
"Leana, sebentar. Bibi akan mengangkat telepon dulu," ucap Maudy ketika ponselnya berdering.
Maudy menghela napas lega, setidaknya sekarang dia tidak perlu menyembunyikan rasa pedasnya karena sedari tadi dia sungguh ingin minum.
Leana menggangguk. Anak itu tetap merasa heran kenapa Maudy tidak kepedasan, padahal dia sudah menambahkan bubuk cabe yang banyak dalam makanannya.
"Ah entahlah, kenapa dia susah sekali dijahili," ucap anak itu.
Maudy langsung pergi ke luar, beruntung dia membawa tumbler berisi jus hingga kini dia langsung meminumnya. Rasa pedas itu masih ada walaupun dia telah menghabiskan seluruh isi di dalam botol tersebut.
Ponsel Maudy pun terus berdering, tapi dia tidak menggubris panggilan tersebut sebab lidahnya masih terasa panas seolah terbakar.
Setelah cukup lama, akhirnya rasa pedas di mulut Maudy pun menghilang. Dia kini mendudukan diri sejenak sebelum masuk lagi ke dalam karena dia tidak boleh memperlihatkan bahwa dia sedang tersiksa karena brownies yang dia makan.
Setelah duduk, Maudy kembali ingat bahwa ada yang meneleponnya membuat dia merogoh tas kemudian mengeluarkan ponsel. Wanita itu tersenyum ketika melihat nomor Steve.
"Akhirnya kau masuk dalam jebakan, Steve," ucap Maudy.
Maudy tidak lantas menelepon Steve balik, dia menunggu pria itu untuk kembali meneleponnya karena ingin jual mahal.
Tidak lama, Maudy kembali mengembangkan senyumnya kala sebuah panggilan kembali masuk ke ponselnya. Siapa lagi jika bukan dari Steve.
Sebelum menjawab panggilan dari mantan suaminya, Maudy berdeham. Dia berusaha untuk tetap tenang kemudian menekan tombol hijau lalu mendekatkan ponsel ke telinganya.
"Halo, dengan dengan siapa ini?" tanya Maudy yang berpura-pura tidak tahu bahwa itu adalah nomor mantan suaminya.
Hening, Steve tidak berbicara. Lelaki itu bingung harus memulai dari mana.
"Maudy," panggil Steve, akhirnya kali ini dia bicara.
"Iya ini aku, maaf dengan siapa aku bicara?" tanya Maudy.
"Ini aku, Steve," jawabnya.
Maudy sengaja diam sejenak setelah mendengar Steve menyebutkan namanya.
"Ada apa?" tanya Maudy terdengar dingin dan datar.
"Aku ingin mengabarkan bahwa Geo masuk rumah sakit," jawab Steve di seberang sana.
"Lalu, apa urusannya denganku?" tanya Maudy.
Steve membulatkan matanya saat mendengar jawaban Maudy. Bukankah seharusnya wanita itu khawatir pada Geo, lalu kenapa sekarang terdengar tak acuh?
"Maudy, Geo sakit dan dia membutuhkan pertolonganmu," kata Steve lagi.
Maudy kini sedang menahan tawa. Sungguh lucu, lelaki yang dulu bersikap arogan sekarang malah berbicara dengan sangat lembut.
"Obati saja di sana, rumah sakit banyak. Aku tutup panggilannya karena aku harus mengajar." Maudy langsung mematikan panggilannya dan seketika itu juga tawa wanita itu meledak.
"Bibi, Bibi kenapa?" tanya Leana yang secara tiba-tiba menyusulnya ke luar karena Maudy tidak kunjung masuk ke dalam.
Maudy menoleh ke arah Leana kemudian menggeleng. "Tidak apa-apa," jawabnya.
Maudy pun bergegas bangkit kemudian kembali masuk ke dalam sana.
***
"Bagaimana? Apa apa kata Maudy?" tanya Elsa ketika Steve menurunkan ponsel ke bawah.
Steve tampak lesu. Dia tidak menyangka Maudy akan berkata seperti itu, di mana dia terdengar tidak peduli. Padahal, dia sangat berharap mantan istrinya itu terkejut dengan keadaan Geo.
"Aku berharap aku salah dengar, tapi ternyata tidak."
"Apa maksudmu?" tanya Elsa.
"Maudy malah mengatakan bahwa dia sama sekali tidak peduli pada Geo. Kenapa dia berubah? Geo anaknya dan sudah seharusnya dia peduli," ucap Steve menggerutu karena sikap Maudy.
"Mungkin hati Maudy terlalu hancur, Steve. Kau membuat Geo menjauh darinya, kau merenggut paksa dia. Ibu mana yang tak hancur saat diperlakukan seperti itu?"
Steve memejamkan matanya kemudian mengusap wajah kasar. "Jadi, aku harus bagaimana? Bukankah Geo butuh donor tulang sumsum? Jika tidak, kondisinya akan semakin parah," ucap Steve dengan nada yang pilu seolah telah kehilangan arah.
"Mommy sarankan jemput Maudy dan memohon padanya agar dia datang kemari lalu minta dia mendonor untuk Geo."
"Tapi, bagaimana jika Maudy tidak percaya padaku dan menganggapku sama seperti kemarin?" tanya Steve mengelus rambut putranya.
"Tidak ada yang tidak mungkin, Steve. Sekarang tekan egomu dan pikirkanlah Geo," ucap Elsa lagi membuat Steve menggigit bibirnya kemudian mengangguk.
"Baiklah, tapi aku tidak tahu di mana Maudy karena dia juga sudah tidak di India lagi."
“Hmm, Maudy ada di Jerman.”
***
Satu minggu kemudian.
Steve menginjakkan kaki di bandara Franfurt Jerman. Pada akhirnya, setelah mengalami pergolakan batin yang cukup hebat, dia pun memutuskan untuk menyusul Maudy setelah mendapatkan semua informasi tentangnya, seperti alamat dan lain-lain.
__ADS_1
Sekarang, Steve menyingkirkan rasa takut dan gengsinya karena yang terpenting adalah Maudy bisa datang ke Rusia dan mendonorkan sumsumnya untuk Geo. Dia tidak peduli apapun lagi, yang terpenting putranya harus selamat.
Steve keluar dari bandara. Pria itu langsung memesan taksi dan meminta sopir untuk mengantarkannya ke tempat tujuan.
***
Di sinilah Steve berada, di depan rumah Maudy. Karena gerbang yang tidak ditutup, dia pun masuk dan berulang kali mengetuk pintu juga menekan bel.
Namun, tidak ada sahutan dari dalam dan Steve berpikir bahwa mungkin saja Maudy sedang pergi membuat dia memilih untuk menunggu di sana. Sampai akhirnya, waktu menunjukkan pukul sembilan malam, dan itu berarti sudah nyaris lima jam pria itu diam di sana.
Namun, sampai sekarang, Maudy belum juga pulang. Entah ke mana wanita itu, yang jelas sekarang Steve ingin pergi ke kamar mandi karena sudah lima jam dia menahan sesuatu.
Saat Steve memutuskan untuk pergi ke hotel dan menginap di sana, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah Maudy membuat dia mengurungkan niat.
Maudy menyeringai saat pintu pagarnya terbuka karena dia tahu itu adalah Steve. Dia kini turun dari mobil kemudian mempersiapkan diri untuk berakting senatural mungkin.
Setelah itu, Maudy membuka pagar. Dia seketika terdiam saat melihat Steve, begitu pula sebaliknya. Pandangan mereka saling mengunci.
Maudy maju ke arah Steve yang juga mendekatinya, hingga mereka pun bertemu di tengah-tengah.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Maudy dengan dingin dan datar.
Bukannya menjawab, Steve malah fokus pada wajah Maudy. Setelah tiga tahun tidak bertemu, dia melihat banyak sekali perubahan pada diri mantan istrinya ini yang sekarang terlihat lebih cantik dan dewasa.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Maudy lagi menyadarkan Steve dari lamunannya.
"Ayo kita bicara," ajak Steve.
Maudy mengangguk. "Silakan masuk."
Pembawaan Maudy kali ini terdengar begitu tenang tanpa emosi sedikitpun. Tentu saja karena ini sudah terencana.
Kini, mantan pasangan suami-istri itu duduk di ruang tamu. Steve terdiam. Rasanya, dia begitu gugup melihat Maudy.
"Ada apa kau ke mari?" tanya Maudy lagi karena tadi Steve tidak menjawab.
Kali ini pun, Steve tidak lantas menjawab. Dia memutar otak mencari kata yang tepat untuk meyakinkan Maudy agar bersedia mendonorkan sumsumnya untuk Geo.
"Apa ini masalah Geo?" tanya Maudy.
"Geo mengalami leukemia. Aku dan keluargaku sudah menjalani tes untuk donor sumsum tulang belakang, tapi tidak ada yang cocok dengan Geo. Dan hanya kau satu-satunya harapan kami."
Maudy mengangguk-angguk kepalanya. "Bagaimana jika aku tidak setuju?"
Steve merasa lemas. Entah kenapa Maudy berubah secepat ini, padahal sebelumnya dia mati-matian mempertahankan Geo, dan sekarang dia terlihat datar menghadapi kabar bahwa anaknya dinyatakan terkena leukimia.
"Maudy kumohon, ini demi Geo. Bagaimana jika Geo tidak selamat?"
Maudy terkekeh pelan. "Sejak tiga tahun lalu, di saat kau membawa Geo. Sejak saat itu pula aku sudah menganggap dia tiada."
Maudy berhenti bicara. Dia merasa sesak ketika mengatakan hal tersebut, tapi dia terpaksa untuk meyakinkan Steve.
"Maudy, kenapa kau bicara seperti itu?"
"Steve, apakah kau lupa bagaimana arogannya dulu kau mengambil Geo dariku? Kau sesumbar bahwa Geo akan hidup bahagia bersamamu, lalu kenapa sekarang kau datang lagi ketika dia sudah sekarat?" tanya Maudy.
Steve diam, dia seolah kehilangan kata-kata untuk sekadar menjawab pertanyaan Maudy.
"Oke, aku minta maaf. Aku minta maaf jika saat itu aku melukaimu."
"Cih, jika saat itu kau melukaiku pula. Sudah jelas kau melukaiku sebagai ibunya. Lalu kenapa kau ...." Maudy menghentikan ucapannya, dia tersadar saat nyaris terpancing emosi.
"Bukan aku tidak menyayangi Geo, tapi sejak hari di mana kau membawanya, hari itu pula aku menghapus kalian dari hidupku."
Wajah Steve memucat saat mendengar ucapan Maudy. "Maudy, aku mohon, aku akan melakukan apapun asal kau mau mendonor untuknya. Ini lebih penting dari segalanya."
Inilah yang Maudy tunggu-tunggu. Wanita itu tidak langsung menjawab.
"Geo benar-benar memerlukan donor darimu."
Maudy kini mengangguk-anggukan kepalanya. "Bawa dia dan operasi dia di sini. Lalu syaratnya, biarkan dia bersamaku," ucap Maudy.
"Kau tidak mau mengobati Geo, tapi setelah sembuh, kau ingin bersamanya?"
"Iya atau tidak? Jika tidak, silakan pergi dari sini. Aku tidak akan pernah mau tahu lagi keadaan Geo."
"Baiklah, aku akan menyetujui apapun itu. Tapi, bolehkah aku meminta sesuatu padamu?" tanya Steve dengan ragu mengatakan keinginannya.
"Apa?"
"Aku ingin meminta izin untuk menemui Geo kapan saja."
"Aku tidak akan melarangmu," kata Maudy membuat mata Steve membulat.
"Kau percaya padaku?" tanya Steve menatap Maudy dengan tatapan sorot tidak percaya.
Maudy sudah banyak memikirkan tentang ini. Dia berusaha memposisikan diri sebagai Geo, anak itu pasti lelah jika terus di doktrin oleh setiap orang. Mentalnya pasti kena saat dia melihat pertikaiannya dan Steve, itu sebabnya dia memilih jalan tersebut. Dia juga tidak ingin membuat mertuanya cemas.
__ADS_1
Mendengar ucapan Maudy, Steve tertunduk. karena merasa tertampar. Sekarang, dia mengerti dengan peribahasa "balaslah kejahatan dengan kebaikan", dan itu yang dilakukan sang mantan kepadanya membuat dia merasa malu.
"Kenapa kau tidak melarangku untuk bertemu dengan Geo, sama sepertiku dulu?" tanya Steve.
Steve sebenarnya tidak sungguh-sungguh bertanya ini, dia hanya merasa penasaran. Maudy kini terkekeh. "Mentalnya lebih penting dari apapun. Kita bisa berhubungan baik sebagai teman dan lupakan semuanya. Mari menjadi orang tua yang baik untuk putra kita."
Maudy mengakhiri semuanya dengan senyuman dan itu membuat Steve lega. Jika saja Maudy tidak bisa mengalahkan egonya saat Stev sayang ke sini, mungkin sampai sekarang hatinya masih diselimuti dendam dan ketakutan.
"Terima kasih, Maudy."
Maudy bangkit duduknya kemudian mengulurkan tangan pada Steve. "Ayo kita berteman, Steve," ucapnya.
Steve membalas uluran tangan Maudy menjadi pertanda bahwa mulai sekarang, mereka akan bekerja sama untuk menjadi orang tua yang baik bagi Geo.
***
Beberapa hari kemudian.
Geo memeluk Maudy erat, begitu pun sebaliknya.
Kemarin, Geo baru saja tiba di Jerman dan nanti malam, mereka akan melakukan operasi palsu. Lalu sekarang, keduanya sedang berada di rumah sakit.
Elsa dan Nauder terpaksa menyewa satu lantai penuh untuk melakukan misi ini, juga untuk menghindari kecurigaan Steve yang sekarang seperti orang linglung. Sedari tadi, pria itu duduk di sofa memperhatikan anak dan mantan istrinya.
Rasanya, meski hanya membayangkan, tapi dia bisa merasakan sesakit apa Geo saat melakukan operasi nanti.
Nauder yang sedang duduk di sebelah Steve, menutup mulutnya menahan tawa saat melihat sang putra yang terlihat konyol.
Mungkin suatu saat, dia akan menceritakan ini pada Steve ketika hubungan Stev dengan Maudy membaik. Nauder dan Elsa yang tadinya berobsesi untuk menyatukan mereka, sekarang sudah sama-sama pasrah dan tidak ingin lagi memaksakan kehendak. Mengetahui bahwa anak dan mantan menantunya berteman pun itu sudah cukup.
Tidak lama, terdengar suara orang berlari disusul dengan pintu yang terbuka. Semua orang menatap ke sana dengan mata membulat terkejut saat melihat siapa yang datang, Alya.
Rupanya, Alya menyusul ke Jerman. Dia yang mendapat kabar Geo akan dioperasi, tanpa pikir panjang langsung datang ke sini untuk menemui sang putra.
Ketika Alya masuk, Steve langsung bangkit kemudian menyeret wanita itu keluar membuat mata Maudy membulat. Namun, dia tidak ingin ikut campur lagi urusan keduanya. Entah mereka bercerai atau tidak, yang pasti sekarang hidupnya sudah kembali sempurna.
"Kau mau apa ke mari? Berani sekali kau menampakan dirimu di hadapanku," ucap Steve.
"Steve aku ingin mendampingi Geo."
"Maudy ibunya, dan kau tidak berhak menyentuh dia lagi."
Alya menatap Steve dengan sorot tidak percaya. Dia kemudian menarik paksa lengan pria itu lalu tertawa keras.
"Lalu, kau ini apa?" Sekarang, Alya mulai berani melawan karena dia tidak terima dipisahkan dengan Geo.
"Aku ayahnya dan kau hanya orang lain."
"Tapi kau yang menculik dia, Steve."
Steve berpikir tidak ada gunanya berdebat dengan Alya. "Pergi dari sini sebelum aku ke seret."
"Tidak mau, aku akan tetap menunggu di sini!" teriak Alya yang menggelegar.
Selama ini, Alya sudah banyak bersabar menghadapi sikap Steve. Dia bahkan tetap bertahan di apartemen mereka walaupun pria itu berulang kali mengusirnya.
Namun, saat mendengar Geo akan dioperasi bersama Maudy, dia tidak bisa diam saja. Dia ingin mendampingi putranya.
Keduanya kini menoleh ke belakang karena mendengar suara pintu ruang rawat yang terbuka. Muncul sosok Maudy yang menghampiri mereka.
"Jika kau ingin melihat Geo, lihatlah, tapi jangan membuat keributan dan ingat jangan pernah mengakui dia adalah anakmu. Beruntung aku masih berbaik hati membiarkanmu melihatnya," ucap Maudy membuat Alya meradang.
"Suapa kau berani mengaturku?!" bentak Alya.
Sungguh, dunia Alya benar-benar terasa hancur saat ini.
“Alia!” teriak Stev.
"Aku sudah memberi kesempatan untukmu, tapi jika kau macam-macam lagi dengan Geo maka kau akan tahu akibatnya. Sekarang tenang dan diamlah jika kau masih ingin bertemu dengan putraku." Maudy menekankan kata putraku pada Alya yang tidak menjawab dan menatapnya dengan aura permusuhan. Wanita itu tak bisa melawan sebab ada Steve di sini.
"Nona Maudy."
Tiba-Tiba, terdengar suara Richard dari arah belakang membuat Maudy menoleh. Ternyata, pria itu datang bersama Leana yang sepertinya sudah luluh padanya.
Gadis kecil itu tampak sudah ketergantungan pada Maudy membuat dia memaksa ayahnya untuk datang ke rumah sakit. Maudy menghampiri Richard kemudian tersenyum.
Mereka berbincang-bincang sebentar dan interaksi keduanya tidak luput dari penglihatan Steve juga Alya.
***
Akhirnya, detik-detik menegangkan bagi Steve pun tiba, di mana brankar Geo dan Maudy kini akan didorong ke ruang operasi.
Mereka terlihat seperti pasien sungguhan yang akan menjalani operasi. Di mana keduanya dipasang berbagai peralatan medis yang tentu akan dilepas setelah tiba di ruang operasi.
Steve menggenggam tangan Geo dengan wajah memucat. Sementara Alya, sejak tadi dia tidak beranjak sedikitpun dari kursi tunggu. Dia ingin mengantarkan Geo hingga ke ruang operasi, tapi dia mengurungkan niat karena keberadaan mertua atau yang sebentar lagi akan menjadi mantan mertuanya.
Pintu ruang operasi kini tertutup, lampu berubah hijau pertanda operasi telah dimulai. Di luar sana, Steve mondar-mandir tanpa mengetahui bahwa Geo dan Maudy sedang tertawa.
__ADS_1