
"Kenapa?" tanya Elsa, "Kau tidak memperbolehkan Mommy bersama cucu Mommy?"
"Bukan begitu," ucap Steve, "Geo baru saja tiba dari India, jadi biarkan dia beristirahat dulu."
"Memangnya Mommy ingin membawa anakmu ke mana? Dia juga bisa beristirahat di mansion," ucap Elsa lagi membuat Steve menghela napas. Dia yang tidak ingin berdebat dengan sang Ibu, langsung berbalik pergi meninggalkannya, begitu juga dengan Alya karena dia tidak ingin mendengar hal yang menyakitkan dari wanita itu.
Pada akhirnya, setelah membangunkan Geo hingga dia sudah selesai mandi, Elsa pun mengajaknya keluar.
"Mom, maaf. Geo harus sarapan lebih dulu," ucap Alya yang memberanikan diri bertanya.
"Di mansionku pun tidak kekurangan makanan, jadi jangan khawatir," ucap Elsa dengan sinis. Wanita paruh baya itu langsung mengajak Geo keluar. Tentu saja sebelum ini dia telah membujuknya hingga anak itu bersedia meninggalkan apartemen.
***
"Steve, kau ingin langsung bekerja?" tanya Alya ketika Steve sudah memakai setelan kantor.
"Iya, banyak sekali pekerjaan yang harus aku tangani dan sore nanti, aku juga akan menjemput Geo terlebih dahulu di mansion Mommy. Tidak mungkin aku biarkan dia berlama-lama di sana," jawab Steve.
Alya mengangguk-angguk. "Aku rasa memang harus begitu."
Alya dan Steven pun keluar dari kamar, mereka berjalan ke arah ruang makan.
***
Steve masuk ke dalam ruangannya. Lelaki itu langsung melepaskan jas lalu menyematkannya di tiang. Dia pun langsung duduk di kursi kerja. Saat itu, dia tiba-tiba teringat Maudy. Entah kenapa, wajah wanita itu terlintas tiba-tiba di benaknya.
Steve mencoba melepaskan bayangan Maudy dengan langsung mengutak-atik laptopnya untuk bekerja.
***
Maudy terbangun dari tidurnya. Saat membuka mata, dia langsung melihat guling yang selalu dipeluk oleh Geo. Sejak semalam, tubuhnya terasa tak berdaya hingga dia merasa tidak bisa bergerak. Bulir bening terjatuh dari pelupuk mata wanita itu.
***
Tiga tahun kemudian.
__ADS_1
Maudy melambaikan tangannya pada anak-anak yang yang baru saja masuk ke dalam kelas. Dia tersenyum melihat mereka berjejer dengan rapi. Ini sudah tiga tahun berlalu sejak hari itu, di mana dia pun akhirnya bisa berdamai dengan keadaan.
Tahun lalu, Maudy memutuskan untuk pindah ke Jerman menyusul adiknya di sana. Dia juga bekerja di sebuah sekolah menjadi seorang guru seni. Setelah berdamai dengan diri sendiri juga situasi, hidupnya terasa begitu tenang.
Maudy merasa tidak ada yang perlu lagi dipikirkan, terlebih dia yakin bahwa sebentar lagi Geo pun akan kembali padanya. Setiap dia merindukan anak itu, dia selalu meminta mertuanya untuk mengirimkan foto Geo, dan itu cukup untuk mengobati kerinduannya.
Sebenarnya, sudah beberapa kali Geo bertanya tentang Maudy dan bahkan ingin melakukan panggilan video dengannya, tapi wanita itu menolak dengan alasan tertentu.
"Kakak," panggil Januar yang tak lain adik Maudy.
"Januar, kenapa kau menjemput Kakak di sini?"
"Tak apa, ayo pulang. Aku punya hadiah untukmu."
Maudy tertawa saat melihat tingkah Januar yang tampak malu-malu, karena biasanya adiknya ini selalu bersikap cool dan jarang memperlihatkan perhatian. Mungkin karena ini adalah hari ulang tahunnya, hingga pria itu ingin bersikap beda.
Maudy pun mengangguk mengingat kelasnya sudah selesai. Dia pun mengikuti langkah sang adik untuk keluar dari area sekolah.
"Januar, apa ini?" tanya Maudy.
"Kau membelinya dengan tabungan sendiri?" tanya Maudy.
"Tentu saja."
Ponsel Maudy tiba-tiba berdering karena sebuah panggilan dari nomor yang sangat dia kenal, hingga dia memutuskan untuk tak mengangkat telepon tersebut. Maudy lalu berjalan menuju mobil dan melihat isi di dalamnya.
***
"Geo, ayo pulang, Nak," ucap Steve yang mengajak Geo untuk pulang dari mansion kedua orang tuanya.
"Tidak mau, aku ingin menginap di sini jawab," Geo tak acuh.
Steve menarik napas kemudian menghembuskannya, berusaha untuk tetap tenang.
"Sudahlah, jika dia tidak mau, tidak usah memaksanya," ucap Gina pada Steve yang masih berusaha membujuk Geo untuk pulang.
__ADS_1
"Diam kau, aku tidak meminta pendapatmu."
"Geo, kita ke ke kamar saja, ayo kita tidur."
"Gila!" sentak Steve. Dia mati-matian membujuk Geo untuk pulang, tapi Gina malah mengajak anak itu tidur.
"Kenapa Daddy berteriak pada Bibi Gina?" tanya Geo membela Gina yang kini tertawa lalu menjulurkan lidahnya.
Tanpa diperintahkan dua kali, bocah kecil itu langsung mengikuti Gina. Sementara Nauder yang melihat putranya dari atas, menyeringai.
"Inilah yang harus kau tanggung, Steve," ucap Nauder, yang sekarang sedang melihat semuanya dari atas. Ya, faktanya Nauder dan Elsa melakukan hal yang sama seperti Stev dulu, yang mempengaruhi Geo untuk menjauhi Maudy.
Elsa serta Nauder terus meracuni Geo agar Geo membenci Steve juga Alya. Mereka tidak bermaksud untuk menghancurkan putranya, tapi apa yang dilakukan Steve pada Maudy benar-benar keterlaluan. Dia hanya ingin menyadarkan putranya bahwa apa yang dilakukan lelaki itu keliru. Dia juga ingin Steve tahu bahwa selalu ada balasan dibalik tindakan yang tidak baik.
Steve mengusap wajah kasar saat melihat putranya. Sungguh, dia ingin sekali menggendong paksa Geo untuk membawanya pulang. Apalagi, sudah dua minggu ini anak itu tidak pernah pulang ke apartemennya, karena selalu ingin menginap di mansion orang tuanya.
Steve benar-benar bingung. Pria itu kini menghela napas kemudian berbalik pergi. Dia akan berusaha menjemput Geo lagi besok.
***
"Steve, mana Geo?" tanya Alya ketika Steve masuk ke dalam rumah dan langsung menginterogasinya saat tak melihat Geo.
Steve menghela napas, sungguh dia malas menjawab pertanyaan Alya. "Geo masih di mansion Mommy, dia tidak mau pulang."
"Steve, kenapa kau tidak memaksanya saja? Seharusnya kau melakukan itu apalagi sudah lama sekali dia tidak menginap di sini. Apa kau tidak takut —"
"Cukup!" bentak Steve yang sudah sangat lelah dengan banyaknya pekerjaan di kantor, ditambah lagi dengan urusan Geo. Lalu sekarang, Alya malah terus memprotesnya atas apa yang dia lakukan.
"Baiklah, maafkan aku," ucap Alya. Kali ini, dia harus bersabar menghadapi Steve.
Semenjak Geo berubah, Steve juga ikut berubah. Lelaki itu sering menjadikan Alya sebagai sasaran amarahnya. Belum lagi jika Geo rewel apalagi sampai mengamuk, maka wanita itu juga yang akan disalahkan oleh Steve.
Setelah membentak Alya, Steve langsung menyandarkan tubuhnya ke belakang. Lelaki itu berusaha untuk tenang. Sebenarnya, dia tidak terlalu stress masalah pekerjaan, tapi yang membuatnya merasa terbebani adalah perubahan Geo yang jauh berbeda.
Sayangnya, Steve tidak berpikir bahwa keluarganya menggunakan cara yang sama dengan apa yang dia lakukan pada Maudy.
__ADS_1