Cinta Seorang Tuan Nauder

Cinta Seorang Tuan Nauder
Bertemu


__ADS_3

Mendengar pertanyaan Leana soal Claudia, Steve tidak lantas menjawab. Dia juga bingung bagaimana cara menjabarkan hubungan anak dengan menantunya. Dulu, mungkin jika Geo belum menikah dengan Claudia dan Leana dalam kondisi hamil, tentu saja Steve akan memaksa Geo untuk bertanggung jawab, tapi sekarang posisinya berbeda di mana Geo sudah menikah dengan Claudia.


Walaupun dia sudah mendengar Claudia bersedia diceraikan oleh Geo ketika Geo bertemu dengan Leana, tapi tetap saja Steve tidak mendukung hal itu. Walau bagaimanapun, ada Rea di tengah-tengah mereka. Dia tidak ingin menyesal di kemudian hari, karena dia bisa melihat Claudia mencintai putranya dengan tulus.


Steve pun menguraikan semua tentang rumah tangga Geo dan juga Claudia, dan ternyata Leana tidak terkejut karena yang diucapkan Steve dan Geo sama.


"Kau tidak terkejut?" tanya Steve menyadarkan Leana dari ramuannya.


"Tadi Geo kemari, Paman," balas Leana.


Steve terpekik saat mendengar ucapan Leana. Dia pikir Geo belum menemui Leana, tapi ternyata sudah.


"Lalu apa katanya? Apa yang dia katakan?" tanya Steve dengan pemasaran.


"Paman, boleh aku meminta tolong?" tanya balik Leana.


"Kau ingin minta tolong apa?" sahut Steve.


"Aku dan Claudia sama-sama wanita. Aku dengar jika Geo menemukanku dengan anak kami, Claudia akan mundur. Tapi aku tidak mau itu. Aku yakin Claudia begitu mencintai Geo, hingga dia mampu bertahan sampai titik ini. Jadi, tadi aku mengatakan anaknya keguguran," papar Leana.


"Apa dia percaya?" tanya Steve.


"Aku tidak tahu, tapi dari wajahnya mengatakan jelas tidak percaya, Paman. Paman mengerti, 'kan, maksudku? Aku juga ingin jujur tentang Yuma dari Yumi, tapi ada Claudia dan putrinya yang mempunyai perasaan," kata Leana hingga Steve menganggukkan kepalanya. Sepertinya, pikiran Steve dan pikiran Leana pun sama, mereka sama-sama tidak ingin mengorbankan Claudia karena keegoisan.


"Lalu, apa langkah yang akan kau ambil?" tanya Steve.


Kedatangan ayah angkatnya memberikan ide untuknya. Jika awalnya dia memang ingin pergi sebulan lagi dan menggunakan uangnya sendiri untuk kehidupannya, tapi setelah melihat ayahnya bukankah tidak masalah jika Leana meminta sesuatu pada Steve? Dia tidak akan meminta macam-macam, dia hanya ingin Steve membawanya pergi jauh.


"Aku tidak ingin Aaron ataupun Geo kembali menemukanku serta Yuma dan Yumi," balas Leana. Dia rasa ini adalah keputusan terbaik.


"Paman mengerti, tapi apa kau tidak keberatan?" tanya Steve.


"Tidak Paman, aku lebih nyaman seperti itu, di mana Geo tidak tahu Yuma dan Yumi adalah anaknya," jawabnya.


Steve menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan mengurus semuanya. Kau tidak perlu memikirkan apapun lagi," kata Steve.


Leana mengangguk, lalu setelah itu dia kembali memeluk sang ayah. Setelahnya, mereka pun memutuskan untuk pergi ke kamar masing-masing.


***


Malam berganti pagi. Aaron terbangun dari tidurnya. Seperti biasa, semenjak tidak ada Leana, Aaron merasakan seluruh tubuhnya begitu lemas sekali pun dia baru bangun tidur seperti sekarang. Dia berjalan dengan sempoyongan ke arah kamar mandi, lelaki itu memutuskan untuk menyegarkan dirinya sebelum pergi ke kantor.


Setelah dua puluh menit kemudian, Aaron keluar dari kamar mandi kemudian dia berjalan ke walk-in closet, kemudian memilih pakaiannya. Lima belas menit kemudian, Aaron sudah siap dengan setelan biasa, karena hari ini dia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor. Lelaki tampan itu keluar dari kamar dan seperti biasa, terdengar suara gaduh dari arah meja makan, dan Aaron tahu itu adalah Melisa.


"Hai Baby, morning," sapa Melisa.


Saat akan berjalan ke arah meja makan, Aaron tidak menjawab. Dia hanya mengangguk kemudian lelaki itu menarik kursi lalu mendudukkan dirinya di sana.


"Ini buatanmu lagi?" tanya Aaron.


"Tentu saja," kata Melisa lagi. Dia pun menyusul untuk ikut duduk, lalu setelah itu dia menyimpan makanan ke dalam piring untuk calon suaminya, hingga Aaron pun langsung menarik sendok lalu setelah itu dia memakan makanan yang dibawa oleh Melisa, yang Aaron tahu itu adalah masakan Melisa, padahal Melisa membelinya dari restoran.


"Baby, apa kau hari ini ada pekerjaan?" tanya Melisa di tengah acara makannya.


"Banyak sekali, tapi aku tidak akan pergi ke kantor,” jawab Aron.


"Wah, bagus sekali jika kau tidak akan pergi ke kantor," kata Melisa tanpa tahu malu hingga Aaron menghela napas, kemudian dia menyimpan sendok yang dia pegang, kemudian menatap ke arah Melisa.


"Melisa, beberapa hari ini kenapa kau terus merepotkanku?" tanya Aaron, dia menatap Melisa dengan separuh kesal.


"Merepotkanmu?" ulang Melisa yang tidak percaya Aaron mengatakan seperti itu.


"Melisa, dengar. Aku ini banyak sekali pekerjaan. Banyak yang harus aku tangani. Jika aku ikut menemanimu, bukankah pekerjaanku tidak akan bisa selesai? Kau mengerti dengan apa yang aku maksud?" Aaron berbicara dengan pelan, tapi itu mampu membuat Melisa tertunduk. Sepertinya, Aaron sedang dalam mode serius hingga Melisa tidak mungkin melawan lelaki itu, ataupun tidak mungkin mengajak lelaki itu berdebat.


"Ya sudah, maafkan aku," ucap Melisa. Dia lebih memilih untuk mencari aman hingga pada akhirnya kedua insan itu melanjutkan makannya. Tidak ada yang berbicara, Melisa dan juga Aaron sama-sama terdiam hingga pada akhirnya ponsel Aaron berdering.


Satu panggilan masuk, dan tertera nama bibinya di sana. "Halo Bibi?" sapa Aaron.


Melisa yang sedang makan, tersedak saat Aaron memanggil bibinya, karena memang selama ini bibi Aaron tinggal di luar negeri.

__ADS_1


"Oh, Bibi akan kemari besok? Baiklah. Ada yang harus aku sampaikan juga pada Bibi," ucap Aaron. Saat berbicara dengan sang bibi, Aaron melihat wajah Melisa yang tampak pucat seperti orang salah tingkah, hingga dia mengerutkan keningnya. Namun tak lama, dia menggeleng lalu setelah itu dia mematikan panggilannya.


"Kenapa kau tampak terkejut?" tanya Aaron. Walaupun sempat menyangkal tentang perubahan wajah Melisa, tapi tak urung dia bertanya karena dia penasaran. Seperti ada yang disembunyikan oleh calon istrinya.


"Tidak, aku hanya takut bertemu dengan bibimu," jawab Melisa.


"Tidak usah dipikirkan. Kali ini aku yang berbicara," ucap Aaron.


Rasa lapar yang dirasakan Melisa hilang begitu saja berganti dengan rasa takut. Bagaimana jika Aaron mengatakan yang sebenarnya, bahwa sebenarnya Bibi Aaron tidak tahu tentang apa yang dia lakukan di masa lalu?


Aaron memperhatikan Melisa dengan lekat. Entah kenapa feelingnya mengatakan hal lain, tapi dia tidak ingin berpikir terlalu jauh hingga pada akhirnya lelaki tampan itu langsung melanjutkan acara makannya.


Acara makan pun selesai. Aaron memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya. Hari ini dia tidak ingin pergi ke kantor, sedangkan Melisa memutuskan untuk berkeliling di rumah Aaron.


Pada akhirnya, Melisa terdiam di tepi kolam renang. Sedari tadi, dia berjalan ke sana kemari. Jangan ditanyakan betapa takutnya Melisa saat ini, yang pasti ketakutannya benar-benar di level akut. Bibi Aron tidak menyukainya, dan pasti bibinya akan mengorek segala sesuatu tentangnya. Apalagi saat itu bibi Aaron juga tahu bahwa dia sudah meninggal. Lalu, apa jadinya jika Aaron menanyakan semua pada sang bibi?


"Tidak, aku harus mengambil keputusan," ucap Melisa yang tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Sepertinya, dia mempunyai ide. Lalu dia pun mengutak-atik ponselnya, lalu menelepon seseorang.


"Aku ada pekerjaan untukmu. Pekerjaan ini cukup berat, kau harus melakukannya dengan hati-hati. Aku akan memberikan bayaran yang sangat mahal untukmu," kata Melisa pada anak buahnya di seberang sana.


Setelah anak buahnya menyanggupi perintah Melisa, Melisa pun langsung menutup panggilannya. Wanita itu pun bisa bernapas lega. Dia akan menyuruh anak buahnya untuk mencegah mobil yang akan membawa bibi Aaron untuk ke rumah Aaron agar semuanya aman.


Melisa mendudukkan diri di kursi yang berada di tepi kolam renang. Kaki wanita itu menjuntai ke depan, lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang. Rasa khawatir yang dirasakan Melisa karena kedatangan bibi Aaron, langsung hilang dalam seketika karena dia sudah mempunyai ide untuk melenyapkan wanita paruh baya tersebut. Setelah itu, dia akan mulai kembali menikmati hidup mewahnya sebagai istri Aaron.


***


Aaron masuk ke dalam ruang kerja. Lelaki itu berjalan ke arah sofa, lalu setelah itu dia mendudukkan dirinya di sofa tersebut. Dia menengadahkan kepalanya ke atas, menatap ke arah langit-langit. Pikirannya mengembara, memikirkan lelaki yang kemarin ada bersama Leana.


Rasanya, sampai sekarang hati Aaron terbakar membayangkan bagaimana Yuma dan Yumi memanggil lelaki itu. Jantung Aaron begitu memburu ketika membayangkan Yuma dan Yumi tersenyum pada lelaki tersebut.


Aaron menggeleng pelan. Tidak, mereka milikku, batinnya. Namun tak lama, lagi-lagi Aaron tersadar. Wajah lelaki itu begitu sendu ketika mengingat bahwa dia sendiri yang sudah memutus hubungan di antara mereka, kemudian karena rasa gelisah Aaron semakin menjadi-jadi, lelaki itu merogoh saku kemudian mengambil ponsel lalu mengutak-atiknya kemudian menelepon Leana.


Sekali, dua kali, tiga kali berdering, masih tidak diangkat. Ketika deringan keempat, Leana mengangkat panggilannya.


"Halo." Terdengar suara anak kecil di seberang sana, membuat jantung Aaron berdetak dua kali lebih cepat karena suara itu adalah suara Yumi.


"Halo Yumi." Pada akhirnya, Aaron berbicara. Yumi terdiam di seberang sana.


"Daddy, apakah ini Daddy?" tanya Yumi.


Aaron tersenyum ketika Yumi memanggilnya 'daddy'.


"Oh, maaf. Apakah ini Paman Aaron?" ulang Yumi.


Senyuman Aaron seketika luntur kala mendengar ucapan Yumi, hingga Aaron berdeham. "Halo Yumi, kau sedang apa?" tanya Aaron.


Yumi terdiam di seberang sana. Gadis kecil itu sepertinya ingin berteriak kesenangan karena bisa mendengar suara sang ayah.


"Yumi, siapa itu?" Tiba-Tiba terdengar suara Yuma.


"Ini Paman Aaron," ucap Yumi.


"Cepat matikan!" titah Yuma dan tentu saja itu terdengar oleh Aaron, hingga tak lama panggilan dari Aaron pun dimatikan oleh Yumi.


Aaron termenung. Dari saat kemarin bertemu dia tahu tatapan Yuma, berbeda dengan tatapan Yumi. Di saat Yumi masih mau menatapnya, berbeda dengan Yuma yang sama sekali tidak mau menatap ke arahnya.


Pintu ruang kerja Aaron dibuka. Melisa masuk ke dalam membuat Aaron menghela napas.


"Aku akan menyelesaikan pekerjaan. Kau bisa tunggu di luar," kata Aaron yang secara tidak langsung mengusir Melisa.


"Aaron, kenapa aku harus pergi di luar? Aku bisa tunggu di sini saja," ucap Melisa.


Aaron yang tak ingin berdebat, langsung bangkit dari duduknya. Lelaki tampan itu memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya, daripada dia pusing memikirkan Leana dan juga kedua anak sambungnya.


Sementara Melisa, langsung mendudukkan diri di sofa. Wanita cantik itu langsung memainkan ponselnya. Saat sudah duduk di kursi kerjanya, Aaron melihat ke arah Melisa, kemudian dia melihat ke arah pintu.


Dalam bayangannya, Aaron melihat Leana masuk sambil membawakan kopi untuknya, seperti kebiasaan Leana saat dulu masih tinggal di rumahnya. Tak lama, Aaron tersadar ketika mendengar suara tawa Melisa, hingga lelaki itu memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya.


***

__ADS_1


"Yuma," panggil Yumi ketika Yuma menatapnya dengan marah. Yuma yang kesal karena Yumi mengangkat panggilan dari Aaron, langsung berjalan ke arah Yumi kemudian dia merebut ponsel ibunya dari tangan sang adik.


"Kau ini bagaimana? Sudah kubilang, bukan, jangan berhubungan lagi dengannya?" tanya Yuma dengan emosi pada Yumi, hingga Yumi tertunduk.


"Mana aku tahu, di sana tidak tertulis nomor Paman Aaron," jawab Yumi sambil menunduk hingga Yuma menghela napas.


"Maafkan aku, Yumi," katanya yang sadar bahwa dia barusan meninggikan suaranya.


"Jangan memarahiku lagi, Yuma," pintanya.


"Ada apa ini?" Tiba-Tiba terdengar suara Leana dari luar. Dia yang baru saja masuk, langsung menegur putrinya.


"Tidak apa-apa Mommy," jawab Yuma. Dia menyenggol tangan Yumi agar Yumi tidak memberitahukan bahwa Aaron menelepon.


"Oh, kalian sudah siap? Ayo temui Kakek di luar. Kakek sedang menonton televisi," ucap Leana hingga Yumi dan Yuma pun mengangguk.


Yuma menarik lembut tangan Yumi, kemudian mereka pun keluar dari kamar, sedangkan Leana memutuskan untuk membersihkan diri.


Saat berada di luar, Yumi dan Yumi terdiam menatap punggung Steve yang sedang duduk di sofa. Jujur saja, kedua gadis kembar itu masih merasa asing dengan Steve, terlebih lagi Steve baru datang kemarin dan tiba-tiba mengaku sebagai kakek mereka, di mana mereka baru pertama kali mengetahui bahwa mereka mempunyai kakek dari ibunya.


Steve yang merasa diperhatikan, langsung menoleh kemudian lelaki tampan itu langsung tersenyum ketika melihat kedua cucunya, Yuma, Yumi.


Yuma dan Yumi pun berjalan ke arah Steve, dan ketika Yuma dan Yumi ada di dekatnya, Steve langsung menyuruh Yuma dan Yumi duduk, hingga kini Yuma berada di sisi Steve dan Yuma berada di kanan Steve.


"Hari ini kalian ingin pergi ke mana? Kakek akan kabulkan apapun keinginan kalian," kata Steve. Semalaman, dia sudah memikirkan keinginan Leana yang ingin pergi dari tempat ini tanpa diketahui oleh Aaron maupun Geo, dan pilihan Steve jatuh ke luar negeri nanti malam. Dia sudah menyiapkan semuanya dan nanti malam pula, mereka akan terbang sebelum Aaron dan Geo datang lagi ke apartemen Leana. Sekarang, Steve akan mengajak kedua cucunya untuk berjalan-jalan.


"Kakek," panggil Yumi. Bukannya menjawab, Yumi malah memanggil Steve hingga Steve menoleh.


"Apakah kau benar kakek kami?" tanyanya lagi. Steve mengangguk.


"Maafkan kakek yang telat datang, tapi Kakek berjanji walaupun Kakek tidak akan ada selalu di dekat kalian, tapi Kakek akan terus menelepon kalian, melakukan panggilan video. Kalian juga nanti akan bertemu nenek," ucap Steve.


"Kami masih punya nenek?" tanya Yuma.


"Kalian masih punya nenek. Apa ada yang ingin kalian tanyakan?" tanya Steve.


Yuma dan Yumi terdiam, mereka penasaran dengan ayah kandung mereka. Namun, tentu saja Yuma dan Yumi tidak berani bertanya, hingga akhirnya Yuma dan Yumi menggeleng.


***


"Kau yakin tidak ingin ikut?" tanya Steve ketika dia bersiap bersama Yuma dan Yumi untuk pergi berbelanja.


Tadi, Yuma dan Yumi meminta agar Steve pergi ke toko boneka yang kemarin, karena tadi Steve mengatakan akan mentraktir kedua cucunya, hingga Yuma dan Yumi sangat antusias. Mereka meminta Steve membelikan mereka boneka, karena kemarin tentu saja mereka tidak puas karena tahu sang ibu tidak mempunyai uang.


Leana yang mengantarkan Steve, Yuma dan Yumi menggeleng. "Tidak Paman, aku takut Geo kemari. Aku juga takut suamiku kemari, jadi aku akan menunggu di sini. Aku takut jika aku ikut, mereka akan menunggu di sini dan nanti akan memergoki Paman," ucap Leana hingga Steve pun mengangguk karena mengerti. Dia berharap Geo tidak datang terlebih dahulu ke apartemen sebelum mereka kembali. Memang terkesan kejam karena menutupi Yuma dan Yumi dari Geo, tapi Steve juga harus memikirkan perasaan Claudia dan Rea, terlebih lagi ini juga keputusan Leana.


"Ya sudah, kalian jangan merepotkan Kakek," ucap Leana pada kedua anak kembarnya.


"Iya, Mommy," jawab mereka.


Mereka pun keluar dari apartemen meninggalkan Leana. Leana pun langsung berbalik dan masuk. Setelah itu, Leana langsung masuk ke dalam. Dia berencana untuk mengistirahatkan tubuhnya, karena semalam dia benar-benar tidak bisa tertidur memikirkan hal yang terjadi di hidupnya. Sekarang, hidupnya benar-benar terasa melelahkan, di mana dia harus menghadapi Aaron dan Geo secara bersamaan. Dia bersyukur ayah angkatnya menemukannya dan datang padanya, hingga dia bisa meminta tolong. Pergi dari keduanya adalah solusi terbaik yang bisa Leana ambil, karena dengan begitu, Claudia dan Rea tidak terluka juga anak-anaknya bisa melupakan sosok Aaron.


***


"Yuma, Yumi, selain boneka, kalian ingin pergi ke mana?" tanya Steve ketika mereka sedang berada di mobil.


"Kakek, bolehkah aku makan di restoran?" tanya Yuma. Kali ini Yuma memberanikan diri berbicara, karena setelah keluar dari rumah Aaron, Yuma selalu menahan semuanya, berbeda dengan Yumi. Itu sebabnya ketika dia mengetahui kakeknya akan mentraktir mereka, Yuma langsung mengatakan keinginannya.


"Kalian ingin makan di restoran?" tanya Steve.


"Tapi jika tidak boleh, tidak apa-apa," ucap Yuma.


"Tentu, kalian boleh membeli apapun," ucap Steve.


Tak lama, Steve membulatkan matanya ketika melihat mobil yang ada di depan mereka.


"Menunduk," titah Steve.


Mereka menurut saja apa yang kakeknya katakan, begitu pun dengan Steve yang langsung memalingkan tatapannya ke arah lain. Rupanya dari kejauhan, Steve melihat Geo mengemudikan mobilnya dan dia yakin, Geo akan menemui Leana sehingga dia menghela napas. Beruntung, dia serta kedua cucunya sudah pergi dari apartemen, hingga Geo tidak melihat keberadaannya. Bisa bahaya jika Geo melihat dia ada di sini.

__ADS_1


__ADS_2