nampan berisi teh untuk Nauder.


“Oh, ya. Jadi, benar Daddy pernah melukai Mommy?” tanya Gina, dia menatap Elsa dengan tatapan penasaran.


“Sayang,” ucap Nauder yang berharap Elsa tidak membocorkan apa yang terjadi di masa lalu, bisa habis dia di pukuli oleh sang putri jika tau yang sebenarnya. Karena memang selama ini Elsa dan Nauder menutup rapat apa yang terjadi di masa lalu.


“Tidak .... Tidak, Mommy hanya bercanda.” Elsa meralat ucapannya dengan cepat. Membuat Gina berdecak.


***


Alia masuk kedalam kamar putranya, wanita itu tersenyum saat melihat Geo masih memejamkan matanya. Dia lalu berjalan ke arah ranjang, kemudian dia mendudukkan dirinya di sebelah Geo.


Alia menatap Geo yang sedang tertidur lekat-lekat. Akhirnya setelah 3 tahun berlalu, Geo bisa kembali menjadi milik mereka. Dengan kedatangan Geo, Alia mendapatkan banyak hal, selain bahagia karena putranya berada di sampingnya lagi, dia juga bahagia karena sikap Stev kembali berubah hangat seperti dulu.


Tak lama bel berbunyi, hingga Alia dengan cepat bangkit dari duduknya, karena takut membangunkan Geo. Lalu dia pun bergegas berjalan ke arah pintu.


Jantung Alia seperti akan melompat dari rongga dadanya saat melihat siapa yang datang, ternyata ibu mertuanya.


“Mana Geo,” ucap Elsa tanpa basa-basi. Alia


menggigit bibirnya. “Ge-geo, masih tidur Mommy," balas Alia. tanpa dipersilakan, Elsa masuk melewati tubuh Aliya begitu saja, kemudian dia berjalan ke arah kamar Geo dan ternyata benar saja Geo masih memejamkan matanya.


“Mommy tolong jangan mengganggu Geo,” ucap Alia saat dia akan berbicara lagi. Alia menghentikan ucapannya, kalau melihat tatapan Elsa yang begitu menusuk.


“Aku ingin membawa dia untuk bermain, jangan melarangku," ucap Elsa. Alia memejamkan matanya, dia tidak mungkin menolak dan sekarang dia berharap Stev bangun dari tidurnya.


“Ada apa ini?” tanya Steve yang tiba-tiba datang ke kamar Geo, membuat Alia menghela nafas lega, berharap Stev bisa mencegah ibu mertuanya membawa Geo


“Mommy.” Stev membulatkan matanya ketika melihat sang ibu sudah berada di apartemennya.


“Apa?” jawab Elsa. “Mommy ingin membawa dia untuk bermain. Jangan melarang Mommy.”

__ADS_1


“Mommy, tidak bisa begitu ak ....”


“Kau mau Daddy bertindak?” tanya Elsa, kali ini Steve yang memejamkan matanya walaupun kemarin dia berani berdebat dengan sang ayah, tapi ketika sampai di Rusia dia tidak berani lagi melawan perintah ayahnya.


__ADS_2