Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Tentang Ricard


__ADS_3

Maafin baru update ya gengs


"Kenapa kalian begitu egois? Apa kalian lupa aku seperti ini karena apa?" Kali ini, Richard memberanikan diri bicara, membuat suasana di ruangan itu dipenuhi ketegangan yang membuat Andre dan Savana terdiam.


Dada Richard naik turun, lelaki itu seperti kembali pada masa lalu, tepatnya pada kejadian yang membuatnya seperti ini.


Saat kecil, dia mengalami pelecehan oleh pamannya yang merupakan penyuka sesama jenis. Semua itu karena orang tua Richard terlalu fokus bekerja, hingga menitipkan dia pada pamannya.


Richard tidak berani mengatakan itu pada siapapun, sampai akhirnya dia mulai bersekolah dan pamannya meninggal membuat dia bisa bernapas lega.


Lalu ketika itu, Richard pun memberanikan diri menceritakan semua yang dilakukan oleh pamannya kepada Savana dan Andre. Dia berpikir bahwa mereka akan memberi dia dukungan. Namun nyatanya tidak, kedua orang tuanya justru terkesan tak acuh dengan apa yang dia rasakan.


Sejak saat itu, hidup Richard berubah 180 derajat. Dia sulit untuk bergaul hingga selalu merasa sendirian, termasuk saat di sekolah karena dia tak memiliki seorang teman pun.


Sampai akhirnya, datanglah Matteo, satu-satunya orang yang mau berteman dengan Richard. Matteo selalu ada di sampingnya termasuk saat dia dalam keadaan terpuruk.


Oleh karena itu, cinta Richard pada Matteo begitu besar, dan dia mencintainya lebih dari apapun.


Mereka sama-sama terdiam saat mendengar penjelasan putranya. "Tapi itu bukan alasan. Seharusnya, kau bisa—


"Bisa apa?" tanya Richard, "aku sudah menuruti keinginan kalian yang meminta cucu. Sekarang ada Leana, tak bisakah kalian membiarkanku dengan jalanku sendiri?"


"Aku mohon, bebaskan aku. Aku tahu apa yang aku dan Matteo lakukan melanggar norma-norma dan ditentang oleh Tuhan, tapi aku hanya ingin bahagia menjalani hidupku sendiri."


"Lalu, bagaimana denganku?"


Secara tiba-tiba, Leana datang dan mendengar semuanya membuat Richard memejamkan mata.


"Lalu bagaimana denganku?" tanya Leana lagi. Gadis yang kini berusia lima belas tahun itu, menatap sang ayah dengan ekspresi menantang. Namun tak dipungkiri, bahwa sorot matanya mengatakan bahwa dia terluka. "Lalu bagaimana denganku?"


Leana seakan tak bosan mengulangi pertanyaan itu pada Richard. "Apakah kebahagiaan yang kau maksud itu dengan melenyapkan ibuku?"


Mata Richard membulat saat mendengar ucapan Leana, begitu pula Savana dan Andre.


"Leana, apa maksudmu?" tanya Andrew.


"Kalian tahu bahwa sebenarnya yang mendorong ibuku adalah kekasihnya?"

__ADS_1


Tubuh Richard terasa lemas saat mendengar ucapan Leana, yang ternyata mengetahui tentang kejadian sebenarnya di balik kematian Katrina.


"Kenapa, kau terkejut?" tanya Leana terdengar menantang. "Aku mendengar semuanya."


Andre, Savana dan Richard sama-sama terdiam menatap Leana dengan sorot tak percaya.


"Kalian tahu,bahkan Daddy tidak menolong Mommy, tapi malah sibuk menenangkan kekasihnya!" Leana berteriak saat mengingat itu.


"Lalu, kenapa kau tidak berbicara pada Kakek tentang apa yang terjadi?" tanya Andre.


"Karena nyawaku jadi taruhannya. Dia saja berani melenyapkan Mommy, lalu bagaimana denganku?" Kali ini, Leana benar-benar tidak bisa membendung emosinya. "Mulai sekarang, aku tidak akan tinggal lagi bersama Deddy. Aku akan tinggal bersama Bibi Maudy dan juga Paman Steve."


Setelah mengatakan itu, Leana pun berlalu pergi. Baru saja Richard akan menyusulnya, Andre segera menahan pria itu.


"Kita bicara nanti, saat ini suasana sedang panas."


Richard pun terdiam dan memutuskan untuk bicara dengan Leana, setelah amarah gadis itu mulai mereda.


Richard pun kembali teringat akan sesuatu yang membuatnya tersadar, bahwa saat dulu dia membutuhkan orang tuanya, mereka tidak ada dan malah sibuk dengan bisnis masing-masing.


Tentu saja mereka berpikir semua demi Richard agar dia kekurangan apapun, tapi nyatanya apa yang mereka lakukan justru berdampak buruk yang bertahan sampai sekarang.


***


Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika keluarga Nauder tengah berkumpul di belakang rumah. Mereka sedang melakukan pesta barbeque.


Sementara itu, Maudy memutuskan untuk berdiri di balkon dan melihat mereka dari atas. Tak lama, dia terpaku ketika seseorang memeluknya dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Steve yang membuatnya kini tersenyum.


"Steve, kenapa kau tidak bergabung?" tanya Maudy.


"Tidak, aku lebih senang bergabung denganmu," ucapnya.


"Mau mengulangi hal yang tadi?" tanya Steve.


Maudy tertawa. "Tidak. Kenapa kau berisik sekali? Itu membuatku malu."


Steve semakin mengeratkan pelukannya. Dia mencium pipi Maudy dari samping. "Terima kasih atas segalanya, Maudy."

__ADS_1


"Bagus, kau memang harus berterima kasih karena mendapatkan calon istri yang seperti aku."


"Calon istri?" ulang Steve yang sengaja menggoda Maudy membuatnya langsung menoleh kemudian melepaskan tangan pria itu.


"Jadi kau tidak berniat menikahiku?" tanya Maudy lagi dengan polosnya mempercayai ucapan Steve yang kini dia tatap dengan sorot kesal.


"Tidak akan."


Mata Maudy membulat, bagaimana mungkin Steve mengatakan itu?


"Tidak, Maudy. Bagaimana bisa aku tidak akan menikahimu? Aku akan mengikatmu menjadi istriku, dan ...." Steve ragu untuk melanjutkan ucapannya yang membuat dia juga malu jika harus mengungkit ini, di mana dia ingin meminta Maudy untuk kembali memgandung karena dia masih ingin memiliki anak.


Maudy yang mengerti dengan perasaan Steve, langsung mengelus pipi calon suaminya. "Aku mau mengandung lagi."


Maudy terdiam sejenak, sorot matanya menunjukkan ketakutan akan sesuatu. "Tapi kau tidak boleh memegang uang, kau tidak boleh merahasiakan apapun dariku dan semua hartamu harus atas nama Geo," kata Maudy. Setidaknya dengan itu, dia bisa tenang. Jika Steve tidak mempunyai apapun, maka kecil kemungkinkan masa lalu terulang kembali.


"Apapun aku kuberikan, Sayang. Aku hanya akan bekerja mencari nafkah untuk kalian, dan setelah itu aku pulang menikmati waktu bersamamu dan anak-anak kita," ucap Steve.


Maudy kembali menatap ke depan, hingga Steve pun lagi-lagi memeluknya dari belakang.


***


Beberapa minggu kemudian.


Akhirnya, detik-detik yang mendebarkan bagi Maudy dan Steve tiba. Kali ini, pria itu sedang harap-harap cemas menunggu pintu gereja terbuka.


Sekarang, Steve akan melakukan pernikahan yang kedua kalinya dengan orang yang sama. Dulu, dia begitu malas untuk menatap Maudy. Dia bahkan tidak ingin melihat wanita itu sama sekali.


Namun sekarang, rasanya dia begitu gelisah. Dia takut pernikahannya tidak berjalan dengan lancar.


Sampai akhirnya, terdengar derap langkah yang menarik perhatian Steve membuatnya menoleh. Semua orang bertepuk tangan ketika Maudy maju ke altar dituntun oleh Januar.


"Aku titipkan kakakku kepadamu," kata Januar yang memberikan tangan Maudy ke arah Steve.


"Aku kupotong burungmu jika berani macam-macam dengan kakakku."


Mata Steve membulat mendengar itu, karena saat ini mereka sedang menjadi pusat perhatian. Januar yang tersadar, buru-buru turun membuat Maudy menggeleng.

__ADS_1


__ADS_2