Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Sampai Jumpa Geo


__ADS_3

Maudy menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia menoleh ke arah Geo lalu bertanya, "Geo, apa kau merindukan Mommy Alya?"


Maudy ingin mendengar jawaban dari mulut putranya sendiri Secara langsung.


"Aku merindukannya, dia sangat baik," jawab Geo dengan ekspresi yang terlihat riang membuat Maudy semakin ingin menangis.


Pada akhirnya, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, mobil yang dikendarai Maudy pun tiba di sekolah Geo. Dia segsra turun dari sana lalu membantu anaknya untuk keluar.


Maudy mengulurkan tangannya pada Geo lalu mereka pun berjalan menuju kelas anak itu.


"Masuklah, Mommy akan menunggumu di luar," ucap Maudy.


Geo tidak menjawab. Bocah itu masuk ke dalam kelas meninggalkannya yang kini berbalik dan memutuskan untuk menunggu di lapangan.


Maudy kini mendudukkan diri di kursi. Tatapan matanya lurus ke depan dia melalui detik demi detik dengan rasa sakit saat membayangkan, bahwa Geo tidak akan ada di sampingnya lagi.


Maudy merana meratapi semuanya membuat bulir bening terjatuh dari pelupuk matanya. Saat mengingat itu, dia merasa ingin menenggelamkan diri.


Maudy merogoh sakunya kemudian mengotak-atik ponsel. Dia membuka galeri. Tak lama, bibirnya tersenyum dengan hati yang pedih saat melihat foto kebersamaannya dengan Geo.


Kepedihan yang Maudy rasakan semakin menjadi-jadi, hingga akhirnya dia yang semula hanya terisak kecil, kini berubah menjadi tangisan yang kencang.


Steve menggeleng saat melihat Maudy dari sisi lapangan. Pria itu menegakkan tubuhnya, kemudian menghampiri sang mantan istri.


Entah kenapa, saat melihat Maudy seperti ini, dia merasa begitu senang. Dia selalu teringat jelas dengan momen pertama kalinya dia datang ke India.


Saat Steve betada di depannya, Maudy langsung menghapus air matanya.


"Kau pasti sedih, 'kan, karena sebentar lagi kau akan berpisah dengan Geo?" tanya Steve.


Maudy tidak membalas.


"Itulah yang aku rasakan ketika aku pertama kali datang ke India," kata Steve lagi yang kemudian menghela napas.


Maudy mendongak menatap Steve. "Aku memang sedih, tapi aku tak bisa apa-apa."


Jantung Steve berdetak dua kali lebih cepat saat melihat senyuman yang menghiasi wajah penuh keikhlasan Maudy.


Steve menggelengkan kepalanya. Dia melihat wajah Maudy yang begitu menyedihkan. Terbesit rasa kasihan dalam hati lelaki itu, tapi dia segera menyadarkan dirinya bahwa tidak seharusnya dia iba pada Maudy.


Pada akhirnya, Steve berbalik pergi. Lelaki itu memutuskan untuk menunggu di mobil. Seharian ini, dia harus mengawasi Maudy dan Geo. Sementara Elsa dan Nauder sudah pergi pada pagi tadi untuk pulang ke Rusia sesuai permintaan Maudy.


***


Waktu berlalu hingga akhirnya, jam sekolah pun selesai. Maudy yang sedari tadi duduk di lapangan, langsung bangkit karena mendengar suara anak-anak berlarian.


Maudy pun dengan lesu berjalan ke kelas Geo.


"Geo," panggil Maudy setibanya di sana.

__ADS_1


Geo menoleh kemudian menghampiri sang ibu dengan ekspresi datar. Namun, Maudy tetap memberikan senyuman pada putranya, karena dia tidak tahu kapan lagi bisa bertemu dengan Geo.


"Kau ingin ke mana sekarang?" tanya Maudy yang sedang berusaha untuk tegar.


Geo menggeleng. "Terserah Mommy saja," jawabnya masih dengan wajah datar tanpa ekspresi senang setitik pun. Walaupun demikian, nyatanya Geo terus menggenggam tangan Maudy.


Tanpa sepengetahuan siapapun, pagi tadi Steve sudah mewanti-wanti Geo untuk tidak tersenyum pada Maudy.


Maudy kini membukakan pintu untuk Geo, lalu dia memutari mobil sebelum akhirnya masuk dan duduk di kursi kemudi. Setelah itu, dia segera menyalakan mesin dan menjalankannya.


***


Di sinilah mereka berada, yakni sebuah cafe di mana Maudy dan Geo pun turun dari mobil. Keduanya masuk dan duduk di meja kosong dekat dengan jendela.


"Geo, kau ingin memesan apa?"


"Es krim saja," jawab Geo.


Maudy mengangkat tangannya kemudian memanggil pelayan yang kini mencatat pesanan keduanya.


Geo terus melihat ke arah jendela, sedangkan Maudy terus menatap ke arahnya untuk mengabadikan wajah anak itu di dalam benak.


Beberapa saat kemudian, es krim pesanan mereka pun datang. Geo segera menyantap makanan tersebut, sedangkan Maudy sama sekali tidak bernafsu untuk menghabiskan pesanannya. Dia terus menatap Geo yang sedang memakan es krim dengan lahap.


"Apakah ini buatan Mommy?" tanya Geo karena menyadari bahwa Maudy terus melihatnya sejak tadi.


Sebenarnya, Geo sama sekali tidak mengetahui apapun. Lalu, apa yang akan terjadi kedepannya itu hanya karena doktrinan sang ayah, bahwa agar keinginannya bertemu Alya akan segera terkabulkan.


***


Jiwa Maudy terasa melayang saat mengingat bahwa ini adalah detik-detik terakhir dia bersama putranya.


Pada akhirnya, setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, mobil yang dikendarai oleh Maudy pun sampai di pekarangan rumah, begitu pun mobil yang dikendarai oleh Steve karena sejak tadi dia terus mengikuti keduanya.


"Geo," panggil Steve ketika dia keluar dari mobil.


"Daddy!" teriaknya dengan semangat.


Maudy tidak menoleh ke belakang, dia meneruskan langkahnya untuk masuk ke dalam, dan meninggalkan Geo juga Steve di luar.


"Bagaimana, apakah menyenangkan bermain dengan Mommy?"


"Iya, lalu saat Mommy memelukku, aku juga ingin membalasnya tapi Daddy bilang tidak boleh," ucap Geo.


"Memang tidak boleh kalau kau anak baik," ucap Steve, "ayo kita masuk."


Steve menggenggam tangan Geo lalu mereka pun masuk.


***

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam saat Maudy terdiam di depan kamar Geo. Hari ini, dia ingin tidur dengan putranya.


Perlahan, Maudy mengangkat tangannya lalu mengetuk pintu hingga tak lama, hinbga terdengar derap langkah mendekat dan sedetik kemudian, pintu terbuka.


"Ada apa?" tanya Steve dengan dingin dan datar.


"Sekali saja dan untuk terakhir kalinya, izinkan aku tidur dengan Geo," ucap Maudy.


"Tidak bisa, Maudy."


"Steve, aku mohon, izinkan aku tidur dengan Geo. Kau akan membawanya besok dan aku hanya punya waktu malam ini." Maudy bicara dengan penuh harapan bahwa Steve akan mengijinkannya.


Steve kini menghela napas. "Aku tidak percaya dia tidur berdua denganmu, jadi aku juga akan tidur di kamar ini."


"Tidak apa-apa," jawab Maudy. Dia tidak masalah jika harus tidur satu ranjang dengan Steve, karena yang terpenting adalah dia bisa tidur bersama Geo.


Maudy kini telah membaringkan tubuhnya di samping Geo yang sudah tertidur, dia berada di sisi kiri sedangkan Steve berada di tepi kanan anak itu.


Setelah berbaring, Steve memutuskan untuk membelakangi Maudy yang terus memeluk tubuh Geo, lalu kemudian menciumi pipi putranya secara berulang kali. Air mata terus berderai di pipi wanita itu.


Dia rasa ini terakhir kalinya bisa melihat wajah Geo sedekat sekarang. "Pergilah, Sayang, berbahagialah. Suatu saat nanti, kau pasti akan kembali lagi padaku, dan jika saat itu tiba, maka Mommy tidak akan melepaskanmu lagi."


***


Malam telah berganti pagi.


Hati Maudy terasa remuk ketika kini dia membereskan pakaian dan mainan yang akan Geo bawa ke Rusia. Air mata tak berhenti mengalir di pipinya.


Sementara itu, Geo dan Steve sedang sarapan di luar di saat Maudy sibuk mengemasi barang-barang putra mereka.


Sampai akhirnya, acara mengemas barang pun selesai. Maudy segera mendudukkan diri di atas ranjang sembari menatap dua koper besar yang ada di depannya.


Maudy memegang dadanya yang terasa nyeri. "Tidak apa-apa Maudy, ini hanya sebentar," ucapnya meyakinkan diri sendiri.


Saat itu, terdengar derap langkah membuat Maudy langsung menghapus air matanya. Suara tersebut ternyata berasal dari Steve yang kini menyeringai lebar ketika melihat Maudy yang hancur.


"Sudah selesai?" tanya Steve dengan nada mengejek.


Maudy mengangguk. "Aku titip dia, Steve."


Sebenarnya, Steve merasa kesal saat melihat Maudy pasrah seperti ini, padahal dia sangat ingin agar wanita itu merintih dan menohon untuknya tak membawa Geo pergi. Namun kenyataannya, Maudy justru terlihat begitu ikhlas membiarkan anak mereka bersamanya.


***


Maudy menekuk kakinya untuk menyetarakan diri dengan Geo yang sebentar lagi akan berangkat.


"Kau jaga dirimu baik-baik," ucap Geo sembari tersenyum untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Dia bahkan menghapus air mata sang Ibu hingga Maudy pun langsung memeluknya.


"Hati-Hati di sana," ucap Maudy.

__ADS_1


Geo mengangguk.


Setelah Maudy melepaskan pelukan, Geo pun langsung menghampiri Steve yang menunggu di luar dan bersiap untuk pergi


__ADS_2